Rabu, 02 September 2026

Praktik Baik SMPIT PM

Menulis esai tentang parenting remaja menjadi tantangan sendiri. Ini sebentuk tulisan reflektif untuk merespon sebuah buku yang dikarang oleh Ayah Edi, Menjawab Probematika Orangtua ABG dan Remaja. Yang menarik dari buku ini tentu saja kepangasuhan yang digagas dan dituangkan dalam tanya jawab, selain itu ada pengakuan dari Ayah Edi di halaman 94, bahwa buku ini memang orang tua terlambat, atau Edisi Terlambat, setidaknya untuk penulis. Tetapi tidak ada kata terlambat untuk memulai satu kebaikan. Klaim terlambat dari ayah Edi, tidak diberi keterangan lain, selain terlambat. Jadi silakan berasumsi apapun. Ketika sebuah buku telah “lahir”, pada saat yang sama, pengarangnya telah “mati”, pembaca memiliki hak untuk mengomentari, menyanggah, dan seterusnya. Dan tugas pengarang seperti menampung air, untuk kemudian dijernihkan di buku-buku yang lain. Buku ya buku, pembaca yang harus berpikir.

Menurut penulis, buku-buku parenting, seminar kepangasuhan, diskusi anak, sah-saja untuk dijadikan rujukan dan wawasan pengetahuan. Tetapi muncul pertanyaan kemudian, apakah semua disiplin ilmu parenting di terapkan ke semua anggota keluarga. Silakan direnungkan. Ada banyak hal yang bisa masuk kedalam rumah dan bisa dijadikan rujukan, tetapi mungkin ada yang perlu menunggu barang sejenak di pagar-pintu rumah, menunggu kesiapan anak.

Sejauh ini, penulis beranggapan bahwa teori yang ideal tentang parenting harus mempertimbangkan kondisi, kemampuan, dan keterbatasan masing. Itu sebagai pembuka esai ini, yang bisa dikaitkan dengan beberapa hal di bawah ini.

Tentang Jurusan

Memilih jurusan kuliah bisa dimulai dari kegemaran apa yang disukai oleh anak. Bisa mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang cukup dijawab dengan Ya atau tidak, atau bisa memulai dengan pertanyaan meluas, tidak sekadar dengan jawaban Ya atau Tidak. Dengan mengetahui mengetahui minat mereka, seperti menggambar, melukis, atau menulis, orang memiliki semacam petunjuk dasar untuk menggali minat mereka lebih dalam lagi. Sebagaimana Passion, yang tidak diperlakukan sebagai kesukaan semata tetapi sebagi metode menggali keunggulan-keunggulan unggul pada anak.

Jika mengalami kendala, bisa lakukan seperti main layang-layang, tarik ulur, ulur tarik, atau buka tutup, tutup buka. Sampai mereka menemukan ada bidang yang bisa ditekuni. Rentang waktu untuk mereka mengungkapkan bisa sangat beragam, ada yang seminggu, sebulan, atau lebih dari sebulan, kehadiran orang tua yang benar-benar hadir untuk membersamai mereka sedikit banyaknya mempengaruhi keputusan-keputusan yang kecil atau yang besar. Jarang mengajak untuk ngobrol lalu tiba-tiba orang tua mengajak untuk bicara yang serius ada semacam rasa heran dan mungkin penolakan. Atau orang tua yang lebih berperan sebagai guide wisata, hingga anak merasa "bingung", karena banyaknya pilihan-memilih diantara yang banyak. Apalagi yang jenis tidak egaliter, selalu memaksakan keinginan orang tua tanpa pernah memposisikan diri pada tempat yang tepat. Orang tua yang merasa paling akan cenderung memiliki sikap paling-paling di semua level keputusan. Di banding yang paling merasa, akan cenderung lebih peduli tindakan-tindakan anak yang bisa jadi bahan informasi. Kerena tindakan atau peminatan anak, adalah sebagain informasi yang diberikan kepada orang tua tanpa perlu melakukan intervensi keputusan terus menerus.

Tindakan lain adalah lebih terbuka, sebagai salah satu kunci agar anak bisa menemukan bidang yang diminati nanti, dan ditindak lanjuti sebagai profesi yang membawa kemandirian secara finansial.

Tentang Prestasi.

Prestasi bisa dibilang salah satu efek dari Belajar, karena dari belajar orang bisa menemukan banyak sekali mimpinya. Ujung dari belajar selain meningkatkan proses berpikir, anak akan mendekatkan pada cita-cita yang ingin digapai. Dari belajar yang tiada henti, anak mampu menggambarkan kira-kira profesi apa yang ingin ditekuninya. Membantu menemukan anak untuk bisa bertumbuh dan berkembang juga merupakan prestasi bagi orang tuanya. Penjelasan ini bisa kita tagih di buku ayah Edi yang lainnya-Rahasia Ayah Edi Memetakan potensi unggul Anak.

Prestasi bukan tujuan akhir. Prestasi adalah sebentuk penghargaan terhadap usaha yang telah dilalui melalui ketekunan para tukang. Yang tidak kalah penting adalah anak menemukan visi dan misi dalam hidup dan berkehidupan. Prestasi tidak melulu soal piala, tetapi kesadaran untuk memaknai setiap usaha dan bersukur terhadap semua hasil yang diterima. Prestasi adalah kemampuan untuk mengelaborasi semua jenis kompetensi menjadi satu jenis ketekunan dan orang-orang mulai mengakui sebagai sebuah keunggulan (prestasi).

Pembelajar yang tekun lebih dekat dengan hasil usaha. Meski kadang tidak sesuai dengan keinginan. Pembelajar yang kurang tekun cenderung jauh dari hasil usaha. Meski kadang berhasil, tetapi capaiannya kurang maksimal. Dalam hal ini ungkapan Usaha tidak mengkhianati hasil, perlu mendapatkan porsi tersendiri. Bisa ranah dunia (Prestasi Dunia), bisa juga ranah Akhirat ( Prestasi akhirat) atau juga bisa dua-duanya. Penulis merespon apa yang dituliskan oleh ayah Edi: Prestasi adalah Efek, bukan tujuan. Bila seorang tekun belajar, maka efeknya prestasi. Begitu juga sebaliknya. Sisi lain dari prestasi atau hasil usaha, bahwa Usaha tanpa Doa adalah sebentuk kesombongan kita kepada Allah. Sementara Doa tanpa Usaha adalah sebentuk kebohongan yang di kemas dengan pembenaran ilusi semata.

Tentang Kesiapan belajar di tempat Jauh (Luar kota/Luar Negeri)

Melatih kemandirian sejak usia dini adalah salah satu bekal agar tidak ketergantungan terus dengan orang tua. Keberadaan orang membantu di rumah (ART) tidak membuat ketrampilan hidup setidaknya yang dasar benar-benar hilang, alias tidak bisa dikerjakan. Melatih dari hal-hal yang kecil, membersihkan barang yang telah dipakainya, misalnya piring kotor sehabis makan. Menjereng air untuk membuat susu/teh adalah bentuk-bentuk untuk melatih kemandirin, dan tentu saja banyak hal lainnya seperti memasak sendiri (mungkin bisa memulai dari masak mi instan sampai menghidangkannya). Pertanyaan sisipan, kapan terakhir kita menjereng air untuk air minum? Mungkin jawabannya semingu lalu, sebulan, atau mungkin setahun yang lalu. Padahal kegiatan menjereng air adalah salah satu kegiatan mewah yang perlu dilestarikan agar tidak. Pertanyaan yang mirip, apakah sagu bisa punah? Bisa iya bisa tidak, sepanjang anggapan bahwa beras adalah kemewahan yang bisa digantikan, sagu akan tetap ada. Ini PR bersama. Kembali lagi kepada kesiapan belajar di tempat yang jauh, selain mulai dari hal-hal yang kecil, jika memungkinkan ikuti program homestay di tempat tujuan belajar. Simulasi ini memberikan pengalaman dan bisa bertegur sapa (memasyarakat) agar nantinya punya pengetahuan soal mukim di tempat yang jauh. Jika belum memungkinkan ikuti program lain-lain yang sejenis, seperti kunjungan virtual, survey lewat internet, dan jika ada teman/sanak family yang telah selesai belajar di kampus yang di tuju, bisa jadi bagian dari persiapan.

Setelah cukup beradaptasi dan di rasa siap dan sudah mulai terbiasa dengan masyarakat setempat (budaya lokal), orang tau perlu mempertimbangkan kelayakan dan kesiapan anak.

Jika sudah masuk kampus Luar Negeri dan mulai belajar, yang dilakukan setelahnya adalah membekali kepada anak berupa: membangun kesadaran kepada anak bahwa tanggung jawab setelah menuntut ilmu adalah mengamalkannya dengan ikhlas, totalitas, jujur, dan konsisten. Dan orang tua juga perlu membangun kesadaran lain, yaitu tidak anti kritik. Membangun kesadaran lebih dahulu dari orang tua adalah membangun keteladanan, orang tua bisa jadi kurang tepat dalam mendidik. Mampu mengakui kesalahan dan memperbaiki bersama adalah kunci agar anak tetap kokoh dalam pembelajaran di manapun. 

Mulai menulis sekitar 12.45-14.32

0 Comments:

Posting Komentar