Senin, 07 September 2026

Halfway Crooks

Ini pendekatan Halfway Crooks untuk berusaha menjangkau semua hal, salah satunya mendidik. Bukan untuk mereka tetapi untuk saya sendiri. Jikapun berguna bagi mereka, maka mereka sudah built-in dari awal tentang kesadaran diri untuk terus menerus membentuk diri menjadi pribadi yang berkebudayaan.

Mana ada orang yang sedang ada kesulitan, lalu pergi sambil mencangklongkan tas corak harimau putih. Teriakan-teriakan itu hanya terdengar sampai telinga kanan saja. Ditekankan lagi sampai telinga kanan saja, tidak masuk sampai telinga kiri. Artinya tidak sampai melewati otak bagian kiri, kanan, atau tengah. Langkah-langkahnya tiba-tiba saja gontai ketika melihat dirinya penuh kantung-kantung, dari mulai biji-bijian hingga sayur-sayuran. Menoleh sebentar ke belakang sekadar untuk memastikan, hal apa lagi yang ingin dibicarakan sebagai alat untuk mengamankan langkah berikutnya. Kelupaan segera lenyap dari ingatan tajamnya, kapan terakhir untuk menggeleng, rasanya telah mulai luntur. Hiruk pikuk sudahkah menjadi tanggungan kepribadian?. Agar semua perjalanan melancong kesana kemari membual beraneka ragam ide besar tentang kenyataan menjadi kemewahan  di rumah makan nyaman. Tanpa perlu repot-repot memanggail ART untuk (Sekadar) menuangkan gelas dari teko-teko seminar. Bahkan tak perlu juga untuk menuntut dirinya (otaknya) agar sebanding dengan lingkungan sekitar. Kesebandingan itu lahir dari kumpulan hakikat beralas pemahaman high order thinking yang bermuara pada ganjalan persona non grata.

Koreng-koreng melukai dirinya sendiri dianggap sebagai kumpulan ide cemerlang tentang gagasan peradaban. Apakah ini hanya mimpi?, mungkin iya. Mimpi dibangun oleh tidur, lalu orang-orang yang bergentayangan di malam hari mencatut barang-barang berguna hasil ego besar berliang lahat sempit-sekadar untuk ganjal perut. Setidaknya gambaran di atas majalah-majalah kebudayaan langit, yang tak bisa diganggu lagi, gangguan lahir dari kebodohan untuk menilai diri sendiri dan kebodohan untuk menilai setiap maksud dari semesta ini. Sama dengan buku memerlukan buku lain agar bisa sebanding-caranya memberi gagasan. Bukan bermaksud membandingkan satu sama lain. Buku ya buku, kalian sendiri yang mesti berpikir-menagih pada bagian lain.

Melawan kebendaan dengan kebendaan rasanya adil bagi sebagian, tetapi ada kalanya kebudayaan dilawan dengan rendah hati. Agar posisi nilai tak serta merta menguap begitu saja. Sampai pada satu titik, seperti guru yang kerap membekali pertanyaan dengan pertanyaan 'mewah' dari orang yang merasa paling 'mewah' dari segelintir orang yang berada di sekitarnya. Seringkali mengungkit kebendaan secara berkala, itu menunjukkan apa ya? rasanya seperti membagikan kue lalu meludahinya, kemudian membagikan kepada orang lain. Berbuat baik dan memang baik, tak perlu rasanya terus menampakan ke permukaan, kecuali diminta memberikan sejaran benda-benda itu. Sesekali adalah kearifan agar orang tahu seluk beluk peristiwa, tetapi suasana itu (pengungkitan) untuk menunjukkan seberapa hebat dirinya di hadapan orang lain, tanpa ingin menginjak kaki orang lain, ada sebentuk kesialan dari rendah hati yang tercabik-cabik. Respon spontan terhadap sesuatu menjadi cerminan seberapa outfit dirinya di hadapan orang lain. Tindakan adalah informasi. Informasi adalah Tindakan. Sekali boleh, berkali-kali untuk mencengkram potensi orang lain, adalah skill turunan dari firaun. Ini zaman dimana orang mudah untuk mengambil kesimpulan dan mudah terhasut. Silakan direnungkan apakah itu betul?

Pada 'tembakan' pertama orang masih merasa kagum. Untuk kesekian kalinya, menunjukkan faktor-faktor 'dummy' yang memperlihatkan kegagalan pada perjumpaan berikutnya. Pada standar awal orang menganggapnya sebagai keluhuran pribadi, pada perputaran berikutnya, dia ternyata memiliki lidah bercabang. Pada ujungnya "perkelahian" dengan ide, terasa mentah dan belum matang. Sesuatu yang matang, apalagi masakan itu membuktikan keluwesan berdasarkan pengalaman hidup berkehidupan. Lidahnya terasa lebih panjang dari otaknya. Kalau gulai lidah sapi akan lebih enak kalau dimakan saat-saat lapar. Terlatih sopan itu bagus. Tetapi mensopan-sopankan semua hal walau isinya duri kulit durian adalah bentuk kelicikan seorang pencuri ide yang sudah jadi. Duriannya sih enak, kulit duri jika terkena kulit rasanya sakit. Apalagi ketiban durian, ujungnya (bisa) di rumah sakit.

Batas-batas kemampuan kadang sudah built-in dari pertemuan awal. Ada banyak informasi yang tersembunyi dari kata-kata yang terucap. Itu bukan munafik, tetapi hasil dari 'perlawanan batin' yang diskemakan sejak dari rumah. Menganggap bahwa sopan dan segala turunannya adalah kebenaran yang dibenar-benarkan. Lalu "berteriak" membantah atau sekadar interupsi adalah bentuk pemberontakan yang tidak sopan, adalah kekeliruologi. Rasa hormat dan turunannya menjadi penting, tetapi tidak menjadi penting ketika jiwa tak lagi bisa berkomunikasi dengan akal. Akalnya telah di beri intruksi agar sopan, terhadap kemelut dan sejenis pertengkaran. Siapa yang menstop, bisa jiwa juga bisa lingkungan-pola asuh. Untuk sekadar bilang -tidak- pada ketidak adilan, ada sejuta perintah yang membuat sinapsis dikepalanya tiba-tiba saja putus dan memutuskan diri sebelum benar-benar berkembang kemauan itu sendiri. 

Ada banyak 'kelas' yang bangunannya rapih, pengajar tersertifikasi semakin melimpah, pengalaman belajar terus saja diperbaharui. Kenyataan dan tantangan di dalam 'kelas' itu sendiri seringkali membuat gagap dan telah gagal secara sistemik. Pada saat yang sama, bangunan beratap langit berpensil batang kayu lahir para pemikir dan pencetus peradaban bahkan sebanding dengan yang disebutkan tadi. Mungkin mereka hanya kurang beruntung sebab 'kelas' tadi. Dua-dua bisa melahirkan peradaban dengan caranya masing-masing. Adakah 'kelas' yang ingin dipertentangkan?

Minggu, 06 September 2026

Complex Cases Of Antisocial Behaviour

Jika ada seseorang yang menyakiti (entah dengan cara apa), lalu mereka mereka pelan-pelan membuat jarak yang signifikan, mulai menjauhi dan mundur pelan-pelan secara teratur dan terhormat, maka tetaplah untuk melangkah. Jika berhenti mereka akan merasa senang, sebab reaksi yang berlebihan. Mereka tidak mau minta maaf, bukan karena tak mampu, tetapi karena terlalu pengecut untuk lari tanggung jawab.

Ketika meminta maafpun sebab oleh posisinya yang sudah tersesak oleh keadaan-entah itu lingkungan atau tekanan organisasi. Tak ada ketulusan, yang ada hanyalah mengamankan situasi. Agar terus terkunci dalam labirin praduga tak bersalah.

Mereka terjebak oleh 'merasa paling' karena ribuan waktu telah dilaluinya dalam pengajaran. Kadang pengalaman tak sebanding dengan kedewasaan seseorang untuk lebih memendekkan lidah dan memanjangkan akal.

Cara menghormati sebuah pekerjaan masih jauh panggang dari api. Mereka masih melihat kebendaan yang melekat pada profesinya, bukan seberapa tukangnya seseorang dalam menguasai sesuatu. Jebakan lain adalah masih melihat pada sesuatu lahiriah, padahal Don't Just book by cover. Terjebak oleh sampul yang terlihat mewah tetapi rasanya seperti bayem sore.

Rabu, 02 September 2026

Praktik Baik SMPIT PM

Menulis esai tentang parenting remaja menjadi tantangan sendiri. Ini sebentuk tulisan reflektif untuk merespon sebuah buku yang dikarang oleh Ayah Edi, Menjawab Probematika Orangtua ABG dan Remaja. Yang menarik dari buku ini tentu saja kepangasuhan yang digagas dan dituangkan dalam tanya jawab, selain itu ada pengakuan dari Ayah Edi di halaman 94, bahwa buku ini memang orang tua terlambat, atau Edisi Terlambat, setidaknya untuk penulis. Tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulai satu kebaikan. Klaim terlambat dari ayah Edi, tidak diberi keterangan lain, selain terlambat. Jadi silakan berasumsi apapun. Ketika sebuah buku telah “lahir”, pada saat yang sama, pengarangnya telah “mati”, pembaca memiliki hak untuk mengomentari, menyanggah, dan seterusnya. Dan tugas pengarang seperti menampung air, untuk kemudian dijernihkan di buku-buku yang lain. Buku ya buku, pembaca yang harus berpikir.

Menurut penulis, buku-buku parenting, seminar kepangasuhan, diskusi anak, sah-saja untuk dijadikan rujukan dan wawasan pengetahuan. Tetapi muncul pertanyaan kemudian, apakah semua disiplin ilmu parenting di terapkan ke semua anggota keluarga. Silakan direnungkan. Ada banyak hal yang bisa masuk kedalam rumah dan bisa dijadikan rujukan, tetapi mungkin ada yang perlu menunggu barang sejenak di pagar-pintu rumah, menunggu kesiapan anak.

Sejauh ini, penulis beranggapan bahwa teori yang ideal tentang parenting harus mempertimbangkan kondisi, kemampuan, dan keterbatasan masing. Itu sebagai pembuka esai ini, yang bisa dikaitkan dengan beberapa hal di bawah ini.

Tentang Jurusan

Memilih jurusan kuliah bisa dimulai dari kegemaran apa yang disukai oleh anak. Bisa mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang cukup dijawab dengan Ya atau tidak, atau bisa memulai dengan pertanyaan meluas, tidak sekadar dengan jawaban Ya atau Tidak. Dengan mengetahui mengetahui minat mereka, seperti menggambar, melukis, atau menulis, orang memiliki semacam petunjuk dasar untuk menggali minat mereka lebih dalam lagi. Sebagaimana Passion, yang tidak diperlakukan sebagai kesukaan semata tetapi sebagi metode menggali keunggulan-keunggulan unggul pada anak.

Jika mengalami kendala, bisa lakukan seperti main layang-layang, tarik ulur, ulur tarik, atau buka tutup, tutup buka. Sampai mereka menemukan ada bidang yang bisa ditekuni. Rentang waktu untuk mereka mengungkapkan bisa sangat beragam, ada yang seminggu, sebulan, atau lebih dari sebulan, kehadiran orang tua yang benar-benar hadir untuk membersamai mereka sedikit banyaknya mempengaruhi keputusan-keputusan yang kecil atau yang besar. Jarang mengajak untuk ngobrol lalu tiba-tiba orang tua mengajak untuk bicara yang serius ada semacam rasa heran dan mungkin penolakan. Atau orang tua yang lebih berperan sebagai guide wisata, hingga anak merasa "bingung", karena banyaknya pilihan-memilih diantara yang banyak. Apalagi yang jenis tidak egaliter, selalu memaksakan keinginan orang tua tanpa pernah memposisikan diri pada tempat yang tepat. Orang tua yang merasa paling akan cenderung memiliki sikap paling-paling di semua level keputusan. Di banding yang paling merasa, akan cenderung lebih peduli tindakan-tindakan anak yang bisa jadi bahan informasi. Kerena tindakan atau peminatan anak, adalah sebagain informasi yang diberikan kepada orang tua tanpa perlu melakukan intervensi keputusan terus menerus.

Tindakan lain adalah lebih terbuka, sebagai salah satu kunci agar anak bisa menemukan bidang yang diminati nanti, dan ditindak lanjuti sebagai profesi yang membawa kemandirian secara finansial.

Tentang Prestasi.

Prestasi bisa dibilang salah satu efek dari Belajar, karena dari belajar orang bisa menemukan banyak sekali mimpinya. Ujung dari belajar selain meningkatkan proses berpikir, anak akan mendekatkan pada cita-cita yang ingin digapai. Dari belajar yang tiada henti, anak mampu menggambarkan kira-kira profesi apa yang ingin ditekuninya. Membantu menemukan anak untuk bisa bertumbuh dan berkembang juga merupakan prestasi bagi orang tuanya. Penjelasan ini bisa kita tagih di buku ayah Edi yang lainnya-Rahasia Ayah Edi Memetakan potensi unggul Anak.

Prestasi bukan tujuan akhir. Prestasi adalah sebentuk penghargaan terhadap usaha yang telah dilalui melalui ketekunan para tukang. Yang tidak kalah penting adalah anak menemukan visi dan misi dalam hidup dan berkehidupan. Prestasi tidak melulu soal piala, tetapi kesadaran untuk memaknai setiap usaha dan bersukur terhadap semua hasil yang diterima. Prestasi adalah kemampuan untuk mengelaborasi semua jenis kompetensi menjadi satu jenis ketekunan dan orang-orang mulai mengakui sebagai sebuah keunggulan (prestasi).

Pembelajar yang tekun lebih dekat dengan hasil usaha. Meski kadang tidak sesuai dengan keinginan. Pembelajar yang kurang tekun cenderung jauh dari hasil usaha. Meski kadang berhasil, tetapi capaiannya kurang maksimal. Dalam hal ini ungkapan Usaha tidak mengkhianati hasil, perlu mendapatkan porsi tersendiri. Bisa ranah dunia (Prestasi Dunia), bisa juga ranah Akhirat ( Prestasi akhirat) atau juga bisa dua-duanya. Penulis merespon apa yang dituliskan oleh ayah Edi: Prestasi adalah Efek, bukan tujuan. Bila seorang tekun belajar, maka efeknya prestasi. Begitu juga sebaliknya. Sisi lain dari prestasi atau hasil usaha, bahwa Usaha tanpa Doa adalah sebentuk kesombongan kita kepada Allah. Sementara Doa tanpa Usaha adalah sebentuk kebohongan yang di kemas dengan pembenaran ilusi semata.

Tentang Kesiapan belajar di tempat Jauh (Luar kota/Luar Negeri)

Melatih kemandirian sejak usia dini adalah salah satu bekal agar tidak ketergantungan terus dengan orang tua. Keberadaan orang membantu di rumah (ART) tidak membuat ketrampilan hidup setidaknya yang dasar benar-benar hilang, alias tidak bisa dikerjakan. Melatih dari hal-hal yang kecil, membersihkan barang yang telah dipakainya, misalnya piring kotor sehabis makan. Menjereng air untuk membuat susu/teh adalah bentuk-bentuk untuk melatih kemandirin, dan tentu saja banyak hal lainnya seperti memasak sendiri (mungkin bisa memulai dari masak mi instan sampai menghidangkannya). Pertanyaan sisipan, kapan terakhir kita menjereng air untuk air minum? Mungkin jawabannya semingu lalu, sebulan, atau mungkin setahun yang lalu. Padahal kegiatan menjereng air adalah salah satu kegiatan mewah yang perlu dilestarikan agar tidak. Pertanyaan yang mirip, apakah sagu bisa punah? Bisa iya bisa tidak, sepanjang anggapan bahwa beras adalah kemewahan yang bisa digantikan, sagu akan tetap ada. Ini PR bersama. Kembali lagi kepada kesiapan belajar di tempat yang jauh, selain mulai dari hal-hal yang kecil, jika memungkinkan ikuti program homestay di tempat tujuan belajar. Simulasi ini memberikan pengalaman dan bisa bertegur sapa (memasyarakat) agar nantinya punya pengetahuan soal mukim di tempat yang jauh. Jika belum memungkinkan ikuti program lain-lain yang sejenis, seperti kunjungan virtual, survey lewat internet, dan jika ada teman/sanak family yang telah selesai belajar di kampus yang di tuju, bisa jadi bagian dari persiapan.

Setelah cukup beradaptasi dan di rasa siap dan sudah mulai terbiasa dengan masyarakat setempat (budaya lokal), orang tau perlu mempertimbangkan kelayakan dan kesiapan anak.

Jika sudah masuk kampus Luar Negeri dan mulai belajar, yang dilakukan setelahnya adalah membekali kepada anak berupa: membangun kesadaran kepada anak bahwa tanggung jawab setelah menuntut ilmu adalah mengamalkannya dengan ikhlas, totalitas, jujur, dan konsisten. Dan orang tua juga perlu membangun kesadaran lain, yaitu tidak anti kritik. Membangun kesadaran lebih dahulu dari orang tua adalah membangun keteladanan, orang tua bisa jadi kurang tepat dalam mendidik. Mampu mengakui kesalahan dan memperbaiki bersama adalah kunci agar anak tetap kokoh dalam pembelajaran di manapun. 

Mulai menulis sekitar 12.45-14.32

Belajar dan Berpikir

Belajar menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang yang ingin menambah wawasan dan pengembangan diri, sangat rugi bila setiap waktu yang kita gunakan dan dihabiskan tidak menjadi sarana perbaikan dan kemampuan diri. Belajar bukan hanya dari buku. Belajar bisa dari pengalaman kejadian yang bisa diambil pelajaran. Pengalaman adalah guru yang terbaik (Pengalaman dalam arti kemampuan menangkap momen dan dikonvesikan menjadi satu kompetisi).

Melihat orang pintar, menjadikan motivasi agar semangat belajar seperti mereka. Ada orang yang berrtengkar, menjadikan motivasi agar bisa menyelesaikan sesuatu tak mesti dengan pertengkaran. Ada banyak pendekatan dan solusi. Melihat orang punya 'sifat' galak, menjadikan motivasi agar bertindak lebih hati-hati. Ada banyak tindakan yang sesungguhnya sedang memberikan informasi kepada orang sekitar tentang bentuk kepribadian seseorang.

Karena belajar merupakan sarana penambah ilmu dan perubahan diri, berikut langkah agar ilmu itu barokah sekaligus berdaya guna.

Allah menjadi tempat tujuan, luruskan niat sempurnakan ikhtiar, hindarilah sesuatu yang mereduksi ilmu itu sendiri (maksiat), kemauan kuat yang melahirkan ketekunan tingkat tinggi, menikmati proses dan mensyukuri hasil.

Selasa, 01 September 2026

Sinyal yang Menyelamatkan

Satu-satunya penumpang kapal yang tenggelam akhirnya terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Dia berdoa agar Tuhan menyelamatkannya dan setiap hari memandang ke cakrawala menunggu bantuan. Tapi tak ada satu pun yang datang. Lelah menunggu, ia pun membuat gubuk dari kayu-kayu yang hanyut terbawa ombak sehingga bisa berteduh dari hujan dan panas. Dan untuk menyimpan barangnya yang tersisa.

Suatu hari, pulang dari mencari makan, ia menemukan gubuk kecilnya habis terbakar dengan asap membumbung ke langit.

"Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" teriaknya sambil menangis.

Keesokannya, pada dini hari, ia terbangun mendengar bunyi kapal yang datang mendekati pulau. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.

"Bagaimana Anda bisa tahu saya ada sini?" tanyanya kepada salah satu awak kapal yang menolongnya.

"Kami melihat asap Anda," jawab mereka.

MORAL CERITA

Kita sering kali menjadi berkecil hati jika terjadi sesuatu yang buruk. Tapi hendaknya kita jangan berputus asa karena Tuhan selalu menolong dan melindungi kita, pun di saat sedang susah dan menderita.

Kali berikut, jika 'gubuk' Anda terbakar sampai rata dengan tanah, selalu ingat, Tuhan tak pernah meninggalkan kita dan kekuatannya tetap mendampingi kita di saat kita susah dan menderita. Penderitaan dan kesusahan itu kemungkinan dimaksudkan sebagai sinyal untuk mendatangkan bantuan.

TENTANG PILIHAN

Pilihan selalu menuntut pengetahuan di semua level kehidupan. Di sisi lain waktu juga menentukan seberapa cepat seseorang akan mengambil sebuah keputusan. Dari mulai tidur lalu bangun dan beraktifitas juga kerap dihadapkan dengan sebuah sebuah pilihan. Tentu saja setiap pilihan akan berujung pada pilihan lain. Karena setiap pilihan akan mendatangkan pilihan lain. Begitu seterusnya. Jika seorang Muslim maka membuat pilihan diatas pilihan yang sudah ada jalur langit, bukan berdasarkan pilihan arogan yang mendatangkan keburukan bukan kebaikan bersama.

Pilihan itu mirip saluran TV yang saling terhubung dengan kecenderungannya untuk menikmati hiburan. Ada banyak saluran dan seorang memilih untuk satu tayangan saja. Hal ini lumrah, yang jadi titik poin, tayangannya akan mendatangkan pilihan kebaikan atau justru kebalikannya. Contoh lain, ketika seseorang berbicara makan selalu ada pilihan, mau smart talk, problem maker, atau problem solver, semua itu ada resiko yang mesti dipilih. Akan menjadi didaktik, menggurui, atau menjadi pendengar yang rendah hati. Ketika mengerjakan sesuatu atas dasar ibadah atau ingin menunjukkan sesuatu, cara mengerjakan yang yang sungguh-sungguh atau setengah malas, itu bagian dari sekian pilihan. Semuanya bermuara pada arus kesadaran, bukan 'kecelakaan', karena Allah menjadi tempat tujuan, pilihan menjadi penting, bukan sekadar memilih berdasarkan keinginan tiada ujung.

Ketikan meninggalkan sesuatu, sebaiknya beralas pada apa yang sudah di wasiatkan oleh Nabi Muhammad Saw, bukan asal pindah. Karena ada konsekuensi yang mesti di hadapinya. Petunjuk kenabian menjadi alas untuk bertindak dan menjadikan dasar untuk menjalankan sesuatu. Allah tempat kembali, memilih lah dengan arus kesadaran bukan asal-asalan.

Senin, 31 Agustus 2026

Kisah Seorang Pendoa


ketika kumohon pada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.

ketika kumohon pada Allah kebijakasanaa, Allah memberiku masalah untuk kupecahkan.

ketika kumohon pada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir.

ketika kumohon pada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk ku atasi.

ketika kumohon kepada Allah bantuan, Allah memberiki kesempatan.

ketika kumohon pada Allah sebuah cinta, Allah memberiku orang bermasalah untuk kutolong

aku tak pernah menerima apa yang kupinta, tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.

Minggu, 30 Agustus 2026

Datang Pergi Untuk Menghilang

terberangkat pedih saat kau pergi

rela jiwa tak rela hati

kepastian akan semua telah mati

apa? haripun tak sanggup mengerti



semua akan hilang dan datang

tapi yang terasa hanya hampa

yang hilang akan kembali datang

dan yang datang pergi untuk hilang


kiniku mencari sesuatu yang telah pergi

mencari satu yang kubenci

kumencari sesuatu yang tak akan kembali

satu hati yang kubenci

Sabtu, 29 Agustus 2026

Kamis, 27 Agustus 2026

Membaca 'Yang' Membaca

Bisa mengerti makna sebuah tulisan adalah salah satu keberhasilan dalam proses membaca. Lebih dari itu membaca menjadi tindakan paling personal dengan hasil maksimal jika dibarengi laku membaca tidak hanya sebagai tantangan mengakhiri sampai halaman terakhir tetapi juga diikhtiarkan untuk menghasilkan cara berpikir di semua level.

Teks-teks yang berseliweran di semesta ini menawarkan caranya sendiri untuk dinikmati, apakah teks akan diperlakukan sebagai iklan selintas, kata yang 'mati', dan berdiri rapih di atas kertas tanpa pernah disentuh dengan cara mengeluarkan makna, dan seterusnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan laku membaca 'yang' membaca. Tidak berhenti membaca teks dan membiarkan teronggok begitu saja setelah mengambil manfaat dari teks yang diperlakukan layaknya kebutuhan primer manusia. Kegemaran untuk  memotong setiap jengkal kalimat dan menempelkan diatas kertas untuk kemudian di jadikan salinan fisik berupa kumpulan pilihan ganda, narasi pidato, presentasi, dan bentuk-bentuk lainnya  yang disusun secara gegabah tanpa memedulikan 'nasib' teks itu sendiri juga merupakan bagian dari sekian banyak jebakan merasa telah membaca.

Lewat teks mestilah keluar ruh atau nutrisi seimbang yang berisi hal-hal baru, fantasi tersusun dalam kepala, seperti anak-anak yang bermain lepas di halaman rumah di temani sepasang pohon jambu air yang rindang. Sayangnya nutrisi yang seimbang itu tak menyerap dalam otaknya hingga membaca ratusan teks menguap begitu saja tanpa ada perasaan bersalah. Ini kekeliruan pembaca sejak kali pertama menyapa buku di halaman pertama.

Rabu, 26 Agustus 2026

Selasa, 25 Agustus 2026

Cara Seorang Pria Pergi

Ketika dirinya menerima perlakuan yang tidak semestinya, ia terima. Lalu pelan-pelan menanyakan pada diri sendiri, perlukah membalasnya? Ia mungkin mampu membalasnya dengan cara yang lebih, tetapi kebaikannya mencegahnya untuk berbuat yang sama. Ia mencukupkan diri dengan siapa nantinya akan berbagi cerita dan kehidupannya. Sebab Tindakan yang dilakukan sudah memberikan informasi tentang siapa sebenarnya orang yang dihadapannya. Semesta membuatnya mengenali dengan mudah bagaimana perilaku seseorang hanya dengan sekali tatap, dengan tetap setenang gurun pasir. Ini soal orang-orang yang mudah untuk memindahkan penilaian berdasarkan fungsional semata, lalu mengabaikan kontribusinya. Ini zaman dimana luka tak selalu berdarah, karena telah lama darah menghilang dari tubuhnya akibat tersedot pasir hidup.

Ketika peran lebih mudah untuk tergantikan saatnya untuk tumbuh dan tambah, membiarkan para generasi muda untuk tetap mengeluarkan hal yang terbaik. Meski penganuliran nya sama sekali tidak terhormat. Sebab kehormatan seseorang seringkali untuk ditukar tambah dengan suka atau tidak suka. Bukan pada penting atau mubazir. Yang terjadi kemudian jalan ninja menjadi pilihan setelah pilihan menjadi "badut"  tak juga memberi dampak. Dasar mereka hanya mengandalkan intuisi mentah hasil didikan ghibah dan gosip di sudut ruang dengan mata saling meruncing.

Ketika transaksional menjadi pilar-pilar muamalah, yang terjadi kemudian menusuk dari semua arah dengan membiarkan luka menganga. Lalu diam memperhatikan para korban bergelimpangan dengan tetap tenang. Mereka bersembunyi dibalik kebodohan yang menua bersama kebodohan lain yang terus menumpuk. Anomali terus muncul dari setiap sudut pikirannya. Mereka telah lama gagal nalar hanya untuk mengejar yang dasar. Sampai detik yang lama, mereka tetap terbata-bata untuk mengeja setiap pencitraan yang sebenarnya cara kerja seseorang. Mereka lupa untuk menilai diri sendiri karena sibuk membereskan karakter yang berserakan di atas sereal basi. 


Sabtu, 22 Agustus 2026

Seandainya Kubisa

seandainya kubisa

ingin kupetik bintang

namun kumanusia bukan dewa

yang kupunya hanyalah

cinta dan kasih sayang


aku hanyalah manusia biasa

yang tak pernah lepas dari khilaf

kumencoba mengubah segalanya

mungkin ada kesempatan untukku

aku juga merasa


ingin dicinta disanjung dipelukannya

kalau memang kusalah

berikanlah maaf

demi sumpah cinta yang kuucapkan

karena aku manusia biasa

yang tak pernah lepas dari khilaf

A.R

Selasa, 18 Agustus 2026

Asal Muasal Harta Karun

Saya buka sebuah majalah, kendati masih rendah pengetahuan soal-soal nalar, saya memberanikan diri. Masih mengenakan celana abu-abu, meski status sebagai mahasiswa semester pertama di sebuah kampus yang orang-orangnya, dari mulai satpam sampai pucuk pimpinan sudah mengamalkan pengetahuan agama yang dimiliki. Saya merasa beruntung, ada di situasi seperti itu.

Ada di bagian rubrik Tafakur, termaktub dalam Khazanah Sabili. No. 18 TH.VII. Halaman 32. Penulisnya bernama Herry Nurdi, saya tidak mengenalnya tetapi saya merasa terhubung dengan pemikirannya. Hanya sebatas itu. Lagi pula tulisan itu sudah 24 tahun yang lalu. Seperti baru membaca kemarin sore. Berikut saya hadirkan kepada pembaca blog Tudesan tercinta. Selamat membaca.

Nama lengkapnya Qarun bin Yashar bin Qahits. Kalau dihitung-hitung, garis keturunannya masih dengan nabi Musa. Qarun hidup di zaman nabi Musa dan ia adalah salah seorang yang hafal di luar kepala kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa. Tapi celakanya dia adalah orang yang mengingkari isi dan semua risalah dalam kita tersebut.

Qarun adalah salah seorang pembesar di kerajaan Firaun. Ia termasuk pembesar yang kaya raya pada zamannya. Konon jumlah kekayaan Qarun sudah tak terhitung jumlahnya. Kunci gudang hartanya saja diperlukan 60 keledai yang kuat-kuat untuk mengangkut kunci-kunci tersebut kemanapun saja Qarun pergi. Tapi sayangnya, meski berharta banyak, Qarun adalah seorang yang bakhil sifatnya. Kikirnya setengah mati. Jangankan sebagian hartanya diberikan untuk sedekah, satu dirham pun ia tak rela lepas dari tangannya.

Sampai pada suatu hari turun ketentuan dari Allah yang mewajibkan pembayaran zakat sebanyak 25 persen dari total harta. Qarun yang kikir tak rela dengan aturan Allah tersebut, ia hanya mau membayar satu persen saja dari semua hartaynya. Maka dengan akal yang licik ia mencoba menghasut orang-orang bani Israil.

"Hai rakyat bani Israil, sungguh Musa itu akan merampas harta kalian dengan dalih perintah zakat dari Tuhannya. Dia mencoba menipu kalian," kata Qarun. Kemudian rakyatnya segera berseru menanggapi dengan menyerahkan segala permasalahan untuk diatur oleh Qarun saja. Maka segera Qarun merancang niat jahatnya.

Pertama-tama ia menemui seorang pelacur kondang di daerah itu dan memintanya mengaku bahwa pelacur itu telah berzinah dengan Musa. Sebagai gantinya sang pelacur menerima uang sebesar seribu dinar. Setelah skenario dirancang maka Qarun mengumpulkan banyak orang dan segera mengundang Musa untuk berceramah di depan mereka.

Kemudian dalam nasehatnya Musa menyuruh semua orang untuk tidak mencuri dan berzinah. "Barang siapa mencuri akan dipotong tangannya dan siapa yang berzinah akan dirajam dengan lemparan batu sampai ia mati," kata Musa. Seperti yang sudah direncanakan, nasehat itu disangkal oleh Qarun dan balik menuduh bahwa Musa telah melakukan Zinah. Qarun pun mendatangkan saksi sang pelacur yang sudah mendapat uang dari Qarun.

Tapi di luar dugaan, sang pelacur justru memberikan kesaksian yang asli, bahwa ia diberi uang oleh Qarun untuk memfitnah Musa. Kemudian nabi Musa segera bersujud, dan berkata, "Ya Allah, jika aku benar-benar Rosul-Mu maka tolonglah aku."

Kemudian Allah berfirman kepada nabi Musa, "Wahai Musa kujadikan bumi ini tunduk kepada perintahmu, maka perintahlah ia sekehendak hatimu." Setelah mendengar seruan dari Allah, nabi Musa berkata pada kaumnya, "Kaumku sekalian, barang siapa yang tetap setia pada Qarun ikutilah dia. Dan siapa yang bersedia menerima ajaranku, segera bergabunglah dengangku."

Kelompok pun terbagi, orang-orang yang taat pada Musa dan orang-orang yang setia pada Qarun. Setelah itu nabi Musa menengadahkan tangan dan berdoa, "Hai bumi telanlah Qarun dan pengikutnya." Maka bumi pun tunduk pada perintah Musa. Tak hanya itu rumah dan seluruh harta Qarun ditelan bumi pula sampai hilang dari pandangan mata.

Minggu, 16 Agustus 2026

Catatan Akhir Mengajar

Dari sekian banyak catatan yang dimiliki seorang guru, tekad lah yang menjadi Api penggerak, setelah itu ada penjaga yang bernama misi, yang terus menerus digenggam.

Api tekad inilah yang akan menghubungkan dengan pengabdian atas nama ibadah (karena Tuhan yg berkehendak demikian), agar api pengabdian makin terang di kemudian hari, meski dirinya tak lagi mengajar.

Alas ibadah sebagai landasan mengajar menjadi pilar asasi, prinsip seperti para ksatria itu, akan terus dikenang dan terpatri dalam sanubari meski sang pengabdi peradaban telah mendiang.

Prinsip layaknya ksatria akan menimbulkan daya nalar diatas rata-rata. Daya nalarnya mampu melampaui jenjang strata yang paling tinggi di negeri pemuja gelar. Meski gelar itu penting dan perlu, tetapi tidak menjamin kepastian semua ukuran kompetensi akademik. Apalagi mengukurnya harus memiliki selembar ijazah (mutlak tak ada kompromi). Menurut filsuf abad ini; Ijazah tanda pernah belajar, bukan tanda mampu berpikir. Artinya jika ijazah tidak ditindak lanjuti dalam pembelajaran mendalam, maka ijazah itu akan sama kedudukannya dengan kedunguan macam firaun. Ijazah itu benda mati, pemiliknya lah yang memberikan penerangan agar tidak tersesat.

HUMOR SUFI

Ada Cara Lain

Seseorang yang sudah mempelajari banyak ilmu metafisik di berbagai perguruan, datang kepada Nasrudin. Untuk menunjukkan ia murid yang baik, maka diungkapkan secara detail tempat-tempat di mana ia belajar, dan apa saja yang sudah di pelajari.

"Saya harap, Mullah akan menerimanya saya atau, paling tidak, menceritakan tentang ide-ide Mullah," katanya, "karena saya sudah begitu banyak menghabiskan waktu dalam mempelajari ilmu ini."

"Aku mengerti maksudmu," Kata Nasrudin, "Engkau telah mempelajari guru-guru dan ajaran mereka. Tapi mestinya guru-guru dan ajaran-ajaran itulah yang harus mengajarimu. Nah, dari sana, kita baru akan memperoleh sesuatu yang bermanfaat.

Tidak Untuk Dibawa

"Aku akan mengajarkan kepadamu perihal metafisik," kata Nasrudin kepada seorang tetangga yang tampaknya memiliki pemahaman yang mengagumkan, meskipun masih sedikit.

"Aku akan senang sekali," kata sang tetangga, "datanglah ke rumahku. Di sana engkau bisa bicara panjang lebar padaku."

Nasrudin menyadari bahwa laki-laki itu berpikir, bahwa pengetahuan mistis dapat dipindahkan begitu saja melalui kata-kata yang keluar dari mulut. Nasrudin diam saja mendengar ajakan itu.

Beberapa hari kemudian, sang tetangga memanggil-manggil sang Mullah dari atas atap rumahnya. "Nasrudian, aku membutuhkan bantuanmu untuk meniup api di tungkuku, arangku tidak ada."

"Boleh," sahut Nasrudin. "Datanglah ke mari. Kau boleh bawa sebanyak mungkin."

Rahasia

Nasrudin memanjat sebuah tembok dan dari sana ia melihat sebuah halaman yang dipenuhi rumpu yang hijau dan lembut, bagaikan kain bludru yang amat halus. Ia memanggil tukang kebun yang sedang menyirami halama penuh rumput itu.

"Apa rahasianya untuk bisa membuat halaman seperti itu?"

"Tidak ada rahasia," kata tukang kebun. "Sini, aku beri tahu asal engkau turun kemari."

"Asyiiik," ujar sang Mullah sambil meluncur turun. "Aku akan membuat halaman seperti itu."

"Caranya," kata si tukang kebun, "tanamlah rumput, bersihkan biji-bijian, dan sesering mungkin gunting rumput."

"Aku bisa melakukannya semua! Berapa lama waktu yang dibutuhkan."

"Sekitar delapan ratus tahun."

"Rasanya, aku lebih suka melihat pemandangan dari jendelaku tanpa rerumputan," kata Nasrudin.

(Republika-kliping)

Sabtu, 15 Agustus 2026

Paradoks

Pekan lalu, sebuah email tanpa nama pengirim masuk ke mail box saya. Judul surat elektronik tersebut PARADOKS, isinya tentang fenomena-fenomena paradoks di sekitar kita. Siapapun pengirimnya saya ucapkan terimakasih, karena sedikit banyak telah memberikan semacam penyegaran pada kesadaran, setidaknya untuk saya. Dengan sedikit edit sana-sini, berikut cuplikan email untuk anda, pembaca:

Kita memiliki gedung-gedung yang lebih tinggi, tetapi semakin rendah ketahanan kita akan amarah. Kita membangun banyak jalan-jalan yang besar, tapi wawasan kita semakin sempit. Kita banyak menghabiskan uang, tapi semakin sedikit apa yang kita punya. Banyak membeli, tetapi semakin sedikit yang bisa kita nikmati.

Rumah-rumah kita bertambah besar, akan tetapi keluarga kita semakin kecil. Rumah yang semakin nyaman, tapi semakin sedikit waktu yang kita miliki untuk menikmatinya. Rumah-rumah yang semakin elok, tetapi keluarga yang berantakan. Inilah masa pendapatan yang berganda tetapi perceraian bertambah.

Kita memiliki semakin banyak gelar, tetapi semakin sempit akal. Semakin banyak pengetahuan, tetapi semakin penilaian pada yang baik dan salah.

Semakin banyak ahli, akan tetapi semakin banyak pula masalah, semakin banyak ditemukan obat, tetapi semakin berkurang kesehatan.

Kita terlalu banyak merokok, ceroboh, terlalu jarang tertawa, mengemudi terlalu cepat, semakin kerap marah, susah tidur, bangun dalam keadaan yang terlalu penat, terlalu sedikit membaca, terlalu banyak menonton televisi, dan sangat jarang berdoa.

Kita telah melipatgandakan keinginan, akan tetapi mengurangi nilai-nilai diri kita. Terlalu banyak berbicara dan kurang mendengar. Terlalu sedikit mencinta dan terlalu sering membenci.

Kita telah belajar bagaimana mencari nafkah, tapi tidak mencari hidup. Kita telah mampu menambahkan tahun-tahun dalam kehidupan kita, tetapi gagal membawa kehidupan dalam tahun-tahun hidup kita.

Kita telah melakukan hal-hal yang lebih besar, tetapi gagal melakukan hal-hal yang lebih baik. Kita telah membersihkan udara, tetapi jiwa kita penuh solusi. Kita telah menaklukkan atom, akan tetapi tidak mampu menaklukkan prasangka buruk.

Kita banyak menulis, tetapi sedikit belajar, kita banyak berencana, tetapi sedikit menggapai. Kita belajar untuk mengejar, tetapi tidak belajar menunggu.

Inilah zamannya makanan cepat saji dan pecernaan yang lambat. Manusia-manusia lebih besar fisiknya, tetapi kerdil karakternya. Inilah kalanya perjalanan yang semakin singkat, pakaian sekali pakai, moralitas yang terbuang, kelebihan berat badan, dan pil-pil yang dapat melakukan segalanya; membuat gembira, menenangkan dan sekaligus membunuh!

Inilah waktunya ketika banyak hal yang dipamerkan dans semakin sedikit yang disimpan. Ingatlah, sesungguhnya hidup tidak diukur dengan berapa banyak hembusan napas yang kita ambil. Tapi, hidup diukur dengan saat-saat terakhir hembusan napas kita.

Sabili. No. 17 TH. XI 12 Maret 2004/ 20 Muharram 1425 H

Jumat, 14 Agustus 2026

Sandiwara Kehidupan

Ditengah suasana yang kemarau ini, mari sejenak untuk duduk-duduk sambil memperhatikan dedaunan meranggas atau suasana semak yang kerontang, atau burung-burung yang makin kehilangan tempat untuk hinggap.

Pesan dari orang tua dan guru layak untuk direnungkan dengan ketulusan mendalam. Sebagaimana Ayahanda KH Didin Hafidhuddin memberikan pesan kepada seorang muslim kepada muslim yang lainnya. Penulis membuat tulisannya seperti hasil wawancara, Berikut pesannya:

Menurutnya, Al-Qur'an menggambarkan kehidupan dunia seperti sebuah permainan dan sandiwara, yang aktor dan para pemainnya adalah mahluk yang bernama manusia, sebagaimana diungkapkan dalam QS al-Hadid: 20, "ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak..."

Karena bersifat permainan, banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan realitas dan kenyataan, disarati dengan berbagai macam kepura-puraan. Bahkan, dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "sesungguhnya akan terjadi suatu masa yang penuh dengan tipu daya. Pendusta akan dianggap orang jujur, sedangka orang jujur dianggap pendusta. Para penghianat dianggap amanah, sebaliknya orang yang amanah dianggap penghianat. Dan akan lahir para pemimpin bodoh yang sama sekali tidak mengerti persoalan rakyat dan masyarakatnya, tetapi keluar dari mulutnya ucapan dan pernyataan yang seolah-olah membeli kepentingan rakyat.

Dalam realitas kehidupan, banyak sekali orang yang terpedaya dengan sandiwara-sandiwara itu, sehingga ia pun melacurkan diri dalam permainan tersebut, lalu mengambil jalan pintas untuk ikut berbagga-bangga dengan harta dan jabatan. Seolah-olah itulah kehidupan yang sesungguhnya. Segala macam cara dihalalkan untuk meraih hal tersebut. Bahkan tidak jarang dilakukan upaya pembenaran yang salah dan merusak kehidupan. Hukum dan aturan hanyalah dijadikan sebagai tameng yang bisa diperjualbelikan. Pengadilan pun tampak seperti sebuah dagelan dan permainan.

Ayahanda KH Didin juga berpesan bahwa kejujuran, amanah, dan tanggung jawab hanyalah dianggap sesuatu yang tidak mungkin terjadi, yang karena itu tidak perlu dipertahankan dan diperjuangkan. Mereka tidak sadar bahwa sandiwara itu tidak akan berlangsung lama. Karena bagaimanapun juga, kebatilan dan kezaliman akan dirasakan akibat buruknya, baik ketika di dunia ini, walaupun sifatnya sementara dan belum sesuai dengan tindakannya, ataupu di akhirat nanti yang sifatnya abadi.

Sebagai pesan terakhir, beliau mengatakan bahwa bagi orang yang beriman, balasan yang sesungguhnya akan dirasakan di akhirat nanti di hadapan pengadilan Allah SWT, Zat yang Maha Adil, pengadilan yang mustahil bisa direkayasa. Setiap perbuatan pasti akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Karena itu, orang yang beriman dengan keyakinan ini, tidak boleh frustasi dan putus asa dalam memperjuangkan dan menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, walaupun banyak menghadapi kepura-puraan dan ketidak pastian. Wallahu 'alam bi ash-shawab.

Koran Republika (penulis luput mencatat tanggal dan tahun-dialog Jum'at)

Rabu, 12 Agustus 2026

Lewat Satu Percakapan, Apakah Orang Bisa Berubah?

Diam terkadang menjadi pilihan untuk menjawab betapa orang yang didepannya sangat 'menyebalkan'. Ia seperti seekor Anjing yang menjulurkan lidahnya. Di beri tahu atau tidak Anjing kerap menjulurkan lidahnya (Walau ada proses kimia ketika menjulurkan lidahnya). Ini menggambarkan betapa piciknya seseorang untuk sekadar mengenali dirinya sendiri saja tak mampu, apalagi untuk 'menjamah' pikiran orang lain. Alih-alih banyak hal yang bisa dikerjakan malah terpasung rencana, hanya sekadar rencana. Kenapa bisa begitu?, karena tumpukan debu yang tertangkap oleh ruang bisa menebal karena lamanya terperangkap. Makin hari makin pekat dan mengerak. Karakter seseorang bisa diibaratkan debu yang terjebak oleh ruang bernama tahun-tahun bebal.

Bebal karena kalis oleh tetesan embun, hingga jutaan kebaikan seringkali dimaknai sebagai serangan terhadapnya. Terbentuknya yang sangat lama itu membuat obrolan-obrolan bermutu yang bisa menyadarkan seseorang dari merasa paling tak bisa merontokan barang sebentar, karena debu kedunguan telah mengerak membentuk sedimen sok tahu.

Mungkin ia perlu ditundukkan, dengan begitu akan muncul kerendahan hati, bahwa Allah menciptakan dua telinga agar lebih banyak menyerap energi positif yang berupa apa saja menjadi panduan untuk bisa melihat dirinya sendiri. Orang yang tak bisa melihat dirinya sendiri seperti orang yang buta kehilangan matanya. Ada mata tetapi tidak melihat cahaya yang paling terang benderang. Lewat satu obrolan saja belum cukup, ia butuh waktu untuk merontokkan kebodohannya (jika ia merasa bodoh) agar nantinya cahaya itu bisa merobek gelap sedikit demi sedikit.

Lewat satu obrolan memang tidak cukup jika yang dihadapi manusia yang keras kepala, dalam arti yang mengarah kepada kesombongan, yang selalu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Pada kesempatan kali ini mari beri akses pada pikiran sendiri agar lebih lentur untuk menerima potensi kebaikan yang skalanya kecil dan datang dari orang yang tidak diharapkan lagi tidak diperhitungkan.

Perbedaan cara bersikap memang tidak melulu dituntaskan dalam satu obrolan saja. Percakapan yang 'daging' saja kalau sifatnya hanya ingin terlihat kontrarian saja, dapatnya sebatas itu, tidak lebih. Orang yang cenderung resisten terhadap nasihat, kerap menutup pendengaran dari beragam kemungkinan untuk melakukan kebaikan. Latar belakang pemikiran membentuk dirinya menjadi benteng apa saja. Bentuknya bisa macam-macam. Tidak ingin memanggil temannya "LAYAK" karena merasa dirinya paling benar adalah satu contoh. Pada akhirnya ia seperti terjebak pada perayaan semu atas nama 'Kalau tidak karena saya' maka tidak ada wahana A,B,C, dan seterunya. Obrolan akan berguna jika pikirannya memang sudah terbuka, bukan karena status orang yang dihadapinya tetapi karena ketulusan intelektual seseorang yang memang ada, bukan sekadar-sekadar. Cobalah renungkan itu.

Pendidikan, keluarga, luka-luka lama, prinsip hidup, dan juga jenis bacaan mempengaruhi seseorang dalam bertindak dan bertutur. Dan itu diperolehnya bertahun-tahun melewati dimensi waktu siang dan malam. Mengharapkan lewat satu obrolan lalu orang itu akan berubah rasanya mustahil. Hidayah berupa lembutnya hati itu bereaksi ketika seseorang memberikan celah pada kebaikan itu sendiri, lalu pelan-pelan meresap kedalam sanubari berupa konsistensi untuk mengubah apa yang perlu diubah. Bukan malah ngotot seperti Abu Jahal, karena dimensi kehormatan jauh lebih dipentingkan dari secercah hidayah yang pernah menyapanya.

Kelelahan adalah wajar, obatnya rehat sejenak dari hiruk pikuk karakter orang yang ditemuinya. Jika lelah lewat obrolan tidak tembus, maka doa menjadi penting. Ia sebagai senjata pamungkas. Karena hak mutlak yang bisa memberikan petunjuk pada kebenaran hanya Allah SWT, seseorang hanya diberi kesempatan untuk berdiskusi lewat satu/dua/tiga obrolan saja, selanjutnya orang tersebut akan menerimanya seperti apa.  Jika ia mengangguk pada potensi kebaikan, maka kebaikan itu menjadi kebaikan baginya, begitu juga sebaliknya.

Argumen sejitu apapun kalau dirinya tidak berusaha memanggil kebaikan dalam dirinya hasilnya kelelahan. Pintu-pintu telah tertutup debu. Keputusan tetap pada orang tersebut. Kegelapan tidak bisa ditembus hanya karena sudah merasa menebar lilin. Pikiran manusia seperti semak, yang perlu di bersihkan secara rutin. Yang tumbuh adalah pohon kebaikan bukan gulma kebodohan.

Memaksakan satu argumen, terasa kalah dalah argumen, dan mendiamkan satu jenis obrolan, adalah bentuk 'upaya' terakhir setelah semuanya terasa gagal dikompromikan, ada batas yang mesti diterapkan berupa diam atau sikap lainnya. Bukan abai, tetapi memberi ruang pikir agar tetap jernih untuk memberi peluang berikutnya. Ada jenis orang yang cukup hanya 'didiamkan' diberi sanggahan seperlunya, mengangguk, didengarkan, tak perlu dibantah, karena paradigma berpikirnya memang masih dibawah bayang-bayang merasa 'pakar'.

Di jelaskan memakai bahasa sekolah, bahasa kebun binatang, psikopat, tukang dagang, guru agama, dan seterusnya tetap pada pendiriannya merasa benar dan mengina kebenaran itu sendiri, hasilnya kegelapan pikiran menyelimuti pikirannya. Mungkin hanya kematian yang akan menyadarkannya.

TAMU

Ibnu Masud Radhiyallahu berkata: Tidak ada seorangpun yang berada di duni kecuali hanyalah sebagai seorang tamu, sedangkan harta yang dimiliki sebenarnya hanya barang pinjaman, maka tamu itu akan pergi dan harta pinjaman dikembalikan kepada yang punya (Allah Swt)

Hidup, kata Ahmad Syauqi, sang raja penyair Arab. Keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang mu'min sejati. Kata Imam Ahmad bin Hambal, tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu syurga.

Doa Baginda Nabi Muhammad Saw, Ya Allah jadikanlah cintaku kepadamu melebihi cintaku pada harta, keluarga, dan air yang dingin.

Merespon kebaikan dengan menekuninya, mengorbankan waktu, pikiran, dan biayanya adalah lebih baik dari pada merespon hal-hal yang sia-sia (lagi tak berguna)