Bus Dony Jaya berhenti. Keneknya mendorong tubuh Eng untuk menyempil diantara anak-anak dari sekolah lain. Sebelum naik Eng menyeka peluh di jidatnya. Sekarang pukul 7 pagi, dan ini bus terakhir sekolah. Kenek memukul kaca dengan koin sebanyak tiga kali, bukan untuk memecahkan tetapi memberi kode kepada supir agar lekas melaju.
Ini Bus sering disebut kura-kura tetapi berhati kuda. Meski lambat tetapi tak pernah somong untuk meminta tumpanga. Eng mengikuti nalurinya.
Sampai di kalikajar lengannya menegang. Tiap ingin terpelanting dari besi pegangan bus ini selalu berhenti untuk untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sampai di bancar Eng turun, sebuah keputusan buruk. Sudah kadung terlambat, jam pertama Ekonomi mungkin ada yang bisa dilakukan, pikiranya.
"Eng kenapa turun?" tanya seorang gadis. Eng menoleh tak memberi jawaban. Wajah Bita memerah dan bus melaju. "Gadis pembohong sok cantik," desisnya. Ia mulai jalan kaki sepanjang trotoar sampai samping sekolah. Ia belok ke arah belakang sekolah. Ada pagar besi tinggi yang membatasi gedung luar dengan sekolah. Ia mengelap telapak tangan yang berkeringat dan mulai merambat pelan samapi ke ata dan meluncur ke bawah dengan loncatan. Wajahnya memucat ketika mulai berjalan ke lorong sekolah. Guru Ekonomi yang gemulai itu baru selesai dari mengajar dan ia bersembunyi di balik sebuah meja dengan taplak menjuntai ke bawah.
Guru ekonomi lewat koridor lain. Eng menyembul perlahan dari balik taplak meja. Ia perlahan berdiri m menghirup nafas lega. Pada detik berikutnya bulu kuduk meremang, hawa dingin menyergap. Ketika menoleh kebelakang, guru BK sedang menatap tajam ke arahnya. Eng meringkuk dan tertawa getir. "Kekantor sekarang!"
🖤🖤🖤
"Mau sampai kapan kamu begini Eng!, terlambat setiap hari?" Tanya Guru BK
Eng tak menjawab sepatah kata.
"Eng!, mau sampai kapan!"
"Saya akan perbaiki, saya janji Bu?"
"Jika seminggu kamu masih terlambat, kamu akan di skors!, sekarang lari keliling lapangan 10 kali."
🖤🖤🖤
Keringan masih mengucur, seragam basah, Ia kembali ke kantor BK. Ia mengetuk dan masuk. Guru BK menggelengkan kepala sebanyak lima kali, bukan untuk menunjukkan anti feodal tetapi dengan cara apalagi bisa menyadarkan Eng dari sifat pangeran kesiangan, alias tukang telat.
"Ambil kartu terlambat dan masuk kelas, guru Kimia sudah masuk."
Jantungnya mau berhenti. Lututnya gemetar lemes. Keluar dari mulut Buaya masuk ke sarang Singa.
"Kenapa Bengong Eng, ayo masuk?"
Eng mengambil kartu terlambat dan berlari menuju kelas. Sampai di sana Guru Kimia sedang mengabsen. Eng mengetuk pintu dan masuk. Masih di dekat pintu. Wajah masam Guru Kimia, rambutnya kriting kayak mie instan.
"Dari mana Eng!"
"BK Pak"
"Terlambat!"
Eng mengangguk. Sekilas ia menatap ruang kelas. Ada yang menunduk ada yang menatap. Campur aduk. Merasa merasakan ketakutan yang sama.
"Keluar sana, tak perlu masuk pelajaran!"
Eng masih masih mematung, tiba-tiba tubuhnya sulit digerakkan.
"Dasar TOLOL! KELUAR!" suara guru kimia menggelegar. Bahu Eng melorot dan balik badan keluar dari kelas dan duduk di depan kelas. Mendengarkan Guru Kimia melanjutkan pelajaran. Mengeluarkan buku catatan. Menulis apa yang bisa di dengar. Lima belas menit kemudian. Ia mengelus perutnya. Ia menatap jam dinding, pukul 09.20. Ia berdiri merogoh celananya, uang saku masih ada seribu lima ratus. Cukup untuk pulang dan makan siang.
Dari pinggir jendela Bita menatapnya. Ia mengetuk jendela kaca dengan pulpen Pilot. Eng menatap sekilas lalu memasukkan buku catatan dan pergi ke kantin.
🖤🖤🖤
"Sarapan apa Eng?, tanya Bu Kantin.
"Nasi pecel setengah, sambelnya banyakin."
"Ada salam tuh dari gadis kesepian?" Ledek Bu Kantin.
"Males Bu?
"Kenapa?
"Males berantem sama yang suka sama dia."
"Tenang aja nanti Ibu bantuin, bantuin doa."
Ibu kantin tertawa. Renyah kayak kerupuk. Lalu berhenti sangat cepat. Seperti ketawa memiliki durasi.
Eng makan pecel. Bita tiba-tiba muncul di kantin. Membeli permen, menatap Eng. Eng sibuk dengan makannya. Bita keluar dari kantin. Eng menyeruput teh tawar panas.
"Dasar kirik busik!"
"Husshh, nggak baik ngomong begitu. Apa salah dia. Manis orangnya Eng."
"Manis orangnya, pahit kelakuannya Bu?"
Ibu kantin tertawa lagi. Lalu berhenti dalam beberapa detik, mingkem lagi.












