Sabtu, 26 September 2026

Sketsa 3

Eng mengusap wajahnya yang tidak berkeringat. Musik kemarau sedang melanda desanya, Kaligondang. Ia duduk di tepi jalan raya-orang menyebutnya PAL, mungkin serapan dari bahasa belanda. Ia keluar dari rumah sekitar pukul 6 pagi, dengan sarapan nasi lauk pisang goreng. Setiap dua tiga langkah hembusan udara kelur dari mulutnya seperti cerutu. Sudah 45 menit Ia duduk setelah beberapa karyawan, kakak kelas sekolah lain, dan teman satu sekolah telah membonceng seorang gadis dengan logo sekolah sama.

Bus Dony Jaya berhenti. Keneknya mendorong tubuh Eng untuk menyempil diantara anak-anak dari sekolah lain. Sebelum naik Eng menyeka peluh di jidatnya. Sekarang pukul 7 pagi, dan ini bus terakhir sekolah. Kenek memukul kaca dengan koin sebanyak tiga kali, bukan untuk memecahkan tetapi memberi kode kepada supir agar lekas melaju.

Ini Bus sering disebut kura-kura tetapi berhati kuda. Meski lambat tetapi tak pernah somong untuk meminta tumpanga. Eng mengikuti nalurinya.

Sampai di kalikajar lengannya menegang. Tiap ingin terpelanting dari besi pegangan bus ini selalu berhenti untuk untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sampai di bancar Eng turun, sebuah keputusan buruk. Sudah kadung terlambat, jam pertama Ekonomi mungkin ada yang bisa dilakuna, pikiranya.

"Eng kenapa turun?" tanya seorang gadis. Eng menoleh tak memberi jawaban. Wajah Bita memerah dan bus melaju. "Gadis pembohong sok cantik," desisnya. Ia mulai jalan kaki sepanjang trotoar sampai samping sekolah. Ia belok ke arah belakang sekolah. Ada pagar besi tinggi yang membatasi gedung luar dengan sekolah. Ia mengelap telapak tangan yang berkeringat dan mulai merambat pelan samapi ke ata dan meluncur ke bawah dengan loncatan. Wajahnya memucat ketika mulai berjalan ke lorong sekolah. Guru Ekonomi yang gemulai itu baru selesai dari mengajar dan ia bersembunyi di balik sebuah meja dengan taplak menjuntai ke bawah.

0 Comments:

Posting Komentar