Bebal karena kalis oleh tetesan embun, hingga jutaan kebaikan seringkali dimaknai sebagai serangan terhadapnya. Terbentuknya yang sangat lama itu membuat obrolan-obrolan bermutu yang bisa menyadarkan seseorang dari merasa paling tak bisa merontokan barang sebentar, karena debu kedunguan telah mengerak membentuk sedimen sok tahu.
Mungkin ia perlu ditundukkan, dengan begitu akan muncul kerendahan hati, bahwa Allah menciptakan dua telinga agar lebih banyak menyerap energi positif yang berupa apa saja menjadi panduan untuk bisa melihat dirinya sendiri. Orang yang tak bisa melihat dirinya sendiri seperti orang yang buta kehilangan matanya. Ada mata tetapi tidak melihat cahaya yang paling terang benderang. Lewat satu obrolan saja belum cukup, ia butuh waktu untuk merontokkan kebodohannya (jika ia merasa bodoh) agar nantinya cahaya itu bisa merobek gelap sedikit demi sedikit.
Lewat satu obrolan memang tidak cukup jika yang dihadapi manusia yang keras kepala, dalam arti yang mengarah kepada kesombongan, yang selalu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Pada kesempatan kali ini mari beri akses pada pikiran sendiri agar lebih lentur untuk menerima potensi kebaikan yang skalanya kecil dan datang dari orang yang tidak diharapkan lagi tidak diperhitungkan.
Perbedaan cara bersikap memang tidak melulu dituntaskan dalam satu obrolan saja. Percakapan yang 'daging' saja kalau sifatnya hanya ingin terlihat kontrarian saja, dapatnya sebatas itu, tidak lebih. Orang yang cenderung resisten terhadap nasihat, kerap menutup pendengaran dari beragam kemungkinan untuk melakukan kebaikan. Latar belakang pemikiran membentuk dirinya menjadi benteng apa saja. Bentuknya bisa macam-macam. Tidak ingin memanggil temannya "LAYAK" karena merasa dirinya paling benar adalah satu contoh. Pada akhirnya ia seperti terjebak pada perayaan semu atas nama 'Kalau tidak karena saya' maka tidak ada wahana A,B,C, dan seterunya. Obrolan akan berguna jika pikirannya memang sudah terbuka, bukan karena status orang yang dihadapinya tetapi karena ketulusan intelektual seseorang yang memang ada, bukan sekadar-sekadar. Cobalah renungkan itu.
Pendidikan, keluarga, luka-luka lama, prinsip hidup, dan juga jenis bacaan mempengaruhi seseorang dalam bertindak dan bertutur. Dan itu diperolehnya bertahun-tahun melewati dimensi waktu siang dan malam. Mengharapkan lewat satu obrolan lalu orang itu akan berubah rasanya mustahil. Hidayah berupa lembutnya hati itu bereaksi ketika seseorang memberikan celah pada kebaikan itu sendiri, lalu pelan-pelan meresap kedalam sanubari berupa konsistensi untuk mengubah apa yang perlu diubah. Bukan malah ngotot seperti Abu Jahal, karena dimensi kehormatan jauh lebih dipentingkan dari secercah hidayah yang pernah menyapanya.
Kelelahan adalah wajar, obatnya rehat sejenak dari hiruk pikuk karakter orang yang ditemuinya. Jika lelah lewat obrolan tidak tembus, maka doa menjadi penting. Ia sebagai senjata pamungkas. Karena hak mutlak yang bisa memberikan petunjuk pada kebenaran hanya Allah SWT, seseorang hanya diberi kesempatan untuk berdiskusi lewat satu/dua/tiga obrolan saja, selanjutnya orang tersebut akan menerimanya seperti apa. Jika ia mengangguk pada potensi kebaikan, maka kebaikan itu menjadi kebaikan baginya, begitu juga sebaliknya.
Argumen sejitu apapun kalau dirinya tidak berusaha memanggil kebaikan dalam dirinya hasilnya kelelahan. Pintu-pintu telah tertutup debu. Keputusan tetap pada orang tersebut. Kegelapan tidak bisa ditembus hanya karena sudah merasa menebar lilin. Pikiran manusia seperti semak, yang perlu di bersihkan secara rutin. Yang tumbuh adalah pohon kebaikan bukan gulma kebodohan.
Memaksakan satu argumen, terasa kalah dalah argumen, dan mendiamkan satu jenis obrolan, adalah bentuk 'upaya' terakhir setelah semuanya terasa gagal dikompromikan, ada batas yang mesti diterapkan berupa diam atau sikap lainnya. Bukan abai, tetapi memberi ruang pikir agar tetap jernih untuk memberi peluang berikutnya. Ada jenis orang yang cukup hanya 'didiamkan' diberi sanggahan seperlunya, mengangguk, didengarkan, tak perlu dibantah, karena paradigma berpikirnya memang masih dibawah bayang-bayang merasa 'pakar'.
Di jelaskan memakai bahasa sekolah, bahasa kebun binatang, psikopat, tukang dagang, guru agama, dan seterusnya tetap pada pendiriannya merasa benar dan mengina kebenaran itu sendiri, hasilnya kegelapan pikiran menyelimuti pikirannya. Mungkin hanya kematian yang akan menyadarkannya.
