Tampilkan postingan dengan label The Art Of Reading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Art Of Reading. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2026

Membaca 'Yang' Membaca

Bisa mengerti makna sebuah tulisan adalah salah satu keberhasilan dalam proses membaca. Lebih dari itu membaca menjadi tindakan paling personal dengan hasil maksimal jika dibarengi laku membaca tidak hanya sebagai tantangan mengakhiri sampai halaman terakhir tetapi juga diikhtiarkan untuk menghasilkan cara berpikir di semua level.

Teks-teks yang berseliweran di semesta ini menawarkan caranya sendiri untuk dinikmati, apakah teks akan diperlakukan sebagai iklan selintas, kata yang 'mati', dan berdiri rapih di atas kertas tanpa pernah disentuh dengan cara mengeluarkan makna, dan seterusnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan laku membaca 'yang' membaca. Tidak berhenti membaca teks dan membiarkan teronggok begitu saja setelah mengambil manfaat dari teks yang diperlakukan layaknya kebutuhan primer manusia. Kegemaran untuk  memotong setiap jengkal kalimat dan menempelkan diatas kertas untuk kemudian di jadikan salinan fisik berupa kumpulan pilihan ganda, narasi pidato, presentasi, dan bentuk-bentuk lainnya  yang disusun secara gegabah tanpa memedulikan 'nasib' teks itu sendiri juga merupakan bagian dari sekian banyak jebakan merasa telah membaca.

Lewat teks mestilah keluar ruh atau nutrisi seimbang yang berisi hal-hal baru, fantasi tersusun dalam kepala, seperti anak-anak yang bermain lepas di halaman rumah di temani sepasang pohon jambu air yang rindang. Sayangnya nutrisi yang seimbang itu tak menyerap dalam otaknya hingga membaca ratusan teks menguap begitu saja tanpa ada perasaan bersalah. Ini kekeliruan pembaca sejak kali pertama menyapa buku di halaman pertama.

Sabtu, 18 Juli 2026

Dampak Jauh Dari Kurangnya Membaca

GAGAL NALAR

Ketika seseorang kesulitan mengakses pengetahuan dirinya, disebabkan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, maka pada saat yang bersamaan pengetahuannya akan membuatnya terlihat bodoh didepan pengetahuan itu sendiri. Tengoklah bagaimana konsep uji balistik. Pengetahuan yang ia miliki tumpul ketika ingin membedah satu permasalahan/situasi yang sedang terjadi hari ini, esok, dan kemarin. Mengiri dirinya bisa menunjukkan satu cacat logika, pada waktu yang sama luka intelektual tengah kering kemarau menunggu hujan solusi yang membuatnya makin terlihat dungu sedungudungunya. Ingin bersinar, justru sinarlah yang membukakan ketak linier antara sebab dan akibat. Dengan kata lain ambang batasnya nol argumennya juga mangkrak tak karuan. Kecerdasan analitik dan sintetiknya sangat memperihatinkan.

Usia boleh saja senja, rasa hangat intelektual yang terus di garang akan menunjukkan cahaya berpikir kritis-bukan serba kontra ria, tetapi memperlihatkan kedewasaan berpikir, ketenangan mengambil sikap, dan mengambil kesimpulan berdasarkan pengetahuan-pengetahuan hasil studi literatur dari beragam buku. Jika seseorang itu selalu mengedepankan i'tikad baik, maka ia dengan sendirinya akan berjalan pada : niat yang lurus dibarengi dengan ikhtiar maksimal.

Ketika tua menghampiri kehidupannya, lalu tak bisa menangkap pengalaman dari beragam pengalaman dirinya dan orang lain. Maka yang terlihat kemudian adalah analitik dan sintetiknya 0 egonya naik 100. Tak berlebihan jika kematian yang mungkin akan membuatnya bisa sedikit berpikir, bukan memanjangkan lidah lalu memendekkan akal.