Teks-teks yang berseliweran di semesta ini menawarkan caranya sendiri untuk dinikmati, apakah teks akan diperlakukan sebagai iklan selintas, kata yang 'mati', dan berdiri rapih di atas kertas tanpa pernah disentuh dengan cara mengeluarkan makna, dan seterusnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan laku membaca 'yang' membaca. Tidak berhenti membaca teks dan membiarkan teronggok begitu saja setelah mengambil manfaat dari teks yang diperlakukan layaknya kebutuhan primer manusia. Kegemaran untuk memotong setiap jengkal kalimat dan menempelkan diatas kertas untuk kemudian di jadikan salinan fisik berupa kumpulan pilihan ganda, narasi pidato, presentasi, dan bentuk-bentuk lainnya yang disusun secara gegabah tanpa memedulikan 'nasib' teks itu sendiri juga merupakan bagian dari sekian banyak jebakan merasa telah membaca.
Lewat teks mestilah keluar ruh atau nutrisi seimbang yang berisi hal-hal baru, fantasi tersusun dalam kepala, seperti anak-anak yang bermain lepas di halaman rumah di temani sepasang pohon jambu air yang rindang. Sayangnya nutrisi yang seimbang itu tak menyerap dalam otaknya hingga membaca ratusan teks menguap begitu saja tanpa ada perasaan bersalah. Ini kekeliruan pembaca sejak kali pertama menyapa buku di halaman pertama.
0 Comments:
Posting Komentar