Selasa, 01 September 2026

Sinyal yang Menyelamatkan

Satu-satunya penumpang kapal yang tenggelam akhirnya terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Dia berdoa kepada agar Tuhan menyelamatkannya dan setiap hari memandang ke cakrawala menunggu bantuan. Tapi tak ada satu pun yang datang. Lelah menunggu, ia pun membuat gubuk dari kayu-kayu yang hanyut terbawa ombak sehingga bisa berteduh dari hujan dan panas. Dan untuk menyimpan barangnya yang tersisa.

Suatu hari, pulang dari mencari makan, ia menemukan gubuk kecilnya habis terbakar dengan asap membumbung ke langit.

"Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi?" teriaknya sambil menangis.

Keesokannya, pada dini hari, ia terbangun mendengar bunyi kapal yang datang mendekati pulau. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.

"Bagaimana Anda bisa tahu saya ada sini?" tanyanya kepada salah satu awak kapal yang menolongnya.

"Kami melihat asap Anda," jawab mereka.

MORAL CERITA

Kita sering kali menjadi berkecil hati jika terjadi sesuatu yang buruk. Tapi hendaknya kita jangan berputus asa karena Tuhan selalu menolong dan melindungi kita, pun di saat sedang susah dan menderita.

Kali berikut, jika 'gubuk' Anda terbakar sampai rata dengan tanah, selalu ingat, Tuhan tak pernah meninggalkan kita dan kekuatannya tetap mendampingi kita di saat kita susah dan menderita. Penderitaan dan kesusahan itu kemungkinan dimaksudkan sebagai sinyal untuk mendatangkan bantuan.

TENTANG PILIHAN

Pilihan selalu menuntut pengetahuan di semua level kehidupan. Di sisi lain waktu juga menentukan seberapa cepat seseorang akan mengambil sebuah keputusan. Dari mulai tidur lalu bangun dan beraktifitas juga kerap dihadapkan dengan sebuah sebuah pilihan. Tentu saja setiap pilihan akan berujung pada pilihan lain. Karena setiap pilihan akan mendatangkan pilihan lain. Begitu seterusnya. Jika seorang Muslim maka membuat pilihan diatas pilihan yang sudah ada jalur langit, bukan berdasarkan pilihan arogan yang mendatangkan keburukan bukan kebaikan bersama.

Pilihan itu mirip saluran TV yang saling terhubung dengan kecenderungannya untuk menikmati hiburan. Ada banyak saluran dan seorang memilih untuk satu tayangan saja. Hal ini lumrah, yang jadi titik poin, tayangannya akan mendatangkan pilihan kebaikan atau justru kebalikannya. Contoh lain, ketika seseorang berbicara makan selalu ada pilihan, mau smart talk, problem maker, atau problem solver, semua itu ada resiko yang mesti dipilih. Akan menjadi didaktik, menggurui, atau menjadi pendengar yang rendah hati. Ketika mengerjakan sesuatu atas dasar ibadah atau ingin menunjukkan sesuatu, cara mengerjakan yang yang sungguh-sungguh atau setengah malas, itu bagian dari sekian pilihan. Semuanya bermuara pada arus kesadaran, bukan 'kecelakaan', karena Allah menjadi tempat tujuan, pilihan menjadi penting, bukan sekadar memilih berdasarkan keinginan tiada ujung.

Ketikan meninggalkan sesuatu, sebaiknya beralas pada apa yang sudah di wasiatkan oleh Nabi Muhammad Saw, bukan asal pindah. Karena ada konsekuensi yang mesti di hadapinya. Petunjuk kenabian menjadi alas untuk bertindak dan menjadikan dasar untuk menjalankan sesuatu. Allah tempat kembali, memilih lah dengan arus kesadaran bukan asal-asalan.