Pilihan itu mirip saluran TV yang saling terhubung dengan kecenderungannya untuk menikmati hiburan. Ada banyak saluran dan seorang memilih untuk satu tayangan saja. Hal ini lumrah, yang jadi titik poin, tayangannya akan mendatangkan pilihan kebaikan atau justru kebalikannya. Contoh lain, ketika seseorang berbicara makan selalu ada pilihan, mau smart talk, problem maker, atau problem solver, semua itu ada resiko yang mesti dipilih. Akan menjadi didaktik, menggurui, atau menjadi pendengar yang rendah hati. Ketika mengerjakan sesuatu atas dasar ibadah atau ingin menunjukkan sesuatu, cara mengerjakan yang yang sungguh-sungguh atau setengah malas, itu bagian dari sekian pilihan. Semuanya bermuara pada arus kesadaran, bukan 'kecelakaan', karena Allah menjadi tempat tujuan, pilihan menjadi penting, bukan sekadar memilih berdasarkan keinginan tiada ujung.
Ketikan meninggalkan sesuatu, sebaiknya beralas pada apa yang sudah di wasiatkan oleh Nabi Muhammad Saw, bukan asal pindah. Karena ada konsekuensi yang mesti di hadapinya. Petunjuk kenabian menjadi alas untuk bertindak dan menjadikan dasar untuk menjalankan sesuatu. Allah tempat kembali, memilih lah dengan arus kesadaran bukan asal-asalan.
0 Comments:
Posting Komentar