Jumat, 05 November 2021

Manusia Persimpangan

Orang-orang yang terbuang seringkali masa hidupnya sejalan dengan sabda langit, tak peduli ia berhadapan dengan siapa, menindak siapa di belakangnya, ia manusia yang memilih pada percaturan yang tak aman

Perhatikan saja langkah dan gerak bibirnya, seperti uap segar yang akan menyengat siapa saja yang melanggar sisi kemanusiaan paling hakiki, panggilan kejiwaan menuntutnya untuk melangkah memenuhi ambisi pribadi berpondasi kepada ke adiluhungan

Lihat saja perutnya yang jarang membuncit, ia bisa menimbun semua kenikmatan dalam satu lambung dan memaksanya terus menerus dengan berbagai jenis makanan, ia melarang untuk buncit, berlemak saja ia tidak ingin

Ia tak peduli pada penjegalan yang menimpanya, bulan tak bersinar semalam saja, ia tetap tersenyum karena ada berkas pada bulan-bulan berikutnya, lalu dengan tenang ia memulai memberi warna pada kanvas yang dibelinya bukan hasil pensiunan tetapi pada karya yang berhasil dijual dengan harga yang pantas

Ia kerap menyanyikan beberapa bait untuk sekedar merefleksikan segala yang tercapai pada batas normal, hingga orang-orang yang menjegalnya tak pernah berhasil untuk membuatnya patah. Sebuah perbandingan yang akan membuat kalian tetap terjaga setiap malam, memikirkan bagaimana menyingkirkannya, padahal ia sedang tidur lelap bersama kuas yang selesi dicuci menjelang akhir pekan

Orang ini mengharapkan hak-haknya hak manusia yang telah dilanggar tetaplah menjadi perhatian perhitungan yang akan ditagih tidak hanya didunia, tetapi di hadapan Tuhan mereka tak akan bisa berkutitk untuk sekedar berkelit pun sulit

Akan ada masa umurmu menjadi sebidang kecerdasan yang tak mampu mereka beli, padahal mereka punya kemampuan untuk membeli apapun, tetapi tidak untuk pikiran.

Jumat, 22 Oktober 2021

Kata Nenek

Bandusan Mabur membuat jalan-jalan sore agak terganggu. Mau kesawah saja kedua kaki rasanya sebel, tak ada teman dan tak yang bisa membungkam aura seperti batman tanpa Robin. Menit yang kami miliki sangat berharga, untuk kemudian menjadi masa-masa yang sulit untuk kami hadapi pada masa-masa sulit.

Dengusan nenek juga mempunyai arti yang memungkinkan bisa berpikir macam-macam. Bandusan mabur adalah caranya mengarahkan kami pada kenakalan-kenakalan yang tidak bisa ditunda.

Senin, 18 Oktober 2021

Pembacaan dekat dan lain-lain

BABAK 85
A
ku membaca banyak novel dari yang populer atau pun yang digolongkan pada sastra. Dan aku tidak bermaksud untuk membedakan keduanya, atau merendahkan satu sama lain. Karena pada dasarnya dua-duanya bisa dibilang sebuah karya. Mungkin ada yang bisa menulis kedua-duanya, dan memang ada. Hanya saja yang membedakan adalah soal tema, gaya penulisan, dan seterusnya. Bagaimana sebuah cerita dipresentasikan menjadi sebuah cerita apa, itu juga jadi soal. Apakah hanya mendeskripsikan kalimat yang terus saja sama sampai akhir cerita, atau akan membuat kalimat yang menarik isi kepala dan bisa diskusikan sampai ke tempat yang menakjubkan.

Satu waktu aku kecolongan karena mengungkapkan isi pikiran dengan menyebut sebuah nama yang membuat mereka 'berang' atau hanya kekhawatiran semata, jika itu aku maklumi. Tetapi jika tidak, ada hal sembrono yang mereka tampilkan dengan cara pikir pendek dan tak coba bertanya tentang alasan-alasan. Sebut saja mengapa anda membaca buku tersebut,hal itu akan membuat pengakuan yang bersumber pada kenyamanan pikiran, bukan pada ketertekanan. Karena banyak alasan kenapa seseorang membaca buku-buku "sensitif" bukan tangkas untuk memberikan stigma atau apalah yang menyumbat kebebasan berkreasi.

Cara membacaku sepertinya "diaminkan" oleh Cah Mahfud Ikhwan, ketika melihat tayanganya di sebuh youtobe (https://www.youtube.com/watch?v=D7ue8VhLoqs 20:22), menurutnya cara ini tidak mengalami rasa sakit yang mendalam. Dengan alasan ia langsung membaca karya sastra ketika ia kuliah. Ini menjadi semacam obat untukku, bahwa apa yang kulakukan tidak terlalu buruk dalam tahap pembacaan. Itu yang bisa kusimpulkan untuk saat ini.

Soal membaca adalah soal pendalaman akan kreatifitas seseorang. Lagi-lagi prosesnya tergantung pada cara ia berangkatnya. Apakah hanya ingin mengetahui cara berpikir penulis itu, atau hanya ingin melihat teknik atau cara menulisnya. Lebih-lebih bisa mendalami gaya kepenulisan. Menurutku itu sah-sah saja, seorang penulis yang membaca karya orang lain berarti sudah menjalankan sebuah tradisi sebuah etika. Menurut A.S Laksana, kalau karya Anda ingin dibaca orang lain maka Anda juga harus membaca karya lain yang bukan milik anda, kurang lebih seperti itu.

Satu hal yang menggelisahkan sekarang, kalau belum tahu duduk permasalahannya, hendaknya menahan diri. Membaca karya orang bukan berarti ikut larut dalam pimikirannya. Lebih tepatnya seperti yang Martin Surya Jaya, adalah menangguhkan sejenak kepribadian kita untuk mengetahui pendapat orang lain. Mengenali maksud-maksud lain di balik pembacaan dekatnya itu sebagai salah satu satu cara membaca sebuah karya. Dalam sebuah sebuah buku atau karya selalu ada kemungkinan untuk tidak bisa diceritakan secara gamblang. 

Jumat, 24 September 2021

Kata Nenek

Sudah beberapa jam Febri dibawa Kelong. Berita ini tentu saja menggemparkan seluruh penduduk gang rapingun. Kami yang sedang duduk-duduk di beranda Mushola selepas mengaji merasa kecut. Aura Mushola yang semestinya memberikan ketenangan seakan mengungkung kami dalam ketakutan. Apakah nanti menjadi prasasti sebagai anak yang paling banyak diusili oleh dedemit.

Menurut para sesepuh di desa kami, kaum dedemit yang terorganisir itu akan "menyerang" atau "menangkap" anak-anak yang tidak patuh orang tua, klayaban sendirian, dan suka terbengong-bengong. Konon mereka handal dalam hal merongrong wibawa manusia, apalagi anak-anak.

Nenek memiliki pengetahuan yang cukup luas terhadap dunia perdemitan,ia seorang yang kata-katanya didengar oleh keluarga. Ia punya ingatan lengket tentang para kompeni yang mendera pada anak cucunya. Setidaknya pada Supri, cucu yang pernah diteror oleh ular besar penunggu pohon besar.

Menurut Nenek derivasi pada dunia dedemit terpecah-pecah dalam tataran yang sering kali tidak masuk akal. Supri sering memprotesnya, tetapi ketakutan menjadi perisai atas ketidaksukaan pada dunia rekaan sang nenek. Ia seringkali menerka-nerka apa isi kepala sang nenek, apakah otaknya dipenuhi dengan konspirasi-konspirasi untuk menjaga para cucunya.

Ia memperkenalkan sosok Cepet sebagai lelaki serba hitam yang seringkali muncul dari balik rerimbunan pohon bambu. Bambu wulung menjadi hunian paling nyaman bagi para kumpulan Cepet beserta sanak familinya. Cepet seringkali menjelma menjadi sosok yang dikenali oleh orang-orang terdekat. Kemunculannya bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Begitu kata nenek, sebagai awal pembicaraan serius di tengah malam. Ketika membukakan pintu untuk Supri yang pulang malam.

"Nek, Febri dibawa Kelong," Ucap Supri ketika mengunyah nasi dingin dengan campuran lauk yang tampak menggigil.

"Ternyata mereka tak juga kapok."

Lalu nenek bercerita panjang lebar. Ia menebak kalau Febri sudah dibawa berkeliling menuju tempat-tempat yang semestinya buruk pada dunia nyata. Tampak indah bila sedang membersamainya. Mungkin Febri akan ditemukan pada tempat-tempat yang tak terduga.

Sebelum tidur, Supri dikenalkan kembali pada dunia rekaan nenek. Sumbernya pun sulit untuk ditelusuri. Dugaan sementara menurut para teman-temannya, nenek pernah dikejar oleh serdadu Jepang sampai terbirit-birit masuk lereng dan bukit-bukit berhantu. Lalu pulang dengan segudang pengalaman yang meneror. Sesaat sebelum tidur, ia bercerita tentang dunia Jewilwa yang muncul pada siang bolong ketika anak-anak keras kepala tak pulang ke rumah. Ia tidak bercerita secara lengkap asal muasal Jewilwa itu. Jenis berikutnya ada sosok yang sering disebut dengan Nggerem, mahluk penganggu pada anak yang malas gosok gigi dan kabur saat tidur siang.

Pagi hari Supri terbangun mendengar jeritan ayam hutan yang dipelihara oleh kakeknya. Ia kadang melengkapi dunia rekaan nenek menjadi terlihat nyata dan bisa ditelusuri dari masa yang lampau. Apakah mungkin?

Ia melangkah untuk memulai hari bersama dunia rekaan sang nenek.

Kamis, 02 September 2021

Aku dan Dea Anugrah

Mungkin persamaanku dengan Dea Anugrah, hanya satu hal saja. Ia pernah meminum air galon selama dua hari untuk mempertahankan "kehidupannya" selama kuliah. Maaf, ini terdengar sok tahu. Karena aku hanya melihat Dea Anugrah bercuap-cuap di You Tube yang kutonton berjam-jam. Entah kenapa pemuda ini menyedot isi pikiranku untuk mendengarkan kata-kata yang menurutku amat jenius, jika ini tidak berlebihan. Aku hanya melihat dari jauh, mungkin suatu saat bisa bertemu, dan bertanya banyak hal padanya. Tulisan ini kubuat, untuk mengabarkan pada khalayak. inilah caraku berterima kasih padanya.

Aku lebih tragis darinya sekaligu iri, ia "hanya" meminum air galon selama dua hari, sementara aku harus menyiksa perutku selama tiga hari dengan air galon yang kubeli Rp 3000 rupiah. Satu kali gratis membeli air galon, jika berhasil mengumpulkan tujuh kali bukti pembelian. Kuanggap diriku sebagai penyintas dari ketidakberdayaan melawan kelaparan yang 'kugauli' selama kuliah di Ciputat. Ia begitu lentur bercerita soal pengalaman intelektual di Yogyakarta, berfilsaf di UGM dan lebih sering nongkrong dengan anak UNY.


Ini sebentuk kekaguman saja pada cara menuangkan ide dan tulisan, sekali lagi aku mengenalinya lewat tulisan dan media sosial. Setelah selesai tertawa sempurna biasanya ada hal memikat yang bisa keluar dari mulutnya. Misalnya ia mengatakan "setiap tulisan akan menemukan bentuknya sendiri" kurang lebih seperti itu. Bagiku ini jenius, aku yang masih gagap mempresentasikan sebuah cerita menjadi puisi, cerpen, atau novel seperti mendapat uluran tali ketika hendak jatuh ke jurang.

Bagiku yang awam berfilsafat mendengar cara pikirnya tentang dunia filsafat. Ia mengatakan tanpa Georg Wilhelm Friedrich Hegel tidak ada Karl Marx, ia seperti ingin melipat 'keruwetan' dalam dunia filsafat menjadi lebih sederhana. Itu yang kurasakan.

Entah kenapa 'mereka' yang dari filsafat sanggup membuat tulisan yang mencengangkan. Ada juga yang dari lulusan sastra yang bisa melahirkan konsep dan cara berpikir yang cerdas. Sebut saja Mahfud Ikhwan, yang usianya terpaut empat tahun saja denganku. Dan mungkin banyak lain yang belum kuketahui. Kita kembali ke pemuda ini, ia mengatakan kalau penulis itu dibentuk dari buku-buku yang dibaca, dan tidak ada kausal dengan latar belakang pendidikannya. Dasar pemikiran itu membuatku menjadi semakin menggebu untuk menyelesaikan tulisanku. "

Cerpen Dea yang menarik salah satunya, Kisah Sedih Kontemporer. Kalian sudah baca, kalau belum itu masalah kalian sendiri.

Kamis, 06 Mei 2021

Yogyakarta ku hanya melintas

Yang lelah adalah peluh marah pada merah-merah darah
Kerah putih mangkrak-mangkrak pada jingkrak-jingkrak
Hitam legam sembunyi-sembunyi dari lelah kematian
Jelaga hitam yang lama tergarang panas setiap saat

Rehat sesaat pada kekalutan yang terlewat-lewat
Terdiam pada petaka pekik telinga gendangnya pecah
Terkenal karena kerendahan hatinya suaranya bikin adem pecah parah
Berkumis tebal kadang gondrong kadang pendek

Yogya ku hanya melintas jalanan
Pada tahun-tahun yang telah lama
Menjadi saksi atas perhelatan setahun sekali
Menjadi pengawal kebutuhan atas nama persaudaraan

Semesta alam mencari kawan bukan lawan yang curang lagi cengeng
Melodi citra tak menjadi alasan bumbu penyedap masakan modus operandi
Berenang dalam genangan darah menyala bumbu penyedap menjelang lebaran
Malulah pada nurani yang kau koyak-koyak seperti kerecek lebaran

Yang jadi kian menjadi-jadi
Yang tanpa makin lelah karena perasaan bimbang
Limbung dan lumbung yang kalian rampas seperti ada perang
Yah, inilah jika petuah hanya menjadi kuah makan siang kalian

Minggu, 02 Mei 2021

Memanggil Kepekaan

Bagi jiwa yang tidak memiliki hubungan dengan Tuhan-Nya maka ketersediaan nilai kesadaran akan hubungan-Nya, semakin mengecil. Kemuliaan-kemuliaan yang melekat pada setiap jiwa akan mengkerut jika tak terdapat secuil kepekaan dalam pikiran juga dadanya. Ia membiarkan karat mengganggu perjalanan nuraninya. Ia juga tak cepat-cepat mengkoreksi coretan itu dengan lafal-lafal dari langit, melepaskan begitu kehendak yang sempat terbesit dalam pikiran jernih. Ia rela menuangkan segelas gelap yang membutakan langkah-langkahnya, bahkan tongkatpun tak juga memberinya jalan kemudahan. Ia malah mengeratkan ikatan yang telah lama mengungkungnya diam-diam, lalu tanpa disadari muncul benjolan yang menyerap terus menerus kelembutan hingga tak berbekas.
 
Ketaknormalan yang merajalela tak juga ditanggapi sebagai panggilan Tuhan agar ia lekas-lekas mengoreksi catatan keimanannya. Jika tak sanggup ada pilihan hati yang bisa menyokongnya menjadi detak-detak semangat dan inspirasi bagi manusia lain. Sebagai cipatan-Nya insan menyediakan secuil potensi agar gerak lisan dan jiwanya tak hitam jelaga. Sesekali tisu putih yang berubah menjadi krecek akan terasa nikmat, jika tak disadari keberadaannya.

Yang lain, penggerak roda pikiran menjadi lebih mulus ketika semua fungsi tubuh mengarahkan pada kebahagiaan yang hakiki. Insan menjadi lebih terpanggil pada kenyataan hidup di depan matanya, meski statusnya sebagai insan 'papa' menjadi incaran mulut-mulut yang miskin kasih sayang. Mereka juga butuh pertolongan, tinggal menunggu momen saja.

Malaikat turun ke bumi menyapa sang Nabi terakhir ingin menyampaikan mandat dari Tuhan-Nya. Ia mengatakan "Wahai Nabi tak jauh dari Anda ada seorang "Malang" yang nantinya akan masuk neraka." Setelah selesai ia melesat pergi dari hadapannya.

Lalu lewatlah seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang tak berhenti menangis sebab lapar yang menohok. Wanita "malang" yang bekerja di tengah lumpur kegelapan tengah menggigit sebagian kurmanya. Ia menghentikan gigitannya dan berjalan tergesa-gesa menyambangi si anak dan memberikannya. Malaikat turun dan menjalankan mandatnya bahwa si wanita "malang" itu akan menjadi penghuni surga.

Level keibaan wanita "malang" itu pada level yang membuatnya nasib si wanita berubah seketika, tidak perlu menunggu waktu lama agar takdir si wanita "malang" menjadi takdir yang mulia. Itulah definisi dari insan yang berfilantropi.

Jiwa yang keras jua menjadi titik gelap hingga ia tak bisa menyerap kejadian dari Tuhan. Bahkan Ahli kegiatan langit pun tak bisa membedakan sebuah peristiwa. Ketika banjir melanda dan air sudah menyentuh lututnya, menyentuh dadanya, bahkan ketika air sudah sampai loteng ahli kegiatan langit tetap menolak semua pertolongan manusia. Ketika ia protes dengan Tuhannya. "Mana pertolongan Mu" kata si ahli kegiatan langit. "Aku sudah memberi pertolongan kepadamu sebanyak tiga kali" kata Tuhannya. Hati yang keras telah membuatnya menolak semua kebenaran (pertolongan) dari para penolongnya. (Hanya Tuhan Yang Tahu).

Rabu, 28 April 2021

Melukis Ayah

Pintunya ditendang dengan tengan hasil latihan silat, terukur dan membuat kerusakan yang cukup fatal. Ayahnya mencari penyebab kenapa ia marah, tetapi tak ditemukan apa-apa selain kemarahan ayahnya yang makin meningkat. Ayahku tak diduga, sesuai dengan keadaannya. Seperti angin ribut yang tiba-tiba bisa setenang danau dan seberisik gemuruh orang bertengkar.

Ia menyediakan sarapan seperti menyambut tamu-tamu agung dari kerajaan dunia. Aku senang bukan kepalang, tetapi apakah ia terus ada sampai aku besar nanti, tentu saja tidak. Ia pernah memberi nasihat kepadaku tentang pentingnya tak bergantung pada orang lain. "Ayah  tidak akan selamanya kuat, kamu harus bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan ayah," begitu kudengar ketika ia mencebokiku setelah buang hajat. Aku tak tahu pasti apa yan dimaksudnya tetapi kata-katanya mengandung misteri kehidupan.

Di lain waktu aku terbangun dari tidur dengan perasaan takut, ku ceritakan pada ayah aku tadi mimpi serem betemu pocong dan dikejar anjing. Ia mendengarkan dengan baik. Lalu ia memberikan semacam tips yang belum sebenar-benarnya tips, tetapi bagiku cukup efektif untuk melawan mimpi-mimpiku yang lain.

"Ayah kasih rahasia ya, sebuah cara agar kamu bisa keluar dari mimpi," katanya.

"Apa itu yah,"

"Kamu harus cari tempat yang tinggi lalu kamu lompat, biasanya akan bangun. Kalau dalam mimpi ada yang membuatmu takut lawan saja," ucap ayah.

Esoknya kuceritakan tentang mimpiku yang seram dan bisa meloloskan diri darinya. Pernah kuceritakan anjing yang ingin menggigit, setelah ku injak berubah menjadi katak dan loncat-loncat.

aku ingin mengucapkan terimakasih dengan cara lain. Aku masih kesulitan untuk melukiskan tentang ayah, mungkin ketika kumulai beranjak dewasa. Cerita-cerita tentang ayah akan mudah kutuliskan. 

Rabu, 21 April 2021

Tembok Dalam

Ia lahir dalam kesengsaraan, mencampakkan dalam-dalam
Ia mencapai dalam kebarauan, melahirkan sejenak istirahat
Ia mendidih dalam pesona, meruntuhkan tembok yang dalam
Menyusui dan meratapi setiap kepingan zaman, kemanakah ia?

Keras yang lunak sebagai cermin berlapis
Mengkerut dalam rona bercak-bercak seutas tali
Tali jemuran yang kian rapuh, seperti arang patah
Mendambakkan kesetian setelah tikaman penghianatan

Cobalah meresapi setiap pertahanan yang terlalu kuat
Kokohnya kepribadian kadang menjungkirbalikkan kenyataan
bersembunyi dalam kebaikan yang tak lekang
Ia hanya beralih dari titik ke titik lain

Selasa, 13 April 2021

Para Pemesan

Sore itu senja malah menertawakan
Para pemesan kekuatan
Untuk mendapatkan sedikit ketenangan
Dari para lengan yang menyingsingkan kerah baju

Orang rumah terkaget-kaget
Melihat wajah yang dikenalnya telah berubah
Seperti wajah-wajah di televisi
Tanpa noda dan tampak bersinar licin

Pemesan itu ada di televisi
Menggambar wajahnya sendiri
Tunduk malu atau entap apa
Tertawa sepenuh mata

Para pemesan bangun dan melihat sekitar
Hanya wajah itu saja yang selalu terlihat di televisi
Baju dan pakaiannya berganti-ganti
Agar jejaknya bukan jejak anjing atau singa

Mereka mengurung dalam petasan
Memekakkan telinga mereka sendiri
Dengan tangan atau mercon cabe keriting
Semua lusa dan esok bisa benderang

Minggu, 11 April 2021

Sebuah Teropong

Seringkali kebenaran tersembunyi
Dari balik bisik-bisik
Tajam seperti suara penguasa
Yang menjembatani setiap permukaan-permukaan

Mengintip dari balik teropong
Berhembus nafas dari balik mulut-mulut lama
Seperti angin pada udara
Seperti jendela pada tirai

Dari balik teropong
Manusia menerapkan peraturan-peraturan
Menjelma dalam hasrat-hasrat
Untuk menutupi jejak yang berlubang

Ia tidak bisa meneropong ketulusan
Jenis manusia yang terang dan bersinar
Pada dirinya perpaduan antara lalat dan lebah
Tak mau menipu orang, ia tertipu sendiri

Teropong membidik yang disasar
Tak bisa melebar tepat
Ia hanya sasaran
Tak juga tepat sasaran

Jumat, 09 April 2021

ASPEK FISIOLOGI HABIT

Orang tua kadan hopeless melihat anak yang tak bisa diajarin, mengapa? dari sini kita melihat aspek fisiologisna.

Manusia memiliki banyak otot untuk mendukung pergerakan. Saat kita melatih suatu otot terus menerus, mereka akan tumbuh dan terlatih. Sayang jika dari kecil sampai besar otot-otot ini tidak dilatih lebih jauh. Banyak sekali yang bisa dilatih.Kemampuan anak berproses, kita tidak bisa menghasilkannya dengan instan. Melatih proses jauh lebih penting dari pada mengharap hasil akhir.

Manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Bangun satu-satu, beri atmosfer, konsisten.Ketika ingin mengajarkan anak bicara dengan baik, tak cukup hanya dengan meminta anak bicara baik. Anak harus diminta melatih tubuhnya juga. Tubuh yang tegak, suara yang jelas, wajah yang tenang dan tersenyum. Ketika habit buruk sudah terbentuk, tak hanya akan mengganggu orang lain, tapi juga mengganggu Kesehatan anak sendiri. Pertumbuhan yang terganggu dari posisi duduk yang buruk, misalnya. Karena tulang belakang juga membengkok.

You are what you think you are.

Setiap pagi kita bangun, apa sih yang kita pikirkan kita pertama. Ini mendefinisikan diri kita sendiri kemudian. Inilah pentingnya kereta pikiran. Saat kereta pikirian sudah steady, kita akan lebih mudah mengendalikan diri kita juga jaringan otak berubah, ketika kita tidak menggunakan jaringan tertentu, dia akan meluruh dan digantikan dengan yang baru.

Kita harus memikirkan jangan sampai masuk ke automatisasi. Padahal itu natural. Kita perlu refleksi dan terus mempertahankan kesadaran. Apa yang digerakkan oleh tubuh, salah satunya mulut, akan membuat jalur di otak kita. Maka jika terus dilakukan, dia akan terus mengikuti. Apa yang nampak di manusia, itulah yang berkecamuk di dalam dirinya. Berhati-hatilah dengan gerakan dan pikiran kita.

Peranti utama manusia adalah tubuh. Termasuk di dalamnya otak dll. Ada gerak, rasa dan pengetahuan.Kita harus mindfulness. Kita harus kendalikan agar tak memikirkan yang sia-sia. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam, akan jadi apa kita. Tentukan goal dari pagi. Jalani dengan penuh kesadaran.

Cheating2 dikit pun membentuk jalur kebiasaan. Jadi perhatikan baik-baik. Tutup hari dengan penuh syukur. Hindari hal-hal yang bisa mendistraksi. Jika hp mengganggu, bisa masukkan ke laci. Ada penanda missal memakai celemek, brarti harus masak dan beres-beres. Rencana sudah disusun dari sehari sebelum lebih baik.

Ada banyak jenis excitement, ada yg senang maen game, ada yang suka nonton crime story. Kita harus lebih banyak membangun curiosity. Jika kita terus-terusan memikirkan rasa kita pada orang lain, pikiran buruk terus diolah dan membentuk perilaku buruk.Pembentukan karakter dari pikiran yang terlintas, semua berasal dari rumah. Bagaimana habit di kuatkan. Dan orangtua lebih baik bersakit-sakit dari sekarang.

Anak yang menunda-nunda misalnya, mandi berlama-lama karena terlalu banyak imajinasi. Perlu dibantu menghentikan lintasan pikiran itu dengan pembentukan kebiasaan baru. Distraksi pikiran anak. Setting waktu baru mandi 10 menit.Kebiasaan yang lama akan menjadi karakter, yang tanpa berpikir akan langsung digerakkan.Kita perlu mengawal anak dari pengaruh luar. Cara bicaranya perlu dipastikan tidak justru membangkitkan emosi dan tidak memberi cap pada anak.

Kebiasaan yang kita latih, fisik atau pikiran memiliki bekas di otak. Bisa menebal atau hilang ditelan waktu jika tidak digunakan terus menerus. Tubuh ini mempunyai kemampuan utnuk memberi perintah pada otot untuk membentuk otot-otot baru yang bisa ditumbuhkan dengan cara yang benar. Kita diminta melatihkan anak atletik. Agar ada otot lain yang penting untuk pertumbuhannya, ada orang yang terus memikirkan sesuatu sehingga itu menjadi terbawa ke kesehariannya.

Jika kita memiliki kebiasaan buruk, kita rubah dengan kita paksa memikirkan hal yang lain. Dengan regenasi otak dan pembentukan jalur baru. Kita bisa melatihkan hingga ke tahap reflek. Sehingga tahapan pembentkan sebuah perilaku bisa langsung ke tahap akhir dan menjadi karakter seseorang. Kebiasaan juga bisa diambil anak-anak dari orang lain selain orang tua.

Sumber tulisan diambil dari komunitas homeschooling metode Charlotte Mason 

Selasa, 06 April 2021

DISTORSI KLARIFIKASI

Tak terasa kita sudah melewati masa-masa sulit yang kadang menjungkalkan akal sehat pada jurang yang menghawatirkan. Masa-masa sulit terjadi karena alam yang menghendaki, takdir yang menentukan setiap perjalanan manusia. Tetapi di luar jangkauan kita sebagai manusia, ada sejumlah kesulitan karena hasil desain dari tangan-tangan miskin kasih sayang. Bisa hasil kebencian yang mendalam atas sebuah agama tertentu. Di mana idiologi semakin mengeras, "tak lagi" membuat kebahagiaan. Memakai baju agama untuk menghasilkan kekerasan yang menyakitkan. Lalu dengan enteng membawa agama tertentu untuk menjadi pelindung diri. Bisa juga hasil dendam yang tak berkesudahan. Atau yang paling eman adalah hasil dari penyimpangan data yang tak masuk akal.

Perang membuat luka yang terus menganga sepanjang masa. Meninggalkan kengerian yang membuat sebagian sakit jiwa. Mimpi-mimpi indah menjadi semakin jauh dari jangkauan. Tak segan-segan mereka menjungkalkan sisi kemanusian atas dasar pendangkalan kemanusiaan yang menurutnya perlu diperbaiki. Alih-alih membuat nyaman atas sisi-sisi lainnya. Meski berbeda keyakinan, tetapi mereka juga adalah manusia yang haram ditumpahkan darahnya, tanpa alasan yang kuat. Bagaimana mereka pulang ke rumah tinggal nama, dengan dibaluri jeritan dan kepanikan yang melanda seluruh anggota keluarga. Tulang punggung mereka meregang nyawa di tangan "orang" yang mengaku pada agama yang cinta damai. Ini akan terjadi secara berlarat-larat jika ada yang menginginkan demikian. Apalagi melukainya atas dasar kesadaran bukan keterpaksaan di bawah lesatan peluru atau tajamnya kilatan pedang.

Genangan darah tak membuat ciut untuk mengurungkan niat busuknya. Apalagi sekedar untuk klarifikasi atas sebuah pesanan. Mungkin terlalu jauh pada data yang diterima. Apalagi kotak-kotak penuh perhiasan ada dalam genggamannya. Membuatnya mabuk kepayang yang langkah-langkahnya menjadi terhuyung-huyung. Tertawa sepenuh tenggorokan dan makan sepenuh mulut, kedua tangannya menggenggam sekerat daging bertabur kezaliman. Ini zaman di mana sebagain orang suka menyembunyikan kebenaran, dan menertawakan kebenaran  di depan mata.

Penyimpangan data yang "parah" membuat anak kecil harus berangkat ke sekolah lebih awal, padahal gema subuh belum juga terdengar. Tembok-tembok rakitan membuat kakinya lincah memilih jenis tanah yang nyaman bagi kakinya, atau ia pulang dengan kehilangan salah satu kakinya. Pada dadanya terselip keberanian yang putih, tak pernah takut mengangkat wajahnya pada orang-orang berseragam yang telah kehilangan pegangan hidup. Pada dunia lain, ada kerumunan yang tak membawa apa-apa kecuali yang melekat di tubuhnya. Sambil memikul seorang ibu yang telah kehilangan kekuatan, karena uzur. Ini adalah jenis pertarungan yang memilukan. Di mana yang senjata memiliki kekuasaan yang mudah sekali terkena bujuk rayu, hanya menyisakan sedikit kekuatan setelah dilemahkan jika tak ingin mendengar "kebiri".

Mungkin kita perlu "tenang" sejenak, jika tak ingin menggunakan kata "diam" untuk mendapatkan jenis kontemplasi yang apik untuk menghadapi gempuran apapun. Untuk menajamkan pikiran sekaligus menjernihkan kata-kata. Agar apa yang terjadi, katakan terjadi. Agar yang tidak terjadi, katakan juga tidak. Sebelum "tangan" Tuhan bertindak, karena mendapatkan banyak laporan dari kemarahan alam yang terus dianiaya, darah terus ditumpahkan, dan kebenaran terus saja ditertawakan.

Minggu, 10 Januari 2021

SANG PENGELANA

Ia mengelana dari desa ke kota, menderma seluruh jiwa raga, tak sempat ia memikir yang berbeda
Ia menatap matahari yang telah menyetrika punggungnya seharian, baju lepek tak karuan
Ia menjawab peribahasa yang berlarat-larat dari setiap bahasa tubuh yang dipertontonkan secara membabi buta
Ia menatap sekaligus melihat perjalanan masing-masing orang tanpa merasa terganggu

Katanya, jiwa itu ibarat pilot yang leluasa bergerak
Katanya, keadilan bisa ditegakkan tanpa memandang bulu
Entah bulu ayam, bulu angsa, bulu merpata, atau bulu-buluan
Ia bergerak tak beraturan menjelma dalam satuan-satuan

Senin, 02 November 2020

Pengelana dan Pedagang

Malam yang larut tak menghentikan langkahnya untuk meneruskan perjalanan panjang dan tak berujung. Endorfin yang dilepaskan beberapa jam lalu telah berubah lelehan keringat asin dan berbau. Cahaya malam membuatnya urung tuk hentikan langkah barang sejenak, meski mata telah memerah. Lampu-lampu rumah telah padam sejak ia memasuki perbatasan desa. Kini ia hanya berteman jalan-jalan sunyi dan menggigil.

Kopi hitam tanpa gula, ia mungkin hanya memakai perasan gula tebu yang dimamahnya sendiri. Meski bercampur liur ia tetap mencengkram tangkai gelas di bawah tatapan jijik pengunjung kedai. Ia menanti-nanti adegan perkelahian yang sering muncul di kedai-kedai, warung-warung, atau penginapan. Yang dirasakan adalah tatapan mereka yang membuatanya jengah untuk beberap saat. Lalu pergi mencari ketenangan.

Sisa ampas kopi yang masih enggan berguguran dari celah gigi,  telah lama membentuk ceruk lemak keras. Seperti lemak dari pembuangan yang bisa kalian jumpai jika rajin membuka tutup pipa pembuangan dari paralon rumah.

Berjalan sendiri di bawah gigitan musim dingin seperti bergelut dengan jengkel melihat anaknya yang sulit diatur. Bisa karena miskin pendekatan atau jiwanya memang pemarah. Langkahnya telah meringkus semua otot-otot kaki hingga terasa linu bukan kepalang. Ia menelan ludahnya sendiri berkali-kali untuk menghangatkan perutnya yang mulai keroncongan.

Ia merogoh saku depan celananya. Mengeluarkan semua yang ada. Tinggal beberapa keping uang logam yang mungkin menyelematkan dari mati kelaparan.

Seorang pedagang terkantuk-kantuk di depan barang dagangannya yang membisu. Kepalanya mengangguk-angguk sendiri seperti ada yang mengendalikan. Jika ingin terjengkang ke belakang, ia lekas merentangkan tangan agar punggungnya tak mencium tanah yang membeku.

Ia berhenti di depan pedagang itu dan membiarkannya tetap mengagguk-angguk tanpa ingin menganggunya. Ia lebih mementingkan perutnya yang lapar dari pada memberi jeda pada pedagang itu dari lelapnya tidur yang jika raja melihatnya akan iri, bagaimana resepnya ya?

Bunyi perutnya yang berkali-kali, makin lama makin keras. Ia telah lama menahannya, menyenggol bahu pedagang adalah cara terakhir agar ia terbebas dari lapar yang berlapis-lapis. Kopi hitam yang telah di minum sehari yang lalu adalah pertahanan terbaik agar lambungnya tetap aman tanpa makian. Bisa terhuyung-huyung masuk ke desa yang baru. 

Ia mengguncangkan bahu pedagang itu agak keras, rasa segan pada orang yang sedang tidur ia kubur dalam-dalam. Rasa laparnya makin menjadi-jadi. Orang lapar bisa melakukan hal-hal buruk yang bisa merubah suasana. Ini penyakit yang hampir semua orang pernah merasakannya.

Tubuh pedagang itu tumbang, punggungnya sejajar dengan tanah. Ia malah mendengkur keras setelah kepalanya membentur tanah. Kini ia rata dengan tanah. Tapi masih di atas tanah. Ia menikmati betul. Bahkan uang yang ada digenggamannya jatuh berhamburan. Bibirnya malah senyum simpul, seolah semuanya akan baik-baik saja.

“Bang bangun bang, perut saya lapar sekali!,” ujar pengelana itu.

Dengkurannya makin mengeras, seperti deruman sapi kekenyangan. Hanya saja ia tak gayem seperti hewan penghasil susu itu. Mulutnya makin terbuka, gigi seri depannya tampak menghitam atau pelita di depannya yang membuatnya tampak gelap.

Ia memanggilnya kembali. Berkali-kali. Pedagang itu tersenyum kembali. Terdengar keluhan dan makian dari mulut pedagang itu. Ia bersyukur kerena dirinya tak dimaki-maki, meski jantungnya berdegup lebih kendang.

Ia mulai melolong di depan telinga pedagang itu dengan lolongan yang panjang dan berliur. Bahkan tubuh dan kepalanya mulai menduplikat hewan pencari kesempatan itu. Pengelana itu mengeluh panjang, hembusan nafasnya mencibir. Perutnya makin melilit, seperti iklan obat sesak nafas.

Ia mulai menggonggong sebagai cara lain membangungkan pedagang yang tidur seperti menelan puluhan obat tidur yang didapatnya secara murah. Lidahnya ikut menjulur manakala gonggongannya kurang maksimal. Bahkan pada titik tertentu ia bernafas layaknya anjing sungguhan. Siapa tahu terbangun?

Sampai fajar merekah ia terus melakukan berbagai macam akrobat dari lintas profesi. Ketika cahaya mulai tinggi, pedagang itu terbangun dengan menguap selebar kuda nil, dan mendapati si pengelana itu tak berkutik, hilang nafas, sambil memegangi perutnya yang menonjol.

Senin, 26 Oktober 2020

SEKOLAH BUKAN TEMPAT LOUNDRY

Pertemuan "Ke-4"

Ia tetap duduk di luar kelas ketika temannya sudah mulai warming up untuk track panjang selama pelajaran nantinya. Justru ia malah sibuk bergelantungan mencari perhatian. Setidaknya ia diperhatikan meski dengan menguras rasa malu yang mungkin ia miliki ketika di Tk, atau ia memiliki cara sendiri berkomunikasi di luar kelaziman. Tak ada yang ditutupinya sekilas, tetapi mungkin ia sedang membangun benteng agar bisa bertindak semaunya dan ini yang membuatnya tetap nyaman.

Untuk beberapa kali mungkin ada baiknya memberinya keleluasan mengekspresikan perasaannya di pagi hari. Tetapi tak tepat membiarkannya dalam keadaan emosi yang carut marut. Seperti ada dendam yang terus bersemayam dalam dadanya, itu terpancar oleh sorot mata yang lelah dan acuh terhadap setiap stimulus sepositif apapun. Ia punya dunia, yang dengannya tak mau diganggu, bahkan oleh ibu kandungnya sendiri. Kemungkinan seperti itu bisa jadi terjadi, lingkungan telah membekalinya dengan segudang pengalaman yang membuatnya tetap kukuh dengan cara pikirnya yang ia serap dari masa-masa kecil yang kelam.

Ketika kegiatan keagamaan tengah dilaksanakan dengan setenang mungkin, ia tetap saja berdiri di jendela yang tak berdaun. Sebuah ruang ventilasi yang terlampau besar. Sirkulasi yang baik untuk kesehatan, anak-anak punya daya imajinasi yang baik manakala otak selalu dimasuki udara yang bersih tanpa debu. Saya setuju itu. Bagi anak yang punya sisi kelam di masa lalu, tak lagi menganggapnya sebagai jendela yang penuh imajinasi. Tempat lengang seperti itu adalah benteng terbaik agar seseorang atau fasilitator pun tak coba-coba menyentuhnya. Ia akan membentaknya sebentak-sebentaknya, tanpa memperdulikan perasaannya. Karena ia sendiri punya segudang goresan yang telah menggelapkan sebagian kenangan masa kecilnya. Kita, tentu saja tak menyalahkannya begitu saja. Tanpa memperdulikan semua latar belakang dan depannya.

Ini adalah kisah tentang bahasa yang dimaknai sebagai alat komunikasi semata. Tak ada yang menyalahkan tentang itu. Tetapi mari coba sedikit meluangkan waktu tentang bahasa yang bisa dimaknai sebagai instuisi tajam atas sebuah gejala. Hingga bahasa bisa merobek semua keruwetan yang telah bersemayam dalam pikiran kecilnya. Sebagai cara kita 'bertengkar' dengan situasi yang seolah tak lagi bisa dipecahkan menjadi kepingan senyum atau tawa yang lepas layaknya anak sebayanya.

Pikiran anak mungkin seperti sifat fiksi yang bisa berubah menjadi subversi dari realitas kehidupan seseorang, entah itu anak kecil atau orang dewasa. Semuanya berusaha untuk mengomentari sebuah kebenaran dengan caranya sendiri lewat lorong pikiran yang dikumpulkannya sejak ia lahir. Mungkin membiarkan pikirannya agar tetap jernih adalah hal jitu, meski terkadang ia tantrum tak tertahankan. Hingga merepotkan semua lini pergerakan. Teman-temannya takut, dan fasilitator berpikir keras mencari jalan keluar. Saya pikir itu cara yang tepat mengekspresikan sesuatu. Sedalam apapun pikiran kita tentang dunia anak-anak, kadang kita tak bisa menjangkau secara tepat. Kita kadang mereka-reka, atau mengira-ngira setepat apa cara kita menjangkaunya.

Seorang ibu bisa jadi tak bisa mengerti seluruh isi pikiran perasaan anaknya sendiri. Ia tak bisa menyentuh hal dasar yang sedang dibutuhkan oleh anaknya, entah karena interval waktu yang disediakan olehnya terlalu sedikit. Atau anak-anaknya kelewat asik menekuni dunia yang telah lama digelutinya tanpa pelukan hangat dari ibu atau ayahnya. Kemungkinan itu selalu ada.

Setidaknya kita dapat menarik lengan anak mana kala ia tercebur kedalam tinta hitam yang membuatnya bingung untuk melangkah. Bekali mereka, dengan pena yang membuatnya percaya diri menuliskan sejuta pikiran dalam selembar kertas masa depan, tanpa perlu menenggelamkan diri dalam kubangan perasaan entah. Saya pernah merasakannya, dan bisa melewatinya. Mudah-mudahan dan menjadi mudah anak-anak mampu memilih jalannya sendiri tanpa perlu menanggalkan keyakinan atas Tuhan yang telah merahmatinya.

Kamis, 22 Oktober 2020

SEKOLAH BUKAN TEMPAT LOUNDRY

Pertemuan "ke-3"

Anak itu menggapnya aneh. Ia mungkin terlalu percaya pada pengamatan sehari-hari, ayahnya sendiri sering dibilang "aneh" menurut versinya. Dikepalanya terbayang satu susunan kata yang terpantik jika suasana atau tekanan menerpa dirinya. Bahkan ia bisa mengklamufase setiap tindakan yang dianggapnya aneh, menurut ayahnya. Beberapa peristiwa menyebabkan ayahnya kehilangan kecepatan untuk mengatasi setiap letupannya.

Ia kadang berteriak untuk mengekspresikan sesuatu. Simbol yang kerap diterima oleh ayahnya sebagai suara yang berisik. Ia berdalih membangunkan orang yang sedang beristirahat, atau suasana hatinya saja yang belum ajeg. Bahkan cara anaknya berkomunikasi sudah di level yang menggembirakan. Ia mungkin masih meraba.

"Bunda tertawa girang." salah satu contoh yang ia ucapkan, terdengar tanpa terencana. Ia mengganti kata 'riang' menjadi girang yang kelewat dewasa, mungkin saja. Entah dari mana ia mendapatkan kosa kata itu. Yang jelas alam sudah menyediakan secara melimpah. Entah ia akan menerima dengan saringan atau telan bulat-bulat.

"Ora jelas ayah." adiknya mengganti kata 'nggak' atau 'tidak' dengan kata 'ora' yang ia dengar dengan tingkatpengulangan yang memadai. Ini sungguh menakjubkan. Ayahnya sendiri tak kuasa menahan "tawa" yang menguras emosi, mental, dan meruntuhkan seluruh atau sebagian padanan kata.

Ya, mungkin ia butuh momen hingga bisa menguasai seluruh medan atau wilayah kepribadiannya hingga menjadi benteng kokoh untuk bersikap dan ber-mandiri. Atau merutinkan kemandirian, dengan rajin gosok gigi, bangun lebih pagi, dan merutinkan berbagi. Maksimal kepada dirinya sendiri atau minimal kepada orang lain.

Kemungkinan lain adalah ruang. Ia simbol yang membuatnya cakap dalam menentukan sikap dan ketekunannya menyakini sesuatu. Anak itu kelihatan baik-baik saja ketika tak ada waktu yang mengizinkannya bermain dengan teman sebaya. Ia dengan mudah mengajak ayahnya bermain, entah itu taplak gunung, kotak pos belum diisi, bola, lempar bola, atau ia bisa menemukan jenis permainannya sendiri secara mengagumkan.

Buku-buku yang bergeletakan di atas meja, tak bersusun menjadi sasarannya. Apa saja yang ia temui dan indrai secara selintas. Ia akan berdiri atau diam beberapa saat untuk merampungkan proses membacanya yang sakral. Ia berhasil atau cukup berhasil bisa melampaui satu tahap yang teman sebayanya lalui dengan rutin.

Ia tak lagi mengucurkan air mata, jika yang sakit adalah fisiknya. Luka ringan, terparut karena lari kejar-kejaran adalah salah dua bentukan yang sering ayahnya lihat pada masa-masa sekarang. Ia makin kokoh dengan caranya sendiri bukan sentuhan orang yang terdekat. Mungkin memperolehnya semacam coaching saja. Ia bisa tertawa sangat mirip dengan sosok yang sedang ia dekati, secara masa. Bisa berkelit dengan cara yang mumpuni. Berargumen dengan mimik, kata-kata yang menohok pikiran dan perasaan. Ia seperti kelapa muda yang beberapa pekan lagi siap panen menjadi serutan kelapa untuk campuran es kelapa. Atau menjadi padat hingga menjadi kelapa tua yang siap menghasilkan minyak kelapa yang lezat.

Sabtu, 18 Juli 2020

SEKOLAH BUKAN TEMPAT LOUNDRY

Pertemuan Ke-2


Ia melempar meja dan kursi seperti kertas-kertas dari buku yang disobeknya kasar. Kotak-kotak kecil berisi perlengkapan bergulingan, tak beraturan. Map-map berjatuhan. Sebuah lukisan yang dibungkus secara apik berubah remah-remah. Ketika seorang guru masuk, ia membentaknya secara vulgar tanpa segan ataupun tak enak. Pertahanan terbaiknya adalah tantrum sejadi-jadinya. Sebuah benteng yang teramat kokoh lagi sulit ditembus. Kecuali oleh orang-orang yang dipercayainya.

"Diam!" bentaknya. Guru itu menatapnya prihatin. Meski hatinya ikut juga mendidih, terapi langit ia gulirkan agar tersungging senyuman kemudian. Telapak tangannya berkeringat. Karbo yang dikunyahnya di pagi hari cepat sekali menguap. Guru yang lain ikut membantunya. Pasukan tambahan, sementara ia mulai menertibakan segala sesuatunya.

Kami menikmati makan siang dengan rasa tak biasa. Lapar yang tak tergantikan dengan lauk apapun. Sebuah kehambaran yang kerap terjadi, meski tampak sepele tapi hormon tak juga membantu. Kegiatan makan siang seperti melambat. Seperti film yang diperlambat agar frame semakin tajam terulang dengan maksimal.

"Diam!" bentaknya kembali. Teman-teman yang mencoba menghiburnya surut juga nyalinya. Tak berani melakukan hal yang jauh lagi. Pergerakan tampak kaku dan serba kikuk.

Kami meninggalkannya sejenak untuk memberi ruang privasi. Agar ia bisa meredam emosinya yang terlanjur meluap. Syukurlah ia bisa meluapkan emosinya, walau tampak berlebihan. Kadang serba diam ketika meredam situasi juga tak begitu salah, asal tampak wajar dan proporsioanal. Kami tak ingin melihatnya dalam diam yang menyeramkan.

Tubuhnya memang kecil, tapi ia punya kekuatan di atas rata-rata anak sebayanya. Meski baru sembilan tahun, ia memiliki tenaga tambahan yang dikumpulkannya sejak lama. seperti kumpulan tenaga dalam yang dilatihnya bertahun-tahun. Tinggal menunggu momen saja, maka ia bisa mengangkat meja dengan enteng saja. Padahal butuh dua anak untuk bisa mengangkat dengan wajar.

Sorot matanya terasa menyimpan dendam. Dendam pada orang dewasa di sekelilingnya. Meski tak semua orang dewasa bersikap tak kompromi dan terlihat menakutkan. Setiap ia tantrum, seisi kepalanya berhamburan peristiwa-peristiwa buruk yang datang secara otomatis. Ia kerap hadir untuk memporak-porandakan segala sikap yang pernah dituturkan oleh gurunya.

Guru itu mencoba merengkuh kedua bahunya yang tampak ringkih. Mencoba menawarkan menu makan siang. Tatapannya tampak ragu, tapi sorot sang guru seperti meyakinkan. Ia pun mengangguk, melangkah ke meja makan mengambil piring dan sendok dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauk.

Raut wajah yang tampak menakutkan bagi anak-anak yang lain, kini mulai mencair. Tersungging senyuman yang terlihat wajar, tapi ada rasa yang masih disembunyikan. Ia seperti  beranjak dari kenyataan satu ke kenyataan yang lain. Ia masih menyimpan rasa sakit yang penawarnya masih misterius. Atau barangkali hanya ia sendiri yang mampu mengobati. Bahkan sekolah bisa jadi menyuburkan "penyakit" dengan perlakuan yang tidak tepat. Bisa jadi sebaliknya. Ini hanya asumsi semata. Boleh setuju boleh tidak.

Kamis, 25 Juni 2020

Sekolah Bukan Tempat Loundry

Anak perempuan itu memukul-mukul mejanya. Guru di hadapannya tak ia pedulikan. Pijakan lembut tak juga mempan menyentuh gendang telinganya saja. Tak sampai perasaannya. Mungkin membutuh momen untuk membuatnya tenang dengan ketidakmampuannya membaca.

Dengan badannya ia bisa menipu siapa saja. Mungkin pikirannya tak bisa ia tipu. Guru di depannya tak begitu ia anggap sebagai mana mestinya, ini hanya contoh, tak perlu risau.

Mungkin karena ia guru baru, jadi tak ia anggap sama sekali. Ia mungkin menghormati guru lamanya yang telah menundukkan "keliarannya" selama ini. Ia ingin mengintimidasi gurunya, sebagai mana ia sering diintimidasi guru lamanya. Sebuah pikiran yang tampak normal. Sebuah dendam yang tak berkesudahan, tapi mungkin terlalu berlebihan.

Semua cerita bisa berawal dari mana saja. Ini hanya cerita, kalian senang dan tertarik, itu biasa. Menganggapnya luar biasa, karena sekolah bukan tempat mencuci segala kebodohan, itu juga biasa. Karena kadang menganggap yang biasa itu tak biasa. Mungkin sekolah hanya menempa, bukan mencipta, biarkan anak-anak berkembang mengasah bakatnya. Kalaupun tak ditemukan bakat apa-apa. Justru itu yang barangkali luar biasa. Karena ia berjalan tanpa memakai selendang kesombongan. Di saat teman-teman yang dulunya berbakat, ia bersedih karena menemukan temannya meringkuk di balik jeruji besi. Atau ia tetap rendah hati, kepada temannya yang berbakat apa saja.

Perjalanan ini baru saja di mulai...

Senin, 22 Juni 2020

Cerita Akhir Pekan

Ia menghendaki agar suasana rumahnya lebih nyaman dari sebelumnya. Kebebasan berpikir kerap mewarnai, lebih tepatnya percekcokan sih. Perempuan yang telah mengandung anak-anaknya tak jadi soal ketika sekolah berhenti di tengah jalan. Ada apa dengan isi otaknya. Gelagapan ketika mendung jadi hujan, api yang menyengat, dan tulang masih kuat.

Ini cerita tentang sejarah yang terulang. Sejarah mestinya tak perlu diulang-ulang, bila memang perlu. Kesalahan mestinya jadi sejarah, agar tak terulang.

Ia laki-laki dusun yang kedusunannya mengalahkan dusunnya sendiri. Di luar sana orang dusun bisa menjelajahi eropa dan asia, mungkin juga lebih, tapi hanya ke Bandung saja, ia mengeluh. Di ledek teman-temannya sedikit, ia ngambek, mutung, dan mencari-cari alasan agar tak menopang seluruh tanggung jawabnya sebagai suami. Kapan ia akan belajar untuk menopang, bukan menelantarkan hak-haknya, lalu bersandar kepada orang yang tampak kuat.

Sekian tahun berlalu, tampak begitu-begitu saja. Mungkin baginya nasib tak pernah bisa diubah. Padahal nasib ada pada telapak tangannya sendiri.

Ini cerita akhir pekan yang paling sumir, meski tak ingin di sebut menyedihkan. Tapi sebenarnya amat memilukan. Beban pikulan harusnya terbagi secara rata agar beban tak menumpuk pada pundak yang sama. Manusia terlalu rapuh untuk tempat bersandar.