Kamis, 18 Juni 2026

Lebih Baik Mana...

Sang imam, Abubakar Al-Junadi, cemas memikirkan Abu Fardan. Laki-laki itu biasanya paling rajin sholat berjamaah. Tapi dua pekan ini ia tidak pernah datang ke masjid. Bahkan belakangan malah tidak terdengar lagi kabar beritanya. Terdorong oleh rasa tanggung jawabnya selaku imam masjid, Abubakar Al-Junaid mendatangi Abu Fardan.

"Sudah enam hari saudaraku tidak kelihatan sholat berjamaah. Kenapa?" tanya sang Imam. "Apakah anda sakit?"

"Tidak," jawab Abu Fardan. "Saya sehat-sehat saja."

"Istri atau anak anda yang sakit, barangkali," selidik sang imam penasaran.

"Tidak juga," Abu Fardan menggeleng ringan.

Dengan sabar sang imam kembali bertanya, "Atau anda sedang tertimpa musibah, kematian umpamanya?"

Lagi-lagi Abu Fardan menggelengkan kepalanya. Setelah terdiam agak lama barulah dia membuka mulut, "Saya bukan sekadar tidak ke masjid. Saya sudah meninggalkan sholat."

Bagai disambar petir siang bolong, Abubakar Al-Junaid kaget sekali."Kenapa?" katanya setengah berteriak.

"Habis, sejak kecil saya sholat tapi hingga sekarang keadaan saya melarat terus, tidak berubah. Tapi mereka yang tidak sholat justru hidup berlebihan. Jadi bukankah lebih enah tidak usah sholat, toh capek-capek sholat tidak bisa mengubah penghidupan saya," tutur Abu Fardan mencoba berargumentasi. Gurat di wajahnya mencerminkan kegundahan hatinya.

"Lalu bagaimanakan keadaan anda sekarang setelah meninggalkan sholat? Apakah sudah lebih baik? Apakah rezekimu sudah bertambah banyak dan tidak miskin lagi?" tanya Abubakar Al-Junaid dengan tenang, karena dia merasa mulai mengerti duduk persoalannya.

"Sama saja," kata Abu Fardan masygul.

"Dulu, selama kamu rajin beribadah, penghidupan selalu sulit dan miskin. Setelah tu semenjak kamu tidak pernah sholat lagi, penghidupan juga tidak berubah. Kalau begitu, lebih baik mana? kamu pasti sependapat dengan saya, dari pada sholat tetap miskin, kan lebih baik terus sholat walaupun tetap miskin, ya tidak?"

 Lelaki yang diajak bicara itu tidak menyahut. Abubakar Al-Junaid tambah iba, lalu dia meneruskan penjelasannya, "Minimal kita masih punya harapan untuk mendapatkan balasan dari Allah di hari kemudian. Dan kita punya tempat untuk mengadu dan mengeluh, yaitu Alloh swt. Sedangkah jika kita tinggalkan sholat, sudah di dunia sengsara, di akhira malah tambah sengsara lagi. Dengan ibadah, berarti kita bisa minta tolong kepada Allah, selain minta bantuan kepada manusia. Coba kalau kita tidak beribada, paling-paling kita hanya minta bantuan manusia. Lalu apakah manusia mau membantu kita sebagaimana Allah menurunkan kurnianya pada kita?"

Abu Fardan diam dan mematung. Matanya yang cekung mulai membentuk kolam. Penyelesanya jelas terpeta di wajahnya. "Barsangkalah yang baik-baik terhadap ketetapan Alloh. Jangan kamu mengira bahwa mereka yang kaya raya hidupnya sama bahagia dengan kita yang nyaris tidak punya apa-apa. Belum tentu. Sebab kebahagiaan letaknya dalam hati, dalam kepuasaan jiwa," tutur sang imam.

Menyimak nasihat sang imam, Abu Fardan akhirnya menyadari kekeliruannya. Ia kembali ke masjid, dan terus berusaha mencari nafkah tanpa perlu menyesali rezeki yang diberikan Alloh kepadanya.

Eman Mulyatman. Sabili NO.11 TH. VI 9 Desember 1998/20 Sya'ban 1419 H, hal 39

PEMBAWA-PEMBAWA CAHAYA

Di pinggiran Danau Toba, dari arah pusat rekreasi Taman Simalem (Dekat Banjae), tidak saja alam sedang melukis keindahan, tetapi juga melukis kesempurnaan. Bayangkan, Pulau Samosir dari kejauhan dipeluk kelembutan Danau Toba, Dan pelukan lembut antara bukit dan danau ini ditandai sinar sejuk matahari.

Bagi siapapun yang dibekali cukup kepekaan, tempat-tempat seperti ini serupa dengan buku tua makna yang terbuka. Ia rindu untuk dibaca. Danau dengan airnya adalah simbolik kelembutan. Gunung dengan batu-batunya adalah wakil ketegasan. Ketika keduanya berpelukan mesra, ia menghasilkan cahaya terang kesejukan. Ia seperti sedang berpesan kepada manusia (khususnya pemimpin), jadilah sekeras batu dalam mendidik diri sendiri, selembut air dalam melayani orang lain. Hasilnya, engkau pun jadi bercahaya penuh kesejukan.

Bunga-bunga mekar nan indah di pinggir danau sebagai contoh lain, ia seperti tersenyum memanggil, hai manusia, tersenyumlah. Karena dalam senyumanlah letak kebahagiaan. Dalam senyuman itu tersembunyi persahabatan dengan kehidupan. Lebih mudah menemukan kedamaian melalui persahabatan dibandingkan permusuhan.

Ia yang mau mendengar lebih dalam lagi akan dapat pelajaran, ada bunga dalam sampah, ada sampah dalam bunga. Tidak mungkin ada bunga tanpa pupuk yang kerap disebut sampah. Dan bunga mana pun yang mekar hari ini akan menjadi sampah beberapa hari kemudian.

Ini juga terjadi dalam kehidupan manusia. Ada kemenangan dalam kekalahan. Ada kekalahan dalam kemenangan. Ketika manusia kalah dan tidak membuat ulah, ia sebenarnya sedang memenangkan kemulyaan dirinya. Kemenangan manusia manapun akan selalu berakhir dengan kekalahan.

"WE ARE WHAT WE CHOOSE"

Tidak banyak orang yang terhubung rapi dengan alam, terutama karena frekuensi batinyya berbeda dengan frekuensi alam. Batin kebanyakan manusia ditandai terlalu banyak ketidaktenangan (marah, serakah, protes, benci), sementara alam sepenuhnya tenang tanpa gangguan.

Bila boleh membandingkan dengan televisi, batin seperti televisi dengan ribuan saluran. Kemarahan adalah sebuah saluran. Ketenangan adalah saluran lain. Sengaja atau tidak, kitalah yang memilih saluran-saluran itu. Saat dipuji, orang bisa memilih saluran congkak, atau memilih saluran rendah hati. Ketika dimaki, manusia bisa memilih saluran membalas memaki, atau memilih saluran kesadaran bahwa orang yang memaki sedang membutuhkan welas asih kita.

Yang jelas, bukan makian orang yang menghancurkan, tetapi konskuensi dari memilih saluran kemarahanlah yang menghancurkan. Dengan demikian, bila sejumlah psikolog memiliki rumus we are what we think, dalam jalur pemahaman ini menjad we are what we choose. Kita menjadi sebagaimana pilihan kita dalam keseharian. Catatanya kemudian, ada yang memilih dengan kesadaran terang, ada yang memilih karena diarahkan kegelapan hawa nafsu.

Itu sebabnya manusia yang perjalanan doa dan meditasinya telah jauh, berlatih keras untuk mengelola hawa nafsu, dan pada saat sama bekerja keras menghidupkan cahaya kesadaran. Apapun yang terjadi dengan orang-orang ini, selalu memilih kesadaran yang terang, menjauh dari kegelapan hawa nafsu. Ciri lain dari pejalan kaki di jalan ini, ia tidak saja tersenyum dengan bibirnya, ia juga tersenyum dengan matanya (baca: memandang semua dengan spirit pengertian penerimaan, dan persahabatan).

Maka, ada yang menasihatkan, less thingking more smilling. Dengan pikiran, manusia mudah kali tergelincir ke dalam penghakiman, lalu penderitaan. Melalui senyuman, semua dipeluk dengan kelembutan, dan ini lalu menghadiahkan kebahagiaan, kedamaian, dan keheningan.

SEGENGGAM PUISI, SEKERANJANG MATAHARI

Siapa saja yang rajin berlatih menerangi diri dengan kesadaran, menjauh dari hawa nafsu, hidup menjadi segenggam puisi dan sekeranjang matahari. Segenggam puisi karena semua bermakna. Lebih dari bermakna, ia sudah dalam genggaman (baca: menjadi kekuatan yang membimbing pilihan dalam keseharian). Sekaranjang matahari karena makna ini sudah bisa dibawa ke mana-mana sebagai cahaya yang menerangi perjalanan. Tidak ada lagi tersisa kegelapan dengki, sakit hati, dan lainnya. Semua terang benderang.

Kesuksesan adalah puisi, kegagalan juga puisi. Pujian adalah puisi, makian juga puisi. Kesucian adalah puisi, kekotoran juga puisi. Disebut puisi karena semuanya kaya makna. Bila makna-makna ini menjadi pedoman keseharian, ia berubah menjadi matahari kesadaran yang menerangi.

Kehidupan boleh digantikan kematian. Keterkenalan boleh berubah menjadi ketidakterkenala. Pujian boleh disubtitusi cacian. Namun, cahaya kesadaran tetap bersinar. Persis seperti cahaya matahari. Tnapa membeda-bedakan, demikianlah kesadaran melaksanakan tugasnya.

Barbara Marciniak dalam Bringer of the dawn, yang mengaku dapat inspirasi salah satunya di Bali, lebih konkret dalam hal ini. Cermati salah satu kesimpulannya, "Emotion are a source of food. This is how you nourish yourself." Keadaan emosi (senang-sedih, gembira-marah) adalah makanan berguna. Beginilah bibit-bibit di dalam disirami. BIla kebanyakan orang membenci emosi negatif seperti marah, di jalan ini semua emosi (positif-negatif) adalah petunjuk lain.

Oleh Gede Prama-Bekerja di Jakarta;tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

Jumat, 12 Juni 2026

Antara Penguasa dan Ulama

Suatu saat Khalifah Harun Ar-rasyid berkunjung ke pelosok desa Ar-Riqqah, beberapa puluh kilo dari istananya di Baghdad. Pada saat sama pula, seorang alim terkemuka waktu, Abdullah bin Mubarak yang terkenal kezuhudan, waro, dan tegas dalam membela kebenaran, datang pula ke Ar-Riqqah. Abdullah bin Mubarak juga dikenal sebagai ulama yang tak segan mengkritik penguasa.

Masyarakat kota kecil itu berbondong-bondong menyambut kedatangan Abdullah bin Mubarak yang memang telah mereka kenal sebelumnya. Mereka mendatangi masjid yang disinggahi Abdullah untuk meminta nasehat dan siraman rohani. Otomatis tempat menginap Harun Ar-Rasyid sunyi senyap. Ia pun lantas bertanya kepada salah seorang penjaganya, "kemana perginya penduduk daerah ini?" "Mereka semuanya berkumpul di masjid," jawab penjaga singkat. "Ada apa di sana," tanya khalifah penasaran. "seorang alim yang terkenal, Abdullah bin Mubarak, yang datang dari Khurasan sedang memberi ceramah dan petuah-petuah agama."

Karena begitu penasarannya, Khalifah segera menuju masjid tersebut. Dengan mata kepala sendiri, ia melihat begaimana orang-orang rela berdesakan dan berjubel, dengan khusu dan khidmat mendengarakan kalimat-kalimat yang menyejukkan hati dari mulut seorang yang mulia dan berwibawa.

Khalifah pun dibuat terpekur dan tertunduk. "Demi Allah! Dialah raja yang sebenarnya, rakyat mendatanginya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan hati. Tidak seperti Harun, para pejabat datang kepadanya karena mengharap jabatan dan kekayaan," gumannya dalam hati.

Ibnu Ahmad-OASE-KHAZANAH-Sabili No.2 TH.IX hal.32

Senin, 08 Juni 2026

Konsep Diri

Beberapa hari yang lalu teman mengajar bercerita tentang seorang tetangga yang kedapatan menggantung lehernya pada seutas tali di batang pohon durian.

Ia juga memperlihatkan detik-detik menurunkan mayat yang terbujur kaku, orang-orang yang mengenalnya terlihat kesulitan melepas tali yang melilit disekitar lehernya. Mereka tampak kaget tak mengira orang yang dikenal pasrah pada sesuatu yang seharusnya bisa dihindari.

Betapapun peliknya sebuah masalah akan ada ujungnya,tak ada satupun masalah di dunia ini yang kekal, masalah ada batasannya, selagi masih ada tenaga untuk mencari celah solusi. Bunuh diri bukan "satu-satunya" cara untuk mengakhiri peliknya masalah. Justru sedang memperlihatkan konsep diri yang paling buruk dalam menghadapi masalah.

Ada banyak cara untuk keluar dari masalah. pertama, bercerita, petakan masalah, ketiga serahkan pada Tuhan. Memahami bahwa tidak ada yang terjadi di dunia, melainkan ada yang berkehendak membuat manusia tidak lekas putus asa. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dan memohon kekuatan pada Tuhan yang maha esa. Kunci semacam itu menjadikan tetap mawas diri, tidak lekas terpuruk, dan ada banyak pundak untuk dijadikan sandaran. 

Selasa, 28 April 2026

Aku Sesuaikan Persangkaan Hamba-Ku

Rasulullah SAW bersabda bahwasanya:

Allah SWT berfirman: Aku sesuaikan persangkaan hambaku padaku dan senantiasa mengawasinya. Jika ia menyebutku ditengah keramaian aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik dari keramaian tersebut. Jika ia menyebutku dalam dirinya, aku akan menyebutnya dalam diri-ku. Dan jika ia mendekatiku sejengkal, aku akan mendekatinya sehasta. Dan jika ia mendekatiku sehasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan Jika ia mendatangiku sambil berjalan, aku mendatanginya sambil berlari. Hadits Riwayat Muslim

Lembar pertama sebagai cover buku.

Kamis, 04 September 2025

TUGAS FIKSI

ia mengemban tugs selayaknya para pejabat

lurah, petani, calo karcis, juga guru 

layaknya mata pisau yang mengiris bawah putih bawah merah juga cabai

ia membangunkan kesadaran para pembaca yang tulus tekun lagi tanpa ria


Ia menyalakan api tekad yang telah lama mati

meski mati yang sunyi lagi sepi


ia memang tidak seperti kitab suci yang turunnya dari tempat suci

ia datang untuk menghidupkan harapan dasar manusia


bergerak, bertumpu, juga bermimpi

tugas fiksi ia memeluk mimpi sekaligus mencari

dimana sebenarnya fiksi

ia hadir untuk tidak sekadar memantik kesadaran


ia hadir untuk menyela di saat hiruk pikuk aliansi

ia hadir menyemai arus kesadaran

meski tertatih dan terbuai luka

ia hidup sekaligus mati

Yang Tersembunyi dari Sebuah Pandangan

Siapa yang menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan Allah, maka allah akan mengaruniakan hikmah pada lisannya, yang dengan itu ia memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mendengarkanNya. siapa yang menundukkan pandangan dari syubhat, maka Allah akan menempatkan cahaya dalam hatinya. Cahaya yang menerangi menunjukkan keridhaanNya. (Abul Husein Al Warraq, jurnal buku saku pribadi, 2008)

Akses terbesar dari hati manusia pada dunia luar adalah melalui pandangan mata. maka kondisi yang ada didalam sangat tergantung pada apa yng dikonsumsi melalui mata. Apakah ketaatan atau kemaksiatan. Celakanya syaitan akan selalu mempunyai rencana-rencana keji bersamaan dengan setiap pandangan mata yang diarahkan seseorang. ( Salim A. Fillah, Jurnal Buku Saku Pribadi, 2008)

Senin, 01 September 2025

Orang-Orang Atas

Sekembalinya dari pertarungan. We, menemukan dirinya dalam keadaan diam tak bergerak. Tetapi ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh orang-orang atas, sangat lantang suaranya tetapi tidak memekakakkan telinga. Kain yang membekukan dirinya terasa lebih hangat, setelah beberapa jam lalu ia masih diliputi oleh kesakitan. Darah merembes dari tulang patah. Sejumlah karet keras yang telah dilapisi oleh teknologi canggih, juga sebongkah mesin dan sebentuk perlangkapan pilih tanding telah mengirimkannya kedalam tanah. Saat untuk terakhir kalinya matanya menatap seonggok pesanan yang belum sempat diantarkan. Semuanya berjalan begitu cepat, secepat dulu ia berlari mengindari kejaran mandor tebu yang kehilangan beberapa bilah tebu berkualitas ajib. Tanpa sempat berpamit pada orang-orang terdekat, rupanya seri kehidupannya telah tamat, seperti dalam 'gambaran' sewaktu ia kecil, lengkap dengan ceriat sampai 36 cerita. Orang-orang atas meneriakinya agar ia tetap kuat, tubuhhnya terasa lebih ringan. Ia tak mengira kalau orang-orang atas begitu mencintainya, kupikir mereka hanya memperdulikan diri mereka sendiri, tanpa mau untuk berterus terang."Nak bangun!" begitu teriak seorang Ibu yang kemarin tengah memperlihatkan aksinya dengan gagang sapu berbobot lima ratus gram. Citra Ibu tengah meledak ditingkahi hujan yang semakin sering. Membuat perih luka-luka lecet karena desakan yang tak lagi stabil.

Tubuhku terasa makin ringan ketika sekelompok pemuda yang kuyakini sebagai orang-orang atas tengah menggotongku dengan cekatan dan tenaganya kuat sekali. Aku saja hampir tak pernah membawa beban, kecuali beberapa kilo saja untuk mempertahankan masa otot agar tak menggelambir nanti di usia senja. Kata seorang petarung manusia bumi tak mengalami prima untuk yang kedua kalinya. Setelah itu tinggal masa senja yang tampak melelahkan untuk dijalani. Semuanya perlu dijalani sebagai manusia seutuhnya, orang-orang atas yang sibuk untuk dirinya sendiri (minimal), kini mereka bersatu pada untuk menggunakan logikanya menaruh sebongkah impian untuk negera tercintanya.

Aku tak bisa lagi mememdam luka. Rasa sakit yang kuderita semakin lama semakin mengendur. Pandangan yang semakin gelap seiring nafasku yang terakhir. Setalah pandangan terakhir, pandangan lain muncul, warnanya lebih terang, makin hangat, dan ada banyak pemandangan yang membuatku betah. Meski orang-orang atas mulai menerikku agar lebih lama bertahan dalam luka. Aku tidak memerdulikan teriakan mereka. Aku sudah mantap di sini, melihat dari dekat apa yang pernah diimpikan oleh orang-orang atas, dan diceritakan sangat sering oleh para pemuka agama.

Aku tak lagi bisa menjawab omongan kedua orangtuaku yang sedari tadi terus melelehkan air mata lewat kedua matanya. Ibu tak berbicara setelah tandu itu membuatku lebih gembira. Mungkin telah habis air matanya. Sementara ayah, aku ingin memeluknya tetapi aku sudah berjanji agar tak kembali, pada pemilik-Nya akau sudah melihat yang dijanjikan. Dan ayah kelihatan sangat terpukul, sekali lagi aku ingin memeluknya, tetapi keindahan itu telah menawanku hingga langkahku terus maju.

Pada detik-detik terakhir orang-orang atas bergerombol mengantarkanku pada tempat terakhir. Dimana mereka tak ingin ikut masuk kedalam meski mereka kenal dan dekat denganku, itu tidak mengapa. Mereka masih perlu meneruskan misinya, sementara misi telah selesai dan aku sudah mendapatkan apa yang ingin dilihat oleh mereka. Satu persatu orang-orang atas mulai meninggalkan. Aku takut setelah mereka pergi, dan orang terakhir pun telah pergi datang sesosok yang sering diceritakan oleh guru ngaji sebagai mahluk galak lagi bengis. Yang kutakutkan tidaklah terjadi aku justru bisa mengobrol dengan mereka sambil sesekali melihat sungai-sungai yang lagi menawaan. Belum pernah aku melihat pemandangan seperti ini. Kuharap ini surga pembuka sebelum kehidupan surga setelahnya. Sampai detik ini orang-orang atas tak pernah lagi menoleh kebelakang, bahkan salah satu dari orang-orang atas bisa kembali tertawa dan makan dengan lahap, siap untuk menapaki kehidupan berikutnya.

Rabu, 27 Agustus 2025

Cinta Yang Tersembunyi di Perpustakaan

Satu sore di sekolah SMP Bina Mulia, tepatnya di kantin, ada segerombolan laki-laki menghampiri seorang siswi yang Bernama Naomi.

“Vel, itu kan cewek yang lu suka kan, (wkwk). Kata temannya.

“Halo Naomi”. Ucap salah seorang temannya.

“Apaan sih, nggak jelas banget lu!, orang guwe nggak suka sama cewek itu”. Lugas Marvel memberi reaksi, kata-katanya terdengar jelas di telinga Naomi.

Matanya panas oleh kata-kata Marvel. Naomi tetap membalas sapaan itu dengan senyuman, meski senyuman palsu. Kebetulan Naomi itu menyukai Marvel. Karena mendengar kata-kata menyakitkan yang diucapkan oleh orang yang dia sukai.

Sejak saat itu kesukaan Naomi adalah menyendiri dan pergi ke perpustakaan untuk menenangkan hatinya.

Di perpustakaan, Naomi membaca buku novel favoritnya yang berjudul “Aku, kamu, dan perpustakaan”. Selang beberapa menit Naomi sedang asyik membaca punggungnya memberi jawaban kalau ada seseorang yang menghampirinya.

“Maaf ya Naomi,” Suara itu di kenalnya. Naomi menengok ke sebelah kanan, dan ternyata laki-laki itu adalah Marvel, laki-laki yang dia sukai itu meminta maaf atas apa yang dia lakukan tadi di kantin. Naomi tiba-tiba saja menunduk menatap barisan huruf, sesuatu yang jarang terjadi.

“Sebenarnya aku juga sama kamu Nao, tapi aku gengsi dengan teman-teman ku” ucapnya datar ditingkahi dengan tangannya menarik-narik ujung bajunya sendiri. Sontak Naomi terkejut dan membeku selama beberapa menit.

“Mimpi aja lo! Nggak Level.” Ucap Naomi lantang. Menjadi pusat perhatian pengunjung perpustakaan.

Marvel menangis keras dan guling-guling di perpustakaan.

Arsenal

Naya adalah seorang anak yang tinggal berdua dengan ayahnya. Ibu Naya pergi meninggalkan Naya setelah melahirkan Naya. Semenjak kepergian ibu, ayah bekerja dengan giat mulai dari pagi hari hingga larut malam, hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang di inginkan oleh Naya.

Pagi hari, ayah Naya sudah berangkat pergi bekerja. Namun saat Naya bangun, Ia mendapati sarapan dan bekal yang sudah di siapkan oleh ayahnya sebelum ayahnya berangkat bekerja. Setelah sarapan dan memasukan bekalnya ke dalam Tas, Naya segera berangkat pergi kesekolah.

Setibanya di sekolah, Naya bertemu dengan Zala. Zala adalah salah satu teman Naya yang dekat dengan Naya. Zala adalah seorang anak yang sangat popular disekolah dan terkenal, karena Ia memiliki ayah yang menjadi kepala sekolah disitu, Zala juga dikenal dengan anak yang kaya raya. Zala sering menggunakan barang baru yang sangat bagus, dan mewah. Seperti hari ini misalnya, Zala menggunakan Tas baru dengan warna merah muda yang cantik dan anggun, Ia terlihat sangat indah dengan tas merah mudanya.

“Kamu terlihat cantik dengan Tas merah muda mu itu” puji naya. Dalam hatinya Naya juga sangat menginginkan Tas cantik seperti yang Zala gunakan. “Terima kasih, Naya. Ayahku baru membelikannya di Jepang, ini adalah Tas dengan merk terkenal di jepang” sahut Zala.

“Wah, kamu sangat beruntung, kalau aku tidak mungkin bisa membelinya, karena harganya pasti sangat mahal” timpal teman yang lain.

Pulang sekolah, Naya mendapati ayahnya yang sedang duduk dan menonton tv di ruang tengah. Naya pun berjalan menuju kamarnya, tidak peduli dengan keberadaan ayahnya yang sedang menonton TV.

“Eh anak Ayah udah pulang, gimana tadi sekolahnya?” Tanya Ayah

“Apa sih, ga usah sok peduli sama aku” sahut Naya dengan nada yang lumayan tinggi

Ayah merasa hatinya sangat sakit setelah mendengar jawaban yang disampaikan oleh anak perempuannya yang Ia sayangi.

“Nak,” gumam ayah dengan mata berkaca-kaca ingin menangis

Ayahpun menghampiri Naya dan mengajaknya makan malam bersama diluar. Kelihatan Ayah sedang mempunyai uang lebih karena mendapatkan bonus dari bosnya di kantor.

“Ap sih, nggak usah! Berisik!, ganggu tau gak!” sahut Naya dari dalam kamar dengan nada yang tinggi

Ayah terkejut dengan jawabannya. Ayah memberanikan diri untuk memanggil Naya sekali lagi.

“Naya coba keluar dulu sebentar, ayah ingin bicara,” panggilnya lembut

“Apa!” sahut Naya kesal

“Ayah tadi dapet rezeki? kita pergi makan malem keluar yuk?” ajak Ayah kepada Naya

“Ya sudah iya!” Naya keluar sambil membanting pintu kuat-kuat.

Mereka pun bersiap siap untuk pergi makan malam keluar.

Saat sampai di restoran dan sudah ingin makan. Ayah mengecek handphone nya terlebih dahulu sambil menunggu pesanan datang. Ayah pamit untuk ke kamar mandi. Sebuah pesan singkat melalui WA muncul di layar. Tangan Naya begitu saja meraih dan membukanya. Mumpung Ayah lagi di kamar mandi, pikirnya. DOKTER ARLAN: Putrimu Arsenal, setelah saya cek lagi, kankernya sudah masuk stadium 4.”

Mataku langsung gelap, tubuhku terasa ringan. “Bertahanlah Nak, kamu akan baik-baik saja.” Itu suara ayah tetapi kenapa kecil sekali.

BIONARASI

Alin, adalah nama pena dari Alzena Badzlin, lahir Tangerang Selatan. Saya duduk di bangku SMP kelas 7, sehari-hari Alin mengabdikan diri sebagai siswa kelas 7 di SMP Permata Madani Islamic School. Salah satu hobi Alin adalah menyanyi dan membaca buku.

Jumat, 15 Agustus 2025

Adik Yang Aku Tunggu

Hana duduk di teras rumah menikmati sarapan. Ditemani kicau burung-burung yang bersemangat saling menyapa. Sementara Zara kakaknya, lebih suka duduk di ruang makan. Usia mereka hanya terpaut satu tahun. Hana yang tahun ini genap berusia 11 tahun, sementara kakaknya nanti di bulan Agustus tahun depan genap berusia 12 tahun.

Mereka berdua berpamitan berangkat ke sekolah. Ibunya mengantar sampai halaman. Perutnya yang buncit, wajahnya agak pucat.

“Kak, Ibu sendiri tidak apa ditinggal sendiri?.” Tanya Hana.

“Khawatir sih, tetapi kamu tahu, sifat Ibu bagaimana?” jawab Zara.

Mereka berdua naik angkot. Angkot biru yang biasa mereka naiki menuju sekolah.

***

Pulang sekolah mereka berdua bergegas untuk langsung pulang saja, tanpa bermain sebentar dengan teman-teman seperti biasa. Teriakan dari teman-temannya mereka tak gubris, ketika angkot biru berhenti di depannya.

Sampai di rumah mereka mendapati bundanya di kamar dalam keadaan yang lemas.

"Bunda tidak apa apa?" tanya Hana

"Tidak apa-apa,” jawab Bunda

Ada sedikit kelegaan di wajah mereka. Hana dan Zara pun masuk ke kamar dan berganti baju. Setelah berganti baju mereka makan siang, tanpa celoteh riang seperti yang sering mereka lakukan. Dari dari dalam dapur bundanya sering berteriak untuk tertib ketika makan.

Sampai senja bunda belum beranjak dari kamar. Ia hanya tidur-tiduran, dan sesekali minta bantuan.

“Pucet banget bun,” pekin Hana ketika ia masuk ke kamar bundanya.

“Kau telpon paman, suruh ia kesini?” Pinta bundanya.

“Ayah kemana?” Tanya Zara.

“Sedang lembur di kantor, jangan kau telpon-telpon ya?” ucap Ibunya.

Zara mengangguk.

***

"Bunda gimana Paman?" tanya Zara

"Bundamu mengalami keguguran, sabar ya?” Jawab Paman.

Hana dan Zara terlihat terpukul sekali. Adik yang mereka tunggu-tunggu sudah tidak ada. Zara menghampiri bunda yang sedang terbaring di ranjang. memeluknya dan menangis.

Hana berdiri memberi jarak pada keduanya. Ia tak ingin melihat merekanya menangis. Keesokan harinya bunda sudah di bolehkan pulang ke rumah. Seringkali ia melintasi kamar yang sudah disiapkan oleh ayah untuk adiknya berdiri dan menutup wajahnya. Menahan tangis.

“Harusnya pagi ini aku sudah melihat adikku tertidur pulas,” ucapnya lirih.

Ibunya sempat menangkap wajahnya yang sembab. Ia cepat-cepat menghapus dan berjalan ke dapur untuk membantu Ibu memasak.

Oleh: Aulia Achya Fadhila Alumni SMPIT Permata Madani

Sabtu, 09 Agustus 2025

Mengobati Luka Pengasuhan

BABAK 96
Seorang guru sekali waktu pulang dari sekolah mengaduh kesakitan. Ada luka gigitan pada salah satu kakinya. Ia pergi ke UKS untuk mengobati lukanya. Petugas UKS merasa khawatir ada luka penyertanya, yaitu ada lebam dan kebiruan-biruan. Sang guru tak menceritakan detil ceritanya. Ia hanya meringis ketika petgas UKS mengusapnya dengan cairan khusus anti tetanus. "Apakah ini luka gigitan hewan?" tanyanya. Sang guru hanya menggeleng. "ini hanya luka biasa." jawabnya. Petugas itu membalut luka dan memberinya beberapa obat anti biotik. Guru itu keluar dari ruang UKS sambil menutupi wajahnya sekilar. Lalu tersenyum pada seorang anak yang sekarang bersama ibunya.

"Maaf saya harus memberi Ibu."

"Tak apa, aku berterima kasih. Bagaiman lukamu."

"Its OK, Everithing is OK."

"Saya minta maaf, saya akan..."

"Aku pikir, putra ibu tak perlu diberi hukuman yang terlalu keras, ini hanya kejadian yang sama sekali tidak terduga. Sebuah kecelakaan yang tiba-tiba terjadi, maaf saat ini aku tidak bisa berbicara dengan teratur, mungkin saya perlu istirahat saja."

"Anda tak perlu khawatir, saya akan "menghukumnya" dengan cara lain."

"Yah, itu lebih baik."

Esok paginya guru datang kembali ke sekolah. Jalannya sedikit pincang, murid-muridnya sudah di kursinya masing-masing. Ada ketegangan yang bisa dirasakan olehnya. "Good Morning, how are you today?" sapanya. Mata sang guru mencari seorang siswa dan matanya bertubrukan dan ia tersenyum. Ia berdiri dan berjalan ke arahnya. Lalu ia menyodorkan selembar kertas dan tiga tangkai bunga yang dipetiknya dipinggir jalan.

IAM SORRY, begitu isi kertasnya. Dan sang Ibu Guru memeluknya anak kecil yang baru beberapa hari duduk di bangku kelas satu. Adegan itu membuatnya mengucek mata lebih pagi di banding hari biasanya.

Ia merasa lega, Ibunya telah mengajarinya dengan baik. Bahwa hukuman bukan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah. Kadang penjelasan dan diskusi yang sederhana dapat menyelamatkan si kecil dari luka, karena mungkin bentakkan yang tak logis, dan sederet nasihat yang jatuhnya intimidasi.

Ketegasan kalau membawa luka mendidih yang berkepanjangan. Apalagi dengan minus pendampingan yang tidak efektif. Mungkin cocok bagi yang satu tetapi belum cocok untuk yang lain. Ketika ketegasan yang menitikberatkan pada kognitif terlalu ketat akan menghasilkan individu yang mudah terserang oleh rasa bosan, meskipun sifantnya kasuistis, tetapi itu sering terjadi.

Ketegasan memang diperlukan, jika memang itu dibutuhkan, khusus pada peraturan tertentu, tetapi ketika masuk dalam ranah pembelajaran wilayah ketegasan itu menjelma dalam bentuk yang lain misalnya, pola keteraturan yang terus diulang-ulang, dengan variabel yang bisa sangat beragam.

Contoh lain, penyeragaman dalam menghafal dan capaian hafalan itu sendiri merupakan bagian personal yang melibatkan unsur pengalaman sendiri, tentu saja dengan melibatkan semua unsur yang dalam tubuh seseorang.

Kamis, 31 Juli 2025

Imajinasi Penderitaan

  • Penderitaan kadang bermula dari imajinasi yang berlebihan. Penderitaan yang dimaksud disini adalah penderitaan hasil dari pikiran liar yang sulit dikendalikan. Ia bisa membayangkan segala jenis penindasan yang belum jadi kenyataan yang membuatnya selalu dalam keadaan cemas. Padahal kecemasan itu datang dirinya sendiri, tanpa pernah belajar berprasangka baik pada orang lain. mungkin niatnya baik, cuma caranya saja yang kurang tepat.

Rabu, 30 Juli 2025

Soal Kreatifitas

Ia sangat fleksibel, hingga membutuhkan wadah agar ia tetap bisa hidup sebagai kalian hidup. Supaya nanti ke fleksibelannya itu bisa dinikmati kapan saja dimana saja. Tanpa perlu mengulik lebih jauh membuat kita terus terjaga akan hadirnya nalar-nalar ide pada saat bersamaan.

Ia hinggap pada daun talas dan menaburinya dengan segenggam semangat dan tak perlu buru-buru untuk mengeksekusinya cepat-cepat. Meski itu sulit, tetapi menjaga asa adalah sebentuk cerita yang nantinya akan dihadirkan.

Karena ia mahluk yang amat cair meski ia butuh wadah solid, agar nantinya bisa ditulis dalam bentuk yang semestinya dan selayaknya. Meski itu butuh bakat story telle, meski juga tak selalu begitu.

Lamunan bisa menjadi penjagaan atas nama semua kreatifitas. Dan bisa membual semahir pencuri uang yang licin ditangan para penjaga keadilan. Itu semua bisa menjadi keterbakatan, dan keterkuasaan, dan jangan-jangan kita enggan melahirkan kreatifitas karena wadah itu sudah rusak sebelum digunakan.

Selasa, 29 Juli 2025

Tetap Menulis, Meski Dunia Membisu

Keberanian adalah pucuk-pucuk utama untuk terus menggulirkan bilur-bilur ide yang mengalir tanpa henti, meski waktu akan terus menggorogoti si pengarangnya. Keberanian menghasilkan isu-isu penyair-penyair lama dan baru untuk menghadirkan budaya lama dan mengangkatnya kembali dalam wajah baru, sebagai usaha untuk memproduksi gerak menimba khazanah lokal dan non lokal, sebagai cadangan untuk menghindari kemelut-kemelut tentang bagaimana mengatasi mood. Mood yang sering digunakan untuk menjadi pemebenaran untuk menahan gejolak untuk menuangkan satu gagasan menjadi satu karya yang mumpuni, meski tidak cemerlang.

Kata Martin Surya Jaya, menulis itu tidak sulit, yang dibutuhkan hanya kesunyian. Kesunyian menyimpan informasi-informasi penting tentang satu hal yang didapati dari beragam banyak buku, hingga ketika menungkan ada banyak sumber ide yang bertebaran, tinggal menangkap dan menyelesaikannya dalam bentuk tulisan. Kesunyian menghasilkan keseragaman cara pikir tentang bagaimana menerapkan satu catatan penting agar tidak hilang dimakan zaman. Keasikan menulis menghasilam kegandrungan lain, seperti mengamati manusia dari gerak yang paling sederhana misalnya bagaimana merespon ketika perutnya mules untuk BAB. Hal-hal seperti menjadikan kegiatan menulis terus berkembang, bertumbuh, sampai mencapai titik puncak kecemerlangan dengan sudut pandang tertentu. Kadang bagus tidaknya tulisan itu, tergantung seberapa besar sudut subjektifnya berlaku. Hal ini tidak bisa lepas dunia bacaan.

Menulis bisa menjadi cara pembaca dalam melihat dunia. Dunia yang dibayangkan sebagai perang, keharmonisan, bencana, sampai dunia menemukan dirinya dalam pembacaan yang diminatinya. Menulis sebagai kebutuhan ekspresi menjadikan kekuatan sekaligus keberanian untuk menentukan sejauh buku yang ditulis menjadi lebih terasa realistis. Meski ada slogan buku yang bagus adalah yang selesai, tetapi tidak sekadar selesai, didalamnya ada banyak bentuk penceritaan yang separasinya bisa beragam. Tidak monoton, bahkan kata Martin jangan sampai menjadi Diktat ataupun Dogma. Karena Novel bukan Dogma, tetapi dari sana bisa menghasilkan jutaan Dogma tanpa ribet-ribet untuk didaktik yang amat kaku.

Menulis bisa jadi hasil dorongan dari sekian banyak jenis buku, bisa menjadi wajib (dorongan diri sendiri bukan hasil paksaan). Karena banyaknya buku yang dibaca, sehingga dorongan untuk menulis menebal dan ada kebutuhan untuk menyalurkan hasil bacaan menjadi satu tulisan. Sebagai orang yang gandrung dengan bacaan, menulis bisa menjadi alternatif agar menulis menjadi salah satu sumber kreatifitas yang beralas pada kebutuhan berekspresi setiap orang, yang pada gilirannya dunia merespon atau tidak, itu bukan wilayah yang harus diperdebatkan. Karena menulis sebagai langkah awal mengikat makna agar tak hilang oleh waktu dan tutupnya usia.

Jumat, 25 Juli 2025

Tantangan dan Jawaban MQA

Tantangan dan Jawaban MQA

Edisi 25 Juli 2025

Guru

1. Kemampuan untuk menejemen kelas, hingga bisa mengatur dan membagi masing masing murid kedalam sitem waktu yang memungkinkan untuk mentalaqikan baris ustmani tanpa merasa ‘terbebani’ oleh durasi yang tersedia

2. Kecepatan untuk menganilisa murid dalam pembacan awal. Maksudnya seorang guru bisa menilai secara tepat pada sejak huruf pertama di baca.

3. Saling tukar informasi secara bersamaan dan pada saat berganti peran. Guru menilai bacaan murid, pada saat yang sama guru menjadi murid (mencoba menjadi murid dalam waktu yang cepat agar bisa menilisik isi pikiran murid terhadap kemampuannya sendiri) lalu kembali menjadi guru setelah si murid selesai membaca. Tetapi murid, cukup kesulitan dalam waktu yang bersamaan untuk menjadi guru dan membaca isi pikirannya. Kecuali mungkin pada pendidikan menengah keatas dan perguruan tinggi. Keduanya bisa berganti-ganti peran, dan bisa satu sama lain saling mengisi pikiran.

4. Menggunakan panduan mengajar sebagai cara pikir sebagai guru quran pada saat mengajar, atau sekadar diktat/dogma yang dibaca ketika kesulitan dari tiap halaman. Memperlakukannya sebagi teks semata tanpa repot-repot untuk meniti tiap halaman sebagai pandu jalan ia mendampingi anak per anak.

5. Tahu posisi dan memposisikan diri.

Siswa

Alif 6C kesulitan untuk menetapkan panjang pendek dalam durasi yang telah ditentukan oleh Ilmu Tajwid, Mad Jaiz, Tertukar huruf dan harokat Ghifari 6B, kesulitan untuk memahami konsep hamzah wahsol, dan juga mad

Hatim 6B, Kelancaran kalimat, konsep tasydid, dan huruf pilihan untuk mamahami huruf yang bertumpuk (Huruf Ja)

Jawaban dari siswa, belum siap untuk ujian, karena belum ada informasi sebelumnya, hingga ketiga siswa hari ini belum siap secara psikologi. Ini cukup menganggu kefokusasn mereka saat ujian.

Informasi cukup tentang persiapan materi, dan hari apa akan diuji kemampuan mereka, menambah kepercayaan diri mereka untuk bertemu dengan yanda atau bunda untuk melakukan test bacaan.

Pertanyaan dari para murid, bukan ada halaman yang perlu diperbaiki nggak yan?, atau yang semisal. Tetapi kebanyakan dari peserta ujian, “Lulus nggak Yan?” sebagai bentuk pernyataan mereka sudah ujian dan layak lulus. Sekilas wajar, tetapi cara mereka berbahasa adalah cerminan mereka belum siap 100 persen ujian.

Gerald 6E, Konsep dengung agar pembacaa stabil pada tiap kalimat dalam halaman buku ustmani

Arsyad 6E, Konsep mad turunan seperti mad jaiz dan mad wajib, konsep dengung hingga lebih stabil.

SASTRA SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER

1. Bahwa cerita sebuah peristiwa yang mendatangkan ketenangan sekaligus kegelisahan pada waktu yang sama. Ia layak mendapatkan tempat tertinggi dalam sebuah rangkian bernama pendidikan. Apakah ketika sudah berada dalam puncak popularitas sebagai baju (pendidikan) lalu berhenti alias terpaku tak lagi tertarik melakukan pemikiran mendalam atas sebuah metode, pendampingan, penyelesaian konflik, dan seterusnya.

2. Sastra sebagai perangai pikir dari beragam gejala yang muncul sewaktu-waktu, tetapi bisa dipastikan sebagai cara yang metodik dan bisa dijadikan ajang peretas pikir yang bermanfaat sekaligus penawaran tak gagal nalar (dungu).

3. Satra adalah seperangkat metode untuk membedah sekaligus mengunakannya sebagai cara pandag terhadap sesuatu. Juga sebagai pagar agar kedunguanya tak berlarut.

4. Penghargaan terhadapi ilmu, maka kau akan bermartabat...

5. Dan seterusnya...

Kamis, 24 Juli 2025

"Therapy"

BABAK 95
Saat hujan turun deras. Ayah masih memelototi buku yang baru saja di beli lewat toko maya. Kadang ayah juga berkendara sejauh 3 kilo meter untuk membeli buku di loakan. Katanya buku-buku diloakan membuatanya nyaman, kalau ayah pusing ia akan pulang telat, biasanya sampai rumah ketika azan maghrib berkumandang. Kalau kondisi lagi teratur si kecil lagi nyaman dengan ibunya. Ayah akan mengajak adikku yang nomor 3, Qeis Nurmagomedov. Kalau tidak diajak, Qeis akan ngambek, suasana rumah bisa kacau karena tangisan minta nyusul ayah ke Masjid belakang rumah. Selesai sholat ayah akan menggendong adikku yang nomor 4, dia baru berusia 8 bulan. Adikku yang nomor 4 ini, sedang berjuang. Di banding dengan kedua kakaknya yang lahir utuh. Qoqo Nurmagomedov, Allah beri hadiah yaitu lahir tak punya anus. Aku sempat kasihan ngliat ayah dan bunda yang terpukul sekali, tetapi mereka tampak kuat dan menerima Qoqo dengan lapang dada. "Ini rezeki dari Allah, dan tak perlu menyalahkan siapa-siapa," begitu ucapan ayah ketika tengah malam. Aku pura-pura tidur, agar ayah bunda tenang dalam ngobrol. Aku lebih senang mereka ngobrol daripada diskusi nggak jelas, lalu berujung berantem.

Ayah dan Bunda masih berantem, tetapi berantem mereka agak lucu, cepat meledak, cepat juganya reda. Bila sedang berantem aku agak khawatir, takut ayah nggak bisa kontrol. Syukur Alhamdulillah aku belum pernah melihat ayah pukul bunda, jangan sampai. Justru aku sering ribut sama ayah, kadang ayah main "fisik" tetapi masih terkontrol. Ayah tak pernah menyubit. Tendangannya sangat jika mendarat di pantat. Ayah sudah mengukurnya. Aku sudah kelewat batan. Mengganggu saat solat. Emang aku yang salah juga. Kalau ayah sudah main "fisik biasanya aku sudah melampuai batas. main "fisik" aku yakin ayah masih ngukur-ngukur, kalau nggak pasti berabe. Ayah dulun dari SMP sampai sekarang punya anak 4, masih latihan beladiri. Apalagi waktuku kecil, sering kutemui ayah sedang nonton MMA hampir tiap hari, jadi lebih ngeri lagi. Di tambah kedua adikku diberi nama belakang Nurmagomedov, satu nama petarung dari Rusia-desa Dagestan. Membuatku senang sekaligus cemas, kalau lagi marah ayah mengerikan. Sejauh ini ayah lebih sering berdebat di banding main "fisik". Itu melegakan buatku. Aku sebenarnya kasihan kalau ayah marah, ia kelihatan sedih banget ketika setelah marah-marah, nafsu makannya turun dan langsung tidur biasanya. Beberapa hari kemudian pasti mengeluhkan sakit badannya. Kejadian main "fisik" itu bisa dihitung, setahun bisa dua atau tiga, tidak tiap hari. Lagi-lagi kalau aku sudah melampaui batas. Bila tak menghadap selepas mahgrib untuk mengaji, main game kelamaan, tidak bantu bunda, sholatnya ditunda-tunda. Pernah ayah marah-marah sambil berucap. "Itu semua buat kamu, bukan buat ayah, ayah nanti tua dan nggak bisa berbuat banyak. Kamu harus lebih bertanggung jawab dong!"

Paling 'senang' kalau ayah pergi beberapa hari untuk pendampingan murid kemah. "Jaga rumah, bantu ibu, kalau ada orang ketuk pintu, lihat dulu dari jendela, jaga adik-adikmu!" Aku menjawabnya sambil cengengesan dan pegang HP, mobile legend yang sedang kumainkan. Ayah melirik saja. "Jangan lupa solat, ayah berangkat?" begitu katanya. Lalu ceremonial peluk-peluk dengan bunda dan ketiga adikku. Qeis biasanya akan mengantar sampai gerbang garasi rumah. Adikku yang ketiga memang agak lain, lebih intim, mungkin ayahku sudah lebih siap ketika ada Qeis dan Qoqo. Aku dan QQ kebagian pendidikan semi militer, mungkin untuk jaga-jaga. karena Adikku masih kecil.

Kemudian selain beladiri ayah hobi koleksi buku-buku kesayangannya. Jika waktu senggang ayah akan ngelap-ngelap buku dari debu. Biasanya buku yang sudah dibaca akan ditata lebih rapi, yang belum dibaca akan diletakkan di rak paling atas. Makin ayah suka dengan buku itu, makin sering bolak-balik mengambil buku. Entah itu sedang makan, gendong Qoqo, atau lagi mules di kamar mandi. Di kamar mandi ayah lebih suka membawa buku untuk dibacanya. Aku kadang heran, bunda saja nutup hidung kalau lagi BAB, kalau ayah malah betah untuk membaca dua atau tiga halaman. Pernah adikku QQ mendapati Novel Ayah yang baru di beli-24 Jam bersama Gaspar kehujanan. Sepulang mengajar wajahnya sedih sekali tetapi lucu. Tangannya menerima buku dan langsung di jemur sebentar. Malamnya novel itu di kipasi 24 jam sampai novel itu benar-benar kering tiap halamannya.

"Apa enahknya sih membaca yah? kataku ketika suasana sedang enak.

"Senang aja, kayak kamu main hujan. Kalau kamu main ujan senang nggak?"

"Seneng."

Ketika hujan deras dan tak ada petir ayah sering mengizinkan aku dan QQ untuk main hujan, ia pernah juga main hujan. Rasanya nyaman banget. Semua beban lepas, seperti sekolah nggak ada PR. Enteng dan santai. Mungkin ayah nggak larang aku dan QQ main hujan karena ia tahu betapa asiknya main, hujan deras nan lebat membuatku tetap kuat. Aku seperti minum vitamin banyak. Kalau soal batukku, kayaknya aku kurang istirahat dan selalu minum dingin. Belakangan tiap malam jika ayah tak lupa, ia akan memberiku sesendok madu untuk memulihkan tenaga dan mengurangi batuk. Kalau ayah dengan buku, aku lebih suka dengan hujan, dan juga main game. Ayah 'nggak pernah' main game, mungkin sesekali saja. Lebih banyak bantu bunda dan masak. Buku, bikinin masakan, jaga anak, bantu bunda, ngajar, cari ilmu adalah kesukaan ayah yang membuatnya terus tampak kuat dan sehat. Kata orang pinter itu namanya therapi. Ayah hanya sesekali sakit itu pun hanya flu saja. Nggak lama. Sehari-harinya ayah masih menyempatkan olahraga, biasanya kulihat ada barbel besar, pushup, situp, dan kadang-kadang main bola.

#Diary Ayah 13#

Keberanian Kreatif

BABAK 94
Seorang guru apapun alasannya ketika mengajar, di kantongnya sudah ada gudang ide untuk ia pakai ketika ingin pembelajaran sesuai yang di inginkan. Entah itu idenya bisa berjalan baik atau tidak, yang jelas ide itu bisa membersamai kegiatannya dan bisa mendukung tercapainya rencana pembelajaran. Kreatifitas itu seperti jet tempur yang bisa melesat melampaui rencana pembelajaran, karena yang namanya rencana kadang bisa dilaksanakan kadang tidak, itu sangat situasional. Tetapi jangan juga menggampang rencana pembelajaran, karena ia bisa jadi semacam petunjuk untuk sebuah pelakasanaan pembelajaran. Memungkinkan semua rencana dapat berjalan maksimal, meski ada saja yang terlewat, setidaknya rencana pembelajaran membuat terencana sebuah kegiatan.

Ketika kreatifitas dibendung karena terlalu ketat dalam rencana pembelajaran, yang terjadi bisa saja terpendamnya kemampuan siswa dalam mengeksplor sebuah kegiatan. Ia tidak mendapatkan kunci gembok imajinasi, karena terlalu kaku dengan pijakan dari gurunya agar ini dan itu. Maka dari itu guru memperoleh wisdom untuk mendobrak keraguan siswa terhadap suatu hal yang menunjang kemandirian dalam satu pelajaran. Memunculkan sikap berani untuk berkreasi seperti menipun balon raksasa dengan impian kecil-impian kecil di ruang kelas. Balon raksas sebagai pilar kemandirian, anggap saja begitu, akan menampung jutaan udara berisi keberanian-kebaranian untuk berkreasi.

Adegan pembuka dalam film Vanilla Sky (2001), yang dibintangi oleh Tom Cruise dianggap sebagai sebagai salah satu yang paling menakjubkan dalam sejarah sinema modern, sekaligus salah satu yang paling mahal dalam setiap detik pengambilan gambarnya, fokusnya pada adegan pembuka saja ya. Yang saya temukan dalam IG milik wissenlab yang diakses hari ini untuk kebutuhan penulisan. Di sana ada pengorban untuk melahirkan sejuta kreatif yang memungkinkan film bisa jadi epik sepanjang masa. Karena bisa memperlihatkan 20 Blok di jantung New York dalam keadaan kosong mlompong kayak kota mati. Meski harus mengeluarkan 1 juta USD untuk biaya logistiknya. Ini menandakan ada keberanian luar biasa dari tim film, tentu saja dengan perencaan yang super detil. Keberanian kreatif ditunjukkan oleh semua kru dengan lanskap tugas-tugasnya, hingga yang lahir kemudian sebuah pekerjaan sinema yang mempertunjukkan sebuah craftsmanship luar biasa. Sebagai pendidik layak untuk menarik kesimpulan dari sebuah pekerjaan besar, yang diniatkan untuk mengampil gagasan besar yang tumbuh (insight) untuk kemudian di perbaharui menjadi satu lesson plan yang mendekati sempurna. (dalam hal ini saya pun masih babak belur ketika membuat lesson plan, setidaknya ini menjadi alas untuk selalu dalam mentalitas pejuang-pendidik yang dibarengi keberanian kreatif)

Ada banyak cara menuju Mekkah, ada banyak cara juga dalam mendidik yang bisa diamalkan melalui sejuta keberanian untuk selalu memperbaharui caranya mengajar dan tak berhenti untuk membuka wawasan pedagogik dan turunannya, agar nanti muncul satu peradaban yang mendulang kreatifitas tanpa perlu melacurkan keyakinan dan tetap cinta dengan Tuhan-Nya sebagai goals terbaiknya. Tanpa merasa diawasi oleh Tuhan seringkali kreatifitas akan mencapai pamor puncak dengan menerabas semua jenis norma. Bukan bermaksud untuk membatasi hak, tetapi sekadar untuk mengingatkan ada banyak jembatan penyebrangan yang bisa dipakai tanpa perlu merusak tiang-tiangnya. Ada banyak gagasan yang bisa diamalkan tanpa perlu susah payah untuk jadi firaun berikutnya. Tidak juga rigid dan menafikan semua jenis kreatifitas, sepanjang siswa/i bisa bertumbuh, maka disitu ada potensi untuk mengembangkan imajinasi, dan siswa dapat menikmati semua momen kreatifitas tanpa kehilangan telos di setiap jejak kreatifnya.

Rabu, 23 Juli 2025

Ketika Pembaca dan Pendidik Saling Jatuh Cinta

BABAK 93
Pembaca buku ketika membaca halaman demi halaman, ia melepas sejenak kediriannya untuk masuk kedalam si tokoh yang dalam buku itu, jika buku yang dibaca adalah bukan fiksi, maka ia sedang memasuki cara pikir penulisnya, mencoba untuk mendeteksi arah pikirannya. Ia tahu betul bagaimana memperlakukan buku yang sedang ia baca tanpa perlu repot-repot untuk menutupnya lebih cepat. Lalu melemparkannya diatas sofa tanpa pernah memikirkan bagaimana penelitian dan lamanya penulis menuntaskan bukunya. Ia mencintai bukunya untuk masa depannya sendiri, bagaimana melatih untuk terbuka pada pemikiran lain, tanpa perlu untuk menelan mentah-mentah semua pemikirannya, semuanya bisa diwakili oleh caranya sendiri merespon buku yang sedang dibacanya. Pendekatan membaca dengan meninggalkan kedirian seperti itu menimbulkan efek untuk bisa memberi jeda pada diri sendiri, menyerap maksud dari kalimat yang dibacanya, dan peka terhadap maksud-maksud penulis. Ia mampu menerka apa isi kepala seorang penulis tanpa perlu menagihnya terang-terangan. Semuanya bisa dilatih, seperti asalnya membaca buku adalah bentuk ketrampilan yang dimiliki oleh semua orang. Membacanya saja butuh waktu untuk menelaah setiap maksudnya, apalagi untuk mengerti bagaimana harus memperlakukan setiap kalimat yang telah disusunnya susah payah. Semuanya membutuhkan ketekunan di atas rata-rata.

Seorang pembaca sedang mewariskan ilmu telepati yang didapatinya dari seorang penulis. Ia mendapatkan dari duduk-duduk berjam-jam sambil menelusuri setiap jejak pikirannya, kemana maksud kalimat itu, bagaimana mengira dimana memasang jebakan, bom waktu, isian kaldu, isian kebab, juga segudang ide yang digelontorkan tanpa tedeng aling-aling. Semuanya membuat penginderaan semakin lengkap dan makjleb ketika menemukan satu bahkan lebih dari maksud-maksud penulis. Sebagai pembaca sepatutnya berterimakasih kepada penulis yang telah rela menghabiskan (menuliskan) satu buku dalam waktu yang tidak singkat, mereka harus berbagi peran dan terus membakar diri dengan bacaan lain-sebab penulis pun harus terus membaca karya orang lain, jika tidak ia akan kehilangan sumber, dan mulai terjebak pada narsis berlebihan tentang kemampuan diri dan seterunya. Mereka para penulis lebih suka membaca banyak-banyak buku, mungkin yang dibutuhkan hanya tiga sampai empat paragraf dalam buku yang akan dirampungkannya. Detail adalah hal lain, jika kita ingin menjadi pembaca 'lain' yang tidak hanya sekadar untuk menampilkan diri sebagai pembaca, tetapi juga sebagai penafsir dari sekian juta kata dari masing-masing bacaan. Penafsir dimaksudkan untuk mengetahui seberapa dalam pemikiran pembaca, bukan untuk terus menangis seberapa dalam penulis menuangkan ide, gagasan, dalam bentuk kata. Melainkan untuk mencoba memahami seberapa besar pembaca tak perlu repot-repot untuk mempertanyakan ulang tentang ide atau maksud tersebut. Sebagai pembaca tahu diri akan memposisikan diri sebagai pengeluh atau sebagai seorang pendaki kata yang akan menaklukan setiap puncak kalimat dan buku sekaligus.

Pada intinya setiap dari kita memerlukan kecerdasan untuk memaknai dari setiap kejadian yang sudah ada atau belum ada. Sebagai pembaca, perlu memisahkan diri dari keengganan untuk mengakui karya orang lain memang ciamik, memang yahud, memang bombastis, memang 'killer' agar nantinya apa yang persiapkan bisa jadi katro buat orang, bisa jadi dungu, bisa jadi lawas, dan seterunya. Hingga pada ujung pembacaan yang terus menerus akan menemukan dirinya sebagai humble reader yang bisa memasung sejuta makna ulang dari tiap buku yang dikunyah nya pelan-pelan sampai terasa lembut dan menyenangkan. Ada kegembiraan besar ketika bacaan itu terus melekat dalam ingatan dan berujung pada kemandirian untuk bertransformasi menjadi 'kutukan' perbaikan diri terus menerus. Sampai pada level guru itu terus mencari metode mendidik (pedagogik) dan terus memperbaharui ilmu kependidikan (pedagogi), serta tak berhenti untuk terus mencari pendekatan dalam mendidik untuk semua murid tercinta (pedagogis).

Pada wilayah lain, seorang pendidik cara kerjanya persis yang dikerjakan oleh pembaca. Pembaca menangguhkan diri sejenak dari keakuannya, sementara Pendidik terus meninggalkan diri dari keegoisannya merasa cukup dengan ilmu yang ada. Ia terus mendatangi (studi banding) kepada sekolah-sekolah yang terus bertumbuh dan mencitrakan diri sebagai sekolah yang terus mengedepankan pada peda pendampingan luwes sebagai Muhammad mendidik para sahabatnya. Pendidik akan terus menanggalkan sejenak ketika berkunjung ke sekolah lain, ia meniggalkan sejenak peran sebelumnya (di sekolah) untuk menjadi peran lain agar atmosfir guru yang diobservasi dapat dipindahkan ke dalam dirinya, lalu diterapkan kepada murid-muridnya dengan keluwesan tertentu. Ia meninggalkan kedirian sebagai guru berkunjung ke sekolah lain, dan memakai mode guru yang sedang dikunjungi hingga ia tak lagi terjebak pada merasa pintar saja tak cukup. Ternyata ada banyak tangga yang bisa dilaluinya, tanpa pernah lelah untuk mengejar ketertinggalan, meski usia tak muda lagi.

Pada titik ini keduanya saling menjaga untuk menjalankan misi peradaban dan keberlangsungan pendidikan sepanjang hayat, dan ada pula yang menjadi tulang punggung perjuangan marwah seorang guru, dan agar tindakan saling melengkapi satu sama lain, dan tulang pertumbuhan tawa menjadi pilar-pilar asasi generasi rabbani.