Kamis, 10 September 2026

Ketika Nasi Terlanjur Jadi Bubur

Apa yang mesti dilakukan?

Banyak hal yang terjadi di dalam hidup dan berkehidupan ini tidak sesuai dengan keinginan manusia. Manusia punya banyak rencana tetapi lupa ada rencana yang jauh lebih baik dari rencana Manusia. Manusia berpikir 'sebatas' manusia saja, Tuhan melampuai semua hal. Jika rencana itu sesuai dengan keinginan ucapkan Alhamdulillah, begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang tidak 'baik' di muka bumi selagi di hati manusia ada Tuhan yang selalu menjaga, apapun kondisinya.

Menyiapkan respon terbaik. Respon spontan terhadap sesuatu menjadi salah satu kunci penting agar manusia tidak terjebak dalam lingkaran cobaan yang bertubi-tubi. Fokus untuk keluar dari rintangan itu menjadi penting agar pikiran dan tubuh sama baiknya ketika merespon sebuah kejadian. Tindakan merespon segala hal yang pelik didasarkan pada kekuatan doa dan ihtiar, dua hal ini tak bisa pisahkan.

Cobaan, musibah, kesulitan atau apapun itu mirip sebuah pukulan yang datang menghujam ke area tubuh dan kepala. Kadang pukulan itu bisa merobohkan ke kanvas, ada yang bisa bertahan meski harus terhuyung menghindari pukulan berikutnya. Manusia yang jatuh lalu bangkit dengan kekuatan maksimal menandakan manusia itu berhasil menghadirkan energi kuat dan lolos dari sergapan keputusasaan yang bisa saja menyeretnya dalam konsep diri yang buruk. Yang limbung dan terhuyung dan bisa keluar dari lingkaran badai, menandakan punya mental berlapisu-lapis dalam menghadapi setiap pukulan kehidupan. Setiap helaian nafas manusia dihadapkan dengan 'pukulan' kehidupan, pada detik yang sama kekuatan menghindar dari 'pukulan' itu  membuat manusia semakin terampil dalam menghadapi semua level persoalan hidup.

Menyiapkan perbekalan. Persoalan hidup semakin komplek, ketika manusia tidak mengimbangi dirinya dengan perlengkapan berjuang, maka bisa terjebak pada ladang berburuk sangka kepada Allah. Manusia yang terus menyandarkan pada kekuatan manusia semata, bisa mendorong kepada kesombongan-merasa paling. Berburuk sangka kepada Allah, akan menghasilkan energi lemah dan bisa menguras seluruh perbekalan. Karena Allah tempat untuk menghadirkan seluruh kekuatan dimensi kehidupan, dari sana seluruh energi bisa muncul. Mengetahui tempat untuk mengambil perbekalan (Allah) dan menyimpan perbekalan (iman) sekaligus menambah pengetahuan tentang perbakalan (ilmu), serta menjangkaunya dengan praktik keseharian (ibadah) adalah upaya manusia untuk menyiapkan perbekalan.

Ketika nasi terlanjur jadi bubur, maka siapkan irisan ayam, daun seledri, daun bawang, bawang goreng, telor, kuah gurih, juga sate empela, sate usus (jika mau), dan jangan lupa bersyukur.

0 Comments:

Posting Komentar