Ini pendekatan Halfway Crooks untuk berusaha menjangkau semua hal, salah satunya mendidik. Bukan untuk mereka tetapi untuk saya sendiri. Jikapun berguna bagi mereka, maka mereka sudah built-in dari awal tentang kesadaran diri untuk terus menerus membentuk diri menjadi pribadi yang berkebudayaan.
Mana ada orang yang sedang ada kesulitan, lalu pergi sambil mencangklongkan tas corak harimau putih. Teriakan-teriakan itu hanya terdengar sampai telinga kanan saja. Ditekankan lagi sampai telinga kanan saja, tidak masuk sampai telinga kiri. Artinya tidak sampai melewati otak bagian kiri, kanan, atau tengah. Langkah-langkahnya tiba-tiba saja gontai ketika melihat dirinya penuh kantung-kantung, dari mulai biji-bijian hingga sayur-sayuran. Menoleh sebentar ke belakang sekadar untuk memastikan, hal apa lagi yang ingin dibicarakan sebagai alat untuk mengamankan langkah berikutnya. Kelupaan segera lenyap dari ingatan tajamnya, kapan terakhir untuk menggeleng, rasanya telah mulai luntur. Hiruk pikuk sudahkah menjadi tanggungan kepribadian?. Agar semua perjalanan melancong kesana kemari membual beraneka ragam ide besar tentang kenyataan menjadi kemewahan di rumah makan nyaman. Tanpa perlu repot-repot memanggail ART untuk (Sekadar) menuangkan gelas dari teko-teko seminar. Bahkan tak perlu juga untuk menuntut dirinya (otaknya) agar sebanding dengan lingkungan sekitar. Kesebandingan itu lahir dari kumpulan hakikat beralas pemahaman high order thinking yang bermuara pada ganjalan persona non grata.
Koreng-koreng melukai dirinya sendiri dianggap sebagai kumpulan ide cemerlang tentang gagasan peradaban. Apakah ini hanya mimpi?, mungkin iya. Mimpi dibangun oleh tidur, lalu orang-orang yang bergentayangan di malam hari mencatut barang-barang berguna hasil ego besar berliang lahat sempit-sekadar untuk ganjal perut. Setidaknya gambaran di atas majalah-majalah kebudayaan langit, yang tak bisa diganggu lagi, gangguan lahir dari kebodohan untuk menilai diri sendiri dan kebodohan untuk menilai setiap maksud dari semesta ini. Sama dengan buku memerlukan buku lain agar bisa sebanding-caranya memberi gagasan. Bukan bermaksud membandingkan satu sama lain. Buku ya buku, kalian sendiri yang mesti berpikir-menagih pada bagian lain.
Melawan kebendaan dengan kebendaan rasanya adil bagi sebagian, tetapi ada kalanya kebudayaan dilawan dengan rendah hati. Agar posisi nilai tak serta merta menguap begitu saja. Sampai pada satu titik, seperti guru yang kerap membekali pertanyaan dengan pertanyaan 'mewah' dari orang yang merasa paling 'mewah' dari segelintir orang yang berada di sekitarnya. Seringkali mengungkit kebendaan secara berkala, itu menunjukkan apa ya? rasanya seperti membagikan kue lalu meludahinya, kemudian membagikan kepada orang lain. Berbuat baik dan memang baik, tak perlu rasanya terus menampakan ke permukaan, kecuali diminta memberikan sejaran benda-benda itu. Sesekali adalah kearifan agar orang tahu seluk beluk peristiwa, tetapi suasana itu (pengungkitan) untuk menunjukkan seberapa hebat dirinya di hadapan orang lain, tanpa ingin menginjak kaki orang lain, ada sebentuk kesialan dari rendah hati yang tercabik-cabik. Respon spontan terhadap sesuatu menjadi cerminan seberapa outfit dirinya di hadapan orang lain. Tindakan adalah informasi. Informasi adalah Tindakan. Sekali boleh, berkali-kali untuk mencengkram potensi orang lain, adalah skill turunan dari firaun. Ini zaman dimana orang mudah untuk mengambil kesimpulan dan mudah terhasut. Silakan direnungkan apakah itu betul?
Pada 'tembakan' pertama orang masih merasa kagum. Untuk kesekian kalinya, menunjukkan faktor-faktor 'dummy' yang memperlihatkan kegagalan pada perjumpaan berikutnya. Pada standar awal orang menganggapnya sebagai keluhuran pribadi, pada perputaran berikutnya, dia ternyata memiliki lidah bercabang. Pada ujungnya "perkelahian" dengan ide, terasa mentah dan belum matang. Sesuatu yang matang, apalagi masakan itu membuktikan keluwesan berdasarkan pengalaman hidup berkehidupan. Lidahnya terasa lebih panjang dari otaknya. Kalau gulai lidah sapi akan lebih enak kalau dimakan saat-saat lapar. Terlatih sopan itu bagus. Tetapi mensopan-sopankan semua hal walau isinya duri kulit durian adalah bentuk kelicikan seorang pencuri ide yang sudah jadi. Duriannya sih enak, kulit duri jika terkena kulit rasanya sakit. Apalagi ketiban durian, ujungnya (bisa) di rumah sakit.
Batas-batas kemampuan kadang sudah built-in dari pertemuan awal. Ada banyak informasi yang tersembunyi dari kata-kata yang terucap. Itu bukan munafik, tetapi hasil dari 'perlawanan batin' yang diskemakan sejak dari rumah. Menganggap bahwa sopan dan segala turunannya adalah kebenaran yang dibenar-benarkan. Lalu "berteriak" membantah atau sekadar interupsi adalah bentuk pemberontakan yang tidak sopan, adalah kekeliruologi. Rasa hormat dan turunannya menjadi penting, tetapi tidak menjadi penting ketika jiwa tak lagi bisa berkomunikasi dengan akal. Akalnya telah di beri intruksi agar sopan, terhadap kemelut dan sejenis pertengkaran. Siapa yang menstop, bisa jiwa juga bisa lingkungan-pola asuh. Untuk sekadar bilang -tidak- pada ketidak adilan, ada sejuta perintah yang membuat sinapsis dikepalanya tiba-tiba saja putus dan memutuskan diri sebelum benar-benar berkembang kemauan itu sendiri.
Ada banyak 'kelas' yang bangunannya rapih, pengajar tersertifikasi semakin melimpah, pengalaman belajar terus saja diperbaharui. Kenyataan dan tantangan di dalam 'kelas' itu sendiri seringkali membuat gagap dan telah gagal secara sistemik. Pada saat yang sama, bangunan beratap langit berpensil batang kayu lahir para pemikir dan pencetus peradaban bahkan sebanding dengan yang disebutkan tadi. Mungkin mereka hanya kurang beruntung sebab 'kelas' tadi. Dua-dua bisa melahirkan peradaban dengan caranya masing-masing. Adakah 'kelas' yang ingin dipertentangkan?
0 Comments:
Posting Komentar