BAB
Tiga Puluh Satu
Tiga Puluh Satu
Pagi ini aku tengah berada di kantor Polisi untuk memastikan kalau Bondan benar-benar dalam kurungan. Setelah mendapatkan pengakuan darinya tentang bagaimana ia menjadi provokator hingga membuat Nara mendekam dalam penjara, Bonda pun meringkuk dalam sel sempit.
Kabar tentang penyerahan Bondan ke kantor Polisi telah sampai juga kepada Polisi Saryo. Informasi penyerahan Bondan begitu cepat hingga Polisi Saryo siang ini sudah berkunjung ke Polsek Kaligondang. Ku lihat dia tidak berseragam hanya membawa kartu tanda pengenal sebagai identitas. Polisi Saryo memakai sepatu olahraga, celana panjang bersaku banyak, dan sebuah sweater berwarna hitam menempel di tubuhnya. Tak ketinggalan sebuah pistol berada di atas pinggangnya lengkap dengan sarungnya.
Setelah mendapatkan alamat dari Bu Bar. Beberapa kali aku berkunjung ke rumahnya. Hingga aku tak begitu asing dengannya. Aku bertegur sapa seperti biasa. Ini mungkin sebagai kode etik para pelindung rakyat. Terjadi dialog sebentar sebelum kami berdua masuk ke dalam ruangan tempat dimana Bondan sekarang mendekam dalam ruang tahanan. Bondan masih berpakaian sama ketika dia menyerahkan diri ke kantor polisi. Beberapa orang Polisi tengah memeriksa keadaan dan mencatat semua yang di ucapkan oleh Bondan. Wajah Bondan masih menyisakkan bekas luka pukulan beberapa hari yang lalu. Ruangan itu tersekat oleh Kaca besar sehingga aku hanya bisa melihat gerak bibir para pengintrograsi dengan anggukan dan sesekali matanya melotot-ekpresi keget.