Pagi itu aku menjelejah,berikut daya jelajahya:
Mungkin Izin terbaik adalah ketika "acara" akan dimulai. Kalau disekolah ketika pagi pembelajaran dimulai. Semua guru akan fokus dengan kegiatan masing-masing. Jika hari itu ada satu guru yang tidak masuk dengan banyak "alasan". Alasan benar seringkali tepat pada waktunya, berikut perizinannya. Alasannya yang banyak beralasan kadang mempertegas sebuah kesalahan. Lagi-lagi itu sangat subjektif, jika dikaitkan dengan apa dan kejadian yang sedang dialami.
Pagi dingin tak melulu soal ketenangan, berapa banyak pagi yang "mencekam" jika izin benar-benar di pagi melek, maka akan terteror semua guru yang giliran ditanya soal kesiapan mengajar yang bukan "pekerjaannya". Tiba-tiba saja dikepalanya muncul hitung-menghitung soal jam yang ditanggungnya, garaga satu guru tidak masuk.
Sakit adalah izin terbaik karena tubuh butuh dimanjakan pada saat itu juga, dan ini adalah hal yang tak boleh dipermainkan bagi yang suka "mengejek" rekan sesama guru. Mungkin berhusnuzhon cara terbaik agar teman-teman yang sakit atau mendekati sakit penyakitnya ogah mampir karena doa terbaik yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan mereka.
Agar pagi tidak mencekam, siapkan guru-guru yang siap ditempat manapun. Ia tak memilih jenis pekerjaannya, jika tak mampu mengerjakan yang bukan kompetensinya, setidaknya ia mendampingi agar kelas tetap dalam s.o.p, bagi para pecinta s.o.p
Unjuk gigi dalam hal ini amat diperlukan, bagi siapa saja yang nalar berpikirnya melampaui dan menurutkan harga serendah-rendahnya ego. Kita tidak selalu fit dalam segala kondisi, mereka sadar akan hal itu.
Ini hanya cerita pagi yang biasa.
Jumat, 11 Februari 2022
Jumat, 04 Februari 2022
Seorang Guru Yang Berjalan Tanpa Atap-4
Pikiran-pikiran yang melelahkan bisa menggoyahkan pendirian, jika duduk-duduk bersama para pendengki dan belum mengenal rasanya bersyukur (mungkin). Ada baiknya, jika kita tak mampu merawat pendirian yang kokoh itu maka berdirilah pada tempat-tempat tertinggi yang jauh dari gonggongan dan gertakan yang tidak bertanggung jawab.
Sampai di sini ada baiknya kita perlu mencoba untuk terus bertahan.
Senin, 24 Januari 2022
SEORANG GURU YANG BERJALAN TANPA ATAP
Bisa jadi perangai-perangai yang dimiliki oleh guru lama tidak masuk dalam kategori; Guru yang Tulus. Tulus seperti air dingin yang mampu meredam apa saja, api yang memberangus hal-hal yang menyebalkan di depan, mengarahkan bahkan mengahasukan hal-hal baik ataupun buruk. Sifat tulus bisa mendatangkan "keajaiban" secara tiba-tiba tanpa merasa dipanggi atau terpanggil. Ia seperti keinginan baik yang terus menerus ada. Cara kerjanya melebihi apa yang tak pernah terberi oleh guru-guru lama.
Mungkin juga kekecewaan-kekecewaan yang terus menerus dipahatkan pada sanubari anak-anak sehingga air dingin yang tiba-tiba coba diberikan oleh guru lama terasa timah panah yang dituangkan ketelinga.
Bukan hukuman yang sejatinya mampu menaklukkan ombak yang sedang tinggi-tingginya, tetapi cara kita meluncur bersama ombak hingga berjalan beriringan sejajar tanpa sekat; ngobrol atau jadikan teman diskusi pada hal-hal yang sederhana. Anak seperti layangan, yang mudah tertiup angin, dan ia mengandalkan angin.
Rabu, 19 Januari 2022
Kemampuan Menulis Layaknya Di miliki Oleh Semua Orang
Torehkan apa yang tersemat pada benak kalian, pada apa yang meresahkan jiwa kalian. Hingga yang terkecil pun kalian bisa menerapakan dalam tulisan imaji kalian. Artinya beberapa hal sering memusingkan jiwa tak mampu menorehkan hal-hal substansi, padahal ide/gagasan sifatnya tidak dicari,didatangkan, tetapi dipaksa hadir agar ide tumbuh cepat secara maksimal.
Lalu apakah semua ide bisa diwujudkan dalam kumpulan kata, kalimat, dan seterusnya. Semuanya tergantung pada kepekaan Anda untuk menangkap semuanya ide, lalu dituangkan pada semua hal. Mungkin kertas, buku, ingatan, dan seterusnya.
Lalu muncul pertannyaan, Apakah semua orang mampu untuk mengikat semua ide yang bersliweran diatas muka bumi ini?, jawabannya Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Sebagian orang bisa mencatatnya sempurna, sebagian lain tak peduli atas semua ide yang berterbangan seperti kumpulan matriks.
Semua orang bisa menulis dengan kadar tulisan yang berbeda, tetapi berangkat awalnya adalah kemampuan menulis itu sejatinya diperoleh secara lahir.
Selasa, 18 Januari 2022
Seorang Guru Yang Berjalan Tanpa Atap
Ia sedang berhadapan dengan seorang beruang betina yang sedang buas-buasnya, karena dihadapannya ada mahluk yang mungkin dianggapnya tak mengerti apa-apa. Pengalamannya juga tak seberapa, hingga beruang betina itu mudah untuk mencakarnya atau bahkan mencabik-cabiknya hingga si Guru tak lagi bercuap-cuap soal pengalaman yang tak seberapa itu.
Si Guru kembali ke kantor setelah menerima kekalahannya yang berulang terus. Menghadapi beruang betina tidak lagi sebuah dulu, kini ia harus mawas diri atas usianya terus beranjak senja. Bahkan si Guru juga mulai tak lagi mengenali diri, apakah ia layak menjadi Guru yang penuh kompeten, apakah Sastra telah menyedotnya hingga palung hati, pikirannya kini terlampau gelap untuk keluar dari ruang yang biasa ia lakukan setiap pagi.
Si Guru mulai menghitung tentang perkembangan masa depannya. Apakah ia mau melakukan kudeta atas dirinya sendiri, seperti yang ia lukukan dulu pada sekolah-sekolah yang digelutinya. Kuda-kudanya kini tak lagi kokoh untuk menantang pikirannya sendiri. Apalagi kudeta merangkak tak lagi cocok baginya. Ia hanya seorang guru, yang mencoba terus mengkudeta mimpi-mimpinya.
Guru, itu lupa dan kembali menafikan kekurangannya, mencoba bertahan istilahnya. Apa boleh buat, jika ia lemah, ada sastra yang menguatkan. Jika itupun tak berhasil, ia akan kembali pada sabda-sabda langit yang tak membuatnya kecewa.
Tokoh kita memang, ada duanya, bukan tiada duanya. Label sering memelantingkan kedalam prasasti kejengkelan atas nama GURU, yang sering dibilang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bisakah dibalik pernyataan agar lebih aristokrasi.
Jumat, 05 November 2021
Manusia Persimpangan
Perhatikan saja langkah dan gerak bibirnya, seperti uap segar yang akan menyengat siapa saja yang melanggar sisi kemanusiaan paling hakiki, panggilan kejiwaan menuntutnya untuk melangkah memenuhi ambisi pribadi berpondasi kepada ke adiluhungan
Lihat saja perutnya yang jarang membuncit, ia bisa menimbun semua kenikmatan dalam satu lambung dan memaksanya terus menerus dengan berbagai jenis makanan, ia melarang untuk buncit, berlemak saja ia tidak ingin
Ia tak peduli pada penjegalan yang menimpanya, bulan tak bersinar semalam saja, ia tetap tersenyum karena ada berkas pada bulan-bulan berikutnya, lalu dengan tenang ia memulai memberi warna pada kanvas yang dibelinya bukan hasil pensiunan tetapi pada karya yang berhasil dijual dengan harga yang pantas
Ia kerap menyanyikan beberapa bait untuk sekedar merefleksikan segala yang tercapai pada batas normal, hingga orang-orang yang menjegalnya tak pernah berhasil untuk membuatnya patah. Sebuah perbandingan yang akan membuat kalian tetap terjaga setiap malam, memikirkan bagaimana menyingkirkannya, padahal ia sedang tidur lelap bersama kuas yang selesi dicuci menjelang akhir pekan
Orang ini mengharapkan hak-haknya hak manusia yang telah dilanggar tetaplah menjadi perhatian perhitungan yang akan ditagih tidak hanya didunia, tetapi di hadapan Tuhan mereka tak akan bisa berkutitk untuk sekedar berkelit pun sulit
Akan ada masa umurmu menjadi sebidang kecerdasan yang tak mampu mereka beli, padahal mereka punya kemampuan untuk membeli apapun, tetapi tidak untuk pikiran.
Jumat, 22 Oktober 2021
Kata Nenek
Dengusan nenek juga mempunyai arti yang memungkinkan bisa berpikir macam-macam. Bandusan mabur adalah caranya mengarahkan kami pada kenakalan-kenakalan yang tidak bisa ditunda.
Senin, 18 Oktober 2021
Pembacaan dekat dan lain-lain
Aku membaca banyak novel dari yang populer atau pun yang digolongkan pada sastra. Dan aku tidak bermaksud untuk membedakan keduanya, atau merendahkan satu sama lain. Karena pada dasarnya dua-duanya bisa dibilang sebuah karya. Mungkin ada yang bisa menulis kedua-duanya, dan memang ada. Hanya saja yang membedakan adalah soal tema, gaya penulisan, dan seterusnya. Bagaimana sebuah cerita dipresentasikan menjadi sebuah cerita apa, itu juga jadi soal. Apakah hanya mendeskripsikan kalimat yang terus saja sama sampai akhir cerita, atau akan membuat kalimat yang menarik isi kepala dan bisa diskusikan sampai ke tempat yang menakjubkan.
Jumat, 24 September 2021
Kata Nenek
Sudah beberapa jam Febri dibawa Kelong. Berita ini tentu saja menggemparkan seluruh penduduk gang rapingun. Kami yang sedang duduk-duduk di beranda Mushola selepas mengaji merasa kecut. Aura Mushola yang semestinya memberikan ketenangan seakan mengungkung kami dalam ketakutan. Apakah nanti menjadi prasasti sebagai anak yang paling banyak diusili oleh dedemit.
Menurut para sesepuh di desa kami, kaum dedemit yang terorganisir itu akan "menyerang" atau "menangkap" anak-anak yang tidak patuh orang tua, klayaban sendirian, dan suka terbengong-bengong. Konon mereka handal dalam hal merongrong wibawa manusia, apalagi anak-anak.
Nenek memiliki pengetahuan yang cukup luas terhadap dunia perdemitan,ia seorang yang kata-katanya didengar oleh keluarga. Ia punya ingatan lengket tentang para kompeni yang mendera pada anak cucunya. Setidaknya pada Supri, cucu yang pernah diteror oleh ular besar penunggu pohon besar.
Menurut Nenek derivasi pada dunia dedemit terpecah-pecah dalam tataran yang sering kali tidak masuk akal. Supri sering memprotesnya, tetapi ketakutan menjadi perisai atas ketidaksukaan pada dunia rekaan sang nenek. Ia seringkali menerka-nerka apa isi kepala sang nenek, apakah otaknya dipenuhi dengan konspirasi-konspirasi untuk menjaga para cucunya.
Ia memperkenalkan sosok Cepet sebagai lelaki serba hitam yang seringkali muncul dari balik rerimbunan pohon bambu. Bambu wulung menjadi hunian paling nyaman bagi para kumpulan Cepet beserta sanak familinya. Cepet seringkali menjelma menjadi sosok yang dikenali oleh orang-orang terdekat. Kemunculannya bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Begitu kata nenek, sebagai awal pembicaraan serius di tengah malam. Ketika membukakan pintu untuk Supri yang pulang malam.
"Nek, Febri dibawa Kelong," Ucap Supri ketika mengunyah nasi dingin dengan campuran lauk yang tampak menggigil.
"Ternyata mereka tak juga kapok."
Lalu nenek bercerita panjang lebar. Ia menebak kalau Febri sudah dibawa berkeliling menuju tempat-tempat yang semestinya buruk pada dunia nyata. Tampak indah bila sedang membersamainya. Mungkin Febri akan ditemukan pada tempat-tempat yang tak terduga.
Sebelum tidur, Supri dikenalkan kembali pada dunia rekaan nenek. Sumbernya pun sulit untuk ditelusuri. Dugaan sementara menurut para teman-temannya, nenek pernah dikejar oleh serdadu Jepang sampai terbirit-birit masuk lereng dan bukit-bukit berhantu. Lalu pulang dengan segudang pengalaman yang meneror. Sesaat sebelum tidur, ia bercerita tentang dunia Jewilwa yang muncul pada siang bolong ketika anak-anak keras kepala tak pulang ke rumah. Ia tidak bercerita secara lengkap asal muasal Jewilwa itu. Jenis berikutnya ada sosok yang sering disebut dengan Nggerem, mahluk penganggu pada anak yang malas gosok gigi dan kabur saat tidur siang.
Pagi hari Supri terbangun mendengar jeritan ayam hutan yang dipelihara oleh kakeknya. Ia kadang melengkapi dunia rekaan nenek menjadi terlihat nyata dan bisa ditelusuri dari masa yang lampau. Apakah mungkin?
Ia melangkah untuk memulai hari bersama dunia rekaan sang nenek.
Kamis, 02 September 2021
Aku dan Dea Anugrah
Mungkin persamaanku dengan Dea Anugrah, hanya satu hal saja. Ia pernah meminum air galon selama dua hari untuk mempertahankan "kehidupannya" selama kuliah. Maaf, ini terdengar sok tahu. Karena aku hanya melihat Dea Anugrah bercuap-cuap di You Tube yang kutonton berjam-jam. Entah kenapa pemuda ini menyedot isi pikiranku untuk mendengarkan kata-kata yang menurutku amat jenius, jika ini tidak berlebihan. Aku hanya melihat dari jauh, mungkin suatu saat bisa bertemu, dan bertanya banyak hal padanya. Tulisan ini kubuat, untuk mengabarkan pada khalayak. inilah caraku berterima kasih padanya.
Aku lebih tragis darinya sekaligu iri, ia "hanya" meminum air galon selama dua hari, sementara aku harus menyiksa perutku selama tiga hari dengan air galon yang kubeli Rp 3000 rupiah. Satu kali gratis membeli air galon, jika berhasil mengumpulkan tujuh kali bukti pembelian. Kuanggap diriku sebagai penyintas dari ketidakberdayaan melawan kelaparan yang 'kugauli' selama kuliah di Ciputat. Ia begitu lentur bercerita soal pengalaman intelektual di Yogyakarta, berfilsaf di UGM dan lebih sering nongkrong dengan anak UNY.
Ini sebentuk kekaguman saja pada cara menuangkan ide dan tulisan, sekali lagi aku mengenalinya lewat tulisan dan media sosial. Setelah selesai tertawa sempurna biasanya ada hal memikat yang bisa keluar dari mulutnya. Misalnya ia mengatakan "setiap tulisan akan menemukan bentuknya sendiri" kurang lebih seperti itu. Bagiku ini jenius, aku yang masih gagap mempresentasikan sebuah cerita menjadi puisi, cerpen, atau novel seperti mendapat uluran tali ketika hendak jatuh ke jurang.
Bagiku yang awam berfilsafat mendengar cara pikirnya tentang dunia filsafat. Ia mengatakan tanpa Georg Wilhelm Friedrich Hegel tidak ada Karl Marx, ia seperti ingin melipat 'keruwetan' dalam dunia filsafat menjadi lebih sederhana. Itu yang kurasakan.
Entah kenapa 'mereka' yang dari filsafat sanggup membuat tulisan yang mencengangkan. Ada juga yang dari lulusan sastra yang bisa melahirkan konsep dan cara berpikir yang cerdas. Sebut saja Mahfud Ikhwan, yang usianya terpaut empat tahun saja denganku. Dan mungkin banyak lain yang belum kuketahui. Kita kembali ke pemuda ini, ia mengatakan kalau penulis itu dibentuk dari buku-buku yang dibaca, dan tidak ada kausal dengan latar belakang pendidikannya. Dasar pemikiran itu membuatku menjadi semakin menggebu untuk menyelesaikan tulisanku. "
Cerpen Dea yang menarik salah satunya, Kisah Sedih Kontemporer. Kalian sudah baca, kalau belum itu masalah kalian sendiri.
Kamis, 06 Mei 2021
Yogyakarta ku hanya melintas
Kerah putih mangkrak-mangkrak pada jingkrak-jingkrak
Hitam legam sembunyi-sembunyi dari lelah kematian
Jelaga hitam yang lama tergarang panas setiap saat
Rehat sesaat pada kekalutan yang terlewat-lewat
Terdiam pada petaka pekik telinga gendangnya pecah
Terkenal karena kerendahan hatinya suaranya bikin adem pecah parah
Berkumis tebal kadang gondrong kadang pendek
Yogya ku hanya melintas jalanan
Pada tahun-tahun yang telah lama
Menjadi saksi atas perhelatan setahun sekali
Menjadi pengawal kebutuhan atas nama persaudaraan
Semesta alam mencari kawan bukan lawan yang curang lagi cengeng
Melodi citra tak menjadi alasan bumbu penyedap masakan modus operandi
Berenang dalam genangan darah menyala bumbu penyedap menjelang lebaran
Malulah pada nurani yang kau koyak-koyak seperti kerecek lebaran
Yang jadi kian menjadi-jadi
Yang tanpa makin lelah karena perasaan bimbang
Limbung dan lumbung yang kalian rampas seperti ada perang
Yah, inilah jika petuah hanya menjadi kuah makan siang kalian
Minggu, 02 Mei 2021
Memanggil Kepekaan
Ketaknormalan yang merajalela tak juga ditanggapi sebagai panggilan Tuhan agar ia lekas-lekas mengoreksi catatan keimanannya. Jika tak sanggup ada pilihan hati yang bisa menyokongnya menjadi detak-detak semangat dan inspirasi bagi manusia lain. Sebagai cipatan-Nya insan menyediakan secuil potensi agar gerak lisan dan jiwanya tak hitam jelaga. Sesekali tisu putih yang berubah menjadi krecek akan terasa nikmat, jika tak disadari keberadaannya.
Yang lain, penggerak roda pikiran menjadi lebih mulus ketika semua fungsi tubuh mengarahkan pada kebahagiaan yang hakiki. Insan menjadi lebih terpanggil pada kenyataan hidup di depan matanya, meski statusnya sebagai insan 'papa' menjadi incaran mulut-mulut yang miskin kasih sayang. Mereka juga butuh pertolongan, tinggal menunggu momen saja.
Malaikat turun ke bumi menyapa sang Nabi terakhir ingin menyampaikan mandat dari Tuhan-Nya. Ia mengatakan "Wahai Nabi tak jauh dari Anda ada seorang "Malang" yang nantinya akan masuk neraka." Setelah selesai ia melesat pergi dari hadapannya.
Lalu lewatlah seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang tak berhenti menangis sebab lapar yang menohok. Wanita "malang" yang bekerja di tengah lumpur kegelapan tengah menggigit sebagian kurmanya. Ia menghentikan gigitannya dan berjalan tergesa-gesa menyambangi si anak dan memberikannya. Malaikat turun dan menjalankan mandatnya bahwa si wanita "malang" itu akan menjadi penghuni surga.
Level keibaan wanita "malang" itu pada level yang membuatnya nasib si wanita berubah seketika, tidak perlu menunggu waktu lama agar takdir si wanita "malang" menjadi takdir yang mulia. Itulah definisi dari insan yang berfilantropi.
Jiwa yang keras jua menjadi titik gelap hingga ia tak bisa menyerap kejadian dari Tuhan. Bahkan Ahli kegiatan langit pun tak bisa membedakan sebuah peristiwa. Ketika banjir melanda dan air sudah menyentuh lututnya, menyentuh dadanya, bahkan ketika air sudah sampai loteng ahli kegiatan langit tetap menolak semua pertolongan manusia. Ketika ia protes dengan Tuhannya. "Mana pertolongan Mu" kata si ahli kegiatan langit. "Aku sudah memberi pertolongan kepadamu sebanyak tiga kali" kata Tuhannya. Hati yang keras telah membuatnya menolak semua kebenaran (pertolongan) dari para penolongnya. (Hanya Tuhan Yang Tahu).
Rabu, 28 April 2021
Melukis Ayah
Ia menyediakan sarapan seperti menyambut tamu-tamu agung dari kerajaan dunia. Aku senang bukan kepalang, tetapi apakah ia terus ada sampai aku besar nanti, tentu saja tidak. Ia pernah memberi nasihat kepadaku tentang pentingnya tak bergantung pada orang lain. "Ayah tidak akan selamanya kuat, kamu harus bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan ayah," begitu kudengar ketika ia mencebokiku setelah buang hajat. Aku tak tahu pasti apa yan dimaksudnya tetapi kata-katanya mengandung misteri kehidupan.
Di lain waktu aku terbangun dari tidur dengan perasaan takut, ku ceritakan pada ayah aku tadi mimpi serem betemu pocong dan dikejar anjing. Ia mendengarkan dengan baik. Lalu ia memberikan semacam tips yang belum sebenar-benarnya tips, tetapi bagiku cukup efektif untuk melawan mimpi-mimpiku yang lain.
"Ayah kasih rahasia ya, sebuah cara agar kamu bisa keluar dari mimpi," katanya.
"Apa itu yah,"
"Kamu harus cari tempat yang tinggi lalu kamu lompat, biasanya akan bangun. Kalau dalam mimpi ada yang membuatmu takut lawan saja," ucap ayah.
Esoknya kuceritakan tentang mimpiku yang seram dan bisa meloloskan diri darinya. Pernah kuceritakan anjing yang ingin menggigit, setelah ku injak berubah menjadi katak dan loncat-loncat.
aku ingin mengucapkan terimakasih dengan cara lain. Aku masih kesulitan untuk melukiskan tentang ayah, mungkin ketika kumulai beranjak dewasa. Cerita-cerita tentang ayah akan mudah kutuliskan.
Rabu, 21 April 2021
Tembok Dalam
Ia mencapai dalam kebarauan, melahirkan sejenak istirahat
Ia mendidih dalam pesona, meruntuhkan tembok yang dalam
Menyusui dan meratapi setiap kepingan zaman, kemanakah ia?
Keras yang lunak sebagai cermin berlapis
Mengkerut dalam rona bercak-bercak seutas tali
Tali jemuran yang kian rapuh, seperti arang patah
Mendambakkan kesetian setelah tikaman penghianatan
Cobalah meresapi setiap pertahanan yang terlalu kuat
Kokohnya kepribadian kadang menjungkirbalikkan kenyataan
bersembunyi dalam kebaikan yang tak lekang
Ia hanya beralih dari titik ke titik lain
Selasa, 13 April 2021
Para Pemesan
Para pemesan kekuatan
Untuk mendapatkan sedikit ketenangan
Dari para lengan yang menyingsingkan kerah baju
Orang rumah terkaget-kaget
Melihat wajah yang dikenalnya telah berubah
Seperti wajah-wajah di televisi
Tanpa noda dan tampak bersinar licin
Pemesan itu ada di televisi
Menggambar wajahnya sendiri
Tunduk malu atau entap apa
Tertawa sepenuh mata
Para pemesan bangun dan melihat sekitar
Hanya wajah itu saja yang selalu terlihat di televisi
Baju dan pakaiannya berganti-ganti
Agar jejaknya bukan jejak anjing atau singa
Mereka mengurung dalam petasan
Memekakkan telinga mereka sendiri
Dengan tangan atau mercon cabe keriting
Semua lusa dan esok bisa benderang
Minggu, 11 April 2021
Sebuah Teropong
Dari balik bisik-bisik
Tajam seperti suara penguasa
Yang menjembatani setiap permukaan-permukaan
Mengintip dari balik teropong
Berhembus nafas dari balik mulut-mulut lama
Seperti angin pada udara
Seperti jendela pada tirai
Dari balik teropong
Manusia menerapkan peraturan-peraturan
Menjelma dalam hasrat-hasrat
Untuk menutupi jejak yang berlubang
Ia tidak bisa meneropong ketulusan
Jenis manusia yang terang dan bersinar
Pada dirinya perpaduan antara lalat dan lebah
Tak mau menipu orang, ia tertipu sendiri
Teropong membidik yang disasar
Tak bisa melebar tepat
Ia hanya sasaran
Tak juga tepat sasaran
Jumat, 09 April 2021
ASPEK FISIOLOGI HABIT
Manusia memiliki banyak otot untuk mendukung pergerakan. Saat kita melatih suatu otot terus menerus, mereka akan tumbuh dan terlatih. Sayang jika dari kecil sampai besar otot-otot ini tidak dilatih lebih jauh. Banyak sekali yang bisa dilatih.Kemampuan anak berproses, kita tidak bisa menghasilkannya dengan instan. Melatih proses jauh lebih penting dari pada mengharap hasil akhir.
Manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Bangun satu-satu, beri atmosfer, konsisten.Ketika ingin mengajarkan anak bicara dengan baik, tak cukup hanya dengan meminta anak bicara baik. Anak harus diminta melatih tubuhnya juga. Tubuh yang tegak, suara yang jelas, wajah yang tenang dan tersenyum. Ketika habit buruk sudah terbentuk, tak hanya akan mengganggu orang lain, tapi juga mengganggu Kesehatan anak sendiri. Pertumbuhan yang terganggu dari posisi duduk yang buruk, misalnya. Karena tulang belakang juga membengkok.
You are what you think you are.
Setiap pagi kita bangun, apa sih yang kita pikirkan kita pertama. Ini mendefinisikan diri kita sendiri kemudian. Inilah pentingnya kereta pikiran. Saat kereta pikirian sudah steady, kita akan lebih mudah mengendalikan diri kita juga jaringan otak berubah, ketika kita tidak menggunakan jaringan tertentu, dia akan meluruh dan digantikan dengan yang baru.
Kita harus memikirkan jangan sampai masuk ke automatisasi. Padahal itu natural. Kita perlu refleksi dan terus mempertahankan kesadaran. Apa yang digerakkan oleh tubuh, salah satunya mulut, akan membuat jalur di otak kita. Maka jika terus dilakukan, dia akan terus mengikuti. Apa yang nampak di manusia, itulah yang berkecamuk di dalam dirinya. Berhati-hatilah dengan gerakan dan pikiran kita.
Peranti utama manusia adalah tubuh. Termasuk di dalamnya otak dll. Ada gerak, rasa dan pengetahuan.Kita harus mindfulness. Kita harus kendalikan agar tak memikirkan yang sia-sia. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam, akan jadi apa kita. Tentukan goal dari pagi. Jalani dengan penuh kesadaran.
Cheating2 dikit pun membentuk jalur kebiasaan. Jadi perhatikan baik-baik. Tutup hari dengan penuh syukur. Hindari hal-hal yang bisa mendistraksi. Jika hp mengganggu, bisa masukkan ke laci. Ada penanda missal memakai celemek, brarti harus masak dan beres-beres. Rencana sudah disusun dari sehari sebelum lebih baik.
Ada banyak jenis excitement, ada yg senang maen game, ada yang suka nonton crime story. Kita harus lebih banyak membangun curiosity. Jika kita terus-terusan memikirkan rasa kita pada orang lain, pikiran buruk terus diolah dan membentuk perilaku buruk.Pembentukan karakter dari pikiran yang terlintas, semua berasal dari rumah. Bagaimana habit di kuatkan. Dan orangtua lebih baik bersakit-sakit dari sekarang.
Anak yang menunda-nunda misalnya, mandi berlama-lama karena terlalu banyak imajinasi. Perlu dibantu menghentikan lintasan pikiran itu dengan pembentukan kebiasaan baru. Distraksi pikiran anak. Setting waktu baru mandi 10 menit.Kebiasaan yang lama akan menjadi karakter, yang tanpa berpikir akan langsung digerakkan.Kita perlu mengawal anak dari pengaruh luar. Cara bicaranya perlu dipastikan tidak justru membangkitkan emosi dan tidak memberi cap pada anak.
Kebiasaan yang kita latih, fisik atau pikiran memiliki bekas di otak. Bisa menebal atau hilang ditelan waktu jika tidak digunakan terus menerus. Tubuh ini mempunyai kemampuan utnuk memberi perintah pada otot untuk membentuk otot-otot baru yang bisa ditumbuhkan dengan cara yang benar. Kita diminta melatihkan anak atletik. Agar ada otot lain yang penting untuk pertumbuhannya, ada orang yang terus memikirkan sesuatu sehingga itu menjadi terbawa ke kesehariannya.
Jika kita memiliki kebiasaan buruk, kita rubah dengan kita paksa memikirkan hal yang lain. Dengan regenasi otak dan pembentukan jalur baru. Kita bisa melatihkan hingga ke tahap reflek. Sehingga tahapan pembentkan sebuah perilaku bisa langsung ke tahap akhir dan menjadi karakter seseorang. Kebiasaan juga bisa diambil anak-anak dari orang lain selain orang tua.
Selasa, 06 April 2021
DISTORSI KLARIFIKASI
Perang membuat luka yang terus menganga sepanjang masa. Meninggalkan kengerian yang membuat sebagian sakit jiwa. Mimpi-mimpi indah menjadi semakin jauh dari jangkauan. Tak segan-segan mereka menjungkalkan sisi kemanusian atas dasar pendangkalan kemanusiaan yang menurutnya perlu diperbaiki. Alih-alih membuat nyaman atas sisi-sisi lainnya. Meski berbeda keyakinan, tetapi mereka juga adalah manusia yang haram ditumpahkan darahnya, tanpa alasan yang kuat. Bagaimana mereka pulang ke rumah tinggal nama, dengan dibaluri jeritan dan kepanikan yang melanda seluruh anggota keluarga. Tulang punggung mereka meregang nyawa di tangan "orang" yang mengaku pada agama yang cinta damai. Ini akan terjadi secara berlarat-larat jika ada yang menginginkan demikian. Apalagi melukainya atas dasar kesadaran bukan keterpaksaan di bawah lesatan peluru atau tajamnya kilatan pedang.
Genangan darah tak membuat ciut untuk mengurungkan niat busuknya. Apalagi sekedar untuk klarifikasi atas sebuah pesanan. Mungkin terlalu jauh pada data yang diterima. Apalagi kotak-kotak penuh perhiasan ada dalam genggamannya. Membuatnya mabuk kepayang yang langkah-langkahnya menjadi terhuyung-huyung. Tertawa sepenuh tenggorokan dan makan sepenuh mulut, kedua tangannya menggenggam sekerat daging bertabur kezaliman. Ini zaman di mana sebagain orang suka menyembunyikan kebenaran, dan menertawakan kebenaran di depan mata.
Penyimpangan data yang "parah" membuat anak kecil harus berangkat ke sekolah lebih awal, padahal gema subuh belum juga terdengar. Tembok-tembok rakitan membuat kakinya lincah memilih jenis tanah yang nyaman bagi kakinya, atau ia pulang dengan kehilangan salah satu kakinya. Pada dadanya terselip keberanian yang putih, tak pernah takut mengangkat wajahnya pada orang-orang berseragam yang telah kehilangan pegangan hidup. Pada dunia lain, ada kerumunan yang tak membawa apa-apa kecuali yang melekat di tubuhnya. Sambil memikul seorang ibu yang telah kehilangan kekuatan, karena uzur. Ini adalah jenis pertarungan yang memilukan. Di mana yang senjata memiliki kekuasaan yang mudah sekali terkena bujuk rayu, hanya menyisakan sedikit kekuatan setelah dilemahkan jika tak ingin mendengar "kebiri".
Mungkin kita perlu "tenang" sejenak, jika tak ingin menggunakan kata "diam" untuk mendapatkan jenis kontemplasi yang apik untuk menghadapi gempuran apapun. Untuk menajamkan pikiran sekaligus menjernihkan kata-kata. Agar apa yang terjadi, katakan terjadi. Agar yang tidak terjadi, katakan juga tidak. Sebelum "tangan" Tuhan bertindak, karena mendapatkan banyak laporan dari kemarahan alam yang terus dianiaya, darah terus ditumpahkan, dan kebenaran terus saja ditertawakan.
Minggu, 10 Januari 2021
SANG PENGELANA
Ia menatap matahari yang telah menyetrika punggungnya seharian, baju lepek tak karuan
Ia menjawab peribahasa yang berlarat-larat dari setiap bahasa tubuh yang dipertontonkan secara membabi buta
Ia menatap sekaligus melihat perjalanan masing-masing orang tanpa merasa terganggu
Katanya, jiwa itu ibarat pilot yang leluasa bergerak
Katanya, keadilan bisa ditegakkan tanpa memandang bulu
Entah bulu ayam, bulu angsa, bulu merpata, atau bulu-buluan
Ia bergerak tak beraturan menjelma dalam satuan-satuan
Senin, 02 November 2020
Pengelana dan Pedagang
Kopi hitam tanpa gula, ia mungkin hanya memakai perasan gula tebu yang dimamahnya sendiri. Meski bercampur liur ia tetap mencengkram tangkai gelas di bawah tatapan jijik pengunjung kedai. Ia menanti-nanti adegan perkelahian yang sering muncul di kedai-kedai, warung-warung, atau penginapan. Yang dirasakan adalah tatapan mereka yang membuatanya jengah untuk beberap saat. Lalu pergi mencari ketenangan.
Sisa ampas kopi yang masih enggan berguguran dari celah gigi, telah lama membentuk ceruk lemak keras. Seperti lemak dari pembuangan yang bisa kalian jumpai jika rajin membuka tutup pipa pembuangan dari paralon rumah.
Berjalan sendiri di bawah gigitan musim dingin seperti bergelut dengan jengkel melihat anaknya yang sulit diatur. Bisa karena miskin pendekatan atau jiwanya memang pemarah. Langkahnya telah meringkus semua otot-otot kaki hingga terasa linu bukan kepalang. Ia menelan ludahnya sendiri berkali-kali untuk menghangatkan perutnya yang mulai keroncongan.
Ia merogoh saku depan celananya. Mengeluarkan semua yang ada. Tinggal beberapa keping uang logam yang mungkin menyelematkan dari mati kelaparan.
Seorang pedagang terkantuk-kantuk di depan barang dagangannya yang membisu. Kepalanya mengangguk-angguk sendiri seperti ada yang mengendalikan. Jika ingin terjengkang ke belakang, ia lekas merentangkan tangan agar punggungnya tak mencium tanah yang membeku.
Ia berhenti di depan pedagang itu dan membiarkannya tetap mengagguk-angguk tanpa ingin menganggunya. Ia lebih mementingkan perutnya yang lapar dari pada memberi jeda pada pedagang itu dari lelapnya tidur yang jika raja melihatnya akan iri, bagaimana resepnya ya?
Bunyi perutnya yang berkali-kali, makin lama makin keras. Ia telah lama menahannya, menyenggol bahu pedagang adalah cara terakhir agar ia terbebas dari lapar yang berlapis-lapis. Kopi hitam yang telah di minum sehari yang lalu adalah pertahanan terbaik agar lambungnya tetap aman tanpa makian. Bisa terhuyung-huyung masuk ke desa yang baru.
Ia mengguncangkan bahu pedagang itu agak keras, rasa segan pada orang yang sedang tidur ia kubur dalam-dalam. Rasa laparnya makin menjadi-jadi. Orang lapar bisa melakukan hal-hal buruk yang bisa merubah suasana. Ini penyakit yang hampir semua orang pernah merasakannya.
Tubuh pedagang itu tumbang, punggungnya sejajar dengan tanah. Ia malah mendengkur keras setelah kepalanya membentur tanah. Kini ia rata dengan tanah. Tapi masih di atas tanah. Ia menikmati betul. Bahkan uang yang ada digenggamannya jatuh berhamburan. Bibirnya malah senyum simpul, seolah semuanya akan baik-baik saja.
“Bang bangun bang, perut saya lapar sekali!,” ujar pengelana itu.
Dengkurannya makin mengeras, seperti deruman sapi kekenyangan. Hanya saja ia tak gayem seperti hewan penghasil susu itu. Mulutnya makin terbuka, gigi seri depannya tampak menghitam atau pelita di depannya yang membuatnya tampak gelap.
Ia memanggilnya kembali. Berkali-kali. Pedagang itu tersenyum kembali. Terdengar keluhan dan makian dari mulut pedagang itu. Ia bersyukur kerena dirinya tak dimaki-maki, meski jantungnya berdegup lebih kendang.
Ia mulai melolong di depan telinga pedagang itu dengan lolongan yang panjang dan berliur. Bahkan tubuh dan kepalanya mulai menduplikat hewan pencari kesempatan itu. Pengelana itu mengeluh panjang, hembusan nafasnya mencibir. Perutnya makin melilit, seperti iklan obat sesak nafas.
Ia mulai menggonggong sebagai cara lain membangungkan pedagang yang tidur seperti menelan puluhan obat tidur yang didapatnya secara murah. Lidahnya ikut menjulur manakala gonggongannya kurang maksimal. Bahkan pada titik tertentu ia bernafas layaknya anjing sungguhan. Siapa tahu terbangun?
Sampai fajar merekah ia terus melakukan berbagai macam akrobat dari lintas profesi. Ketika cahaya mulai tinggi, pedagang itu terbangun dengan menguap selebar kuda nil, dan mendapati si pengelana itu tak berkutik, hilang nafas, sambil memegangi perutnya yang menonjol.
