Terlambat menyadari kalau dirinya telah terjebak dalam dunia yang tidak berdampak pada diri sendiri, apalagi untuk orang lain. Status dirinya seperti terpasung dalam sebuah tempurung berisi katak-katak tua yang merasa bermahkota. Sesama mereka saling mengagungkan satu sama lain. Percakapannya berisi saling memenangkan satu sama lain. Tidak sedang bercakap-cakap tetapi saling "membunu" satu sama lain. Campur tangan antara pikiran dan tindakan mengabaikan prioritas yang sudah disepakati. Tak sedikit dari mereka mencampurkan antara sugesti dengan pilihan norak yang berakibat fatal pada framing-framing meninabobokan dengan topi-topi badut.
Menyadari dirinya telah terpasung oleh asumsi pribadi bertahun-tahun tanpa pernah menyelediki barang sejenak apa yang telah dilakukan pada orang sekitar. Keputusannya diambil berdasarkan aksioma mentaj hasil dari pembacaan usang ide-ide lama curiga berisi label-label masa lalu. Dia tidak menyadari bahwa orang bisa bertumbuh seiring waktu, tetapi selalu menyematkan pada stigma buruk adalah bentuk kecerobohan atas penilaian orang perorang.
Seringkali potong kompas pada jengkal keputusan adalah bias dari pribadi transaksional, yang kerap terburu-buru mengganti dan merombak. Pesanan dirinya hasil dari otak yang kawin silang dengan prasangka buruk memberi citra bahwa perasaan sendiri jarang tervalidasi. Itu sebabnya menyadari kalau performa sedang mengalami degradasi dan juru kunci, jarang terdeteksi meski sinyal darurat dari orang luar begitu berseliweran, satu gelombangpun tak tertangkap.

0 Comments:
Posting Komentar