Minggu, 27 April 2025

Judul-Judul SKRIPSIku

Tahun 2008 saat semester delapan jurusan Tata Negara Islam, aku sempatkan menulis list judul skripsi, dari judul itu belum ada yang masuk pikiran sang dosen waktu itu. Meski begitu tetap kuabadikan dalam blog ini, semoga ada yang klik dan dosen kalian bisa menerimanya, silakan disimak kawan dan silakan dikopas dan disesuaikan kembali ya, mengingat judul di bawah ini melintas saja di kepala sambil membaca buku-buku tata negara dan turunannya :)

1. Studi tentang bentuk negara dan lembaga kekuasaan

2. Kekuatan negara yang otonom serta implikasinya terhadap ekonomi rakyat

3. Politik belah bambu dari parpol hingga anggota dewan

4. Tujuh kata monumental dan pengaruhnya terhadap sistem pemerintahan indonesia

5. Penegakan hukum dan implikasinya terhadap para pelaku politik

6. Penegakan hukum dan pengaruhnya terhadap negara kesatuan republik indonesia

7. Politik ekonomi dalam pandangan partai keadilan sejahtera

8. Politik Isolatif Muhammadiyah

9. Kompetensi Ombudsman dalam menangani permasalahan politik di Indonesia

10. Etika Politik, berkaitan dengan kebebasan, persaudaraan, dan pluralisme

11. Sistem Pemilu menurut Undang-Undang Pemilu dalam menentukkan kedemokrasian suatu negara

12. Efektivitas pemilu dalam menentukkan pemimpin yang sesuai dengan keinginan rakyat

13. Peluang dan tantangan otonomi daerah pada era reformasi

14. Studi tentang pengangkatan kepala negara dan bentuk pemerintahan

15. Kekuatan negara yang otonom dan pengaruhnya terhadap ekonomi rakyat

Sabtu, 26 April 2025

OUTLINE NOVEL THE TALE OF CHU-ENG

Tulisan ini dikonsep dini hari tanggal 14 Juni 2008, pukul 22:45 sampai 01:15 WIB, di vila kos tercinta, ciputat molek. Sebagai bahan untuk penulisan novel keluarga. Ide ini muncul pertengah tahun 2005. Ketika menjadi penjaga wartel mawar, dan sedang membaca AAC. Sesekali diingatkan oleh teman kos agar fokus dengan skripsi baru mengerjakan yang lain.

BAB 1 Cerita Indah dalam keluarga

a. Reuni Jagung Bakwan dan Pisang Goreng

b. Menghibur dengan sulap kue kemplang

c. Cerita ayah waktu kecil

d. Cerita Ibu waktu kecil

e. saat Ibu dilamar

f. saat ayah melamar

g. Kisah hidup anak manusia (AMI)

h. Kisah hidup anak manusia (SITI)

i Meniru suara tukang sol sepatu, ayah tersenyum

j. Sepeda Onta

k. Bernyanyi lagu bapak pucung

l. Pengorbanan yang tulus

Jumat, 25 April 2025

MELEWATI FASE

BABAK 46

"Pindah sekolah belum tentu bisa menyelesaikan masalah,"Ucap sang ayah menenangkan.

"Nggak!, pokoknya pindah, kenapa nggak ia naik kelas empat saja." Pekik sang anak.

"Kalau kamu nggak nyaman bicara saja."

"Nggak, ia penginya ngajak ribut terus, malas banget yah."

Perdebatan itu membuktikan bahwa dunia anak tak sebanding dengan apa-apa yang bisa kalian tebak secara mudah. Mereka cenderung menghadapi persoalan dengan bekal dari rumah. Bila ia dibesarkan dengan cercaan fisik maka ia sedang mengembangkan diri dengan bahasa tubuh yang berisi intimidasi. Terutama pada anak-anak yang bisa ia kendalikan dengan remote controlnya. Ia memegang kendali penuh atas apa-apa yang berlalu di bawah usianya. Ia sendiri belum bisa membawa diri dalam peraasaan-perasaan tabu yang seyogyanya dimiliki. Seperti kasih sayang atau semacamnya.

Ia sendiri menangis sesenggukan: "Kamu senang, jika teman-teman menyayangimu" ucap salah seorang dewasa. Anak yang sering di labeli sebagai pembully di sekolahnya, seperti vampire yang mencoba menantang pikuk. Ia sibuk menggigiti jarinya (mungkin untuk menangkan kekalutannya). Rupanya ia punya mimpi-mimpi buruk yang tak bisa ia halangi. Ia mungkin bisa menghindari, tetapi dengan cara apa. Ia masih teramat kecil untuk memikul tanggug jawab besar, seperti anak-anak pada umumnya.

Ia mungkin ingin bercanda sewajarnya, tapi ia tak mengetahui atau belum mengetahui bagaimana memulai sebuah pembicaraan. Ia mungkin kebingungan sendiri mengenai tata letak pertemanan dan bagaimana membuka sebuah pembicaraan. Ia mungkin baru satu cara yaitu yaitu kontak fisik dengan tipe yang sama dengannya. Masalahnya pesannya tak terbaca dengan baik. Ia sendiri mungkin masih bingung cara berekspresi, karena dirumahnya ekspresi adalah aib yang mesti dijauhi, seperti koreng.

Ini menyedihkan tetapi ada hal yang bisa kalian nikmati sebagai para ayah. Kalian bisa menikmati dari sudut pandang yang lain. Meski kadang jangkauan itu terlalu jauh, hingga sulit untuk mengenali jenis pendekatan apa yang sedang mereka pakai. Mereka seolah punya komunikasi yang enggang diketahui oleh orang dewasa. Bahkan diantara mereka yang menjadi korban bully seringkali sulit untuk berkomunikasi dengan selayaknya, tak coba untuk menyelaraskan apa yang ada dalam kepala lalu diverbalkan secara berurutan. Setidaknya seperti harapan orang dewasa di sekitar, tetapi masih jauh dari kenyataan. Ia mesti diajak dialog dari hati-hati (kata agamawan) agar semua unek-unek tentang ketidaknyamanan dengan teman sebangku menjadi cair dan hangat.

Beri ruang pada mereka agar apa-apa yang luput bisa kalian dekati secara wajar. Bukan 'nasib' sang pembully yang sering kalian 'kutuki' sebagai anak antisosial dan yang dekat dengannya. Jangan lupa mereka masih anak-anak yang perlu pendampingan yang eduparenting. Dari sana mereka merasa mencintai dan tidak mencoba membunuh kehangatan dengan membully sebagai bentuk pelampiasan. Percayalah bahwa tidak ada anak yang ingin membully, mereka mungkin masih mencari bagaimana sebaiknya berkomunikasi. Soal nanti, ia bilang anak nakal, nggak bisa diatur, dan bla-bla-bla. Itu urusan nanti, yang penting keberadaannya mampu mengundang 'perhatian' orang dewasa. Apakah itu benar? atau ini bahasan lain.

Yang dikuatkan lagi-lagi adalah objeknya (korban). Agar ia bisa berbicara pada subjek (pembully) bahwa apa yang dilakukan tidak memberikan rasa aman, mungkin saja berbahaya. Soal diterima atau tidak, itu urusan waktu. Biarlah waktu yang mendewasakannya, setidaknya itu, jika kalian belum/tidak menyepakati. Ketika dipikir-pikir, keduanya harus dikuatkan. Bahwa keyakinan untuk memulai yang baik adalah sebuah keniscayaan. Keduanya yang masih anak-anak, yang menakjubkan dan perjalanan masa depan masih jauh. Pendampingan yang tepat adalah salah satu keniscayaan. Bagi mereka yang jadi pembully dan korban bully.

Fase adalah lumbung mental yang mereka mesti lewati. Jika Fase itu terlewati, mereka bisa menjadi sahabat yang baik. Karena mereka mudah untuk berkomunikasi setelah sekian lama tersendat. Satu lebih hati-hati, sementara yang lain terlalu agresif tanpa pernah bisa mengerem tindakannya.

Bisa jadi mereka mengambil katering kelas bersama sambil ngobrol ringan, setelah mereka beradu argumen masing-masing. Setelah beberapa puluh menit yang lalu mengambil peran sebagai pembully dan korban, tanpa pernah mereka maui. Orang dewasa memberikan arah agar mereka jalan tanpa gelap, dan tetap memperhatikan eduparenting yang seluas-luasnya. Mestiah kalian sering-sering membersihkan kacamata agar pandangan kalian tetap jernih dan tan menebak-nebak arah mata angin.

Tulisan ini produksi 14 Mei 2023

Kamis, 24 April 2025

KONSEP DIRI

BABAK 45

Ia tetap mengalah dan mencoba untuk beradu argumen dengan anak yang ingin jadi pemimpin (imam sholat, dll). Ia seperti tak ingin digurui dalam bidang apapun. Mulai dari antrian yang memiliki tujuan untuk saling bergantian. Bersabar dan regulasi emosi. Dan seterusnya.

Pendangkalan dengan mengatakan "aku lebih tua" lalu dengan itu ia seenaknya mengatur semua konsep yang sudah ada dan mengacaknya seacak-acaknya. Lalu ia bungah karena berhasil menundukkan semua pikiran yang muncul untuk meredam kekonyolannya. Namun, entah mana dan darimana bahwa pikiran "aku lebih tua" dengan balutan ego yang meninggi diejawantahkan dalam bentuk dominasi pikiran juga bahasa tubuh.

Tak elok tentunya juga berpikir bahwa masa anak-anak dihiasi dengan tekanan. Tekanan dari pola asuh yang lagi-lagi menjadi ruang tindak yang bisa menjadikan anak-anak mempunyai cara "bertahan" dari lingkungan yang membuatnya taat pada aturan. Mungkin dikepalanya aturan bukan untuk ditaati, tetapi dilanggar selanggar-langgarnya.

"Kalau bisa patungan Yah, agar ia bisa dipindahkan sekolah lain yah." Pernyataan si anak menjelang kepulangan sekolah.

Sejatinya pikiran-pikiran anak selalu bertebaran melayang dalam memorinya. Apa yang keluar adalah simbol bahwa tekanan itu demikian dahsyat hingga sanggup melontarkan mata yang tajam hingga meruntunkan susunan mental anak yang di bawah usianya.

Tidak hanya itu Guru, kalian boleh sekali-kali simak di sela-sela kesibukan yang menggunung dan 'tata krama' yang melelahkan, lalu lupa bahasa tubuhnya begitu 'menakutkan' nyali anak-anak yang tak terbiasa untuk bertahan dari gempuran bahasa tubuh yang baru sama sekali terlihat oleh mata belia.

Ia seperti punya sensor yang bisa mendeteksi siapa saja yang bisa jadi sasaran empuk untuk digongseng oleh otak reptil yang telah meronta-ronta. Pelan-pelan keluar akal-akal bulus hingga bisa menyalurkan secara membabi buta. Ia tidak lagi bisa mengerem barang sejenak agar apa yang ia lakukan dapat ditimang-timang apa nanti resikonya. Jika itu terus berlangsung maka hal-hal yang berbahaya di matanya tak lagi berjarak, ia sangat-sangat mudah untuk membully siapapun tanpa penghalang berarti. Termasuk dirinya sendiri tanpa ia sadari.

Kenapa ini bisa terjadi. Ia bisa jadi korban bullying di rumah. Karena ia mahluk terlemah yang sering dilemahkan oleh orang yang terkuat di rumahnya. Entah itu ayah, bunda, bibi, Yang bantu-bantu di rumah, kakak, adik, kakek, atau nenek. Yang bisa menguras seluruh rasa percaya diri yang telah di kumpulkannnya lama sekali. Raganya tampak kuat, sejatinya jiwanya penuh luka dan menghitam seperti patukan kobra berkali-kali.

Keluar dari cangkang yang rapuh di rumah, ia mencari objek yang ia akan lampiaskan dengan cara yang lebih kuat dan tergesa-gesa. Ia belum menyadari kalau ia telah menyerap segala jenis tindakan fisik yang menempanya dengan serampangan tanpa ada penjelasan apapun. Kenapa aku dipukul, dicubit, di jitak. Meski penjelasannya ada kau tak mungkin bisa menyadari dengan cepat. Kau seperti berdiri di persimpangan jurang yang dalam dimana-mana. Penjelasan adalah pembenaran bukan mulai membenahi apa-apa yang mungkin keliru, dan ia tak menyadari telah mewarisinya pelan-pelan. Hingga kau sulit membedakan mana rasa sakit dan nyaman, karena kau seringkali melewatkan masa nyaman meski sedikit. Karena ruang itu tak kau dapatkan meski rumahmu seperti taman wisata.

Ia sosok yang lemah di rumah, lalu menjelma 'monster' di luar ketika menemukan mangsa yang empuk untuk digigit oleh taringnya yang panjang serta tajam. Sekali lirik ia bisa membidik mana sasaran yang empuk dan yang memberi benteng pada anak-anak yang terlihat kuat di mata 'pedangnya'. Tak gegabah untuk sekedar mengeluarkan taringnya, bisa jadi anak-anak yang kuat bisa mencabut taringnya lalu mematahkannya semudah roti bakar.

Bentuklah harga diri yang bagus pada jiwa anak agar bisa membawa perasaan nyaman dan kuat dan dapat berkumunikasi secara wajar. Lalu tak lagi canggung untuk mengingatkan pada apa-apa yang telah diajarkan secara benar, dan tak lupa untuk selalu rendah hati. Agar kawan-kawanmu menjagamu dari jarak yang tak engkau sangka-sangka.

Konsep diri yang keren agar tak jiwamu mudah goyah ketika mendapati dirimu dalam guncangan bully atau yang mendekatinya. Semuanya berlangsung tanpa bisa kendalikan, dan tidak semua mata mengawasi. Selalu ada celah, bagi kuku-kuku tajam yang selalu diasah oleh pola asuh orang tua yang bersembunyi dibalik arogansi yang menyebalkan. Mari coba lihat dan acungkan tiga jari kedalam bukan sebaliknya.

Tulisan di produksi 06 September 2022

Rabu, 23 April 2025

PINDAH SEKOLAH? (2)

BABAK 44

"Ayah aku ingin pindah sekolah saja, nggak enak di sekolah, Banu selalu mengganggu padahal aku tidak usil," Kata si anak menjelang tidur malam. Kepalanya ia benamkan dalam ketiak ayahnya.

"Pindah sekolah itu belum tentu bisa menyelesaikan masalah, bisa jadi di sekolah yang baru ada lebih banyak anak-anak kayak Banu," jawab si Ayah dengan isi jawaban sedikit "mengancam" situasi. Si Ayah berusaha membawa isi pikiran anaknya kedalam cara alam pikir orang dewasa, tentu saja ini berisiko. Jika tidak ada pendampingan yang terus menerus.

Ia membenamkan kepalanya ke ketiak ayahnya lebih dalam. Seperti burung yang ingin hangat di bagian kepalanya.

"Nggak enak di sekolah," ia mengulangi kata yang sama.

"Kamu harus berani bicara, kalau tidak nyaman katakan tidak. Perjalananmu masih panjang," Kata si Ayah.

Mungkin ada banyak kata yang bisa mewakili kejadian itu. Ada baiknya pikiran alam bawah mengaktifkan kata-kata positif yang segera dimunculkan bila anak-anak mengalami School refusal yang ia sendiri tak bisa mengatasinya. Orangtua mohon untuk menumbuhkan bakat atau setidaknya memaksakan bakat seorang mas-mas motivator agar anandanya di rumah berkurang kecemasan, ketakutan, bahkan penolakan tak ingin sekolah.

Bahwa memilih Home Schooling adalah cara lain agar anak bisa menumbuhkan bakatnya, menggali ekpresi kepribadian secara lebih terukur. Itu bisa saja terjadi, tetapi ada banyak pilihan selain home schooling. Kursus-kursus kah, les piano, sekedar membacakan cerita, ayah yang mengajarkan kemacoan anak lelaki, dan seterusnya. Home Schooling adalah pilihan yang baik diantara pilihan-pilihan yang baik juga.

Kembali lagi, pindah sekolah adalah cara terbaik setelah cara-cara terbaik dilakukan. Secara alami pindah adalah hal yang wajar, karena efek lingkungan adalah akan melahirkan pengaruh-pengaruh kuat di masa yang akan datang. Seperti Efek menulis lahir dari efek membaca. Efek dari bully bisa melahir pembuli-pembuli lain. Salah satu cara terbaik adalah soal pendekatan personal kepada pembuli atau terhadap korbannya. Adalah pola asuh akan melahirkan asuhannya. Hindari pola asuh yang cenderung anti klimaks antara sekolah dan rumah. Minimal seimbangkan, agar nilai-nilai yang berkembang di sekolah dapat di budayakan di rumah secara wajar dan menyenangkan.

Bahwa Ikan tidak bisa memanjat pohon, adalah ketidakmanusiaan kita/aku/kami/kamu sebagai ukuran manusia. Mungkin saja ada hal-hal yang sering dibebankan kepada anandanya yang mungkin belum waktunya, katakanlah seperti itu. Yang jadi korban adalah perasaan yang terdalam. Tergores saja sudah sakit, apalagi sampai tercabik-cabik. Orang tua manapun tak ingin melihat salah satu buah hatinya terjun dari lantai rumahnya, mengakhiri hidupnya di tali yang membunuhnya, atau bergeser pada disorientasi pikiran sehatnya. Menjadi orang yang luntang lantung tak berbaju mengukur jalanan.

Bahwa ikan adalah ikan, bahwa kera adalah kera ia tidak bisa bertukar peran-peran kemampuan. Begitu juga ananda, ia lahir dengan bakat-bakat yang berbeda-beda. Maaf, mungkin pendekatan tak berimbang. Tetapi setidaknya orang tua bisa meredam apa-apa yang ingin diturunkan kepada anak secara membabi buta. Tanpa pernah menoleh apa yang ada pada dirinya secara sudut pandang yang berbeda.

Selasa, 22 April 2025

BERIKAN PIJAKAN

BABAK 43

Ayahanda, jika kalian pulang ke rumah, lalu anak kalian berkata yang menyudutkan pikiran tentang sesuatu yang mestinya di yakini sebagai pilihan terbaik di masa depan. Bahwa anak-anak mengalami kesulitan beradaptasi, mengalami tantangan yang sebenarnya mereka bisa atasi adalah keniscayaan yang tak bisa terelakkan. "Ayah aku pindah sekolah saja, di kelas aku nggak nyaman!" kata anak menjelang tidur bersama pelukan sang ayah.

Mendengar itu, cobalah tuk bertahan meski itu sulit. Berikian pijakan sekaligus kekuatan pada anak-anak menjelang tidur, seperti guru sakti menyalurkan tenaga dalam pada murid kesayangannya. Anak lelaki seperti pendekar yang sedang turun gunung menjajal alam maya pada ini. Apakah dirinya mampu bertahan dalam dunia persilatan yang semakin banyak pendekar tangguh tengah memperebutkan 'kitab sakti' yang di lombakan atas nama kesatria.

Tetapi anak kita bukan pendekar dalam arti sesungguhnya, yang mungkin bisa tanamkan adalah sifat kependakaran yang bisa muncul sebagai kekuatan untuk melindunginya dari bully yang tak kenal lelah bagai kekuatan 'Iblis' yang bersemayam dalam raga anak-anak. Meski itu bukan 'iblis' yang sebenarnya, hanya mungkin pola asuh salah satu orang tua yang mengajarkan pendekatan fisik adalah terbaik untuk menaklukkan anaknya ketika menjelma seperti gasing.

Bahwa anak yang seperti anak gasing adalah anugerah yang terbaik, anaknya bisa mengekpresikan dengan cara yang membuat orang tuanya gerah kepalang basah. Padahal mungkin ada cara lain seperti mengajak bermain fisik yang bisa menguras tenaganya dan bisa sedikit putaran gasing itu, ada banyak menuju mekkah. Begitu banyak cara agar anak-anak kita bisa menyalurkan bakat gasingnya itu.

Jika masalah itu bisa diselesaikan dengan cara anak-anak, maka orang tua sekali lagi bertahan meski itu sulit. Kelak ada banyak aral melintang yang harus anak-anak hadapi dalam bentuk berbeda-beda, hingga mereka lupa bagaimana caranya untuk mengeluh dan merengek minta dibantuin masalahnya. Ada banyak hal yang harus anak-anak selesaikan sendiri demi karakter yang utuh dan menyeluruh.

Tetapi jika masalahnya tak bisa ia hadapi sendiri karena beberapa keadaan, meski lah sebagai guru silat yang baik mestilah turun gunung untuk menyelamatkan muridnya dari kehancuran mental dan gelapnya masa depan. Ia pun menurunkan jurus-jurus baru untuk meng counter segala pernak-pernik masalah yang terus menerpanya. Tatap matanya menjelang ia tidur, lalu tanyalah meski ia sulit menjawab dan ia 'bisa' menyelesaikan dalam mimpi-mimpinya. Lalu ketika pagi hari-AHA- bisa menemukan solusinya. Siapa tahu di malam-malam lain ia bisa bercerita tentang kesulitannya tanpa perlu diinterogasi bermacam-macam pertanyaan dan pernyataan.

Bertahanlah untuk beberapa langkah menuju kemenangan, bahwa orangtua menjadi semacam ujung tombak dari semua harapan. Berharap membuat anak-anak semacam patung tak bergerak dan tak punya inisiatif apapun. Dunia ini bisa diselesaikan karena adanya perangai orang-orang yang kreatif, salah satunya. Membikin anak-anak patuh tak punya ekspresi apapun adalah kegagalan sempurna dari orang tua yang menginginkan anak-anaknya penurut, diam seperti sapi ditusuk hidungnya, tak punya keberanian untuk bicara, adalah kesalahan yang patut orangtua kikis sedikit-demi sedikit. Melatih anak memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap apapun pilihannya adalah bukti kependekaran seorang orangtua/guru telah memulai sesuatu yang lebih penting dibanding membuat anak diam-diam dan diam lagi dirumah. Rumah yang semua anggotanya teramat tenang, diam, tak bergolak, seperti kuburan yang masih merah. Tetapi juga tak bermaksud untuk berusaha membakar rumah sebagai akibat kreatif tingkat tinggi, bukan begitu?

Semua untuk anak-anak sebelum anak-anak itu menemukan caranya yang kurang tepat untuk melawan 'penindasan' dunia yang kejam tak kenal arah tujuan.

Mari rengkuh sejenak bahu mereka agar mereka kuat mengangkat beban hidup kedalam pikiran lembut, dan mengeluarkan pikiran sedingin salju. Lalu tepatlah tindakan mereka.

Bahwa gagal adalah pilihan terburuk meski tak selalu buruk, lalu kesuksesan adalah kunci terbaik. Meski sukses tidak melulu selalu kekayaan, tetapi anak yang bertanggung jawab terhadap peran yang telah dipilihnya adalah bentuk nyata dari sedikit banyak kesuksesan yang banyak di damba orang tua.

Senin, 21 April 2025

Minggu, 20 April 2025

PINDAH SEKOLAH?

BABAK 41

Ayah melihatmu 'terkapar' lagi di UKS berwajah malas ke kelas. Ayah tak mampu memberi semangat yang kau maui. Sementara perjalanan hidupmu masih panjang. Ada banyak hal yang belum kau pahami hingga kau memilih untuk berlari dari masalah yang sedang menderamu di awal-awal kelas tiga.

Pekan lalu kau memberi pilihan sulit pada ayah bunda. Bahwa di kelas-di kelas barumu nanti, jika ayah memberi kesempatan padamu untuk mengiyakan bahwa pindah sekolah adalah satu-satunya cara agar kau bisa keluar dari ketidaknyamanan di kelas. Kau sering menyebutnya bully, ayah tak tahu dari mana kau menemukan kata yang horor itu. Apakah kau mendapatinya ketika kau pernah berantem dengan kawanmu, lalu kakak dari temannya menghasut seluruh gang di rumahmu agar menjauhimu. Itulah bully yang kau maksudkan itu. Maaf ayah belum bisa memahami isi pikiranmu seutuhnya. Jangan-jangan kau menyerap pijakan dengan cara yang kurang tepat. Sementara kau punya seperangkat alat yang kau bisa gunakan untuk membalasnya. Tetapi kau enggan, apakah ayah perlu merubah redaksi bahwa beladiri bukan untuk berantem menjadi beladiri digunakan ketika kau mendapatkan bully lagi.

Ayah sedang mencari ramuannya. Agar kau kuat menjalani masa-masa kecilmu dengan ceria. Apakah ayah perlu mengubah cara belajarmu menjadi home schooling agar kau kembali ceria seperti kelas-kelas kecil dulu.

Kau pernah cerita tentang bagaimana menahan amarah ketika tersudut dalam bully yang pernah kau alami ketika tak ada mata awas dari orang dewasa sekitar, sang pembully begitu leluasa melancarkan ambisinya untuk menaklukkan setiap yang lemah agar bisa puas, atau setidaknya bisa menujukkan sesuatu yang lebih dalam bentuk apapun. 'Katanya' sang pembully mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya. Hingga dalam kepalanya bisa kau bayangkan dalam kepalanya meredam amarah dengan amarah lain. Kau bisa membayangkan betapa menyedihkan waktu-waktu di rumahnya, jika kau bisa membantunya menemukan cara lain agar tak menumpahkan kekesalannya dengan cara bully. Jika kau mampu.

"Dia punya mata yang menyedihkan," ungkap sang anak.

"Bisa kau ceritakan." Tanya ayah

"Seperti mata sapi yang habis disembelih yah ketika Qurban, sebenarnya kasihan. Tetapi ia bisa menyebalkan jika tersentuh sedikit dan ia tidak terima bisa jadi masalah yang runyam."

Lalu kau membayangkan akan terjadi hal-hal yang buruk jika kau membalasnya. Kau pun menyadari dengan selangkah lebih, betapa keputusan adalah segala sesuatu yang mahal dibanding apapun. Keputusan mengurungkan niat, melihat dampak lebih besar yang bakal ayah terima. Hatimu begitu lembut nak, padahal kau sedang serapuh-rapuhnya perasaan.

Untuk sekarang kau bertahanlah sedikit saja, maka jalan panjang ketakutan-ketakutan itu akan hilang bersama kekuatan-kekuatan yang kau munculkan sedikit demi sedikit pada derita menakutkan bernama bully.

Satu kali kau bertanya tentang orang yang bunuh diri pada ayah. "orang yang bunuh diri adalah orang yang tidak kuat menahan ketakutan dari bayangannya sendiri, memiliki konsep diri yang rapuh, dan tentu saja ia di hadapkan pada kekuatan yang tidak bisa ia lawan sendiri. Yaitu kekuatan untuk menolak patah. Jika mereka bisa bangkit dari kerapuhan itu dan bisa menghadapi kenyataan pahit lalu mengubahnya menjadi keyakinan berkobar, maka tiang gantungan akan menggantung angin dan senyap. Tak ada orang yang gampang sekali menyelesaikan masalah dengan bunuh diri."

Selangkah adalah rasa yang kau bangkitkan kelak dikemudian hari menjadi semacam perisai dari kecemasan dan situasi yang mestinya kau bisa pudarkan dengan sedikit humor dan bercerita pada ayah bunda di rumah agar hidup yang berwarna itu tak cepat-cepat gelap. Bila kau terpaksa berkawan dengan kegelapan kau bisa menaburi dengan ribuan bintang yang kau ciptakan semudah membalik telapak tangan.

Sementara itu dari ayah. Kau kuat-kuatkan hatimu dan teguhkan dalam-dalam.

Sabtu, 19 April 2025

MOGOK KE SEKOLAH

BABAK 40
 

Anak itu meringkuk memeluk bantal guling kesukaannya. Bundanya sudah mulai tak tersusun kata-katanya. Anak lelakinya mogok pergi kesekolah. Padahal ia rekor tak pernah macet pergi ke sekolah barang sehari pun. Mungkin baginya aib bolos barang sehari dan tak mengisi jurnal pagi untuk pertama kalinya.

Pada hari itu, ia benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Merajuk tak mau ke sekolah. Rupanya setelah selidik punya selidik ia tak nyaman dengan teman sebangku. Padahal ia sudah berjanji pada ayahnya agar berani agar tak meninggalkan masalah lalu pergi menjadi pecundang kelabu yang tak bisa membedakan warna apapun.

Ia mungkin lupa akan komitmen mulia. Sebuah kalimat yang jarang diajarkan di sekolah. Ia berangkat dari rumah membawa senjata pemusnah masal yang berisi kalimat-kalimat sakti yang diturunkan oleh lidah sang ayah agar berani bicara jika memang perlu dibela. Selanjutnya ayah seragkan segalanya pada keputusanmu yang mungkin berani kau cerna dalam-dalam isi kepala. Yang kau muntahkan kepada waktu dan orang yang terasa nyaman kau tumpahi segala unek-unek.

"Kami terus kuatkan anandanya bun, sebelum benar-benar dipisah duduknya." kata bundanya suatu pagi menjelang berangkat sekolah.

Yah, sebuah cara yang tak biasa agar ia terbiasa dalam tanda petik menyelesaikan setiap masalah yang menerpanya. Ada banyak fulan-fulan yang sejenis yang mungkin kau temui kelak ketika dewasa. Entah ayah bunda bisa memberi semacam penerang agar jalan tak terseok-seok sedemikian rupa. Tetap saja ayah bunda tak bisa menebak isi kepalamu meski darah yang deras mengalir dalam tubuhmu adalah darah kami. Kami mempunyai segudang pelita yang siap kau ambil kapan saja, tak perlu membayar. Jika sewaktu-waktu pelita mati atau hilang kau boleh kembali kapan saja tak perlu mengetuk pintu rumah tiga kali. Kami sudah tahu baumu darah ribuan mil. Jadi jangan sungkan-sungkan. Kami masih sama seperti dulu, yang berbeda hanya umur kami yang terus bertambah.

Sepulang main, ayahmu memberi tahumu kegiatan esok. Ia berbinar seperti biasa, lalu mengangkat kedua tangan, ayah maklum.

Ayah terlupa kalau gurumu itu yang kau bilang galak itu adalah daya ungkap yang belum bisa kau tangkap dengan seksama. Bahwa galak sama dengan tegas, jika kau tak sepakat tidak apa. Bahwa marah-marah sama dengan benci, lagi-lagi jika kau tak setuju tak jadi soal buat ayah. Lagi pula ayah hanya mengira-ngira. Ada banyak wilayah psikologi yang tak bisa ayah jangkau dengan alat hukum. Tetapi, setidaknya kau bisa belajar banyak dari semua orang yang kau temui, hingga pada satu hari kau bisa menyimpulkan dengan caramu sendiri bukan dengan cara ayah.

Siang itu senyummu kembali lebar seperti layar lebar. Kedua tanganmu menangkup ikan yang berhasil kau tangkap di dalam kubangan. Seorang yang kau anggap sebagai guru yang galak bisa menjadi teman menangkap ikan yang menyenangkan. Ayah senang kau menemukan kembali semangatmu untuk sekolah.

Kau rindu salju pada tiap iklan tv promosi tentang perjalanan wisata muncul. Kau bisa belajar dimana saja tak mesti disekolah, justru kau akan kuat nanti pada hutan belantara kehidupan yang banyak ranjau dan bisa meledakan isi kepalamu.

Salju adalah pikirmu dan tindakmu, jadi perhatikan langkah-langkahmu agar kau bisa menghirup udara yang sama dengan tempat yang berbeda.

Jumat, 18 April 2025

GURU JUGA 'DOKTER' JUGA 'PSIKOLOG'

BABAK 39

Setiap pagi Kano menangis ketika bundanya pulang ke rumah. Bundanya kukira kerja atau semacamnya. Rupanya ia dirumah, beribadah dirumah (prasangka baik saya), entah itu menyetrika, berbenah, menyapu, mengepel, atau ikut kelas motivasi yang diisi oleh pembicara yang tetangganya sendiri.

Ketika itu terjadi dan anak sudah ada di sekolah dan memiliki keberanian untuk hadir dan menatap guru-gurunya yang mungkin menyebalkan, tetap saja diapresiasi. Kesediaan mereka adalah di atas segalanya. Bahwa orang dewasa pun kadang masih mengeluh tentang kesediaan untuk belajar padahal mereka hanya menyediakan sedikit tenaga dan berani berkorban.

Soal nanti Kano akan merajuk, menangis, diam mematung, kontak fisik, itu sisi yang lain yang nantinya jadi bekal buat para guru untuk menantang dirinya agar bisa beradaptasi atau bisa membuat jalinan perasaan yang kuat dengannya kelak di kemudian hari.

Membangun kesepakatan itu penting karena akan membangun alam bawah sadar, bahwa kotak itu penting untuk di tempati tetapi tidak untuk dimiliki, agar nantinya sang guru kelas, pendamping, atau siapapun yang mendampingi punya kesamaan dalam hal pendampingan (penanganan). Seperti obat menemukan penyakitnya, atau sebaliknya.

Guru itu dokter yang tak berlisensi dalam hal penanganan yang lebih rumit, tetapi ia adalah seorang psikolog yang mengambil sudut pandang pada tiap-tiap kejadian. Hingga ia berjuang mematahkan mitos, bahwa si A itu gini lho, si B gitu lho. Tetapi ia mampu menerjemahkan setiap situasi kedalam perlakuan-perlakuan yang berbeda dari hari ke hari. Ia menyediakan banyak waktu untuk mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

Keasikan mengabdi pada perasaan anak-anak, saat kedatangan, kegiatan kelas, bermain, dan seterusnya adalah hal yang tak bisa mereka dapatkan lagi ketika mereka dewasa. Perasaannya nanti tumbuh seiring waktu. Jika mereka memang tumbuh, jika tidak ada hal terlewat pada masa pertumbuhan. Tetapi, tetap saja mereka akan merecalling sebagian masa kecilnya yang cukup berpengaruh kepada pertumbuhan dewasanya.

Maka, sampai disini kesepakatan terhadap hal-hal yang tak bisa dihindari adalah hal yang paling wajar sebagai perasaan yang tak di tebak meski dengan orang tuanya. Ada wilayah yang mungkin sebagai orang tua tak bisa menyentuh sisi terdalam, yang hanya bisa ditembus sekatnya oleh guru. Meski selazimnya orang tuanya lah yang paling punya legacy terhadap dunia anak nanti, apapun perannya.

Selanjutnya biarkanlah sejenak menghela tubuh agar tidak lelah menatap mata si kecil yang membutuhkan peluk dan dekap ayah bunda. Sekolah itu menjadi semacam gerbang, dunia sesungguhnya ada pada wahana yang mereka akan mainkan dan perankan.

Wilayah-wilayah sunyi adalah wilayah anak yang sulit untuk menentukan apa pilihan mereka. Ketika sedih apa yang harus mereka lakukan, pilihan terburuk adalah beberapa dari mereka mengambil jalan bunuh diri. Karena kesepakatan dalam dirinya telah diambil alih oleh pandangan buruk tentang dirinya sendiri dan orang lain, tak ada yang mencintai dirinya sendiri. Bahkan orang tua memberikan citra negatif kerap kali ia melakukan kesalahan. Maka bunuh diri jalan terbaik menurutnya, bahkan ini petaka dalam dunia pendidikan yang selayaknya diperhatikan tidak dalam wacana saja tetapi dalam pendampingan terus menerus.

Kamis, 17 April 2025

SEKOLAH MEMANGGIL KEPEKAAN

BABAK 38

Bagi jiwa yang tidak memiliki hubungan dengan Tuhan-Nya maka ketersediaan nilai kesadaran akan hubungan-Nya terus menyusut. Kemuliaan-kemuliaan yang melekat pada setiap jiwa akan mengkerut jika tak terdapat secuil kepekaan dalam pikiran juga dadanya. Ia membiarkan karat mengganggu perjalanan nuraninya. Ia juga tak cepat-cepat mengkoreksi coretan itu dengan lafal-lafal dari langit, melepaskan begitu kehendak yang sempat terbesit dalam pikiran jernih. Ia rela menuangkan segelas gelap yang membutakan langkah-langkahnya, bahkan tongkatpun tak juga memberinya jalan kemudahan. Ia malah mengeratkan ikatan yang telah lama mengungkungnya diam-diam, lalu tanpa disadari muncul benjolan yang menyerap terus menerus kelembutan hingga tak berbekas.

Ketaknormalan yang merajalela tak juga ditanggapi sebagai panggilan Tuhan agar ia lekas-lekas mengoreksi catatan keimanannya. Jika tak sanggup ada pilihan hati yang bisa menyokongnya menjadi detak-detak semangat dan inspirasi bagi manusia lain. Sebagai cipatan-Nya insan menyediakan secuil potensi agar gerak lisan dan jiwanya tak hitam jelaga. Sesekali tisu putih yang berubah menjadi krecek akan terasa nikmat, jika tak disadari keberadaannya.

Yang lain, penggerak roda pikiran menjadi lebih mulus ketika semua fungsi tubuh mengarahkan pada kebahagiaan yang hakiki. Insan menjadi lebih terpanggil pada kenyataan hidup di depan matanya, meski statusnya sebagai insan 'papa' menjadi incaran mulut-mulut yang miskin kasih sayang. Mereka juga butuh pertolongan, tinggal menunggu momen saja.

Malaikat turun ke bumi menyapa sang Nabi terakhir ingin menyampaikan mandat dari Tuhan-Nya. Ia mengatakan "Wahai Nabi tak jauh dari Anda ada seorang "Malang" yang nantinya akan masuk neraka." Setelah selesai ia melesat pergi dari hadapannya.

Lalu lewatlah seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang tak berhenti menangis sebab lapar yang menohok. Wanita "malang" yang bekerja di tengah lumpur kegelapan tengah menggigit sebagian kurmanya. Ia menghentikan gigitannya dan berjalan tergesa-gesa menyambangi si anak dan memberikannya. Malaikat turun dan menjalankan mandatnya bahwa si wanita "malang" itu akan menjadi penghuni surga.

Level keibaan wanita "malang" itu pada level yang membuatnya nasib si wanita berubah seketika, tidak perlu menunggu waktu lama agar takdir si wanita "malang" menjadi takdir yang mulia. Itulah definisi dari insan yang berfilantropi.

Jiwa yang keras jua menjadi titik gelap hingga ia tak bisa menyerap kejadian dari Tuhan. Bahkan Ahli kegiatan langit pun tak bisa membedakan sebuah peristiwa. Ketika banjir melanda dan air sudah menyentuh lututnya, menyentuh dadanya, bahkan ketika air sudah sampai loteng ahli kegiatan langit tetap menolak semua pertolongan manusia. Ketika ia protes dengan Tuhannya. "Mana pertolongan Mu" kata si ahli kegiatan langit. "Aku sudah memberi pertolongan kepadamu sebanyak tiga kali" kata Tuhannya. Hati yang keras telah membuatnya menolak semua kebenaran (pertolongan) dari para penolongnya. (Hanya Tuhan Yang Tahu).

Rabu, 16 April 2025

DRAMA DI PAGI HARI

BABAK 37
Pagi itu sebuah keluarga kecil bangun. Alarem sudah bunyi menjerit-jerit sedari sepuluh menit lalu. Kokok ayam tak terdengar lagi. Seorang ayah bangun dengan letih. Beberapa tahun belakang ia ingin mengakhiri saja profesi sebagai guru. Di kepalanya sudah tertanam beberapa pola di masa depannya. Salah satunya, ia ingin serius untuk meniti karir sebagai seorang penulis. Setidaknya ia bisa bertahan karena ada ambisi yang meluap-luap di kepalanya. Ia bisa mengajar di mana saja dan kapan saja. Soal mendidik tidak terbatas ruang dan waktu. Tak perlu meniti rutinitas yang bisa membunuh bakatnya secara kejam.

Setelah ia bangun. Kedua anaknya ikut bangun. Istrinya tak lama bangun. Sementara anak ketiga yang masih bayi sudah bangun lebih dari semunya. Tengah berbicara dengan dunianya. Ketika lampu di kamarnya dihidupkan, ia kaget lalu tersenyum kepada orang yang telah dikenalnya. Ayahnya sendiri.

Ayahnya pergi ke toilet menjalini rutinitas yang tak pernah bosan. Berak. Di tengah asih buang hajat ia mendengar bunda dari anak-anak tengah mengulang materi untuk ulangan pekan ini. Bunda yang pernah mendapat beasiswa kedokteran rupanya sedang menerapkan pola belajar yang dulu pernah digelutinya, mencoba diturunkan kepada anaknya. Kepada anak lelakinya tradisi itu cukup berhasil, kepada anak perempuannya agak mentah. Darah seniman ayahnya rupa mengalir deras di tubuhnya. Ia menolak pelan-pelan, ia sedikit mirip kepada cara ayahnya yang membuat jawaban di kepalanya.

Ayahnya selesai buang hajat. Tradisi intelektual itu masih saja berlangsung, mungkin bundanya ketika tidurpun mimpinya tentang algoritma, kalkulus, kimia, yang memusingkan ayahnya. Sampai kegiatan sarapan tradisi ilmiah itu masih alot. Ayahnya menikmati sepiring nasi uduk yang dibelinya bersama kedua anaknya. Mencuri tradisi yang sedang panas di pagi hari. Anak perempuannya ikut kabur bersama kakaknya mengendari motor yang di jokiin oleh ayahnya. Ia tampak gembira menghindari sejenak tradiri yang membuat wajahnya sering cemberut. Bundanya ketus ditinggalkan ketiga orang yang dicintainya. Tanganya masih mengenggam modul yang di buat oleh guru-gurunya di sekolah.

"Kertas dibuat lap sepatu ayah saja." Pungkas bundanya. "Buat apa dibuat, kalau kamunya tidur. Besok setelah sekolah, tidur saja, bangun sinetron, kalau disuruh belajar banyak sekali acaranya. Makanlah, ngantuklah, kartunlah, gemlah, kalau begitu hapus saja gemnya, semua pertanyaan bunda, tak ada yang bisa kamu jawab." Tambahnya, wajahnya nggak enak dilihat.

Kakaknya ingin mengelak, bahwa ia tak segaris dengan adiknya yang menurutnya akan mempersulit main gem setelah pulang sekolah.

"Nggak, dua-duanya nggak ada yang main gem!" Bunda mulai mengaum. Teritorinya mulai terganggu. Ayahnya menjadi pendengar saja. Ia pikir ini wilayahnya. Hewan saja punya teritorinya apalagi manusia yang punya segala-galanya dari hewan buas itu.

Ayahnya manggut-manggut saja dalam hati. Bunda sedang mewariskan pola yang membuatnya dulu disegani dalam dunia aljabar dan turun-turunannya. Permainan di luar sana lebih ganas dari apa yang dibayangkan oleh kedua anaknya. Ia coba mewariskan jurus-jurusnya agar mereka sedikit bertahan di lahan yang culas serba instan.

Ayahnya mengira mereka akan merengut sampai di sekolah. Ketika berpamitan hanya anak lelakinya yang mau cium tangan, sementara ia menolak tegas. Di hadapan bundanya. Sampai di sekolah wajahnya jernih setalah ia melihat temannya dan menyapanya. Begitu juga kakaknya. Transisi emosinya begitu cepat. Mungkin orang dewasa setidaknya berkenan melihat kejadian ini. Tapi, sepertinya untuk ayah saja. Terimakasaih kalian telah mengajari kami.

Selasa, 15 April 2025

BELAJAR MENGENDARAI SEPEDA

BABAK 36

Awal yang baik. Ia mau belajar tentang keberanian, dan kemampuan untuk mengendalikan rasa takut. Ia sedikit ragu untuk mengayuh pertama kalinya tanpa menggunakan roda bantuan. Kedua alisnya naik keatas dan membentuk formasi menguasai diri. Setiap Ia berpikir keras untuk melakukan sesuatu hal baru, perubahan pertama adalah Alis terangkat, bola mata agak melebar, bibir terkatup, ada keseriusan tertangkap pada wajahnya.

"Ayah aku masih takut." Katanya pelan.

"Kamu bisa nak, seimbangkan badan, santai saja,lihat jalan, dan jangan lupa rem." Kata Ayah. Bagi keduanya mereka mencoba selalu menerapkan pijakan ketika melakukan sesuatu.

Sepeda meluncur. Ayah tahu kamu bisa membunuh rasa takut. Meredam keraguan. Dan memeluk keberanian. Sepeda meluncur dengan kecepatan sedang. Permulaan yang baik. Ayah lupa kalau di depan rumah ada saluran air (got) setinggi betis orang dewasa. Dengan kondisi sebagian tertutup oleh rumput liar. Ia sudah berada dalam mode khusus, ayah tak ingin mengubah konsentrasi. Tangan kecil kamu belum seimbang, tak mengurangi kecepatan, dan masih kaku. Ia terjerembab dengan posisi jatuh yang tidak berbahaya. Dia gunakan kakinya untuk menginjak rumput. Lalu di keluar got dengan wajah tegang.

Ayah tak ingin kamu panik berlebih. Walau jantung ayah berdetak cepat. Ayah ingin kamu menguasai ketegangan. Ia menangis dengan kondisi yang lebih berani. Karena dia berani untuk keluar dari zona nyaman. Sepedaannya bukan dengan roda tiga lagi. Aku memeluknya. Memberi ketenangan. Dan memberi listrik keberanian dan apresiasi. " Kamu hebat, sudah bisa naik sepeda roda dua." Kamu sudah mengalahkan rasa takut, takut untuk jatuh.

"Aku nggak mau naik sepeda lagi, sepedanya rusak ayah." Gerutunya sambil menangis.

Ayah tahu kalau ungkapan itu sebaliknya. Ciri khas putranya. Karena esok harinya, kamu ngajak ayah untuk belajar sepeda. Hasilnya subhanallah, meluncur dengan beberapa meter, lalu kamu berteriak girang, lupa rasa sakit, jatuh karena berhasil mengendalikan sepeda, menyeimbangkan, dan fokus. Senyumnya mengembang. Ayah mengikuti dari belakang. Ayah tertinggal jauh di belakang." Ayah aku bisa yah". Jalanan komplek berhasil kamu taklukkan.

Selamat untuk rasa berani.

Senin, 14 April 2025

PERISAKAN

BABAK 35
Apa yang kau rasakan, sudah lama ayah rasakan. Ayah harap kau bisa melalui dengan lapang dada. Kau menyebutnya Bully (Perisakan) untuk pertama kalinya. Ayah ingin sekali memelukmu pada kau selesai berbicara. Ayah menahan diri, karena kau kenal sekali dengan respon ayah pada saat-saat titik itu lemah. Maksudnya, nanti saja peluknya ketika kau merasa tak lagi bisa menopang. Mungkin itu maksudnya.

Hari itu kau bisa menyebutkan siapa saja yang sering dibully, termasuk dirimu sendiri. Ayah ini korban Bully, oleh kakak kelas, senior, lingkungan, bahkan orang dewasa. Ada rasa sakit muncul padahal tak ada satupun bekas luka sayatan di bagian tubuh ayah. Tapi rasanya pedih, dan kau bisa merasakan dengan tatapan itu.

Ayah pernah melihatmu menangis ketika pertahanan terbaik mereka koyak. Tidak apa, untuk sementara bisa menghentikan sejenak kelakuan mereka. Meski itu tak selalu tepat, kau harus bisa berdiri tegak menerima badai dan apapun itu. Sampai mereka menurunkan topi dan memberi sedikit empati. Ayah ingin marahi mereka dengan cara ayah, tetapi ayah takut bisa membutmu lebih rapuh. Apalagi kau punya penilaian ajeg, padahal usiamu masih 8 tahun. Air matamu suatu saat menjadi sekuat baja, jika kau banyak belajar.

Berani bicara adalah harapan ayah agar kau bisa menolak sesuatu yang tidak nyaman menghampirimu. Agar mereka tak terlalu kuat menekanmu pada semua lini, mungkin ayah yang salah dalam beberapa pola asuh, dan itu belum terlambat. Ayah coba kenali dan kuatkan apa yang terlihat lemah pada diri ayah. Kamu adalah prodak sekolahan yang tak pernah gagal, karena kau sendiri yang menciptkan kekuatan itu.

Malahan ayah yang kadang merasa lemah dengan cara membatasi beberapa gerak dan langkahmu, Itu mungkin keliru. Tujuan ayah setidaknya bisa kau kenali, dengan cara mengenali penyebab awal Bully-Bully itu. Dan semakin kau menyadari lebih awal, kau bisa mengatasi dengan caramu sendiri, bukan dengan cara ayah. Ayah menjadi semacam mentor untuk melatihmu menjadi petarung terbaik. Best Of The Best.

Kau seperti mengumadangkan perang melawan Bully dengan cara tak biasa. Mengenalinya, membatasinya, dan membuat mereka menyadari perbuatan Bully sama sekali tak nyaman. Kau mencatatkan ingatan yang ayah dengar setiap kau menyebutnya dalam pembicaraan, bagi ayah itu sudah cukup.

Mungkin ayah perlu sedikit bersabar, agar kau bisa memunculkan pertahanan terbaik. Kau bisa melalui dengan kuat tanpa perlu menyalahkan diri terus menerus.

Pada masa-masa awal usia kau berani kelur rumah tanpa ayah. Itu bagian terbaik dari perkembanganmu ketika usiamu beranjak 5 tahun. Ini prestasi yang bisa kau ukir sendiri dalam menghempaskan rasa takut. 

Minggu, 13 April 2025

Kebanggan Seorang Ayah

BABAK 34

Satu malam jelang tidur.

"Kenapa tak silat lagi Mas," tanya si Ayah. Tangannya yang kukuh memeluk pinggangnya yang masih ramping.

"Naik sabuknya lama yah," katanya. Tangannya yang mungil meraih tangan ayahnya, lalu mengencangkan lebih erat lagi.

Lalu...

Ayah mendengarkan gerak bibirnya. Ada gurat sedih sempat terlintas. Ada wajah yang ingin berontak, tetapi ia sendiri tak tahu atau belum tahu soal apa yang harus dilakukan. Mungkin berhenti dari latihan adalah bagian dari jawaban.

Ia tak pamit pada pelatih, juga pada ayahnya. Pada pelatih ia seperti ingin melakukan demo atas keberpihakan yang salah. Ini agak lucu, bocah delapan tahun ingin menjungkirbalikan sebuah keadaan. Mesti mungkin saja terjadi, tetapi hal itu adalah awal dari ia mengerti tentang pencapaian.

Ayah mengangguk bukan untuk membenarkan, tetapi telinga ini setiap saat siap mendengarkan keluh kesahmu. Menjawab setiap pertanyaan. Jika ayah tak bisa menjawab, maka Ayah akan menangguhkan beberapa saat, setidaknya bisa mengintip buku, atau kalau tak sempat bisa melayang ke dunia mbah. Yang jelas, kau akan tumbuh seiring dengan waktu yang kau simpulkan sendiri. Maaf jika ayah tak sabar, tetapi paling tidak ayah bisa merobohkan ego yang kerap menunggangi semua hal. Bahkan kebaikan yang kau tawarkan, bisa menjadi petaka bagi Ayah. Bila ayah tak pintar mengolah Ego. Ego akan tetap bercokol meski kelak berpisah pada saat yang memungkinkan

Nama pelatihmu sama dengan nama ayah. Kadang kau menertawakan dan meledek soal nama ayah. Kau tak pernah menggerutu soal nama, adikmu yang kerap mengejek, maksudnya bercanda soal-soal nama, jika ayah kena 'mental' kalian akan tertawa keras. Lalu kembali pada tempat semula.

Soal nama pelatihmu, ayah kira bisa menangkis hujan air mata yang mulai kau tampilkan pada saat-saat tertentu. Itu kemampuan yang mesti kau rawat. Tak apa lelaki juga bisa menangis, jika itu menenangkan. Soal sabuk, ayah tahu kapan kau menitikkan air mata, kaupun tak bertanya. Ayah mulai menandai, air mata yang kau keluarkan diam-diam, meski hanya berkaca-kaca itu adalah simbol kau akan mengakhiri sesuatu. Begitu simpel, tetapi cukup tegas. Ayah simpati, kau mulai memustuskan sesuatu tanpa campur tangan ayah bunda.

Kau akan tumbuh terus Nak?, tetaplah kuat.

Sabtu, 12 April 2025

Sekolah Bukan Pabrik Robot

BABAK 33

"Kamu begitu saja nggak bisa, itu kan soal mudah!" Ucap ibunya sambil membereskan buku-buku yang berantakan, pelajaran seni sedang berlangsung secara daring.

"Lain kali harus lebih fokus," tambahnya.

Adi yang merasa kesulitan, merasa keyakinan untuk memantapkan hati karya pupus. Perasaan terdalam seperti tak ada, ia kehilangan pijakan untuk menyambung perasaan yang setengah hidup sejak bangun pagi , agar bisa nyaman menghadapi guru seni itu.

Ajaib, ia kehilangan fokus di beberapa bagian, sementara momen terus saja berjalan. Ibunya yang sedang sibuk dengan kegiatan pribadinya merasa terganggu. Inilah momen yang mungkin Adi hindari, ia ingin menyelesaikan sendiri, tetapi ia belum sanggup untuk multitasking dalam soal-soal tertentu.

Ibunya kehilangan momen ketika Adi berhasi mencuci piringnya sendiri, pekerjaan di toilet, bahkan bisa menjaga adiknya yang masih kecil, mengajak bermain dan seterusnya.

Sekolah tidak dirancang untuk membuat anak didiknya menjadi robot dan menguasai banyak tanpa kesalahan, dan Adi bukan robot yang gampang distel tanpa kendala apapun. Ia adalah perangkat kompleks yang unik dan tentu saja ciptaan Tuhan. Hingga memperlakukan atas dasar-dasar tertentu dan program-program tertentu yang sesuai dengan perkembangan anak. Mari sudahi prasangka seperti itu.

Jumat, 11 April 2025

Cerita Anak Kepada Ayahnya

BABAK 32
"Aku udah tahu ayah, kalau ada yang marah mereka akan mengajak satu gang untuk musuhi aku yah, udah kebaca!" kata si anak pada Ayah pada satu sore.

Ayah berharap pada waktu yang bisa memberi kesempatan padamu agar kuat untuk mengucapkan sebuah alasan. Maaf jika ayah memakai seharusnya, kalau kamu memberi kepercayaan diri pada kekuatanmu maka hal ini tidak akan terjadi. Barang mainan itu, yang tempo hari temenmu titipkan. Berkurang jumlahnya, seharusnya kamu bisa mengucapkan hal-hal yang semestinya. Tanpa bermaksud untuk menggurui, ayah hanya belajar pada banyak kesalahan, kau mestinya juga demikian.

Ini sejarah yang kau cipatkan sendiri, kami melayani kepercayaan yang sudah demikian rupa untuk kami percayai, memang agak muter, tetapi dengan cara inilah sesuatu bisa dapat dibicarakan dengan selayalaknya.

Kami memercayai dengan kata dan sikap, akan halnya demikian roda yang kau putar sendiri. Jawabanmu mencoba menentramkan sedemikian rupa bentuk kekhawatiran yang kau baca dengan mudah melekat pada ayah.

"Masih banyak teman lain yah, di gang 3 dan 4, jadi aku tak begitu peduli."

Bila demikian perjalanan akan sedikit menenangkan ayah. Tetaplah kuat, dan menangis bukan berarti lemah, kau sudah berusaha dengan baik. Tangisan adalah senjata terbaik jika memang bisa meredam segala kekuatan yang tak bisa kau tangkis sekarang ini, di usiamu yang genap 8 tahun. Jadi berusahalah...

Agar ayah tahu kau mudah beradaptasi pada situasi yang paling buruk yang kini satu persatu mampir pada hidupmu.

Kamis, 10 April 2025

Skema Pembelajaran

BABAK 32
Ia membiarkan putranya untuk merasakan sebuah kenyataan hidup. Bahwa ada hal-hal di sekitarnya yang tak melulu soal kenyamanan. Di luar sana ada banyak ketidaknyamanan jika kamu enggan untuk berdamai, minimal pada perasaanmu sendiri.

Ia melihat putranya berpindah dari satu titik ke titik yang lainnya. Rupanya hari itu ia tak mendapatkan "nasi box" yang rutin disediakan oleh masjid dekat rumahnya. Ada kesedihan dalam hatinya. Ia ingin putranya belajar tentang kesiapan untuk menerima hal yang sesuai dengannya, dan kesiapan untuk menerima hal yang tidak di sukainya.

"Ada hari lain, jika kamu menginginkan"

Putranya masih diam tak menjawab sepatah kata.

"Bukan rezeki kamu, lain kali ada kesempatan lain," tambah ayahnya.

Rabu, 09 April 2025

"Ayah Nggak Kaya! Ayah Miskin!"

BABAK 31
Ramai lapangan komplek suatu perumahan. Anak-anak dan orang dewasa dari ibu-ibu sampai bapak-bapak, semua ada di sana. Semua penasaran atas kegiatan yang baru muncul di komplek itu. Mereka ingin melihat para pendekar silat yang nantinya unjuk kebolehan dan akan melatih para putra putri mereka.

Pembukaan dan pertunjukan silat tradisional pun di mulai. Para pendekar silat itu berpakaian hitam-hitam dengan ikat pinggang beragam. Mulai dari hitam, biru, dan juga putih. Hanya saja para pendekar berikat pinggang putih itu sikapnya lebih tenang. Usut punya usut lelaki ber-ikat pinggang putih adalah ketua pelatihnya.

Mereka berkumpul di tengah lapangan setelah nama-nama mereka dipanggil. Anak-anak itu berlari pemanasan dengan suasana meriah dan semangat, maklum ini baru pembukaan pertama.

Tampak satu anak yang berwajah sendu menatapi anak-anak yang lain riang ikut latihan. "kau ingin ikut, baru pembukaan tidak apa," tanya ayahnya.

"Nggak ah, sudah terlambat," ucap si anakdengan kesal.

"Kenapa kamu ngasih tahunya mendadak, ayah bisa siapin uang. Sekarang ayah tak pegang uang," jawab si ayah.

Si ayah mencuri pandang wajah anaknya. Punggung si anak terlihat sibuk untuk menghapus jejak air mata yang tiba-tiba melelah.

"Ayah nggak kaya! ayah miskin!" ucap si anak yang makin sibuk menghentikan air mata yang tak diiringi dengan isakan.

Si ayah terdiam mencoba mencerna perasaan yang sedang dialami oleh anaknya. Ada sayatan kecil yang cukup memerihkan hatinya.

"Nanti belajar sama ayah saja, gulat."

"Nggak mau sendiri, maunya sama temen-temen."

Para pendekar itu melakukan pemanasan lima meter dari tempat duduknya. Matanya sibuk megawasi sekitar. Si anak juga tampak awas melihat para pendekar-pendekar itu.

"Ayah kenapa orang itu cuma pakai tangan satu."

sang ayah tampak mengawasi orang yang telah di teliti sang anak.

"Tangan sebelahnya sedang sakit," ucap sang ayah.

Selasa, 08 April 2025

INTRAPERSONAL

BABAK 30
Ia menangis sesenggukan dipelukan bundanya, kedua matanya basah. "Abang penjual es krim tak perlu dipanggil ke rumah, jika tidak memungkinkan. Cukup kamu bawa uang dan beli di tempatnya saja," kata ayahnya. Nasihatnya dicerna sebelum ia berubah sedih dan menangis. Ia lupa atau belum ada intruksi. Ayah harap kamu tak perlu menunggu intruksi, sebaiknya kamu belajar berinisiatif.

Mungkin penolakan tak sengaja yang dilakukan oleh penjual eskrim mona seribu-seribu membuatnya terluka. Ia mencoba mengejar dari rumah dengan pikiran positif dapat memanggil penjual es krim itu agar dapat berkunjung sejenak di depan rumahnya.

Ketika ia menangis ayah dan bundanya memberikan kesempatan meluapkan 'emosi' yang tak bisa ia bendung dengan logikanya yang mungkin masih terbatas. Atau ia mungkin merasa bersalah pada kesimpulan yang tak begitu tepat di mata orang dewasa. Ia mencoba untuk tak merepotkan orang terdekatnya dengan berlari menyusuri jalanan komplek rumahnya dengan hasil di luar dugaannya.

"Beli es krim di warung kak Syifa saja ya, ditemani ayah," kata bunda setelah lima menit tangisannya mereda.

"Ayo ayah temenin," katanya merajuk, kedua matanya masih berkaca-kaca.

"Yuk," ungkap ayahnya.

Sampai halaman rumah wajahnya berubah cerah. "Yah, itu abang es krim mona ada di sana," katanya cepat-cepat.

Adiknya menyusul dengan mata mengantuk. "Kau mau," tanya ayahnya.

"Nggak mau," katanya beberapa kali. Setelah ayahnya menawarkannya keempat kalinya ia memegang kerucut es krim.

"Ya udah," katanya, agak cemberut.

Ketika pulang ia disapa oleh anak perempuan kelas 5. Ayahnya yang menjawab dengan mengembalikan sapaannya. Kedua anak itu berjalan ke rumah. Adiknya berhenti untuk menyapa temannya.

"Kenapa tak menjawab sapaan kakak itu," kata ayahnya penasaran.

"Aku jawab yah, ayah saja nggak dengar."

Beberapa menit yang lalu ia bercerita kalau ada kakak yang merasa tak nyaman dengan nyanyiannya. Padahal ia tak bermaksud untuk menyindirinya. Ia terlihat ingin memperbaiki 'kesalahan' yang mungkin bukan kesalahan. "Aku kan cuma nyanyi-nyanyi yah, eh mereka marah," katanya sambil menghentakkan kaki kanannya. Sang ayah mencari sebuah jawaban, tampak ia berpikir. Kedua alisnya mengkerut. "Mungkin suaramu terlalu tinggi, atau mungkin kamu perlu menjaga sikap," kata sang ayah agak ragu-ragu menjawab.

"Nggak yah, ayah mah begitu, kan aku cuman nyanyi yah." Sekali lagi ia berusaha untuk membenarkan sikapnya. Ayahnya juga belum mengetahui isi lagu itu langsung memberikan kesimpulan.

"Kakak itu kenapa menyapa, kamu tahu alasannya."

"Nggak yah."

"Kakak itu sedang meminta maaf dengan cara lain."

Ia berhenti dan menatap ayahnya, seperti mencari-cari kebenaran yang tersembunyi.