Minggu, 20 September 2026

Dua Sayap Kesatria Bintang

Sepeninggal Rasulullah Saw ada dilema yang melanda kaum muslimin, seperti kehilangan langkah, pandangan tiba-tiba buram, masa depan terlihat suram, bintang-bintang meredup, tetapu tidak untuk lelaki yang satu ini. Abu Bakar berdiri paling kokoh untuk menentukan langkah berikutnya. Titah yang sudah diamanatkan tetap dijalankan. Mengirim pasukan dengan pedang-pedang yang teracung dan derap-derap langkah pasukan berkuda. Ini jawaban di atas semua jawaban. Bahwa dakwah kenabian mesti berlanjut. Mesti halangan itu tetap ada. Allah kirimkan jawaban berupa kemenangan. Kemenangan yang gilang gemilang.

Kaum-kaum pendurhaka itu takluk di bawah tatapan kekokohan iman dan jubah ksatria. Benteng-benteng kemunafikan runtuh oleh pekik takbir menggeladak mengecutkan nyali. Dari timur barat tirani rontok berguguran. Orang-orang terzolimi bebas dari segala bentuk kediktatoran.

Lalu muncul sang pembeda, Umar. Yang Logika melumpuhkan segala bentuk kecongkakan duniawi. Tak rela membiarkan kegemilangan harta sementara ada bagian yang menjerit sekadar dua tiga suap makanan. Jagoan pasar Ukaz. Kuat di masa 'bodoh' dan kuat juga di masa dirinya diliputi iman. Kemenangan demi kemenangan lahir lewat lisan yang diberkahi. Pada dirinya tersemat pribadi yang melek politim, ekonomi, spiritual, dan segenap penghambaan dirinya kepada Allah. Prestasi lahir cahaya iman yang mampu menerobos segala bentuk kepandiran, meski itu sahabat sendiri. Ketajaman bashiro membuka tabir persekongkolan yang licik. Meski tindakan keji Abu Lu'luah, seorang Majusi pendengki yang mesti mengakhiri karir gemilang sang Faruq. Dua cahaya berikutnya mampu menggantikan estafeta keenabian dengan segala kemanusiaannya, Ustman bin Affan dan jagoan duel Ali Bin Abi Tholib.

Latihan 'mengucapkan ulang' atas buku 1000 peristiwa dalam Islam. 'Abdul Hakim al-'Afifi

0 Comments:

Posting Komentar