Minggu, 16 Agustus 2026

Catatan Akhir Mengajarv

Dari sekian banyak catatan yang dimiliki seorang guru, tekadlah yang menjadi Api penggerak, setelah itu ada penjaga yang bernama misi, yang terua menerus digenggam.

Api tekad inilah yang akan menghubungkan dengan pengabdian atas nama ibadah (karena gg yg berkehendak demikian), agar api pengabdian makin terang di kemudian hari, meski dirinya tak lagi mengajar.

Alas ibadah sebagai landasan mengajar menjadi pilar asasi, prinsip seperti para ksatria itu, akan terus dikenang dan terpatri dalam sanubari meski sang pengabdi peradaban telah mendiang.

Prinsip layaknya ksatria akan menimbulkan daya nalar diatas rata-rata. Daya nalarnya mampu melampaui jenjang strata yang paling tinggi di negeri pemuja gelar. Meski gelar itu penting dan perlu, tetapi tidak menjamin kepastian semua ukuran kompetensi akademik. Apalagi mengukurnya harus memiliki selembar ijazah (mutlak tak ada kompromi). Menurut fiksuf abad ini; Ijazah tanda pernah belajar, bukan tanda mampu berpikir. Artinya jika ijazah tidak ditindak lanjuti dalam pembelajaran mendalam, maka ijazah itu akan sama kedudukannya dengan kedunguan macam firaun. Ijazah itu benda mati, pemiliknya lah yang memberiakan untuk penerangan agar tidak tersesat.

HUMOR SUFI

Ada Cara Lain

Seseorang yang sudah mempelajari banyak ilmu metafisik di berbagai perguruan, datang kepada Nasrudin. Untuk menunjukkan ia murid yang baik, maka diungkapkan secara detail tempat-tempat di mana ia belajar, dan apa saja yang sudah di pelajari.

"Saya harap, Mullah akan menerimanya saya atau, paling tidak, menceritakan tentang ide-ide Mullah," katanya, "karena saya sudah begitu banyak menghabiskan waktu dalam mempelajari ilmu ini."

"Aku mengerti maksudmu," Kata Nasrudin, "Engkau telah mempelajari guru-guru dan ajaran mereka. Tapi mestinya guru-guru dan ajaran-ajaran itulah yang harus mengajarimu. Nah, dari sana, kita baru akan memperoleh sesuatu yang bermanfaat.

Tidak Untuk Dibawa

"Aku akan mengajarkan kepadamu perihal metafisik," kata Nasrudin kepada seorang tetangga yang tampaknya memiliki pemahaman yang mengagumkan, meskipun masih sedikit.

"Aku akan senang sekali," kata sang tetangga, "datanglah ke rumahku. Di sana engkau bisa bicara panjang lebar padaku."

Nasrudin menyadari bahwa laki-laki itu berpikir, bahwa pengetahuan mistis dapat dipindahkan begitu saja melalui kata-kata yang keluar dari mulut. Nasrudin diam saja mendengar ajakan itu.

Beberapa hari kemudian, sang tetangga memanggil-manggil sang Mullah dari atas atap rumahnya. "Nasrudian, aku membutuhkan bantuanmu untuk meniup api di tungkuku, arangku tidak ada."

"Boleh," sahut Nasrudin. "Datanglah ke mari. Kau boleh bawa sebanyak mungkin."

Rahasia

Nasrudin memanjat sebuah tembok dan dari sana ia melihat sebuah halaman yang dipenuhi rumpu yang hijau dan lembut, bagaikan kain bludru yang amat halus. Ia memanggil tukang kebun yang sedang menyirami halama penuh rumput itu.

"Apa rahasianya untuk bisa membuat halaman seperti itu?"

"Tidak ada rahasia," kata tukang kebun. "Sini, aku beri tahu asal engkau turun kemari."

"Asyiiik," ujar sang Mullah sambil meluncur turun. "Aku akan membuat halaman seperti itu."

"Caranya," kata si tukang kebun, "tanamlah rumput, bersihkan biji-bijian, dan sesering mungkin gunting rumput."

"Aku bisa melakukannya semua! Berapa lama waktu yang dibutuhkan."

"Sekitar delapan ratus tahun."

"Rasanya, aku lebih suka melihat pemandangan dari jendelaku tanpa rerumputan," kata Nasrudin.

(Republika-kliping)

Sabtu, 15 Agustus 2026

Paradoks

Pekan lalu, sebuah email tanpa nama pengirim masuk ke mail box saya. Judul surat elektronik tersebut PARADOKS, isinya tentang fenomena-fenomena paradoks di sekitar kita. Siapapun pengirimnya saya ucapkan terimakasih, karena sedikit banyak telah memberikan semacam penyegaran pada kesadaran, setidaknya untuk saya. Dengan sedikit edit sana-sini, berikut cuplikan email untuk anda, pembaca:

Kita memiliki gedung-gedung yang lebih tinggi, tetapi semakin rendah ketahanan kita akan amarah. Kita membangun banyak jalan-jalan yang besar, tapi wawasan kita semakin sempit. Kita banyak menghabiskan uang, tapi semakin sedikit apa yang kita punya. Banyak membeli, tetapi semakin sedikit yang bisa kita nikmati.

Rumah-rumah kita bertambah besar, akan tetapi keluarga kita semakin kecil. Rumah yang semakin nyaman, tapi semakin sedikit waktu yang kita miliki untuk menikmatinya. Rumah-rumah yang semakin elok, tetapi keluarga yang berantakan. Inilah masa pendapatan yang berganda tetapi perceraian bertambah.

Kita memiliki semakin banyak gelar, tetapi semakin sempit akal. Semakin banyak pengetahuan, tetapi semakin penilaian pada yang baik dan salah.

Semakin banyak ahli, akan tetapi semakin banyak pula masalah, semakin banyak ditemukan obat, tetapi semakin berkurang kesehatan.

Kita terlalu banyak merokok, ceroboh, terlalu jarang tertawa, mengemudi terlalu cepat, semakin kerap marah, susah tidur, bangun dalam keadaan yang terlalu penat, terlalu sedikit membaca, terlalu banyak menonton televisi, dan sangat jarang berdoa.

Kita telah melipatgandakan keinginan, akan tetapi mengurangi nilai-nilai diri kita. Terlalu banyak berbicara dan kurang mendengar. Terlalu sedikit mencinta dan terlalu sering membenci.

Kita telah belajar bagaimana mencari nafkah, tapi tidak mencari hidup. Kita telah mampu menambahkan tahun-tahun dalam kehidupan kita, tetapi gagal membawa kehidupan dalam tahun-tahun hidup kita.

Kita telah melakukan hal-hal yang lebih besar, tetapi gagal melakukan hal-hal yang lebih baik. Kita telah membersihkan udara, tetapi jiwa kita penuh solusi. Kita telah menaklukkan atom, akan tetapi tidak mampu menaklukkan prasangka buruk.

Kita banyak menulis, tetapi sedikit belajar, kita banyak berencana, tetapi sedikit menggapai. Kita belajar untuk mengejar, tetapi tidak belajar menunggu.

Inilah zamannya makanan cepat saji dan pecernaan yang lambat. Manusia-manusia lebih besar fisiknya, tetapi kerdil karakternya. Inilah kalanya perjalanan yang semakin singkat, pakaian sekali pakai, moralitas yang terbuang, kelebihan berat badan, dan pil-pil yang dapat melakukan segalanya; membuat gembira, menenangkan dan sekaligus membunuh!

Inilah waktunya ketika banyak hal yang dipamerkan dans semakin sedikit yang disimpan. Ingatlah, sesungguhnya hidup tidak diukur dengan berapa banyak hembusan napas yang kita ambil. Tapi, hidup diukur dengan saat-saat terakhir hembusan napas kita.

Sabili. No. 17 TH. XI 12 Maret 2004/ 20 Muharram 1425 H

Jumat, 14 Agustus 2026

Sandiwara Kehidupan

Ditengah suasana yang kemarau ini, mari sejenak untuk duduk-duduk sambil memperhatikan dedaunan meranggas atau suasana semak yang kerontang, atau burung-burung yang makin kehilangan tempat untuk hinggap.

Pesan dari orang tua dan guru layak untuk direnungkan dengan ketulusan mendalam. Sebagaimana Ayahanda KH Didin Hafidhuddin memberikan pesan kepada seorang muslim kepada muslim yang lainnya. Berikut pesannya:

Menurutnya, Al-Qurna menggambarkan kehiduapn dunia seperti sebuah permainan dan sandiwara, yang aktor dan para pemainnya adalah mahluk yang bernama manusia, sebagaimana diungkapkan dalam QS al-Hadid: 20, "ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak..."

Karena bersifat permainan, banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan realitas dan kenyataan, disarati dengan berbagai macam kepura-puraan. Bahkan, dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "sesungguhnya akan terjadi suatu masa yang penuh dengan tipu daya. Pendusta akan dianggap orang jujur, sedangka orang jujur dianggap pendusta. Para penghianat dianggap amanah, sebaliknya orang yang amanah dianggap penghianat. Dan akan lahir para pemimpin bodoh yang sama sekali tidak mengerti persoalan rakyat dan masyarakatnya, tetapi keluar dari mulutnya ucapan dan pernyataan yang seolah-olah membeli kepentingan rakyat.

Dalam realitas kehidupan, banyak sekali orang yang terpedaya dengan sandiwara-sandiwara itu, sehingga ia pun melacurkan diri dalam permainan tersebut, lalu mengambil jalan pintas untuk ikut berbagga-bangga dengan harta dan jabatan. Seolah-olah itulah kehidupan yang sesungguhnya. Segala macam cara dihalalkan untuk meraih hal tersebut. Bahkan tidak jarang dilakukan upaya pembenaran yang salah dan merusak kehidupan. Hukum dan aturan hanyalah dijadikan sebagai tameng yang bisa diperjualbelikan. Pengadilanpun tampak seperti sebuah dagelan dan permainan.

Ayahanda KH Didin juga berpesan bahwa kejujuran, amanah, dan tanggung jawab hanyalah dianggap sesuatu yang tidak mungkin terjadi, yang karena itu tidak perlu dipertahankan dan diperjuangkan. Mereka tidak sadar bahwa sandiwara itu tidak akan berlangsung lama. Karena bagaimanapun juga, kebatilan dan kezaliman akan dirasakan akibat buruknya, baik ketika di dunia ini, walaupun sifatnya sementara dan belum sesuai dengan tindakannya, ataupu di akhirat nanti yang sifatnya abadi.

Sebagai pesan terakhir, beliau mengatakan bahwa bagi orang yang beriman, balasan yang sesunggunya akan dirasakan di akhirat nanti di hadapan pengadilan Allah SWT, Zat yang Maha Adil, pengadilan yang mustahil bisa direkayasa. Setiap perbuatan pasti akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Karena itu, orang yang beriman dengan keyakinan ini, tidak boleh frustasi dan putus asa dalam memperjuangkan dan menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, walaupun banyak menghadapi kepura-puraan dan ketidak pastian. Wallahu 'alam bi ash-shawab.

Rabu, 12 Agustus 2026

Lewat Satu Percakapan, Apakah Orang Bisa Berubah?

Diam terkadang menjadi pilihan untuk menjawab betapa orang yang didepannya sangat 'menyebalkan'. Ia seperti seekor Anjing yang menjulurkan lidahnya. Di beri tahu atau tidak Anjing kerap menjulurkan lidahnya (Walau ada proses kimia ketika menjulurkan lidahnya). Ini menggambarkan betapa piciknya seseorang untuk sekadar mengenali dirinya sendiri saja tak mampu, apalagi untuk 'menjamah' pikiran orang lain. Alih-alih banyak hal yang bisa dikerjakan malah terpasung rencana, hanya sekadar rencana. Kenapa bisa begitu?, karena tumpukan debu yang tertangkap oleh ruang bisa menebal karena lamanya terperangkap. Makin hari makin pekat dan mengerak. Karakter seseorang bisa diibaratkan debu yang terjebak oleh ruang bernama tahun-tahun bebal.

Bebal karena kalis oleh tetesan embun, hingga jutaan kebaikan seringkali dimaknai sebagai serangan terhadapnya. Terbentuknya yang sangat lama itu membuat obrolan-obrolan bermutu yang bisa menyadarkan seseorang dari merasa paling tak bisa merontokan barang sebentar, karena debu kedunguan telah mengerak membentuk sedimen sok tahu.

Mungkin ia perlu ditundukkan, dengan begitu akan muncul kerendahan hati, bahwa Allah menciptakan dua telinga agar lebih banyak menyerap energi positif yang berupa apa saja menjadi panduan untuk bisa melihat dirinya sendiri. Orang yang tak bisa melihat dirinya sendiri seperti orang yang buta kehilangan matanya. Ada mata tetapi tidak melihat cahaya yang paling terang benderang. Lewat satu obrolan saja belum cukup, ia butuh waktu untuk merontokkan kebodohannya (jika ia merasa bodoh) agar nantinya cahaya itu bisa merobek gelap sedikit demi sedikit.

Lewat satu obrolan memang tidak cukup jika yang dihadapi manusia yang keras kepala, dalam arti yang mengarah kepada kesombongan, yang selalu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Pada kesempatan kali ini mari beri akses pada pikiran sendiri agar lebih lentur untuk menerima potensi kebaikan yang skalanya kecil dan datang dari orang yang tidak diharapkan lagi tidak diperhitungkan.

Perbedaan cara bersikap memang tidak melulu dituntaskan dalam satu obrolan saja. Percakapan yang 'daging' saja kalau sifatnya hanya ingin terlihat kontrarian saja, dapatnya sebatas itu, tidak lebih. Orang yang cenderung resisten terhadap nasihat, kerap menutup pendengaran dari beragam kemungkinan untuk melakukan kebaikan. Latar belakang pemikiran membentuk dirinya menjadi benteng apa saja. Bentuknya bisa macam-macam. Tidak ingin memanggil temannya "LAYAK" karena merasa dirinya paling benar adalah satu contoh. Pada akhirnya ia seperti terjebak pada perayaan semu atas nama 'Kalau tidak karena saya' maka tidak ada wahana A,B,C, dan seterunya. Obrolan akan berguna jika pikirannya memang sudah terbuka, bukan karena status orang yang dihadapinya tetapi karena ketulusan intelektual seseorang yang memang ada, bukan sekadar-sekadar. Cobalah renungkan itu.

Pendidikan, keluarga, luka-luka lama, prinsip hidup, dan juga jenis bacaan mempengaruhi seseorang dalam bertindak dan bertutur. Dan itu diperolehnya bertahun-tahun melewati dimensi waktu siang dan malam. Mengharapkan lewat satu obrolan lalu orang itu akan berubah rasanya mustahil. Hidayah berupa lembutnya hati itu bereaksi ketika seseorang memberikan celah pada kebaikan itu sendiri, lalu pelan-pelan meresap kedalam sanubari berupa konsistensi untuk mengubah apa yang perlu diubah. Bukan malah ngotot seperti Abu Jahal, karena dimensi kehormatan jauh lebih dipentingkan dari secercah hidayah yang pernah menyapanya.

Kelelahan adalah wajar, obatnya rehat sejenak dari hiruk pikuk karakter orang yang ditemuinya. Jika lelah lewat obrolan tidak tembus, maka doa menjadi penting. Ia sebagai senjata pamungkas. Karena hak mutlak yang bisa memberikan petunjuk pada kebenaran hanya Allah SWT, seseorang hanya diberi kesempatan untuk berdiskusi lewat satu/dua/tiga obrolan saja, selanjutnya orang tersebut akan menerimanya seperti apa.  Jika ia mengangguk pada potensi kebaikan, maka kebaikan itu menjadi kebaikan baginya, begitu juga sebaliknya.

Argumen sejitu apapun kalau dirinya tidak berusaha memanggil kebaikan dalam dirinya hasilnya kelelahan. Pintu-pintu telah tertutup debu. Keputusan tetap pada orang tersebut. Kegelapan tidak bisa ditembus hanya karena sudah merasa menebar lilin. Pikiran manusia seperti semak, yang perlu di bersihkan secara rutin. Yang tumbuh adalah pohon kebaikan bukan gulma kebodohan.

Memaksakan satu argumen, terasa kalah dalah argumen, dan mendiamkan satu jenis obrolan, adalah bentuk 'upaya' terakhir setelah semuanya terasa gagal dikompromikan, ada batas yang mesti diterapkan berupa diam atau sikap lainnya. Bukan abai, tetapi memberi ruang pikir agar tetap jernih untuk memberi peluang berikutnya. Ada jenis orang yang cukup hanya 'didiamkan' diberi sanggahan seperlunya, mengangguk, didengarkan, tak perlu dibantah, karena paradigma berpikirnya memang masih dibawah bayang-bayang merasa 'pakar'.

Di jelaskan memakai bahasa sekolah, bahasa kebun binatang, psikopat, tukang dagang, guru agama, dan seterusnya tetap pada pendiriannya merasa benar dan mengina kebenaran itu sendiri, hasilnya kegelapan pikiran menyelimuti pikirannya. Mungkin hanya kematian yang akan menyadarkannya.

TAMU

Ibnu Masud Radhiyallahu berkata: Tidak ada seorangpun yang berada di duni kecuali hanyalah sebagai seorang tamu, sedangkan harta yang dimiliki sebenarnya hanya barang pinjaman, maka tamu itu akan pergi dan harta pinjaman dikembalikan kepada yang punya (Allah Swt)

Hidup, kata Ahmad Syauqi, sang raja penyair Arab. Keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang mu'min sejati. Kata Imam Ahmad bin Hambal, tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu syurga.

Doa Baginda Nabi Muhammad Saw, Ya Allah jadikanlah cintaku kepadamu melebihi cintaku pada harta, keluarga, dan air yang dingin.

Merespon kebaikan dengan menekuninya, mengorbankan waktu, pikiran, dan biayanya adalah lebih baik dari pada merespon hal-hal yang sia-sia (lagi tak berguna)

Senin, 10 Agustus 2026

MARAH

Marah itu potensi sekaligus tragedi bagi manusia. Ia jadi potensi kreatif, jika diarahkan menjadi energi yang menggerakkan manusia, untuk menemukan inovasi-inovasi baru atas setiap keadaan yang tidak sesuai dengan norma, etika, dan prinsip-prinsip yang disepakati bersama. Atau, dalam konteks yang lebih fundamental, yaitu nilai-nilai keislaman dan aqidah. Singkatnya, 'marah yang kreatif' adalah kemarahan yang terolah. Baik secara individu maupun kolektif untuk mengubah keadaan dari yang tidak islami menjadi yang lebih islami.

Sebaliknya, marah yang mengkerdilkan, adalah marah yang menebarkan aroma fitnah dan kebencian. Marah yang merubah ukhuwah menjadi kasak-kusuk dan saling curiga. Marah karena nafsu dan kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri.

Islam, sebagai agama paripurna,ternyata tidak hanya mengatur soal-soal ketatanegaraan, namun juga mengatur hal-hal "kecil" yang berhubungan dengan "manajemen marah" ini. Islam mengakui dan menghargai bahwa potensi marah itu ada dalam diri manusia. Itulah sebabnya mengapa ia memberi koridor dan saluran yang tepat bagi "pelampiasan kemarahan" ini. Kemarahan seorang muslim karena Tuhannya dan agamanya.

Itulah rahasinya, mengala islam mewajibkan kita berjihad ketika dakwah islam dihalangi, atau sekelompok saudara kita dianiaya secara semena-mena. Meski secara fitrah kemanusiaan, membunuh adalah perkara yang tidak disukai manusia (QS albaqoroh:216). Itu karena Islam ingin mentarbiyah umatnya dengan 'manjemen marah' yang benar. Bahwa marah yang benar, adalah marah yang dilakukan dan diniatkan karana Allah dan semata-mata berorientasi akhirat.

Itu juga menjelaskan, mengapa Rasulullah saw tak pernah menggubris cercaan, cacian, dan hinaan yang mengarah kepada diri pribadinya. Namun, ketika Islam dilecehkan, beliau tak segan memimpin sendiri pertempuran melawan kafir Quraisy, meskipun mereka masih terbilang kerabat beliau sendiri. Hal itu juga yang menjelaskan kemarahannya kepada Usamah bin Zaid, putra anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah, ketika mengajukan keringanan huduud, hanya karena yang kebetulan melakukan pencurian adalah seorang wanita bangsawan dari bani Makhzum.

Maka, jika Islam memerintahkan orang tua memukul anaknya yang tidak sholat, menganjurkan setiap muslim agar saling nasehat menasihati baik sebagai pemimpin ataupun yang dipimpin, bukan berarti Islam sedang mengajarkan saling benci. Ia sekadar upaya eksplorasi dan ekspresi cinta yang benar. Saat dimana kita menempatkan "hak Allah" di atas segala-galanya. Karenanya, jika ada seorang muslim yang 'marah' kepada saudaranya, karena kezaliman yang diperbuat, lalu mengkritik secara bijak, sesungguhnya ia sedang mengungkapkan cintanya secara benar.

Saudaraku, di dunia ini, ada banyak hal dan keadaan dimana idealisme dan cita-cita tak selamanya nyambung. Berbagai paradoks yang kadang mengundang kegeraman, protes, dan rasa marah. Jika hal itu menimpa kita, lalu membuat kita marah 'marah', mari kita lakukan dengan ikhlas demi meraih ridha-Nya semata. Bukan karena egoisme dan kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri. Tentu dengan nasihat lembut dan imbauan yang bijak. Sebab, insya Allah, itu akan lebih kekal dan terasa manfaatnya. Wallahu A'lam.

(M. Adnan Firdaus, sabilino18 thn.IX 7 Maret 2002/22 Dzulhijjah 1422)

Sabtu, 18 Juli 2026

Dampak Jauh Dari Kurangnya Membaca

1. GAGAL NALAR


Ketika seseorang kesulitan mengakses pengetahuan dirinya, disebabkan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, maka pada saat yang bersamaan pengetahuannya akan membuatnya terlihat bodoh didepan pengetahuan itu sendiri. Tengoklah bagaimana konsep uji balistik. Pengetahuan yang ia miliki tumpul ketika ingin membedah satu permasalahan/situasi yang sedang terjadi hari ini, esok, dan kemarin. Mengiri dirinya bisa menunjukkan satu cacat logika, pada waktu yang sama luka intelektual tengah kering kemarau menunggu hujan solusi yang membuatnya makin terlihat dungu sedungudungunya. Ingin bersinar, justru sinarlah yang membukakan ketak linier antara sebab dan akibat. Dengan kata lain ambang batasnya nol argumennya juga mangkrak tak karuan. Kecerdasan analitik dan sintetiknya sangat memperihatinkan.

Usia boleh saja senja, rasa hangat intelektual yang terus di garang akan menunjukkan cahaya berpikir kritis-bukan serba kontra ria, tetapi memperlihatkan kedewasaan berpikir, ketenangan mengambil sikap, dan mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan-pengetahuan hasil studi literatur dari beragam buku. Jika seseorang itu selalu mengedepankan i'tikad baik, maka ia dengan sendirinya akan berjalan pada : niat yang lurus dibarengi dengan ikhtiar maksimal.

Ketika tua menghampiri kehidupannya, lalu tak bisa menangkap pengalaman dari beragam pengalaman dirinya dan orang lain. Maka yang terlihat kemudian adalah analitik dan sintetiknya 0 egonya naik 100. Tak berlebihan jika kematian yang mungkin akan membuatnya bisa sedikit berpikir, bukan memanjangkan lidah lalu memendekkan akal.

Sabtu, 04 Juli 2026

Mata Rantai Emas

Allah memberi jaminan dan Ia sendiri yang menjaminnya lewat lisan Nabi Muhammad Saw, bahwa sebaik-baik kalian adalah:

1. Orang yang (belajar) Quran, dan semua turunannya. Pada level ini Allah memberi jaminan kehidupannya akan lebih baik dari sebelumnya, mungkin tidak materi-pada saat itu-tetapi kahanifan dalam menjalani semua unsur hidup dan kehidupan. Allah jaga setiap saat, karena pembaca (pembelajar) sedang menjaga mata rantai emas sampai Allah sendiri yang kemudian memberikan jatuh tempo pada detik-detik terakhir kematian. Pembaca yang pembelajar seperti sedang menjaga mata rantai emas, bayangkan pembelajar alquran (tahsin) ingin bacaannya sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Berarti pembaca punya tekad api untuk menjaga kalamullah tetap terbaca seperti yang Allah turunkan, lewat Malaikat Jibril diteruskan kepada Nabi Muhammad Saw di estafetkan kembali kepada para sahabat yang mulia sampai pada umat sekarang ini. Situasi seperti ini yang diihktiarkan oleh ahlul quran agar pembacaannya kembali kepada Allah. Allah menurunkan Alquran lengkap dengan cara membacanya, berarti ada wilayah Allah dan ada wilayah manusia-orang yang berusaha memperbaiki memperbagusi bacaan qurannya sampai mendekati mutqin dan berusaha untuk sempurna. Itu yang dimaui Allah SWT.

2. Setelah menjadi pembelajar, ia berusaha mengamalkan apa yang sudah dipelajari. Pendekatan paling sederhana, jika tak mau disebut pelik lagi rumit. Adalah mempraktikkan kepada diri sendiri, keras pada diri sendiri, ketat pada diri pribadi ketika melafalkan setiap huruf yang dihadapinya, tanpa terbesit untuk mengeluh sebagai produk ketidak seriusan dalam menyambut gembira huruf-huruf Qur'an. Satu dua berhasil, ada yang datang 'meminta' untuk dilatih, latihlah mereka dengan kesungguhan berbalut kelembutan seperti mengasuh bayi-bayi lucu tak berdosa. Lahir kemudian kepekaan terhadap bacaan dan kesungguhan untuk memperbaiki kesalahan. Kesalahan adalah bentuk kesadaran atas sesuatu yang dirasa penting dan pembaca menyadari sebagai keterlambatan yang tak disadarinya pada masa lampau. Pada titik inilah mentor menghadirkan pendampingan yang berbasis pada kelenturan yang tidak dilentur-lenturkan, sehingga pembaca awal memiliki kepekaan pada perjumpaan awal di kelas-kelas tahsin. Sampai di sini dulu ya. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aaminn.

Selasa, 23 Juni 2026

Jurnal QQ

Assalamualaikum saya Queena Qisthi Aprian dari kelas 5B. Pada kesempatan hari ini QQ akan menyamapaikan beberapa hal dari proyek kami yang saya dan teman-teman kerjakan selama 1 semester. Proyek ini bernama Diorama Kota Berkelanjutan.

Proyek ini kami buat sebagai media untuk menjelaskan materi-materi yang sudah dipelajari pada semua mata pelajaran yang digambarkan pada sebuah karya sederhana ini.

Lalu pengertian dari kota berkelanjutan adalah kota yang bersih,sehat, aman dan ramah lingkungan serta dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa merusak alam.

Senin, 22 Juni 2026

Mengajar Keledai Membaca

Seseorang memberikan hadia seekor keledai kepada sang amir. orang-orang yang hadir ketika itu mulai memuji-muji binatang itu. Akhirnya seseorang berkata: "Aku malah dapat mengajar keledai ini membaca buku."

Sang amir pun menjadi murka dan berkata, "kamu harus dapat membuktikannya. Bahwa keledai ini dan ajarilah ia membaca dalam waktu satu bulan. Jika tak berhasil, akan kupenggal kepalamu. Jika berhasil, akan kuberi hadiah kamu sepuluh keping emas."

Si lelaki itu membawa pulang. Setelah beberapa hari mengembara dia berjumpa dengan seorang sufi di jalan dan menceritakan ancaman berat sang amir.

Sang Sufi berkata berkata: "Ambilah sebuah kitab yang besar, seperti kitab filsafat, dan letakkan jerami dintara lembar-lembar halaman kita itu. Buatlah supaya keledai itu lapar selama sehari, lalu bukalah kita itu di depan binatang itu, dan bukalah lembar demi lembar halam kitab itu begitu keledai itu makan jerami dari tiap-tiap halaman. Pada akhir bulan, sebelum bertemu dengan sang amir, buatlah binatang itu tetap lapar lagi. Pada hari yang telah ditentukan,bawalah keledai itu kepada amir bersama-sama dengan kitab itu, tetapi kali ini jangan letakkan jerami di antara halaman-halaman kitab itu."

Orang itu melakukan apa yang dinasihatkan oleh sang sufi dan meyakinkan sang amir bahwa dia telah mengajari keledai itu bukan saja membaca, tetapi juga membaca filsafat.

Humor Sufi

Kamis, 18 Juni 2026

Lebih Baik Mana...

Sang imam, Abubakar Al-Junadi, cemas memikirkan Abu Fardan. Laki-laki itu biasanya paling rajin sholat berjamaah. Tapi dua pekan ini ia tidak pernah datang ke masjid. Bahkan belakangan malah tidak terdengar lagi kabar beritanya. Terdorong oleh rasa tanggung jawabnya selaku imam masjid, Abubakar Al-Junaid mendatangi Abu Fardan.

"Sudah enam hari saudaraku tidak kelihatan sholat berjamaah. Kenapa?" tanya sang Imam. "Apakah anda sakit?"

"Tidak," jawab Abu Fardan. "Saya sehat-sehat saja."

"Istri atau anak anda yang sakit, barangkali," selidik sang imam penasaran.

"Tidak juga," Abu Fardan menggeleng ringan.

Dengan sabar sang imam kembali bertanya, "Atau anda sedang tertimpa musibah, kematian umpamanya?"

Lagi-lagi Abu Fardan menggelengkan kepalanya. Setelah terdiam agak lama barulah dia membuka mulut, "Saya bukan sekadar tidak ke masjid. Saya sudah meninggalkan sholat."

Bagai disambar petir siang bolong, Abubakar Al-Junaid kaget sekali."Kenapa?" katanya setengah berteriak.

"Habis, sejak kecil saya sholat tapi hingga sekarang keadaan saya melarat terus, tidak berubah. Tapi mereka yang tidak sholat justru hidup berlebihan. Jadi bukankah lebih enah tidak usah sholat, toh capek-capek sholat tidak bisa mengubah penghidupan saya," tutur Abu Fardan mencoba berargumentasi. Gurat di wajahnya mencerminkan kegundahan hatinya.

"Lalu bagaimanakan keadaan anda sekarang setelah meninggalkan sholat? Apakah sudah lebih baik? Apakah rezekimu sudah bertambah banyak dan tidak miskin lagi?" tanya Abubakar Al-Junaid dengan tenang, karena dia merasa mulai mengerti duduk persoalannya.

"Sama saja," kata Abu Fardan masygul.

"Dulu, selama kamu rajin beribadah, penghidupan selalu sulit dan miskin. Setelah tu semenjak kamu tidak pernah sholat lagi, penghidupan juga tidak berubah. Kalau begitu, lebih baik mana? kamu pasti sependapat dengan saya, dari pada sholat tetap miskin, kan lebih baik terus sholat walaupun tetap miskin, ya tidak?"

 Lelaki yang diajak bicara itu tidak menyahut. Abubakar Al-Junaid tambah iba, lalu dia meneruskan penjelasannya, "Minimal kita masih punya harapan untuk mendapatkan balasan dari Allah di hari kemudian. Dan kita punya tempat untuk mengadu dan mengeluh, yaitu Alloh swt. Sedangkah jika kita tinggalkan sholat, sudah di dunia sengsara, di akhira malah tambah sengsara lagi. Dengan ibadah, berarti kita bisa minta tolong kepada Allah, selain minta bantuan kepada manusia. Coba kalau kita tidak beribada, paling-paling kita hanya minta bantuan manusia. Lalu apakah manusia mau membantu kita sebagaimana Allah menurunkan kurnianya pada kita?"

Abu Fardan diam dan mematung. Matanya yang cekung mulai membentuk kolam. Penyelesanya jelas terpeta di wajahnya. "Barsangkalah yang baik-baik terhadap ketetapan Alloh. Jangan kamu mengira bahwa mereka yang kaya raya hidupnya sama bahagia dengan kita yang nyaris tidak punya apa-apa. Belum tentu. Sebab kebahagiaan letaknya dalam hati, dalam kepuasaan jiwa," tutur sang imam.

Menyimak nasihat sang imam, Abu Fardan akhirnya menyadari kekeliruannya. Ia kembali ke masjid, dan terus berusaha mencari nafkah tanpa perlu menyesali rezeki yang diberikan Alloh kepadanya.

Eman Mulyatman. Sabili NO.11 TH. VI 9 Desember 1998/20 Sya'ban 1419 H, hal 39

PEMBAWA-PEMBAWA CAHAYA

Di pinggiran Danau Toba, dari arah pusat rekreasi Taman Simalem (Dekat Banjae), tidak saja alam sedang melukis keindahan, tetapi juga melukis kesempurnaan. Bayangkan, Pulau Samosir dari kejauhan dipeluk kelembutan Danau Toba, Dan pelukan lembut antara bukit dan danau ini ditandai sinar sejuk matahari.

Bagi siapapun yang dibekali cukup kepekaan, tempat-tempat seperti ini serupa dengan buku tua makna yang terbuka. Ia rindu untuk dibaca. Danau dengan airnya adalah simbolik kelembutan. Gunung dengan batu-batunya adalah wakil ketegasan. Ketika keduanya berpelukan mesra, ia menghasilkan cahaya terang kesejukan. Ia seperti sedang berpesan kepada manusia (khususnya pemimpin), jadilah sekeras batu dalam mendidik diri sendiri, selembut air dalam melayani orang lain. Hasilnya, engkau pun jadi bercahaya penuh kesejukan.

Bunga-bunga mekar nan indah di pinggir danau sebagai contoh lain, ia seperti tersenyum memanggil, hai manusia, tersenyumlah. Karena dalam senyumanlah letak kebahagiaan. Dalam senyuman itu tersembunyi persahabatan dengan kehidupan. Lebih mudah menemukan kedamaian melalui persahabatan dibandingkan permusuhan.

Ia yang mau mendengar lebih dalam lagi akan dapat pelajaran, ada bunga dalam sampah, ada sampah dalam bunga. Tidak mungkin ada bunga tanpa pupuk yang kerap disebut sampah. Dan bunga mana pun yang mekar hari ini akan menjadi sampah beberapa hari kemudian.

Ini juga terjadi dalam kehidupan manusia. Ada kemenangan dalam kekalahan. Ada kekalahan dalam kemenangan. Ketika manusia kalah dan tidak membuat ulah, ia sebenarnya sedang memenangkan kemulyaan dirinya. Kemenangan manusia manapun akan selalu berakhir dengan kekalahan.

"WE ARE WHAT WE CHOOSE"

Tidak banyak orang yang terhubung rapi dengan alam, terutama karena frekuensi batinyya berbeda dengan frekuensi alam. Batin kebanyakan manusia ditandai terlalu banyak ketidaktenangan (marah, serakah, protes, benci), sementara alam sepenuhnya tenang tanpa gangguan.

Bila boleh membandingkan dengan televisi, batin seperti televisi dengan ribuan saluran. Kemarahan adalah sebuah saluran. Ketenangan adalah saluran lain. Sengaja atau tidak, kitalah yang memilih saluran-saluran itu. Saat dipuji, orang bisa memilih saluran congkak, atau memilih saluran rendah hati. Ketika dimaki, manusia bisa memilih saluran membalas memaki, atau memilih saluran kesadaran bahwa orang yang memaki sedang membutuhkan welas asih kita.

Yang jelas, bukan makian orang yang menghancurkan, tetapi konskuensi dari memilih saluran kemarahanlah yang menghancurkan. Dengan demikian, bila sejumlah psikolog memiliki rumus we are what we think, dalam jalur pemahaman ini menjad we are what we choose. Kita menjadi sebagaimana pilihan kita dalam keseharian. Catatanya kemudian, ada yang memilih dengan kesadaran terang, ada yang memilih karena diarahkan kegelapan hawa nafsu.

Itu sebabnya manusia yang perjalanan doa dan meditasinya telah jauh, berlatih keras untuk mengelola hawa nafsu, dan pada saat sama bekerja keras menghidupkan cahaya kesadaran. Apapun yang terjadi dengan orang-orang ini, selalu memilih kesadaran yang terang, menjauh dari kegelapan hawa nafsu. Ciri lain dari pejalan kaki di jalan ini, ia tidak saja tersenyum dengan bibirnya, ia juga tersenyum dengan matanya (baca: memandang semua dengan spirit pengertian penerimaan, dan persahabatan).

Maka, ada yang menasihatkan, less thingking more smilling. Dengan pikiran, manusia mudah kali tergelincir ke dalam penghakiman, lalu penderitaan. Melalui senyuman, semua dipeluk dengan kelembutan, dan ini lalu menghadiahkan kebahagiaan, kedamaian, dan keheningan.

SEGENGGAM PUISI, SEKERANJANG MATAHARI

Siapa saja yang rajin berlatih menerangi diri dengan kesadaran, menjauh dari hawa nafsu, hidup menjadi segenggam puisi dan sekeranjang matahari. Segenggam puisi karena semua bermakna. Lebih dari bermakna, ia sudah dalam genggaman (baca: menjadi kekuatan yang membimbing pilihan dalam keseharian). Sekaranjang matahari karena makna ini sudah bisa dibawa ke mana-mana sebagai cahaya yang menerangi perjalanan. Tidak ada lagi tersisa kegelapan dengki, sakit hati, dan lainnya. Semua terang benderang.

Kesuksesan adalah puisi, kegagalan juga puisi. Pujian adalah puisi, makian juga puisi. Kesucian adalah puisi, kekotoran juga puisi. Disebut puisi karena semuanya kaya makna. Bila makna-makna ini menjadi pedoman keseharian, ia berubah menjadi matahari kesadaran yang menerangi.

Kehidupan boleh digantikan kematian. Keterkenalan boleh berubah menjadi ketidakterkenala. Pujian boleh disubtitusi cacian. Namun, cahaya kesadaran tetap bersinar. Persis seperti cahaya matahari. Tnapa membeda-bedakan, demikianlah kesadaran melaksanakan tugasnya.

Barbara Marciniak dalam Bringer of the dawn, yang mengaku dapat inspirasi salah satunya di Bali, lebih konkret dalam hal ini. Cermati salah satu kesimpulannya, "Emotion are a source of food. This is how you nourish yourself." Keadaan emosi (senang-sedih, gembira-marah) adalah makanan berguna. Beginilah bibit-bibit di dalam disirami. BIla kebanyakan orang membenci emosi negatif seperti marah, di jalan ini semua emosi (positif-negatif) adalah petunjuk lain.

Maka, Barbara Marciniak menulis, "anger serves a purpose". Kemarahan hanya pelayan, bukan penguasa menentukan, tetapi ia membantu pencapaian tujuan. Ini mudah dimengerti. Kemarahan adalah sejenis kegelapan. Marah pada kemarahan sama dengan menambahkan kegelapan pada kegelapan. Tersenyumlah pada kemarahan. Sadari saat hadir, sekaligus waspada untuk tidak mengikuti kemauannya. Setelah itu, terlihat kemarahan sebenarnya memberi tanda-tanda. Setidak-tidaknya jadi tahu bahwa di daam sini masih ada noda. Di luar sana, ada orang atau keadaan yang perlu diwaspadai.

Perhatikan nasihat Barbara berikutnya, Be kind when you speak of the forces of darkness. Do not speak as if they are bad. Simply understand that they are uniformed." Bersikaplah baik bila berjumpa kekuatan-kekuatan kegelapan. Mereka tidak jahat, hanya belum tahu saja.

Ia yang menerangi keseharian dengan kesadaran dari dalam seperti ini sebenarnya juga Bringers of the dawn. Sekumpulan pembawa cahaya d tengah pekatnya kegelapan kemarahan, keserakahan, kebencian, kebingungan, ketidakpuasan. Bersama-sama kita doakan, semoga semua mahluk berbahagia.

Oleh Gede Prama-Bekerja di Jakarta;tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Jumat, 12 Juni 2026

Antara Penguasa dan Ulama

Suatu saat Khalifah Harun Ar-rasyid berkunjung ke pelosok desa Ar-Riqqah, beberapa puluh kilo dari istananya di Baghdad. Pada saat sama pula, seorang alim terkemuka waktu, Abdullah bin Mubarak yang terkenal kezuhudan, waro, dan tegas dalam membela kebenaran, datang pula ke Ar-Riqqah. Abdullah bin Mubarak juga dikenal sebagai ulama yang tak segan mengkritik penguasa.

Masyarakat kota kecil itu berbondong-bondong menyambut kedatangan Abdullah bin Mubarak yang memang telah mereka kenal sebelumnya. Mereka mendatangi masjid yang disinggahi Abdullah untuk meminta nasehat dan siraman rohani. Otomatis tempat menginap Harun Ar-Rasyid sunyi senyap. Ia pun lantas bertanya kepada salah seorang penjaganya, "kemana perginya penduduk daerah ini?" "Mereka semuanya berkumpul di masjid," jawab penjaga singkat. "Ada apa di sana," tanya khalifah penasaran. "seorang alim yang terkenal, Abdullah bin Mubarak, yang datang dari Khurasan sedang memberi ceramah dan petuah-petuah agama."

Karena begitu penasarannya, Khalifah segera menuju masjid tersebut. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat begaimana orang-orang rela berdesakan dan berjubel, dengan khusu dan khidmat mendengarakan kalimat-kalimat yang menyejukkan hati dari mulut seorang yang mulia dan berwibawa.

Khalifah pun dibuat terpekur dan tertunduk. "Demi Allah! Dialah raja yang sebenarnya, rakyat mendatanginya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan hati. Tidak seperti Harun, para pejabat datang kepadanya karena mengharap jabatan dan kekayaan," gumannya dalam hati.

Ibnu Ahmad-OASE-KHAZANAH-Sabili No.2 TH.IX hal.32

Senin, 08 Juni 2026

Konsep Diri

Beberapa hari yang lalu teman mengajar bercerita tentang seorang tetangga yang kedapatan menggantung lehernya pada seutas tali di batang pohon durian.

Ia juga memperlihatkan detik-detik menurunkan mayat yang terbujur kaku, orang-orang yang mengenalnya terlihat kesulitan melepas tali yang melilit disekitar lehernya. Mereka tampak kaget tak mengira orang yang dikenal pasrah pada sesuatu yang seharusnya bisa dihindari.

Betapapun peliknya sebuah masalah akan ada ujungnya,tak ada satupun masalah di dunia ini yang kekal, masalah ada batasannya, selagi masih ada tenaga untuk mencari celah solusi. Bunuh diri bukan "satu-satunya" cara untuk mengakhiri peliknya masalah. Justru sedang memperlihatkan konsep diri yang paling buruk dalam menghadapi masalah.

Ada banyak cara untuk keluar dari masalah. pertama, bercerita, petakan masalah, ketiga serahkan pada Tuhan. Memahami bahwa tidak ada yang terjadi di dunia, melainkan ada yang berkehendak membuat manusia tidak lekas putus asa. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dan memohon kekuatan pada Tuhan yang maha esa. Kunci semacam itu menjadikan tetap mawas diri, tidak lekas terpuruk, dan ada banyak pundak untuk dijadikan sandaran. 

Selasa, 28 April 2026

Aku Sesuaikan Persangkaan Hamba-Ku

Rasulullah SAW bersabda bahwasanya:

Allah SWT berfirman: Aku sesuaikan persangkaan hambaku padaku dan senantiasa mengawasinya. Jika ia menyebutku ditengah keramaian aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik dari keramaian tersebut. Jika ia menyebutku dalam dirinya, aku akan menyebutnya dalam diri-ku. Dan jika ia mendekatiku sejengkal, aku akan mendekatinya sehasta. Dan jika ia mendekatiku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan Jika ia mendatangiku sambil berjalan, aku mendatanginya sambil berlari. Hadits Riwayat Muslim

Lembar pertama sebagai cover buku.

Kamis, 04 September 2025

TUGAS FIKSI

ia mengemban tugs selayaknya para pejabat

lurah, petani, calo karcis, juga guru 

layaknya mata pisau yang mengiris bawah putih bawah merah juga cabai

ia membangunkan kesadaran para pembaca yang tulus tekun lagi tanpa ria


Ia menyalakan api tekad yang telah lama mati

meski mati yang sunyi lagi sepi


ia memang tidak seperti kitab suci yang turunnya dari tempat suci

ia datang untuk menghidupkan harapan dasar manusia


bergerak, bertumpu, juga bermimpi

tugas fiksi ia memeluk mimpi sekaligus mencari

dimana sebenarnya fiksi

ia hadir untuk tidak sekadar memantik kesadaran


ia hadir untuk menyela di saat hiruk pikuk aliansi

ia hadir menyemai arus kesadaran

meski tertatih dan terbuai luka

ia hidup sekaligus mati

Yang Tersembunyi dari Sebuah Pandangan

Siapa yang menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan Allah, maka allah akan mengaruniakan hikmah pada lisannya, yang dengan itu ia memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mendengarkanNya. siapa yang menundukkan pandangan dari syubhat, maka Allah akan menempatkan cahaya dalam hatinya. Cahaya yang menerangi menunjukkan keridhaanNya. (Abul Husein Al Warraq, jurnal buku saku pribadi, 2008)

Akses terbesar dari hati manusia pada dunia luar adalah melalui pandangan mata. maka kondisi yang ada didalam sangat tergantung pada apa yng dikonsumsi melalui mata. Apakah ketaatan atau kemaksiatan. Celakanya syaitan akan selalu mempunyai rencana-rencana keji bersamaan dengan setiap pandangan mata yang diarahkan seseorang. ( Salim A. Fillah, Jurnal Buku Saku Pribadi, 2008)

Senin, 01 September 2025

Orang-Orang Atas

Sekembalinya dari pertarungan. We, menemukan dirinya dalam keadaan diam tak bergerak. Tetapi ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh orang-orang atas, sangat lantang suaranya tetapi tidak memekakakkan telinga. Kain yang membekukan dirinya terasa lebih hangat, setelah beberapa jam lalu ia masih diliputi oleh kesakitan. Darah merembes dari tulang patah. Sejumlah karet keras yang telah dilapisi oleh teknologi canggih, juga sebongkah mesin dan sebentuk perlangkapan pilih tanding telah mengirimkannya kedalam tanah. Saat untuk terakhir kalinya matanya menatap seonggok pesanan yang belum sempat diantarkan. Semuanya berjalan begitu cepat, secepat dulu ia berlari mengindari kejaran mandor tebu yang kehilangan beberapa bilah tebu berkualitas ajib. Tanpa sempat berpamit pada orang-orang terdekat, rupanya seri kehidupannya telah tamat, seperti dalam 'gambaran' sewaktu ia kecil, lengkap dengan ceriat sampai 36 cerita. Orang-orang atas meneriakinya agar ia tetap kuat, tubuhhnya terasa lebih ringan. Ia tak mengira kalau orang-orang atas begitu mencintainya, kupikir mereka hanya memperdulikan diri mereka sendiri, tanpa mau untuk berterus terang."Nak bangun!" begitu teriak seorang Ibu yang kemarin tengah memperlihatkan aksinya dengan gagang sapu berbobot lima ratus gram. Citra Ibu tengah meledak ditingkahi hujan yang semakin sering. Membuat perih luka-luka lecet karena desakan yang tak lagi stabil.

Tubuhku terasa makin ringan ketika sekelompok pemuda yang kuyakini sebagai orang-orang atas tengah menggotongku dengan cekatan dan tenaganya kuat sekali. Aku saja hampir tak pernah membawa beban, kecuali beberapa kilo saja untuk mempertahankan masa otot agar tak menggelambir nanti di usia senja. Kata seorang petarung manusia bumi tak mengalami prima untuk yang kedua kalinya. Setelah itu tinggal masa senja yang tampak melelahkan untuk dijalani. Semuanya perlu dijalani sebagai manusia seutuhnya, orang-orang atas yang sibuk untuk dirinya sendiri (minimal), kini mereka bersatu pada untuk menggunakan logikanya menaruh sebongkah impian untuk negera tercintanya.

Aku tak bisa lagi mememdam luka. Rasa sakit yang kuderita semakin lama semakin mengendur. Pandangan yang semakin gelap seiring nafasku yang terakhir. Setalah pandangan terakhir, pandangan lain muncul, warnanya lebih terang, makin hangat, dan ada banyak pemandangan yang membuatku betah. Meski orang-orang atas mulai menerikku agar lebih lama bertahan dalam luka. Aku tidak memerdulikan teriakan mereka. Aku sudah mantap di sini, melihat dari dekat apa yang pernah diimpikan oleh orang-orang atas, dan diceritakan sangat sering oleh para pemuka agama.

Aku tak lagi bisa menjawab omongan kedua orangtuaku yang sedari tadi terus melelehkan air mata lewat kedua matanya. Ibu tak berbicara setelah tandu itu membuatku lebih gembira. Mungkin telah habis air matanya. Sementara ayah, aku ingin memeluknya tetapi aku sudah berjanji agar tak kembali, pada pemilik-Nya akau sudah melihat yang dijanjikan. Dan ayah kelihatan sangat terpukul, sekali lagi aku ingin memeluknya, tetapi keindahan itu telah menawanku hingga langkahku terus maju.

Pada detik-detik terakhir orang-orang atas bergerombol mengantarkanku pada tempat terakhir. Dimana mereka tak ingin ikut masuk kedalam meski mereka kenal dan dekat denganku, itu tidak mengapa. Mereka masih perlu meneruskan misinya, sementara misi telah selesai dan aku sudah mendapatkan apa yang ingin dilihat oleh mereka. Satu persatu orang-orang atas mulai meninggalkan. Aku takut setelah mereka pergi, dan orang terakhir pun telah pergi datang sesosok yang sering diceritakan oleh guru ngaji sebagai mahluk galak lagi bengis. Yang kutakutkan tidaklah terjadi aku justru bisa mengobrol dengan mereka sambil sesekali melihat sungai-sungai yang lagi menawaan. Belum pernah aku melihat pemandangan seperti ini. Kuharap ini surga pembuka sebelum kehidupan surga setelahnya. Sampai detik ini orang-orang atas tak pernah lagi menoleh kebelakang, bahkan salah satu dari orang-orang atas bisa kembali tertawa dan makan dengan lahap, siap untuk menapaki kehidupan berikutnya.

Rabu, 27 Agustus 2025

Cinta Yang Tersembunyi di Perpustakaan

Satu sore di sekolah SMP Bina Mulia, tepatnya di kantin, ada segerombolan laki-laki menghampiri seorang siswi yang Bernama Naomi.

“Vel, itu kan cewek yang lu suka kan, (wkwk). Kata temannya.

“Halo Naomi”. Ucap salah seorang temannya.

“Apaan sih, nggak jelas banget lu!, orang guwe nggak suka sama cewek itu”. Lugas Marvel memberi reaksi, kata-katanya terdengar jelas di telinga Naomi.

Matanya panas oleh kata-kata Marvel. Naomi tetap membalas sapaan itu dengan senyuman, meski senyuman palsu. Kebetulan Naomi itu menyukai Marvel. Karena mendengar kata-kata menyakitkan yang diucapkan oleh orang yang dia sukai.

Sejak saat itu kesukaan Naomi adalah menyendiri dan pergi ke perpustakaan untuk menenangkan hatinya.

Di perpustakaan, Naomi membaca buku novel favoritnya yang berjudul “Aku, kamu, dan perpustakaan”. Selang beberapa menit Naomi sedang asyik membaca punggungnya memberi jawaban kalau ada seseorang yang menghampirinya.

“Maaf ya Naomi,” Suara itu di kenalnya. Naomi menengok ke sebelah kanan, dan ternyata laki-laki itu adalah Marvel, laki-laki yang dia sukai itu meminta maaf atas apa yang dia lakukan tadi di kantin. Naomi tiba-tiba saja menunduk menatap barisan huruf, sesuatu yang jarang terjadi.

“Sebenarnya aku juga sama kamu Nao, tapi aku gengsi dengan teman-teman ku” ucapnya datar ditingkahi dengan tangannya menarik-narik ujung bajunya sendiri. Sontak Naomi terkejut dan membeku selama beberapa menit.

“Mimpi aja lo! Nggak Level.” Ucap Naomi lantang. Menjadi pusat perhatian pengunjung perpustakaan.

Marvel menangis keras dan guling-guling di perpustakaan.