Sabtu, 22 Maret 2025

"Passion" dalam konteks Pendidikan, Kreativitas, dan Bayar Tagihan

BABAK 22
Sebagai guru marilah sejenak renungi dalam-dalam tulisan ini, sebagai salah satu asupan pikiran yang berguna.

Anak-anak yang masuk SD tahun ini akan memasuki usia pensiun sekitar tahun 2069. Tidak ada satu orang pun atau metode apapun yang bisa memastikan hal-hal yang mereka hadapi. Tidak ada yang akan tahu bentuk dan tatanan dunia saat itu. Jangankan puluhan tahun, apa yang akan terjadi lima tahun ke depan saja sudah sangat sulit diprediksi.

Apa yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan mereka dan diri kita sendiri menghadapi dominasi ketidakpastian? Apakah segala hal yang kita ketahui, terutama soal pendidikan saat ini sudah cukup memadai? jika tidak, hal apa lagi yang bisa dilakukan?

Logika ini bisa dijadikan landasan oleh Ken Robinson untuk terus mempertanyakan sistem dan cara kerja sebagian besar institusi pendidikan di dunia yang semakin usang. Sistem pendidikan yang merupakan warisan dari revolusi Indrustri ditujukan sepenuhnya untuk mengisi kotak-kotak yang dibutuhkan di dunia indrustri. Celakanya, struktur Indrustri pun sudah berbeda dan semakin berubah sejalan dengan perkembangan teknologi, lingkungan, bisnis, politik, dan interaksi manusia.

Ken Robinson percaya pendidikan lebih dari secarik kertas mahal atau formulasi angka yang tergambar dalam indeks prestasi komulatif (IPK). Kecerdasan tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Dengan jenaka, disebutkan oleh Ken Robinson bahwa yang harus dikembangkan bukan cuma isi kepala, atau bahkan hanya separuh dari isi kepala (mengacu pada pendewaan fungsi otak kiri sebagaimana yang dianut oleh sebagain besar institusi pendidikan). Sistem pendidikan harus menyediakan cukup ruang untuk berimajinasi, berksperimen, dan berekspresi.

Pendidikan tulen adalah soal pemberdayaan diri dan orang lain.

Lebih jauh disebutkan oleh Ken Robinson bahwa pendidikan harus lebih dari kuantitas, tetapi juga kualitas. Bukan cuma rutinitas, melainkan terobosan. Tidak hanya program, tetapi juga esensi dan manifestasi ilmu. Education is always about how to think, not what to think. And the how can be as many as the stars in the sky. Gamblang terhadap isu yang satu ini, izinkan saya melengkapinya dari pemahaman atas tulisan dia.

Jadi, harus bagaimana jika passion tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup?

Ken Robinson: Seriously people, what pays you bill is money, not passion! (ini bukan jawaban asli dari beliau, hanya rekaan saya atas respon yang mungkin diberikan oleh Ken Robinson). Passion bukan komoditas sehingga tidak bisa dihargakan sebagaimana layaknya barang dagangan. Membayar tagihan bulanan, cicilan kartu kredit, biaya anak sekolah, dan alokasi investasi harus perlu, dan mutlak menggunakan uang sebagai denominator transaksi yang paling diakui hingga saat ini.

Passion wthout creation is meaningless, nothing! Nah, uang berasal dari kinerja, yang akan sangat keren jika diawali dari passion. Apakah bisa dapat uang tanpa passion? ya, bisa saja, tetapi belum tentu prosesnya mengasyikkan dan sudah pasti tidak maksimal. Mempertanyakan bagaimana jika passion tidak bisa bayar tagihan sama saja bertanya kenapa tamatan SD tidak menghasilkan uang? Kenapa karyawan baru tidak langsung jadi presiden direktur? Kenapa suka politik, tetapi tidak jadi anggota parlemen? Jawabannya, semua dan apapun di kolong langit perlu proses.

Bagaimana mempersiapkan diri dan generasi penerus atas masa depan yang tidak pasti dan penuh tantangan? Ken Robinson percaya jawabannya adalah passion dan kreativitas. Keduanya adalah basis folosofi kehidupan berdaya.

Kenapa passion? Mengikuti arah kehidupan menggunakan passion yang sudah ada dalam diri sendiri adalah hal paling alamiah yang bisa dilakukan seseorang. Mencari passion adalah perjalanan berksinambungan memahami diri sendiri yang butuh kontemplasi, keheningan, dan kesabaran. You are responsible to turn your passion into meaningful creation.

Kenapa kreativitas? Karena ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup, bertumbuh, dan terus berkembang. Dunia tida lagi dan tidak akan pernah lagi sama. Perubahan dunia tidak bisa lagi di respon dengan pendekatan berbasis template masa lalu. Minyak bumi akan habis. Krisis pangan. Krisis air bersih. Krisis energi. Kemampuan bumi menyokong semua kehidupan semakin teruji. Peran manusia adalah sebagai pemelihara, penyeimbang, dan penjaga tatanan berkesinambungan.

Passion, kreativitas, dan pendidikan, ketiganya adalah inti pembahasan Ken Robinson dalam Finding Your Element. Seharusnya ini sudah bisa menjawab sebagian besar keraguan, kebingungan dan ketidaktahuan soal satu kata yang secara berulang-ulang disebutkan,"passion".

Uang dan "Passion"

Jika ada satu pembahasan yang mungkin bisa ditambahkan dalam Finding Your Element adalah soal hubungan antara mata pencarian (baca:uang) dan passion. Sebenarnya ini sudah diungkapkan Ken Robinson dalam berbagai contoh dalam buku tersebut. Namun, sekedar untuk memberi jawaban Your passion is alreaday within you-the clues are everywhere your feelings. Passion bisa di definisikan dengan banyak cara. Definisi yang paling tepat untuk saya adalah ini, segala aktivitas yang membuat kita merasa berdaya. Kata kunci pertama adalah "aktivitas". Kata kunci kedua "merasa berdaya", sehingga tidak harus langsung piawai, tetapi prosesnya terasa dimudahkan, diasyikkan, dan diberdayakan.

If You Think your passion does not pay your bill, please ask these questions to your self:

Satu, Apakah saya sudah tahu aktivitas yang membuat diri ini merasa berdaya, mampu, dan tahan banting, dan seterusnya?.

Dua, Apakah saya sudah menekuni aktivitas tersebut sehingga menjadi piawai?.

Tiga, Apakah saya sudah menghasilkan kreasi keren (baca: karya keren yang bermanfaat bagi banyak orang) dari aktivitas tersebut? silakan jawab. Jika semua jawabannya "ya!", saya pastikan uang sudah tidak jadi masalah.

Nah, Anda yang masih mempertanyakan (lagi) kenapa harus tahu, paham, dan peduli passion, selain wajib membaca Finding Your Element, bisa jadi jawabannya sudah disajikan dalam serangkai kalimat indah karya Jalaludin Rumi sekitar 800 tahun lalu berikut ini.

"With passion, we pray

With passion, we make love

With passion, we eat & drink & dance & play

Why look like a dead fish in this ocean of god?"

Sumber: KOMPAS, Jumat, 22 November 2013

Oleh: Rene Suhardono, Penulis dan Pembicara Publik.

@ReneCC

@kompasklass#baca

Sekolah Melahirkan Kekutan Besar

BABAK 14
Sekolah menghadirkan cara-cara terbaik untuk membuat anak-anak berkembang sesuai dengan bakatnya masing-masing. Darinya akan lahir kekuatan besar untuk menjalani hidup yang serba instan serta monoton. Meringkus semua genre kehidupan dalam dimensi yang mereka kuasai. Lalu mereka bisa survive dalam jarak yang bisa mereka rengkuh.

Disisi lain sekolah bukan tempat loundry yang akan mengubah seluruh potensial mereka, lalu mengubur semua jiwa tak lurus dalam satu wadah "anak-anak sempurna", mungkin sempurna adalah kata yang paling 'menjijikan' bagi mereka yang tak sempurna. Karena sempurna tak patut tersemat pada diri kita manusia. Kita terlalu banyak melihat hal-hal yang serba sempurna, padahal banyak yang sempurna tapi tak sempurna.

Sekolah sejati bukan ancaman yang meneror segala keterbatasan pada diri anak, Ia bisa menjadi kawan yang menyenangkan. Seperti mendengar cerita. Cerita itu tidak mengancam pikiran, ia bisa kita nikmati dalam bentuk apapun. Dan cerita yang baik adalah cerita yang mampu memikat pikiran. Pencerita yang cukup baika (good enough), selayaknya menempel pada diri seorang guru, agar api tekad seorang guru dapat menyala dan bisa menularkan tekadnya. 

Kita sering menghidangkan segala jenis makanan dalam urutan Tata Boga yang 'menjengkelkan", tapi kenapa terlewat dalam menumbuhkan kembangkan anak pada level yang proporsional. Mungkin kita perlu jurus maut untuk menghadapi anak-anak yang bukan zaman kita lagi.

Kehangatan komunikasi, cinta yang tulus, dan motivasi yang abadi bisa memutus mata rantai keheningan, kekosongan, dan kebingungan. Yang sempat mereka jejaki dalam masa-masa tertentu. Hingga mengendap berlarat-larat dalam dimensi yang tidak sempat kita sentuh dan dekap. Lalu menjauhkan mereka dari kerapuhan dan segala turunannya.

Mari kita rengkuh jiwa mereka dengan tatapan yang meyakinkan. Melampaui fungsi algoritma yang membumbung dan rumit.

Ini goresan pena yang mencoba melihat dunia anak dari sudut pandang yang lebih berimbang.

Jumat, 21 Maret 2025

Anak Yang 'Menakutkan' Guru

BABAK 13
Ia melempar meja dan kursi, juga kertas-kertas dari buku yang disobeknya kasar. Kotak-kotak kecil berisi perlengkapan bergulingan, tak beraturan. Map-map berjatuhan. Sebuah lukisan yang dibungkus secara apik berubah remah-remah. Ketika seorang guru masuk, ia membentaknya secara vulgar tanpa segan ataupun tak enak. Pertahanan terbaiknya adalah tantrum sejadi-jadinya. Sebuah benteng yang teramat kokoh lagi sulit ditembus. Kecuali oleh orang-orang yang dipercayainya. Tenaganya menyimpan untuk menyeruduk siapa saja yang berani untuk melumpuhkan tantrumnya. 

"Diam!" bentaknya. Gurunya menatap takjub sekaligus prihatin. Meski hatinya ikut juga mendidih, terapi langit ia gulirkan agar tersungging senyuman kemudian. Telapak tangannya berkeringat. Karbo yang dikunyahnya di pagi hari cepat sekali menguap. Guru yang lain ikut membantunya. Pasukan tambahan, sementara ia mulai menertibakan segala sesuatunya. Anak itu terus saja meronta-ronta, ia menendang dan memukul. Bahkan guru itu pernah dicakar menggunakan kukunya yang tajam, saat ia masih duduk di kelas satu. Sekarang ia sudah kelas dua, tetapi masalah dirinya dan lingkungan sekitar belum bisa diselesaikan dengan caranya sendiri. 

Kami menikmati makan siang dengan rasa tak biasa. Lapar yang tak tergantikan dengan lauk apapun. Sebuah kehambaran yang kerap terjadi, meski tampak sepele tapi hormon tak juga membantu. Kegiatan makan siang seperti melambat. Seperti film yang diperlambat agar frame semakin tajam terulang dengan maksimal. Anggota murid yang kehilangan selera makan, salah satu murid laki-laki yang biasanya makan dalam porsi banyak, di atas piringnya teronggok satu centong nasi saja. 

"Diam!" bentaknya kembali. Teman-teman yang mencoba menghiburnya surut juga nyalinya. Tak berani melakukan hal yang jauh lagi. Pergerakan tampak kaku dan serba kikuk. Mereka kembali fokus untuk menyelesaikan makan siangnya. 

Kami meninggalkannya sejenak untuk memberi ruang privasi. Agar ia bisa meredam emosinya yang terlanjur tak terbendung. Kami menantikannya agak lama sekitar sepuluh menit. Pada menit selanjutya ia bisa meluapkan emosinya, walau tampak belum berdamai dengan isi kepalanya. 

Pada hari-hari berikutnya ia  serba diam ketika meredam situasi yang kurang nyaman baginya. Perkembangan ini cukup menggembirakan. Meski ia tak piawai untuk mempertahannya. Diamnya asal tampak wajar dan proporsioanal, bagi kelas sudah cukup, kami tak ingin melihatnya dalam diam yang menyeramkan.

Perawakannya memang kecil, tapi ia punya kekuatan di atas rata-rata anak sebayanya. Meski baru sembilan tahun, ia memiliki tenaga tambahan yang dikumpulkannya sejak lama. seperti kumpulan tenaga dalam yang dilatihnya bertahun-tahun. Tinggal menunggu momen saja, maka ia bisa mengangkat meja dengan enteng saja. Untuk bisa mengangkat meja tersebut membutuhkan kekuatan dua anak sebaya. 

Sorot matanya terasa menyimpan dendam. Dendam pada orang dewasa di sekelilingnya. Meski tak semua orang dewasa bersikap tak kompromi dan terlihat menakutkan. Setiap ia tantrum, seisi kepalanya berhamburan peristiwa-peristiwa buruk yang datang secara otomatis. Ia kerap hadir untuk memporak-porandakan segala sikap yang pernah dituturkan oleh gurunya.

Guru itu mencoba merengkuh kedua bahunya yang tampak ringkih. Mencoba menawarkan menu makan siang. Tatapannya tampak ragu, tapi sorot sang guru seperti meyakinkan. Ia pun mengangguk, melangkah ke meja makan mengambil piring dan sendok dan mengisi nasi beserta lauk pauk.

Raut wajah yang tampak menakutkan bagi anak-anak yang lain, kini mulai mencair. Tersungging senyuman yang terlihat wajar, tapi ada rasa yang masih disembunyikan. Ia seperti beranjak dari kenyataan satu ke kenyataan yang lain. Ia masih menyimpan rasa sakit yang penawarnya masih misterius. Atau barangkali hanya ia sendiri yang mampu mengobati. Bahkan sekolah bisa jadi menyuburkan "penyakit" dengan perlakuan yang tidak tepat. Bisa jadi sebaliknya. Mungkin manipulasi prilaku. Untuk sementara, anak bisa dibilang cukup 'menakutkan' gurunya. Cekap Semanten.

Tulisan Ini diproduksi 22 Juli 2020

Kamis, 20 Maret 2025

Saat Ruang Kelas Diuji

BABAK 12
Anak perempuan itu memukul-mukul mejanya. Guru di hadapannya tak ia pedulikan. Pijakan lembut tak juga mempan menyentuh gendang telinganya saja. Tak sampai perasaannya. Mungkin membutuh momen untuk membuatnya tenang dengan ketidakmampuannya membaca.

Dengan badannya ia bisa menipu siapa saja. Mungkin pikirannya tak bisa ia tipu. Guru di depannya tak begitu ia anggap sebagai mana mestinya, ini hanya contoh, tak perlu risau.

Mungkin karena ia guru baru, jadi tak ia anggap sama sekali. Ia mungkin menghormati guru lamanya yang telah menundukkan "keliarannya" selama ini. Ia ingin mengintimidasi gurunya, sebagai mana ia sering diintimidasi guru lamanya. Sebuah pikiran yang tampak normal. Sebuah dendam yang tak berkesudahan, tapi mungkin terlalu berlebihan.

Semua cerita bisa berawal dari mana saja. Ini hanya cerita, kalian senang dan tertarik, itu biasa. Menganggapnya luar biasa, karena sekolah bukan tempat mencuci segala kebodohan, itu juga biasa. Karena kadang menganggap yang biasa itu tak biasa. Mungkin sekolah hanya menempa, bukan mencipta, biarkan anak-anak berkembang mengasah bakatnya. Kalaupun tak ditemukan bakat apa-apa. Justru itu yang barangkali luar biasa. Karena ia berjalan tanpa memakai selendang kesombongan. Di saat teman-teman yang dulunya berbakat, ia bersedih karena menemukan temannya meringkuk di balik jeruji besi. Atau ia tetap rendah hati, kepada temannya yang berbakat apa saja.

Perjalanan ini baru saja di mulai...

Memasang wajah cemberut di kelas adalah salah satu jurus ampuh yang di pakai anak-anak ketika ia belum bisa meregulasi emosinya. Ia bahkan bisa menjadi super duper ganas pada beberapa kesempatan bila orang dewasa di sekitar terasa menyebalkan.

Cobalah untuk tidak menyapa terlebih dahulu pada anak-anak yang belum percaya pada orang dewasa di dekatnya, itu akan jadi perkara yang membuatnya menjadi lebih sulit untuk mengendalikan diri sendiri.

Perhatikan hari-hari berikutnya apakah tetap pada pendirian bahwa ruang kelas adalah kotak berbahaya yang harus ia hindari dan jangan lupa tengadahkan di penghujung malam pada pemilik alam semesta ini agar bisa mengubah perangai, lalu beralih pada pemahaman dasar tentang kepercayaan pada orang dewasa sekitar. Itu bisa jadi peluang padanya bahwa ada banyak orang dewasa yang bisa dijadikan panutan dan tempat untuk memberikan kepercayaan yang ia jaga selama ini. Dengan catatan semuanya bermuara pada edukasi dan pengoyoman bukan pada didaktis dan intervensi. Cekap semanten. 

Tulisan ini diproduksi 16 Agustus 2022

Rabu, 19 Maret 2025

Berpikir Tingkat Rendah

BABAK 11
Seorang guru tengah duduk di gelanggang terbuka. Kepalanya menunduk seperti berzikir. Anda keliru, ia sedang memandangi setan gepeng yang digenggam dengan mesra. Ia telah "berhianat" pada apa yang telah dicita-citakan oleh guru bangsa. "hargai murid, maka kau akan melihat mata yang indah pada mereka". Bahkan ia tengah menyusun rencana untuk gabung dalam dunia Phubbing alias pelan-pelan menjadi anti sosial. Pada kondisi tertentu ia telah mangkir dan mulai menolak Ki sebagai guru, menganggapnya sebagai lelucon belaka. Cilaka 12. 

Ia mendongak sekilas ketika seorang senopati sekolah lewat tak jauh dari tempat duduknya. Mengangguk sejenak, lalu kembali tenggelam pada dunia 'konohagakure' desa tersembunyi di balik lebatnya dedaunan. Kalian mesti jeli, ia sedang tidak mampir di konoha, tetapi sembunyi di balik kesalahan yang diakumulasikan dalam tindakan yang menurutnya benar. Lalu enteng saja kembali mengajar dengan melepas baju evaluasi, atas dirinya, tanggung jawabnya, sekaligus penhianatan terhadap profesinya.

Ia tengah menyempitkan dan mengkebiri hak anak, yaitu pendampingan. Dengan masuk ke dalam dunia setan gepeng, kalian merasa telah salah dengan sebenar-benarnya kesalahan. Seperti Musalaimah Alkazab, seorang pembohong yang kebohongannya tidak ia kenali melalui akalnya sendiri. Mau kalian akan jadi seperti itu?, Zombi saja jujur dengan apa yang mereka kerjakan, jarang sekali merekayasa eS O Pe yang mereka dapat. Gigit mereka dan sebarkan virus. Tetapi kalian begitu asik masuk main setan gepeng di tengah pembelajaran atau jelang pembelajaran, apakah kalian lebih mulia dari zombi. Mungkin kalian perlu melihat film Train To Busan, agar sedikit belajar dari para zombi. 

"Ah, Anda sebagai guru juga tak perlu begitu saklek dengan urusan orang lain." begitu ucapnya, manakala satu nasihat mampir ditelinga kanannya, lalu tak sempat mengendap di logikanya. 

Tak bermaksud seperti itu, jangan tersinggung. Jika kalian mudah sekali untuk mengabaikan yang penting. Yang telah telah di SK kan maka kalian akan mudah untuk menjadi jamur ketika yang lain tengah berlomba-lomba menjadi mutiara.

Kalau urusan hanya menyangkut anda sendiri. Tak ada orang yang dirugikan, tak jadi soal. Titik tekannya adalah kalian merasa penting dan menganggap kepentingan orang banyak tidak penting. Termasuk murid kalian sendiri yang tampak selalu memaafkan, otak mereka minta jatah untuk diberikan nutrisi, setidaknya pendampingan yang tulus. Bukan pendampingan yang sedikit-sedikit menjalin mesara dengan setan gepeng. Kemudian menghitung berapa menitkah jam kepulangan.

"Ok, kalau itu bisa dipertimbangkan." Selanya. 

"Lalu, apakah kalian akan berhenti. Tidak kan?, kalian akan terus mencari celah agar apa-apa yang kalian kerjakan mendapatkan pengakuan atau bahkan legitimasi tentang apa-apa yang kalian perbuat, sudah seharusnya, sudah semestisnya. Pantaskan?, sejatinya kurang pantas. Kalian boleh kecewa pada sebuah lembaga, tetapi hak anak-anak jangan sampai kalian kurangi, apalagi mengabaikan. Sampai kapanpun hak anak tetap berhak mendapat hak didik yang layak. Meski kalian berdalih dengan cara yang tidak lazim, main sembunyi. Lalu tiba-tiba keluar."

Apa yang kalian upayakan, kalau yang keluar hanya keluhan yang tidak berpangkal ujung. Ujung saja ada pangkalnya. Masalah kalian tidak pernah selesai, dengan mental kalian yang itu-itu saja. Menjejejalkan seluruh asumsi di kepala, mengendapkannya seperti bikin tape, lalu beberapa kemudian hari kalian menggugat apa yang sebenarnya kalian sepakati. 

Orang yang mengeluh tanpa pernah berhenti, tak keluar dari tempat di mana ia mendapat rezeki, seperti kalian mengencingi sumur sendiri setiap hari. Tanpa pernah menyiramnya atau mengurasnya. Kalau kalian berani. Bikin surat lamaran keluar sebagaimana kalian dulu, di awal-awal mencari pekerjaan. Menghilangkan semua ego, setelah dapat pekerjaan, merapat ke sana kemari, mencari tempat dengan mengobrol sana sini mengumpulkan informasi, lalu tiba-tiba sorot matanya begitu sinis memandang sesuatu yang tidak lagi di sepakati. Padahal ia menyepakati dengan tindak tanduk seorang budak ketika pertama kali melamar, sekarang setelah mendapat sedikit tempat, tiba-tiba menjelma seekor serigala yang siap menerkam apa yang bisa diterkam.

Ruang yang kalian bangun dengan dedikasi tinggi dan penuh perjuangan, kalian matikan sekejap ingatan. Mengubahnya menjadi ruang-ruang penuh kedengkian, selidik menyelidik ketika 'menemani' anak-anak pulang sekolah. Mengobrol dari jauh sambil mengangguk takzim kepada orang tua yang kebetulan lewat di depannya. Seoalah-olah kalian telah memikirkan seluruh masa depan tempat kerja. Yang kalian lakukan mencoba untuk mengkudetakan suasana, tetapi modal kalian mentah. Modalnya hanya BAPER, karena tersinggung ditegur oleh teman kalian sendiri. Karena kalian telah menjelma menjadi manusia PHUBBING jengkal demi jengkal. Sampai kalian tidak bisa mengelak, lalu menyalahkan semua orang. Dengan dalih hal-hal yang mereka lakukan tidak pernah dihargai. Lalu kalian pergi tanpa permisi. 

Kalian bukan manusia puisi yang mencoba Escape From Personality, melarikan diri dari kepribadiannya. Mengambil jarak dengan dengan diri sendiri. Mengambil sudut pandang yang lain. Kalian tidak-jika tidak pantas- kalian belum bisa masuk ke wilayah lain. Yang cocok adalah katak di dalam tempurung. Apalagi Heteronim, memakai banyak nama. Bukan hanya banyak nama, tetapi satu nama satu karakter. Kalian banyak maunya tetapi minim kerjanya. Sibuk melihat dari jauh lalu menertawakan apa yang menurut kalian tak layak.

Kalian masih sibuk dengan definisi sendiri, tidak bisa masuk dalam pandangan orang lain. Kesadaran bahwa pandangan sendiri bisa lebih keliru, katro, norak, dan seterusnya. Bahwa ada kemungkian pandangan orang lain lebih layak, lebih tepat untuk dijalankan.

Atas dasar apa kalian mengutamakan kepentingan sendiri dari pada mengutamakan kepentingan orang lain. Kalian menyebut sebagai kalian kumpulan indvidu yang kepalanya dijejali oleh hasud menghasud lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan orang yang luruh dalam kerjaannya.

Kalian hanya menghasilan keyakinan yang tidak bisa diskusikan. Sebuah keyakinan yang keliru memakanai sebauh kebijakan. "Kenapa dia boleh, kok saya nggak." begitu katamu tempo hari ketika LIBURANMU MULAI TERGANGGU. Loh, kalian hidup dari pelayanan jasa. Yang sejatinya bisa 24 jam. Lalu tanpa merasa berdosa. Pasang status 'Tolong Liburanku Jangan di Ganggu' jika kalian tak ada "apa-apa" status apapun tak pernah menggoyangkan apa-apa yang telah disepakati.

"Itu hak kalian, pandangan kalian."

Betul kalian punya hak itu, tetapi sejak saat itu, kalian telah memadamkan api tekad seorang guru yang dibangun atas dasar misi mulia, bukan sok mulia, tetapi siapa memantaskan diri, kalau bukan kalian (guru). Jika apresiasimu buruk terhadap profesi guru yang sedang dijalankan, maka kalian sedang memahat patungmu sendiri. 

Sebab kalian masih merasa kampung sendiri lebih baik. Karena kalian masih pengecut untuk mengakui ketika kalian merasa asing sendiri. Tidak mementingkan diri sendiri , kata yang lebih umum. Api tekad seorang guru memandang bahwa kampung lain justru lebih baik, itu karena ia menangguhkan sejenak kepribadiannya demi sebuah peradaban yang dialasi oleh tarbiyah zatiyah.  

Naifnya, kalian lebih baik minta maaf dari pada minta izin. Ya, kalian masih terjebak dalam nostalgia anak baru gede. Badan kalian boleh saja gede, tetapi otak reptil kalian lebih dulu berkembang dari pada yang lain. Salam Pak Pelita. Cekap Semanten. 

Selasa, 18 Maret 2025

Ketika Jadi Ayah Di Rumah

BABAK 10
Belajar dari para penyair, bisa diambil dari sumber puisi. Yaitu mereka yang suka mengeidentifikasikan sebagai escape from personality mencoba keluar dari kepribadian diri sendiri. Lalu mencoba melebur menjadi susunan tidak membentuk dogma, tetapi susunan kebijakan kebajikan yang terus dilatih tiap hari agar nilai-nilai pendidik meresap sampai ke akar nalar. 

Kalimat diatas setidaknya memompa seorang ayah untuk menangguhkan sejenak apa-apa yang tersisa dari pekerjaan-pekerjaan sebagai seorang guru yang terus saja bersambung tanpa henti. Ini kenikmatan jenis tersendiri, yang bisa menikmatinya ya, pendidik itu sendiri. 

Dalam hal membaca juga guru yang kembali ke rumah dituntut untuk meninggalkan pendirian-pendirian pribadi atas 'buku' yang sedang dibaca, jika terus saja ngotot dengan pandangan sendiri maka ia akan terjebak pada kacamata yang tak pernah ganti lensa. Misalnya, Lihatlah anak-anak dengan kacamata anak-anak bukan kacamata orang dewasa.

Seorang ayah bisa mengambil jarak sejenak ketika masuk rumah. Merubah susunan emosi ruang kerja yang atmosfirnya bisa saja labil. Jika negatif maka jadikanlah sebagai sarana untuk membentuk diri agar tidak terjebak pada kesalahan yang sama. Jika positif maka persepsikan diri sebagai ayah yang jarang pulang ke rumah. Ayah dua pekanan, ayah empat pekanan, ayah tahunan dan ayah-ayah yang lainnya.

Katanya kalian sudah berliterasi, Ok itu bagus. Tetapi tidak berhenti di situ saja. Ada banyak hal setelah kita berliterasi keayahan, yakni sesuatu hal yang membuat kalian menjadi fatherman, Family Man atau apalah. Yang jelas setelah kalian berliterasi, setidaknya kalian berani untuk melihat diri sendiri lebih asing, kenapa? agar kalian lebih terbuka, tidak nyaman dengan ilmu-ilmu yang sekarang kalian anut selama ini secara turun-temurun. Jika kalian melihat film-film pendekar, kenapa hanya ada satu jagoan yang lain adalah pendekar-pendekar nomor dua. Karena jagoan ini terbuka dengan jurus-jurus lain yang tidak diturunkan oleh gurunya. Begitu juga ayah, setidaknya ia membuka diri terhadap jurus-jurus dari para ayah yang lain agar estafeta kepengasuhan bisa saling terhubung (relate)

Ketika pintu sudah di buka. Ayah mengambil jeda untuk memberikan senyum terbaik. Meski di luar sana hatinya masih sesak oleh ruang-ruang yang melelahkan baik fisik non fisik. . Ia tetap menggambarkan seorang pahlawan yang melawan penjahat meski ia dalam keadaan demam atau flu. Lalu anak kalian tiba-tiba loncat ke atas punggung dan minta keluar untuk sekedar jalan-jalan. Sementara anak tertua minta dimasakan mie yang berkuah lengkap dengan telor, tapi putihnya saja. 

"Ada yang bisa dibantu?" ucap seorang ayah. Ia sedang merendahkan emosinya. Berupa lelah yang berlipat-lipat. Hingga dari ucapannya ia berharap dapat mendapatkan energi ganda yang jos gandos.

Setidaknya ayah mampu meditasi yang cepat, tepat, agar situasi ada di kendali anda. Bahkan sholat bisa menjadi perisai agar situasi-situasi runyam di luar kendali, bisa diarahkan dan digenggam oleh kita sendiri ketika peran berubah, yakni menjadi ayah. 

Maka ketika tiba di rumah seluruh atmosfir sekarang ada dalam genggaman ayah. Mau dihembuskan sebagai keluhan yang berkepanjangan, sehingga menolak semua permintaan anak-anak yang sudah setia menanti hingga puluhan jam, atau beberapa jam, atau ratusan jam. Tetap menjadi ledakan kegembiraan tak terhingga, meski dalam bentuk yang paling sederhana. 

Hingga kembali ke rumah, kalian bisa mengawali apa yang sudah pernah kalian akhiri sejak awal. Menyambung kembali ikatan yang terjeda sekian jam dan mencoba memperbaikinya terus menerus. Lalu anak mudah untuk menjangkau tubuh ayah, lalu bergelayutan sejenak sekadar melepas kangen, dan  mendapatkan kenyamanan dari balik punggung ayah yang letih.

Senin, 17 Maret 2025

Cara Mengapresiasi Diri

BABAK 9
Cara mengapresiasi dirinya sebagai guru, adalah cara awal untuk menertibkan nalar bahwa dirinya menjadi salah satu penentu arah bangsa ini. Hingga hal-hal yang di luar konteks pendidikan untuk sementara diabaikan. Bukan tidak penting, tetapi kalau sebagian energi seorang dihabiskan untuk menjaga nalar para guru yang tidak mengarah pada kekuatan membangun peradaban, katakanlah begitu. Visi pribadinya bisa tergores, lalu bisa menimbulkan dendam, efeknya yang menganggu sekaligus meruntuhkan value yang telah susah payah dibangun. Jangan rusak nalarmu dengan perkataan-perkataan yang impulsif itu. Guru, jauhkanlah dari pendendam, dan kuat-kuat tolak lupa.

Sebutkan saja sebagai perumpamaan. Seorang guru yang di dalam nalarnya menilai sesuatu adalah bisa diubah sesuai kehendaknya. Diduga ia akan memberikan penilaian semudah menoleh, tanpa pernah kalkulasi rekam jejak seseorang yang telah dinilainya. Ujungnya guru telah mendapatkan framing tertentu akan terus melekat, meski ia telah mencoba memperbaikinya.

Apalagi kepentingan bawahannya bisa menjadi hal yang merepotkan. Ketika hal-hal yang sudah disepakati sebagai suatu kebijakan, pada saat nantinya bisa diterabas tanpa memandang hasil kesepakatan. Musyawarah dianggapnya sebagai sesuatu bisa diobrak-abrik semaunya. Analisisnya sederhana, bisa saja ia kenal dekat pengampu kebijakan, dekat secara afiliasinya sama, dekat karena soal feminimnya sama. Pada saat yang sama ia sedang menunjukkan ketidakpatuhan pada soal-soal organisasi. Semuanya bisa dipatahkan dengan diskusi kecil yang menohok. Apalagi ia mengenali betul bagaimana warna pengampu kebijakan. 

Orang-orang di dekatnya bisa saja tak mampu mengakali bagaimana menghentikannya, tetapi ia, si guru yang selalu potong kompas tak bisa menghindari dari pada penilaian-penilaian. Bahkan secara nyata ia sedang memahat dirinya untuk jadi patung arogansi. Merasa sudah lama, merasa punya investasi dedikasi hingga mudah untuk mematahkan apapun yang dinilainya tak sepadan untuk dirinya. Yang parah, ia melakukan hasil mulut-mulut yang di antara giginya tidak ada jaronya. Mungkin ia memenangkan setiap pertarungan kebijakan yang sudah tertulis, tetapi ada banyak mata yang tajam yang selalu mengawasi bagaimana ia punya selera menolak. Bukan untuk memberikan vonis ghibah, tetapi untuk mencegah agar pikirannya tetap pada pengabdian seorang guru dan api tekadnya.

Sebagai salah satu penentu peradaban penjaga dignity mestinya mendapat tempat tertinggi dari dirinya, yakni seorang guru. Agar jalan murid-muridnya tak pernah gamang melangkah. Pikirannya jernih menyegarkan. Harapannya tinggi memuncak. Dan seterusnya. Dengan cara ini guru sedang memotret dirinya tanpa memikirkan bayangannya. Pada saat nantinya murid melampaui bayangan sang guru, sang guru tunduk sujud mencium bumi. Lalu mereka akan memodelkan para pembawa pelita sebagai gambaran utuh tempat mereka bercermin.  


Minggu, 16 Maret 2025

Obrolan Siput di Pagi Hari

"Bu, Mau kemana?" kenapa ayah nggak ikut?" tanya anaknya."

"Ayahnya sudah tak ada, di melindungimu ketika banjir air asin menghantam rumah-rumah temanmu,"

"Apakah kita perlu bertukar cangkang dengan paman kura-kura."

"Tak perlu, kita hanya perlu sembunyi saja."

"Tetapi kita nggak bisa secepat burung, sembunyi saja tak cukup untuk mengontrol diri kita agar tak lekas punah oleh penduduk bumi."

"kita tak perlu jadi yang lain. Tuhan menciptakan kita agar bisa menggunakan kekuatan kita bukan kelemahan, ingat kita hanya mahluk, semuanya sudah ada takarannya."

"Mengapa kita sangat lambat."

"Karena kita tekun."

"Bukannya pemalas."

"Kaum seperti kita tak ada yang pemalas. Mereka semua punya jam kerja masing-masing. Ada yang mamatuk, menghisap, menggulung, mencengkram, mengoyak, memamah, menggigit, mereka semua punya cara kerja yang hebat."

"Apakah kita akan menjadi Qurban seperti paman Sapi?"

"Tidak ada cerita nenek moyang, kalau kaum kita menjadi konsumsi orang-orang merayakan hari Kurban, kau jangan aneh-aneh."

"Seluruh teman-temanku mati ditusuk diatas api, meski mereka menggeliat, tetap saja mereka diatas dibakar bara api."

"Kita diciptakan untuk itu, salah satunya, ada banyak hal yang bisa dilakukan."

"Tiap hari aku mengutuki mereka, mereka orang-orang sombong, tak mau berkomunikasi dengan kita bu."

"Mereka tak pernah omongon kita, untuk apa kita berteriak, kita punya cara masing-masing unutk beribadah."

"Hanya untuk itu."

"Tak ada yang lain."

"Tidak."

"Paman Sapi selalu menangis, ketika manusia mulai memotong lehernya, di hari rara."

"Mereka sedang berbagia."

"Tahu dari mana."

"Tangisannya."

"Ibu sok tahu."

"Ya memang."

Keduanya tertawa.

"Apakah hewan seperti kita akan masuk surga bu. Lalu bisa melihat penduduk surga sedang duduk-duduk bersantai.

"Itu hak Tuhan, kuharap ibu menjadi tanah saja, itu caraku saja berterimakasih sudah diciptakan."

"Ibu tak sedih."

"Untuk apa sedih, sekali lagi semua hewan memiliki sendiri caranya menghamba."

"Termasuk surga."

"Tentu. Kalau kita beribadah karena surga dan takut neraka. Itu menyedihkan. kita mencintai Tuhan semesta Alam, mengerti!"

"Bu Awas...ada manusia, dia mau ngambil kita dan dijadikan makanan."

"Aman mereka sedang puasa, kalau mau tentu saja bukan kita yang dijadikan pilihan."

"Benda apa itu?"

"Ibu tak tahu."

"Bisa mengeluarkan cahaya, kabur saja bu."

"Kita perlu ratusan menit untuk maju beberapa langkah. jadi lebih baik kita tetap tenang.

"Ibu punya firasat, itu manusia baik."

"Dari mana ibu tahu?"

"Pengalaman."

Seorang manusia selesai mengambil gambar kedua siput yang berjalan bersisian. Lalu pergi meninggalkan.

"Tuh, aman kan?"

meraka melanjutkan perjalanan lain untuk mencari tumbuhan segar untuk nutrisi tubuhnya.

Sabtu, 15 Maret 2025

SEPATU BESAR HITAM

Sepatu besar hitam:
Suaranya kasar membentak-bentak
Tertawanya, senyumannya mengejek

Galak-galak, suka menolak
Derap langkahnya menghentikan nafas
Sepatu besar hitam:

Suka merampok hak-hak
Melempar syahwat pada lubang keterpaksaan
Menelanjangi kehormatan-kehormatan
Abai, tak peduli meski ratusan tangisan

Sepatu besar hitam:Tanah lelulur diinjak-injak
Menjualnya dengan harga murah
Pada tangan-tangan yang panjang tangan
Suka bersembunyi di balik kambing hitam

Jumat, 14 Maret 2025

Kamis, 13 Maret 2025

MEWARISI SALINAN

Sebagai perekat kuat
Menghalangi deburan air
Tak muncrat kemana-mana
Sajikan penampilan terkini

Merah, kuning, biru
Hijau, oren, hitam
Ia mewarisi salinan
Kepercayaan, kekuatan, serta keseimbangan

Kemasan yang elegan enutupi semua kelabu
Sajikan penampilan yang terus populer
Tetap menyediakan ruang untuk rasa yang klasik
Semua untuk pemenang
Menyisihkan para pecundang

Rabu, 12 Maret 2025

MATA MALAM


Mata-mata yang jalang dan beringas

Sepatu-sepatu yang berketuk keras

Langkah-langkah yang terburu-buru

Ingin menuntaskan tugas-tugas


Teriakan yang membisu

Suasana serba buram

Fajar belum merekah

Menyisakan malam


Genangan darah di sudut-sudut ruang

Pagi yang kelam

Menyisakan tangis dan dendam

Pada hidup yang panjang 


Menjereng harapan

Pada kedamaian malam juga sebagian siang 

Meski sedu sedan telah lama tinggal 

Nurani siaga sepanjang nyawa 

Selasa, 11 Maret 2025

8. Drama Pengakuan

"Orang jawa lugu dari kampung itu perlu diberi tahu soal siapa yang kuat dan lemah," ucap seorang berkulit hitam berminyak. Bibirnya mengulum permen jahe yang dibelinya dari toko, tepatnya gubuk di jalan depan.

"Aku tak berani bang, orang macam tuh, biasanya tak kosong, ada isinya," ucap seorang lagi.

"Dasar pengecut, nanti malam, lihat saja siapa yang berkuasa disini, di kandang ayam."

Umar lewat didepan mereka. Tawa dan canda sebentar hening. Jam kerja tinggal sepuluh menit lagi. Umar sudah membawa cangkul dan pakan ayam.

Mereka kembali bekerja di kandang ternak ayam sampai senja. Mereka kembali ke bilik setelah bersih-bersih. Makan kenyang. Hujan turun setelah mereka mengunci dan meringkuk hangat dalam selimut usang turun temurun. Pada bagian biliknya terselip foto-foto keluarga mereka yang ditinggalnya di pulau jawa. Lelap segera menyergap pada mereka. Sementara Umar masih menulis surat yang ia akan kirimkankan ke Jawa.

Langkah tertib dibawah derasnya hujan. Seseorang hati-hati mendorong gerobak. Sarung ninja menyelimuti wajahnya. Nafasnya panas teratur. Sampai pada kandang besar. Ia berhenti dan masuk mengamati sejenak situasi. Merasa aman, ia mengambil telur-telur yang sudah dikemas siap diangkut ke dalam truk esok harinya.

Satu persatu dimasukan ke dalam gerobak. di rasa cukup, ia keluar dan mendorong gerobak nyaris tanpa suara.

Umar sudah tertidur pulas meninggalkan kertas surat yang sudah ditulis penuh dua halaman. Tulisannya miring ke kanan. Dengkurannya membuat si maling adalah jaminan bahwa dirinya mudah melakukan banyak hal.

"Siapa yang berani mencuri telur-telur dari kandang tadi malam!, sampai sore harus ketemu orangnya. Umar, kau urus ini, Hari ini saya mau ke kota."

Umar mengumpulkan semua karyawan di depan kandang. Mulai mengintograsi satu-satu.

Senin, 10 Maret 2025

Pagi Yang Berbahaya


Episode 3
Mentari pagi agaknya bersahabat, sinarnya dapat menembus sampai ke celah-celah pohon. Bul-bul sudah terbangun sejak ayam jantan liar berkokok. Dari atas pohon Bul-Bul melihat Gubuk tempat dimana ia di sekap. Ia merasa angin berhembus lembut. Pandangan matanya mencoba memperlebar jarak pandangan. Ia terkejut ketika melihat pohon lain lebih rendah di banding dengan pohon yang sedang jadi rumah perlindungan. Pantas saja kalau hangatnya sinar matahari dapat di rasakan lebih cepat. Bul-Bul seperti sedang di atas menara tinggi menjulang. Ia teringat menara eivel pada buku pelajaran sains. Rasa takut terhadap dua ekor buaya kelaparan membuatnya tak sadar kalau ia sudah menaiki pohon setinggi kira-kira 100 meter. Energi ketika terancang jiwanya membuat seorang Bul-Bul mampu melampuai batas kekuatannya.

Banjir sudah lama surut meninggalkan bercak lumpur di sela-sela semak belukar. Ia ngeri sendiri melihat gubuk tempat dimana ia di sekap. Gubuk itu berbentuk mirip batok kelapa, bedannya hanya bentuknya yang lebar dan sangat mirip helm pelindung tentara ketika sedang bergerilya. Susana di sekeliling sudah cukup meriah. Burung dan hewan lainnya mulai mencari sarapan pagi. Sudah beberapa hari di landa dehidrasi dan kelaparan. Sulitnya medan hutan yang belum pernah ia temui membuatnya terus memompa diri agar tetap survive di tengah hutan sendirian. Bul-bul berpikir kalau sudah saatnya ia turun dari atas pohon untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.

Puji syukur karena cabang pohon yang membentuk jaring laba-laba membuatnya tetap stabil ketika kantuk tak lagi di tahan. Pelajaran pramuka di sekolahnya membuatnya tetap bertahan sampai sekarang. Sambil menahan rasa perih kedua tangan bul-bul mulai turun melalui batang-batang pohon. Ia tetap waspada kalau ada ulat bulu yang mulai gerilnya mencari makan.

Sampai di bawah, Bul-Bul menandai pohon tersebut dengan cara menghafal cabang dan tinggi pohon tersebut. Menurutnya pohon ini lebih unik di banding dengan pohon lainnya. Letaknya yang menjaga jarak dengan pohon lain, membuatnya tampak sebagai pilar raja pohon. Cabang yang banyak tumbuh sejak 5 meter keatas membuatnya. Mudah untuk di naiki, begitu juga sebaliknya ketika turun.



Minggu, 09 Maret 2025

Bertahan


Episode 2
Hujan turun dengan deras, hingga membasahi hutan sabuk wulung yang luas dan masih perawan. Di tandai dengan masih banyaknya hewan-hewan buas yang masih mendiami pedalaman hutan itu. Tampak beberapa burung khas hutan sabuk wulung tengah berlindung dari derasnya hujan. Burung yang bernama pelatuk itu sedang menghangatkan telur-telurnya agar segera menetas. Buung Pelatuk itu tampak hangat dalam lubang-lubang yang di di pakai sebagai sarangnya. Beberapa hewan yang lain juga mungkin melakukan hal yang sama, berlindung dari derasnya hujan. Kecuali Ikan, yang mungkin makin asyik dengan kedatangan hujan yang deras.

Tak terasa hujan turun makin lebat. hal ini menyebabkan sebagian sungai-sungai yang ada di dalam hutan itu meluap banjir. Tampak beberapa Buaya sedang berenang menuju ke tempat tinggalnya. Tanpa di duga luapan banjir itu sampai juga ke dekat gubuk, tempat dimana Bul-Bul sedang tertidur dengan lelap. Akibat dari tubuhnya yang lemah, Bul-Bul tak menyadari kalau air dari luapan sungai pelan-pelan masuk kedalam gubuk. Makin banyak dan makin tidak terkontrol.

Bul-Bul yang masih terlelap dalam tidur akibat kelelahan fisik dan mental membuatnya tak peka dengan kedatangan air yang mulia merembes masuk kedalam gubuk. Inchi demi inchi air masuk, makin lama makin banyak. Bul-Bul kaget dan terkejut. Pikirannya mulai panik. Tak lama air sudah sebatas pingangnya. Bul-Bul makin panik dengan air yang terus menerus memenuhi ruangan gubuk. Bul-Bul panik bukan karena tidak bisa berenang, tapi karena Bul-Bul sudah merasa putus asa tidak bisa menemukan pintu keluar.

Kedua mata Bul-Bul terpejam. Bayangan Kedua orang tuanya dan kedua adiknya berkelabat dalam pikirannya. Bul-Bul menangis tersedu-sedu. Bul-Bul tak bisa membayangkan betapa sedihnya dirinya akan segera menemui ajal. Ia pasrahkan dirinya pada Tuhan yang Esa. Hatinya berucap: “kalau dirinya masih di perkenankan hadir di muka bumi, maka pertolongan pun begitu dekat”. Bul-Bul mangamini sendiri doanya dalam hati.

Kedua mata Bul-Bul kembali terbuka. Sementara air sudah sampai di tenggorokan. Dalam hitungan detik air sudah sampai mulut. Kedua kaki Bul-Bul mulai beregerak agar dirinya tidak tenggelam begitu cepat. Dalam keadaan genting dan gawat, Bul-Bul teringat pada sebuah celengan semar yang ia ingin kasihkan pada seorang nenek yang pernah ia temui pada perjalanan pulang sekolah. Bul-Bul masih ingat kalau nenek itu tinggal di kaki bukit, 10 kilo meter dari rumahnya. Dan satu celengannya lagi akan ia kasihkan pada Ibunya yang ingin di jadikan modal untuk berdagang.

Ingatan dan janjinya itu membuat Bul-Bul kembali mendapatkan suntikan semangat. Kedua kaki Bul-Bul bergerak cepat seperti gerakan mendayung. Air terus saja masuk tanpa ampun, hingga membuat seisi ruangan gubuk sudah terisi oleh luapan air sungai. Bul-Bul dengan cekatan beregerak dari satu sudut kesudut ruangan gubuk. Mencari-cari apakah ada bagian atap gubuk yang bisa di jebol dengan kedua tangannya. Sementara air sudah hampir menutupi pandangan matanya. Nafas Bul-Bul mulai tersengal-sengal.

Bul-Bul bergerak kesudut kecil ruangan gubuk yang belum terisi oleh air. Dalam kepanikan dan rasa tertekan. Jari tangan kanan Bul-Bul tergores paku yang menyembul keluar, karena tidak tepat di pasang. Darah segar keluar dari jarinya. Bul-Bul tak menghiraukan. Bul-Bul mengamati paku tersebut dengan seksama. Bul-Bul seperti mendapat kemenangan. Paku yang tersembul keluar itu adalah bagian dari pintu kecil yang sengaja dibuat oleh para penculik sebagai jalan keluar masuk. Pintu hanya pas untuk satu orang. Kedua tangan Bul-Bul mulai menjebol pintu kecil tepat di atas kepalanya. Sementara air terus saja memenuhi ruangan gubuk. Ada semacam pengait dari kulit rusa yang mengunci pintu kecil itu dari luar.

Ruangan gubuk sudah terisi semua oleh luapan air sungai. Bul-Bul masih saja berusaha untuk menjebol pintu kecil yang terpasang diatas gubuk. Sementara kepala dan tubuhnya sudah mulai terendam oleh luapan air sungai . Takdir masih berpihak pada Bul-Bul, disaat segala sesuatunya begitu menegangkan. Pengait yang terbuat dari kulit rusa itu terlepas. Kedua tangan Bul-Bul mendorong pintu kecil itu keatas. Dengan susah payah, Bul-Bul keluar dari pintu kecil dan berusahan menyembulkan kepalanya keatas untuk menghirup udara segar.

Sampai di permukaan air, nafas Bul-Bul masih tersengal-sengal. Ia tak mengira ternyata dirinya telah di sekap di pedalaman hutan yang sama sekali tak ia kenal. Bul-Bul disambut oleh pemandangan hutan yang asing baginya. Kedua matanya mulai mengamati sekeliling. Luapan air sungai telah membuat hutan seperti rawa-rawa yang menyeramkan.

Atap gubuk belum teremdam seluruhnya, ada bagian tertentu yang belum terendam luapan air sungai. Bul-Bul menangkap gerakan yang aneh tak jauh dari tempat berdirinya. Bul-Bul kaget dan panik, jarak 30 meter darinya 2 ekor Buaya tengah mengawasinya. Karena mendengar bunyi kecipak air ketika Bul-Bul baru keluar dari sergapan air yang masuk kedalam gubuk. 2 ekor buaya itu mulai mendekat ke arah Bul-Bul.

Di tengah kekagetan dan kepanikan. Bul-Bul akhirnya melompat dan berenang sekuat tenaga menuju sebuah pohon yang tidak begitu besar dan menurutnya mudah untuk di naiki. Cabangnya yang banyak dan rimbun menurutnya dapat di gunakan untuk naik dan berlindung dari terkaman taring Buaya.

Sampai di dekat pohon tersebut Bul-Bul langsung naik ke atas pohon. Dalam hitungan detik luapan air sungai sudah semakin tingggi. Bul-Bul berusaha memanjat lebih keatas agar terhindar dari banjir juga terkaman Buaya. Tangan Bul-Bul mencengkram kuat pada batang pohon yang rimbun dan ranting-rantingnya melebar, mirip sarang burung. Pohon itu diatasnya mempunyai cabang tiga, tepat di sudutnya Bul-Bul menyadarkan tubuhnya tanpa harus berpegangan. Hal ini memudahkan Bul-Bul untuk melihat ke bawah, sementara dari bawah tidak kelihatan sama sekali tubuh Bul-Bul, karena tertutup rimbunya pohon.

Beberapa jam kemudian, Gubuk sama sekali tidak terlihat. Semuanya terjadi begitu cepat. Keadaan tenang tapi menyeramkan. Jarak antara batas air dengan dirinya hanya terpaut 5 meter. Bul-Bul merasa aman dengan jarak seperti itu. Kedua mata Bul-Bul masih menikmati pemandangan yang ada di bawahnya. Bul-Bul seperti membayangkan sesuatu.

Dua ekor Buaya besar yang tadi mengejar Bul-Bul melintas tepat di bawah Bul-Bul. Hal ini mengagetkan Bul-Bul. Jantung Bul-Bul seperti berhenti berdetak. Sepertinya Buaya itu tahu kalau Bul-Bul bersembunyi di atas pohon. Dari atas pohon Mata Bul-Bul tak berkedip untuk memperhatikan kedua Buaya itu yang sedang berputar beberapa kali.

Dua ekor Buaya itu tampak frustasi dan kehilangan buruannya. Pelan-pelan Buaya itu pergi dan menghilang di balik luapan air sungai yang sekarang menjadi genangan yang dalam. Butuh waktu cukup lama untuk menyurutkan banjir akibat luapan air sungai. Bul-Bul dapat bernafas lega dan berusaha meningkatkan kewaspadaan. Karena hutan ini belum di kenal oleh Bul-Bul.

Waktu mendekati malam, salah satunya terlihat dari banyaknya burung yang kembali ke sarangnya. Bul-Bul dapat melihat dengan jelas dari atas pohon situasi yang ada di bawahnya. Bul-Bul tak mempedulikan keadaan sekitarnya lebih lama lagi, kedua matanya sudah mulai terpejam. Sesaat kemudian terdengar dengkuran keras. Ia percaya Tuhan selalu menyertainya.


Sabtu, 08 Maret 2025

Bangun dari Pingsan

Episode 1
Jempol kaki Bul-Bul sudah seperti mati rasa. Kuku sudah tercerabut dari jempol kakinya. Begitu juga dengan jari-jemarinya. Semua kukunya sudah tercerabut dari jarinya. Sebagian darah yang keluar dari jempol dan jari-jemarinya mengering lama. Ini pagi pertama di mana tubuh Bul-Bul masih terikat pada sebuah kursi. Pantatnya seolah-olah tak menempel pada badan kursi. Kedua tangannya menelikung kebelakang. Lalat mulai menghampiri jempol dan jemari bul-bul yang mulai mengeluarkan bau. Darah yang tercecer mengalir dari jempol sampai jemari kaki sudah mengering. Tak hanya itu wajah Bul-Bul sudah nyaris penuh dengan bekas pukulan buku-buku jari yang terbiasa serta terlatih dengan angkat beban berat.

Darah yang keluar dari hidung sudah mengering membentuk sebuah kumis dadakan yang berwarna merah. Bibirnya pecah dan jontor. Malah hampir mirip orang sumbing. Pelipisnya robek, Sekitar mata menonjol lebam kebiru-biruan. Seperti habis di pukul oleh petinju professional. Hingga Bul-Bul kesulitan untuk membuka kedua kelopak matanya. Bul-Bul hanya bisa melihat sedikit. Tapi hatinya lega, ia merasa bisa melihat dunia dengan segala pesonanya.

Koas hitamnya masih menempel di badannya, Jika kaos hitam oblongnya di buka, maka akan terlihat dada Bul-Bul yang membiru. Semua itu akibat pukulan keras dari jarak pendek menghantam dada Bul-Bul berkali-kali. Kalau di peras kaos oblong hitamnya dalam ember berisi air. Niscaya airnya akan berubah menjadi merah ke hitam-hitaman.

Bul-Bul di sekap dalam sebuah gubuk sederhana yang sengaja di buat oleh para penculik. Gubuk sederhana yang di buat mirip sebuah semak belukar yang rimbun. Membuatnya tak mudah untuk di ketahui. Beberapa kali Bul-Bul pingsang ketika sedang dalam keadaan di siksa dan di hajar habis-habisan oleh para penculik.

Bul-Bul pelan-pelan membuka kedua mata sambil menahan perih di pelipisnya yang robek akibat pukulan para penculik dengan tanpa hati. Mata Bul-Bul ia edarkan ke sekeliling dalam gubuk. Jarak pandangnya masih kabur menjadikan pandangannya tak begitu jelas untuk melihat lebih tajam. Apa yang ada di sekeliling ruangan dalam gubuk. Samar-samar mata Bul-Bul melihat gelas-gelas plastik yang menyisakan air kopi basi di dalamnya. Juga terlihat bekas puntung rokok yang sebagiannya masih mengepul.

Butuh 15 menit untuk menunggu saraf matanya mulai bekerja dengan baik. Penglihatan bul-bul mulai tajam kembali. Begitu juga dengan telinganya yang berdengin keras, akibat sebuah pukulan mendarat di salah satu lubang telinganya.

Kesadarannya mulai pulih. Begitu juga dengan Saraf-saraf tubuhnya. Hampir seluruh tubuhnya terasa nyeri dan pegal-pegal. Tapi tak begitu ia hiraukan. Pikirannya hanya satu. Bagaimana tangan dan kakinya yang terikat bisa lepas.

Mata Bul-Bul melihat puntung rokok yang masih mengepulkan asap. Bul-Bul tak ingin kehilangan kesempatan. Bul-Bul menggeserkan sedikit demi sedikit tubuhnya. Jarak dari puntung rokok hanya satu meter. Tapi jarak itu terlampau jauh dari jangkaunnya. Kondisi tubuhnya masih ngilu-ngilu hingga gerakannya belum begitu cepat. Bul-Bul tidak menyerah. Bila ikatan tali plastik yang mengikat kedua kaki sampai mata kaki bisa di lepas dengan cara menyundutkan pada puntung rokok yang masih menyala, maka Bul-Bul bisa melarikan diri dari sekapan para penculik itu.

Bul-Bul mulai mengerakan sedikit demi sedikit jempol kaki dan jari jemari kakinya yang sudah terlupas kuku-kukunya. Apakah masih bisa di gerakkan atau tidak. Sambil menahan rasa nyeri yang menyedot saraf-saraf tubuhnya. Bul-Bul terus menggerakkan tubuhnya ke arah puntung rokok itu. Jarak satu meter dari tempat duduk dimana Bul-Bul sedang terikat dengan puntung rokok itu hanya satu meter. Sedikit-demi sedikit terpangkas jaraknya. Semuanya terasa begitu lambat jalannya.

Dengan mengangkat pantat, dan menggerakkan kedua kakinya terus menerus. Bul-Bul sudah semakin dekat dengan puntung rokok. Usahanya tak sia-sia. Kini jaraknya sudah 50 centimeter lagi dari puntung rokok itu. Bul-Bul tak bisa menahan lebih lama, tak ingin kehilangan kesempatan. Bul-Bul berusaha memiringkan tubuhnya, sengaja menjatuhkan dirinya sekuat tenaga agar sampai pada puntung rokok itu. Bayangan Ibu, Bapak, dan kedua adiknya yang membuat Bul-Bul kuat untuk melampaui semua ini. Hatinya berseru. Tuhan!..Selamatkan aku. Bul-Bul menjerit dalam hatinya. Agar keluar dari semua ini.

Mulutnya menyeringai, darah yang keluar dari mulutnya sudah mengering. Tenggorokannya susah sekali untuk menelan. Ludahnya terasa habis dan kering. Ketika badannya mulai condong dan semakin miring kea rah puntung rokok itu.

Gedubrakkkk!. Bul-Bul berhasil menjatuhkan dirinya. Mulutnya mengaduh menahan ngilu yang demikian terasa. Bul-Bul jatuh dalam posisi miring. Posisi kakinya mulai di gerakkan sedikit kearah puntung rokok yang masih mengepulkan asap. Sementara sebagian paha Bul-Bul sampai keatas tertahan oleh kursi yang terus menempel dari tiga hari yang lalu.

Sudah dekat dengan puntung rokok yang masih mengepul. Bul-Bul harus menahan nafas lagi. Kedua jempol kakinya yang terikat pada kedua sisinya. Harus rela ikut tersundut oleh nyala api bekas puntung rokok itu.

Bul-Bul katupkan gigi gerahamnya kuat-kuat. Ketika tali plastik yang mengikat kedua jempol kakinya mulai mengkerut akibat terkena sundutan puntung rokok itu. Sedikit demi sedikit tali plastic yang mengikat kedua jempol kakinya mulai terkikis. Bul-Bul harus sedikit lebih lama untuk menahannya. Karena salah satu simpul yang paling kuat adalah tali yang mengikat kedua jempolnya. Bila Bul-Bul berhasil menahan rasa sakit, maka ada setitik harapan ia bisa melepaskan semua ikatan pada kedua kakinya.

Mulutnya mengaduh agak keras. Ketika simpul keduanya berhasil tersundut. Dan puntung rokok itu langsung menyundut tanpa ampun kedua sisi jempol. Sakitnya luar biasa. Seperti tersengat oleh seekor lipan. Panas dan pedas.

Kedua matanya melihat ke bawah mata kakinya. Kedua jempol kakinya seperti ada ruang udara. Simpul tali yang paling kuat ada di ujung jari jempolnya. Ketahanan Bul-Bul sudah teruji. Pelan-pelan ia gerakkan kedua kakinya. Ringan dan tanpa sesuatu yang menggecetnya terus menerus. Ikatan yang melingkari kedua betisnya mulai longgar. Begitu juga dengan tali yang mengikat antara paha dengan kursi mulai mengendur. Mungkin para penculik tak mengira kalau ikatan yang hanya satu simpul dapat berpengaruh pada ikatan yang lain. Mungkin juga karena Bul-Bul di ikat dengan tali plastic setelah di siksa dan di hajar tanpa belas kasihan terlebih dahulu. Baru kemudian di ikat. Atau bisa jadi mengira kalau Bul-Bul sudah tak bernyawa. Sehingga para penculik itu terkesan buru-buru untuk mengikatnya.

Bul-bul meronta-meronta sejadi-jadinya. Seperti orang kesurupan. Orang jadi begitu semangat, ketika sebuah harapan ada pada tangannya. Lama-kelamaan ikutan pada paha, kedua betis semakin longgar. Jarak antara tubuh Bul-Bul dengan kursi pun semakin bisa di gerakkan. Bul-Bul kembali menggeliat kuat agar bisa lepas dari jaring-jaring tali yang mengikatkan tubuhnya pada sebuah kursi. Prosesnya mirip seekor ular yang sedang ganti kulit.

Nafas Bul-Bul terengah-engah. Jantungnya menderu naik turun. Pertahanan tubuhnya kian lemah, hanya bara semangat yang tetap menyala dalam dada yang membuatnya terus semangat. Pelan-pelan kursi yang menempel di tubuhnya menggelosor ke bawah. Tali plastik yang mengikat antara kursi dan tubuh Bul-Bul sudah begitu longgar. Kini Bul-Bul dengan sisa tenaga dan semangat yang ada memakasakan dirinya untuk dapat berdiri. Kedua paha dan kakinya semakin terasa ngilu, pegal, hingga membuatnya terhuyung-huyung ketika ingin berdiri.

Kursi yang menempel pada tubuhnya sudah benar-benar terlepas. Bul-Bul seperti baru keluar dari kedalaman air yang di penuhi dengan Hiu-Hiu pembunuh. Kedua matanya kembali nanar, melihat sekeliling ruangan dalam gubuk. Tubuh Bul-Bul belum bisa berdiri dengan tegak. Kedua lututnya masih gemeteran, menahan rasa ngilu dan pegal-pegal yang teramat dalam sakitnya.

Kedua mata Bul-Bul mencoba mengitari sekeliling ruangan gubuk. Matanya tertuju pada sebuah kayu yang agak menonjol keluar, walaupun tonjolannya tak begitu kuat keluar, tetapi Bul-Bul berharap dapat memutuskan tali plastik yang ada di pergelangan tangan. Yaitu dengan cara menggosok-gosokan tali plastik pada kayu pipih yang menonjol.

Dengan lutut yang masih gemeteran, kedua kaki Bul-Bul langkahkan pada sudut ruangan gubuk agar lebih dekat dengan kayu pipih yang menonjol keluar diantara deretan kayu yang ada. Bul-Bul mulai menggosok-gosokkan tali plastik yang mengikatnya dengan sisa tenaga dan badan yang masih lemas.

Hampir 10 menit, Bul-Bul terus menerus menggosokkan tali plastik yang mengikat kedua pergelangan tangannya, keatas dan kebawah. Sementara hari sudah semakin sore, suasana dalam gubuk pun sudah semakin gelap. Rupanya waktu tidak bisa di kompromi. Bul-Bul masih terus saja berjuang melepaskan ikatan. Tanpa pernah kenal lelah. Bila lelah mendera Bul-Bul berhenti sebentar, sekedar mengambil nafas. Lalu kemudian meneruskan kembali menggosok-gosokkan tali plastik yang mengikat pergelangan tangan. Bul-Bul berpacu dengan waktu.

Lama kelamaan tali plastik yang terus menerus di gosok-gosokkan pada kayu pipih yang menonjol itu, berubah menjadi serabut-serabut yang tak lagi sesolid seperti semula. Rasa panas dari sisi pergelangan tangan menjadi penyemangat, layaknya cambukan penebus kesalahan. Semakin panas, maka Bul-Bul semakin kuat untuk menggosok-gosok nya. Serabut-serabut yang tak lagi solid, menjadi semakin rapuh. Kedua pergelangan tangan Bul-Bul akhirnya terlepas dari ikatan tali plastik yang mengekang kedua pergelangan tangannya.

Bul-Bul bernafas lega. Kedua tangannya normal kembali, tak lagi menelikung kebelakang. Rasa panas pada pergelangan tangan, tak lagi sepanas seperti tadi. Sekarang Bul-Bul berhasil menaklukkan ketidakberdayaan dirinya. Sebuah ketabahan sedang di perankan dengan baik oleh mental Bul-Bul. Bul-Bul mampu melampaui keterbatasan yang ada. Salah satu yang menjadi penyemangat adalah bayangan kecemasan mendalam yang mungkin sedang di rasakan oleh kedua orang tua dan adik-adiknya.

Ikatan yang membelenggu pergelangan tangan, paha, dan kedua kaki sudah terlepas dengan susah payah. Walau begitu, pikirannya masih tegang. Bul-Bul masih di liputi oleh rasa cemas dan setiap detik adalah kesempatan untuk dapat melarikan diri. Yang ada di pikirannya sekarang adalah, Apakah penculik itu benar-benar sudah tak berada lagi di sekitar gubuk atau sedang dalam perjalanan menuju ke gubuk, tempat dirinya di sekap tanpa makanan dan minuman. Bul-Bul tak ingin kembali di siksa dan di hajar oleh para penculik, tanpa alasan yang jelas serta kesalahan apa yang telah di lakukan. Bul-Bul merasa di perlakukan seperti sansak para petinju, yang di jadikan tempat melampiaskan kekesalan. Atau jangan-jangan dirinya adalah korban salah tangkap lalu setelah puas menyiksa dan menghajar, ditinggalkan begitu saja di pinggiran hutan yang seram.

Yang di lakukan Bul-Bul sekarang adalah kembali mengumpulkan kekuatan yang ada. Kedua matanya kembali menangkap sesuatu yang menggugah naluri bertahan hidupnya. Pada sudut ruangan dalam gubuk ada gelas-gelas plastik berisi kopi yang tinggal sisanya. Pada permukaan gelas tersebut lalat-lalat sudah bersuka ria menyantap sisa-sisa yang masih bisa di nikmati oleh lalat tersebut. Beberapa ekor lalat bahkan masuk kedalam air kopi. Tapi bagi Bul-Bul semua itu tidak jadi masalah, Bul-Bul merasa tubuhnya perlu asupan energi dari sisa kopi yang di tinggalkan oleh para penculik.

Bul-Bul segera menghampiri gelas plastik berisi air kopi itu. Langhkahnya belum stabil betul, tapi ia paksakan dengan segenap kekuatan. Kedua tangan Bul-Bul juga masih gemetar ketika memegang gelas plastik berisi air kopi. Satu persatu lalat yang masuk dalam air kopi itu, ia pungut dengan tangan kanannya. Setelah dirasa bersih dari lalat, air kopi itu tanpa pikir panjang langsung masuk masuk dalam tenggorokan Bul-Bul yang kehausan. Sekarang sisa air kopi yang sudah basi itu masuk kedalam lambungnya. Mungkin cacing yang ada dalam perut Bul-Bul berteriak, antara sedih dan senang. Tapi Bul-Bul tak akan menghiraukan teriakan cacing-cacing dalam perutnya. Setidaknya Bul-Bul dapat memperoleh tenaga dari kopi basi itu. Setelah meminum air kopi basi itu, bul-bul mengambil nafas dalam-dalam dan bersender pada salah satu sudut ruangan. Bul-Bul masih merasakan kedua lututnya yang gemeteran, disusul dengan keringat dingin yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Ia menyadari kalau dirinya sudah bertahan dalam batas kemampuannya. Sambil menyandar di salah satu sudut ruangan gubuk, Bul-Bul menenangkan dirinya dari kecemasan yang sekarang hinggap di pikirannya.

Tapi itu cuman sebentar, Bul-Bul kembali di hinggapi perasaan tegang dan was-was. Pikirannya selalu menghakimi kalau selama dalam masa pelepasan diri dari ikatan itu hanya jebakan semata. Ia menganggap setelah dirinya berhasil melepaskan diri. Para penculik itu kembali menangkap dan menghajar habis-habisan. Pikiran-pikiran seperti itu nyaris menghentikan dirinya dari sikap bertahan hidup. Bul-Bul kembali meneguhkan dirinya agar pikiran-pikiran yang mematikan langkahnya bisa berangsur-angsur hilang.

Sinar cahaya yang menerobos masuk kedalam gubuk membantu Bul-Bul mengenali detil isi dalam gubuk. Hatinya bangkit, dan kedua matanya melihat sebuah pintu sederhana tak berdaun kunci. Dengan tubuh yang masih lemas, Bul-Bul bangkit dari tempat duduknya menuju pintu sederhana itu. Kedua tangan Bul-Bul mulai meraba dan mendorong pintu itu, apakah bisa terbuka atau tidak. Beberapa kali tangan Bul-Bul mendorong pintu itu, seketika itu juga pintu itu seperti ada yang beban berat yang menahan pintu itu.

Bul-Bul bergeser ke samping pintu, mencari celah-celah agar dirinya bisa mengintip dari celah itu dan mengetahui benda apakah yang menghalanginya. Kedua matanya berbinar, Bul-Bul menemukan sebuah celah kecil yang bisa ia gunakan untuk mengintip dari dalam. Dari celah kecil itu Bul-Bul melihat 2 buah drum besar yang di susun tegak berdiri kokoh menyender di pintu. Bul-Bul sedikit bersemangat melihat peluang untuk lolos dari cengkraman para penculik itu.

Bul-Bul mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Dengan segenap tenaga yang ada, Bul-Bul hentakkan bahu kanannya ke tengah pintu yang di palang melintang lengkap dengan paku kokoh tertancap di masing-masing ujungnya. 

Bunyi Brukk dari tubuhnya tak membuat pintu itu bergerak. Yang dirasakan Bul-Bul sekarang adalah bahu kanannya terasa agak linu. Bul-Bul mencoba berkali-kali mencoba mendobrak pintu dengan bahu kanan atau kirinya. Tetapi rupanya pintu yang tak berdaun kunci itu, terasa sangat kokoh dan solid. 

Bul-Bul beristirahat di dekat pintu itu untuk mengambil nafas dan tenaga yang ada. Bul-Bul mulai di hinggapi perasaan putus asa. Lama ia merenungi kondisi yang sedang menimpa dirinya. Tanpa Ayah dan Ibu, adik-adik, juga teman-teman baiknya. Dalam keletihan dan kecemasan yang ada, pelan-pelan kedua mata Bul-Bul tertutup dan tertidur.