Kamis, 17 September 2026

Sketsa 2

Eng duduk termangu di jembatan kali klawing sambil memandangi para pemancing ikan tawes. Mereka duduk-duduk santai di pinggir sungai klawing. Dari atas saja sudah meras ngilu lutut. Tetapi mereka asik sambil merokok dan melontarkan humor sekadar melepas cemas, tak satupun ikan yang belum tertangkap.

Sebuah angkot oren no 2 jurusan Kaligondang berhenti.

"Eng!, nggak pulang?" Tanya Bita. Senyumnya selebar daun kelor. Giginya seputih odol.

Eng menoleh ke arah panggilan lalu kembali memandangi pemancing yang girang menarik ikan tawes dari dalam sungai. Pemandangan itu lebih menyenangkan dibanding suara gadis itu.

"Eng!, masih marah!" teriak Bita dari dalam angkot.

Eng mengarahkan jari telunjuk ke arah pinggir kepala tanpa menoleh sedikitpun. Angkot melaju meninggalkan Eng yang masih sibuk melihat pemancing yang makin sibuk dengan ikan-ikan Tawes yang tertipu dengan umpan busuk yang dibikin tadi malam.

🖤🖤🖤

Eng duduk mencangkung diantara dua dahan buah rambutan. Ibunya di bawah menunggu sambil memungut buah rambutan yang jatuh. 

"Sebelah atas ada?"

"Nggak kelihatan!" 

Eng melempar galah kearah yang aman. Ini kesekian kali ibunya menyuruhnya untuk mengambil sisa buah rambutan yang telah di panen oleh tengkulak tetangganya sendiri. 

"Besok lagi Bu!" 

Eng turun perlahan-lahan. Kakinya gemetar menahan ketinggian. Memeluk batang pohon erat. Sampai di bawah bagian dadanya lecet akibat salah teknik. 

"Bulan puasa ayah pulang nggak?"

"Kita tunggu saja balasan surat dari ayah, sekarang ayah di kebun sayur, ternak ayam lagi sepi."

🖤🖤🖤

Selepas Isya Eng bersama Ima ngobor burung-burung brondol dari sarangnya, tepatnya memisahkan induk dari telur atau anaknya, tetapi jarang terjadi. Jika bunyi anak-anaknya, Ima melepaskan burung itu dan mencari burung lain.

Pukul 21 mereka pulang, besok masuk sekolah. Untuk malam ini tak ada agenda nonton TV di rumah tetangga. Sebagai penggantinya Radio Mini menjadi teman tidur. 

"Masih bersama kami, SBS Radionya Purbalingga. Untuk mengawali perjumpaan kita, kita putarkan lagu yang sedang hits dari  Dewa 19, kangen." 

Penyiar membalik kaset dan terdengar ribut sebentar. Jeda beberapa detik lagu pun mengudara. 

Eng membuka surat dari Kakak Kelas. Lagu habis dan surat selesai dibaca. Pulpen yang telah digenggamnya untuk menuliskan surat balasan urung dilakukan. Tangannya menarik bantal. Lagu berikutnya mengalun indah. Kla Projek membius relung-relung Sukma, suara jernih dari Mas Katon menyanyikan lagu Jogja. 

🖤🖤🖤

Hujan turun deras memberikan ketenangan sendiri. Eng meringkuk diatas kasur. Kamar tidurnya persis di bawah saluran talang air. Jatuhnya hanya dua meter dari bilik bambu yang terkonsep. Bagian itu, ayah memang ahlinya. Suasana jatuh dari atas talang menghantam tanah membuat suasana terasa tidur dibalik air terjun. 

Gelap tapi bisa melihat, mungkin remang tepatnya. Untuk besok hari Jumat, ada eskul Pramuka, sebuah kegiatan yang membuatnya mager. Malam ini ia tidur lebih awal. Sebuah cara untuk melupakan rasa sakit. Berharap besok ada keajaiban. 

Air matanya meleleh sebelum benar-benar terpejam. Wajah nenek hadir begitu saja. Dulu saat SMP ia terbiasa tidur dibelakang punggung nenek dengan aroma tubuh kayu basah. Makan malam yang tak habis, perutnya siap menampung. Ketika terjaga sebentar dari tidur, nenek sedang sholat malam diatas kasur dengan mukena putih. Untuk selanjutnya mimpi memeluknya erat bersamaan dengan wajah nenek yang kerap kali tersenyum. 



0 Comments:

Posting Komentar