Dua Puluh Empat
Lorong
Dua Puluh Empat
BAB 6
Memasuki bulan April 1972, hujan mulai sering turun memutus kemarau panjang. Suasana Pubalingga masih lengang di selimuti kabut pagi. Di samping itu langkanya barang BBM menjadikan mobil Pick Up jarang beroperasi, apalagi sampai masuk ke pedesaaan. Kalaupun ada hanya satu dua yang beroperasi dengan biaya sewa yang cukup mahal saat itu. Para pedagang tradisional seperti, pedagang sayuran, barang kelontong, dinding pagar anyaman bambu, kursi panjang dari bahan bambu, kayu bakar, kue putu, es mambo, dan pedagang lainnya lebih memilih jalan kaki ke Pasar untuk menghemat biaya perjalanan.
Suasana pasar pagi Purbalingga terlihat ramai, para pedagang masih setia untuk menunggu para pelanggan yang belum menghampirinya sampai lelah yang akan menghentikan aktivitas sementara mereka. Kondisi pasar tak sebecek bila kondisi cuaca sedang bagus, para pedagang berlindung di bawah pohon-pohon yang rindah sambil menggelar barang dagangannya. Sebagian bertempat di lapak-lapak yang di sediakan oleh Pemda setempat dengan iuran tetap bulanan.
Pukul 05:05 Wib. Di bawah pohon Cery yang sejuk, Nara Wina sedang menunggu para pelanggan yang ingin membeli barang dagangannya. Kali ini Ia berdagang sendirian, tak di temani oleh Bu Kinar.
Hatinya sedang berbunga-bunga pernikahan dengan Marko tinggal menghitung hari. Tepatnya 10 hari lagi peristiwa penting akan menjadi saksi kehidupannya bersama Marko. Segala sesuatu sudah di persiapkan dengan terencana walau sederhana.
Seorang laki-laki berjaket hitam menghampiri Nara yang sedang duduk di atas bangku kecil beralaskan plastik.
1. GAGAL NALAR Ketika seseorang kesulitan mengakses pengetahuan dirinya, disebabkan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, maka pada saa...