Selayaknya awan mampu menaungi jagad semesta dari terik yang bisa menyetrika kulit-kulit moisturizer di kedai-kedai penghapus noda. Pada saat yang sama sekawanan badut bermantel bulu domba tengah mengais-ngais derma untuk kebutuhan dapurnya. Terpaksa sebagai alibi profesional, mereka tak lagi punya apa. Tapi mereka sebentar lagi akan menjadi santapan hujan yang sebentar lagi akan turun. Sementara di kedai-kedai kulit kencang orang mulai menatap curiga tentang kejujuran usia yang telah berdekade menjadi penangkap petir dari setiap musim penghujan.
Lalu muncul anak-anak republik bergaun pantas dengan intelektual otentik pernah meremukkan sendi-sendi arogansi lewat bumbu penyedap yang dibuatnya di dapur misteri. Sejumput cibiran dari badut bermantel domba yang tiap bicara selalu mengeluarkan kunyahan sirih dari sudut bibirnya, sesendok rencana dari balik kepintaran dengan belokan tajam kepatuhan tak kepalang, lalu taburkan minyak licin agar bisa lanjut di sidang-sidang dunia tanpa merasa sedikit lagi akan berpulang, tambahkan sedikit garam agar bisa memantaskan diri di depan para pemuja sertifat kepelatihan-padahal tanpa pernah dilatih sertifikat tak akan memberikan keajaiban apapun. Pelan namun pasti, kalau bisa cepat ngapain pelan-pelan anak-anak republik bisa melahap semua jenis menu yang dihidangkan, mereka telah menyiapkan perbekalan. Tetapi menangkap hujan tidak segampang menumis kangkung. Sebab kapan turunnya hujan tak ada manusia yang bisa perkirakan. Coba baca bukunya Mahfud Ikhwan: Menumis itu gampang Menulis tidak.
0 Comments:
Posting Komentar