Masyarakat kota kecil itu berbondong-bondong menyambut kedatangan Abdullah bin Mubarak yang memang telah mereka kenal sebelumnya. Mereka mendatangi masjid yang disinggahi Abdullah untuk meminta nasehat dan siraman rohani. Otomatis tempat menginap Harun Ar-Rasyid sunyi senyap. Ia pun lantas bertanya kepada salah seorang penjaganya, "kemana perginya penduduk daerah ini?" "Mereka semuanya berkumpul di masjid," jawab penjaga singkat. "Ada apa di sana," tanya khalifah penasaran. "seorang alim yang terkenal, Abdullah bin Mubarak, yang datang dari Khurasan sedang memberi ceramah dan petuah-petuah agama."
Karena begitu penasarannya, Khalifah segera menuju masjid tersebut. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat begaimana orang-orang rela berdesakan dan berjubel, dengan khusu dan khidmat mendengarakan kalimat-kalimat yang menyejukkan hati dari mulut seorang yang mulia dan berwibawa.
Khalifah pun dibuat terpekur dan tertunduk. "Demi Allah! Dialah raja yang sebenarnya, rakyat mendatanginya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan hati. Tidak seperti Harun, para pejabat datang kepadanya karena mengharap jabatan dan kekayaan," gumannya dalam hati.
Ibnu Ahmad-OASE-KHAZANAH-Sabili No.2 TH.IX hal.32