Tampilkan postingan dengan label KLIPING 1 (1998-2004). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KLIPING 1 (1998-2004). Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2026

Lebih Baik Mana...

Sang imam, Abubakar Al-Junadi, cemas memikirkan Abu Fardan. Laki-laki itu biasanya paling rajin sholat berjamaah. Tapi dua pekan ini ia tidak pernah datang ke masjid. Bahkan belakangan malah tidak terdengar lagi kabar beritanya. Terdorong oleh rasa tanggung jawabnya selaku imam masjid, Abubakar Al-Junaid mendatangi Abu Fardan.

"Sudah enam hari saudaraku tidak kelihatan sholat berjamaah. Kenapa?" tanya sang Imam. "Apakah anda sakit?"

"Tidak," jawab Abu Fardan. "Saya sehat-sehat saja."

"Istri atau anak anda yang sakit, barangkali," selidik sang imam penasaran.

"Tidak juga," Abu Fardan menggeleng ringan.

Dengan sabar sang imam kembali bertanya, "Atau anda sedang tertimpa musibah, kematian umpamanya?"

Lagi-lagi Abu Fardan menggelengkan kepalanya. Setelah terdiam agak lama barulah dia membuka mulut, "Saya bukan sekadar tidak ke masjid. Saya sudah meninggalkan sholat."

Bagai disambar petir siang bolong, Abubakar Al-Junaid kaget sekali."Kenapa?" katanya setengah berteriak.

"Habis, sejak kecil saya sholat tapi hingga sekarang keadaan saya melarat terus, tidak berubah. Tapi mereka yang tidak sholat justru hidup berlebihan. Jadi bukankah lebih enah tidak usah sholat, toh capek-capek sholat tidak bisa mengubah penghidupan saya," tutur Abu Fardan mencoba berargumentasi. Gurat di wajahnya mencerminkan kegundahan hatinya.

"Lalu bagaimanakan keadaan anda sekarang setelah meninggalkan sholat? Apakah sudah lebih baik? Apakah rezekimu sudah bertambah banyak dan tidak miskin lagi?" tanya Abubakar Al-Junaid dengan tenang, karena dia merasa mulai mengerti duduk persoalannya.

"Sama saja," kata Abu Fardan masygul.

"Dulu, selama kamu rajin beribadah, penghidupan selalu sulit dan miskin. Setelah tu semenjak kamu tidak pernah sholat lagi, penghidupan juga tidak berubah. Kalau begitu, lebih baik mana? kamu pasti sependapat dengan saya, dari pada sholat tetap miskin, kan lebih baik terus sholat walaupun tetap miskin, ya tidak?"

 Lelaki yang diajak bicara itu tidak menyahut. Abubakar Al-Junaid tambah iba, lalu dia meneruskan penjelasannya, "Minimal kita masih punya harapan untuk mendapatkan balasan dari Allah di hari kemudian. Dan kita punya tempat untuk mengadu dan mengeluh, yaitu Alloh swt. Sedangkah jika kita tinggalkan sholat, sudah di dunia sengsara, di akhira malah tambah sengsara lagi. Dengan ibadah, berarti kita bisa minta tolong kepada Allah, selain minta bantuan kepada manusia. Coba kalau kita tidak beribada, paling-paling kita hanya minta bantuan manusia. Lalu apakah manusia mau membantu kita sebagaimana Allah menurunkan kurnianya pada kita?"

Abu Fardan diam dan mematung. Matanya yang cekung mulai membentuk kolam. Penyelesanya jelas terpeta di wajahnya. "Barsangkalah yang baik-baik terhadap ketetapan Alloh. Jangan kamu mengira bahwa mereka yang kaya raya hidupnya sama bahagia dengan kita yang nyaris tidak punya apa-apa. Belum tentu. Sebab kebahagiaan letaknya dalam hati, dalam kepuasaan jiwa," tutur sang imam.

Menyimak nasihat sang imam, Abu Fardan akhirnya menyadari kekeliruannya. Ia kembali ke masjid, dan terus berusaha mencari nafkah tanpa perlu menyesali rezeki yang diberikan Alloh kepadanya.

Eman Mulyatman. Sabili NO.11 TH. VI 9 Desember 1998/20 Sya'ban 1419 H, hal 39

PEMBAWA-PEMBAWA CAHAYA

Di pinggiran Danau Toba, dari arah pusat rekreasi Taman Simalem (Dekat Banjae), tidak saja alam sedang melukis keindahan, tetapi juga melukis kesempurnaan. Bayangkan, Pulau Samosir dari kejauhan dipeluk kelembutan Danau Toba, Dan pelukan lembut antara bukit dan danau ini ditandai sinar sejuk matahari.

Bagi siapapun yang dibekali cukup kepekaan, tempat-tempat seperti ini serupa dengan buku tua makna yang terbuka. Ia rindu untuk dibaca. Danau dengan airnya adalah simbolik kelembutan. Gunung dengan batu-batunya adalah wakil ketegasan. Ketika keduanya berpelukan mesra, ia menghasilkan cahaya terang kesejukan. Ia seperti sedang berpesan kepada manusia (khususnya pemimpin), jadilah sekeras batu dalam mendidik diri sendiri, selembut air dalam melayani orang lain. Hasilnya, engkau pun jadi bercahaya penuh kesejukan.

Bunga-bunga mekar nan indah di pinggir danau sebagai contoh lain, ia seperti tersenyum memanggil, hai manusia, tersenyumlah. Karena dalam senyumanlah letak kebahagiaan. Dalam senyuman itu tersembunyi persahabatan dengan kehidupan. Lebih mudah menemukan kedamaian melalui persahabatan dibandingkan permusuhan.

Ia yang mau mendengar lebih dalam lagi akan dapat pelajaran, ada bunga dalam sampah, ada sampah dalam bunga. Tidak mungkin ada bunga tanpa pupuk yang kerap disebut sampah. Dan bunga mana pun yang mekar hari ini akan menjadi sampah beberapa hari kemudian.

Ini juga terjadi dalam kehidupan manusia. Ada kemenangan dalam kekalahan. Ada kekalahan dalam kemenangan. Ketika manusia kalah dan tidak membuat ulah, ia sebenarnya sedang memenangkan kemulyaan dirinya. Kemenangan manusia manapun akan selalu berakhir dengan kekalahan.

"WE ARE WHAT WE CHOOSE"

Tidak banyak orang yang terhubung rapi dengan alam, terutama karena frekuensi batinyya berbeda dengan frekuensi alam. Batin kebanyakan manusia ditandai terlalu banyak ketidaktenangan (marah, serakah, protes, benci), sementara alam sepenuhnya tenang tanpa gangguan.

Bila boleh membandingkan dengan televisi, batin seperti televisi dengan ribuan saluran. Kemarahan adalah sebuah saluran. Ketenangan adalah saluran lain. Sengaja atau tidak, kitalah yang memilih saluran-saluran itu. Saat dipuji, orang bisa memilih saluran congkak, atau memilih saluran rendah hati. Ketika dimaki, manusia bisa memilih saluran membalas memaki, atau memilih saluran kesadaran bahwa orang yang memaki sedang membutuhkan welas asih kita.

Yang jelas, bukan makian orang yang menghancurkan, tetapi konskuensi dari memilih saluran kemarahanlah yang menghancurkan. Dengan demikian, bila sejumlah psikolog memiliki rumus we are what we think, dalam jalur pemahaman ini menjad we are what we choose. Kita menjadi sebagaimana pilihan kita dalam keseharian. Catatanya kemudian, ada yang memilih dengan kesadaran terang, ada yang memilih karena diarahkan kegelapan hawa nafsu.

Itu sebabnya manusia yang perjalanan doa dan meditasinya telah jauh, berlatih keras untuk mengelola hawa nafsu, dan pada saat sama bekerja keras menghidupkan cahaya kesadaran. Apapun yang terjadi dengan orang-orang ini, selalu memilih kesadaran yang terang, menjauh dari kegelapan hawa nafsu. Ciri lain dari pejalan kaki di jalan ini, ia tidak saja tersenyum dengan bibirnya, ia juga tersenyum dengan matanya (baca: memandang semua dengan spirit pengertian penerimaan, dan persahabatan).

Maka, ada yang menasihatkan, less thingking more smilling. Dengan pikiran, manusia mudah kali tergelincir ke dalam penghakiman, lalu penderitaan. Melalui senyuman, semua dipeluk dengan kelembutan, dan ini lalu menghadiahkan kebahagiaan, kedamaian, dan keheningan.

SEGENGGAM PUISI, SEKERANJANG MATAHARI

Siapa saja yang rajin berlatih menerangi diri dengan kesadaran, menjauh dari hawa nafsu, hidup menjadi segenggam puisi dan sekeranjang matahari. Segenggam puisi karena semua bermakna. Lebih dari bermakna, ia sudah dalam genggaman (baca: menjadi kekuatan yang membimbing pilihan dalam keseharian). Sekaranjang matahari karena makna ini sudah bisa dibawa ke mana-mana sebagai cahaya yang menerangi perjalanan. Tidak ada lagi tersisa kegelapan dengki, sakit hati, dan lainnya. Semua terang benderang.

Kesuksesan adalah puisi, kegagalan juga puisi. Pujian adalah puisi, makian juga puisi. Kesucian adalah puisi, kekotoran juga puisi. Disebut puisi karena semuanya kaya makna. Bila makna-makna ini menjadi pedoman keseharian, ia berubah menjadi matahari kesadaran yang menerangi.

Kehidupan boleh digantikan kematian. Keterkenalan boleh berubah menjadi ketidakterkenala. Pujian boleh disubtitusi cacian. Namun, cahaya kesadaran tetap bersinar. Persis seperti cahaya matahari. Tnapa membeda-bedakan, demikianlah kesadaran melaksanakan tugasnya.

Barbara Marciniak dalam Bringer of the dawn, yang mengaku dapat inspirasi salah satunya di Bali, lebih konkret dalam hal ini. Cermati salah satu kesimpulannya, "Emotion are a source of food. This is how you nourish yourself." Keadaan emosi (senang-sedih, gembira-marah) adalah makanan berguna. Beginilah bibit-bibit di dalam disirami. BIla kebanyakan orang membenci emosi negatif seperti marah, di jalan ini semua emosi (positif-negatif) adalah petunjuk lain.

Oleh Gede Prama-Bekerja di Jakarta;tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Jumat, 12 Juni 2026

Antara Penguasa dan Ulama

Suatu saat Khalifah Harun Ar-rasyid berkunjung ke pelosok desa Ar-Riqqah, beberapa puluh kilo dari istananya di Baghdad. Pada saat sama pula, seorang alim terkemuka waktu, Abdullah bin Mubarak yang terkenal kezuhudan, waro, dan tegas dalam membela kebenaran, datang pula ke Ar-Riqqah. Abdullah bin Mubarak juga dikenal sebagai ulama yang tak segan mengkritik penguasa.

Masyarakat kota kecil itu berbondong-bondong menyambut kedatangan Abdullah bin Mubarak yang memang telah mereka kenal sebelumnya. Mereka mendatangi masjid yang disinggahi Abdullah untuk meminta nasehat dan siraman rohani. Otomatis tempat menginap Harun Ar-Rasyid sunyi senyap. Ia pun lantas bertanya kepada salah seorang penjaganya, "kemana perginya penduduk daerah ini?" "Mereka semuanya berkumpul di masjid," jawab penjaga singkat. "Ada apa di sana," tanya khalifah penasaran. "seorang alim yang terkenal, Abdullah bin Mubarak, yang datang dari Khurasan sedang memberi ceramah dan petuah-petuah agama."

Karena begitu penasarannya, Khalifah segera menuju masjid tersebut. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat begaimana orang-orang rela berdesakan dan berjubel, dengan khusu dan khidmat mendengarakan kalimat-kalimat yang menyejukkan hati dari mulut seorang yang mulia dan berwibawa.

Khalifah pun dibuat terpekur dan tertunduk. "Demi Allah! Dialah raja yang sebenarnya, rakyat mendatanginya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan hati. Tidak seperti Harun, para pejabat datang kepadanya karena mengharap jabatan dan kekayaan," gumannya dalam hati.

Ibnu Ahmad-OASE-KHAZANAH-Sabili No.2 TH.IX hal.32

Selasa, 28 April 2026

Aku Sesuaikan Persangkaan Hamba-Ku

Rasulullah SAW bersabda bahwasanya:

Allah SWT berfirman: Aku sesuaikan persangkaan hambaku padaku dan senantiasa mengawasinya. Jika ia menyebutku ditengah keramaian aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik dari keramaian tersebut. Jika ia menyebutku dalam dirinya, aku akan menyebutnya dalam diri-ku. Dan jika ia mendekatiku sejengkal, aku akan mendekatinya sehasta. Dan jika ia mendekatiku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan Jika ia mendatangiku sambil berjalan, aku mendatanginya sambil berlari. Hadits Riwayat Muslim

Lembar pertama sebagai cover buku.