Kamis, 18 Juni 2026

Lebih Baik Mana...

Sang imam, Abubakar Al-Junadi, cemas memikirkan Abu Fardan. Laki-laki itu biasanya paling rajin sholat berjamaah. Tapi dua pekan ini ia tidak pernah datang ke masjid. Bahkan belakangan malah tidak terdengar lagi kabar beritanya. Terdorong oleh rasa tanggung jawabnya selaku imam masjid, Abubakar Al-Junaid mendatangi Abu Fardan.

"Sudah enam hari saudaraku tidak kelihatan sholat berjamaah. Kenapa?" tanya sang Imam. "Apakah anda sakit?"

"Tidak," jawab Abu Fardan. "Saya sehat-sehat saja."

"Istri atau anak anda yang sakit, barangkali," selidik sang imam penasaran.

"Tidak juga," Abu Fardan menggeleng ringan.

Dengan sabar sang imam kembali bertanya, "Atau anda sedang tertimpa musibah, kematian umpamanya?"

Lagi-lagi Abu Fardan menggelengkan kepalanya. Setelah terdiam agak lama barulah dia membuka mulut, "Saya bukan sekadar tidak ke masjid. Saya sudah meninggalkan sholat."

Bagai disambar petir siang bolong, Abubakar Al-Junaid kaget sekali."Kenapa?" katanya setengah berteriak.

"Habis, sejak kecil saya sholat tapi hingga sekarang keadaan saya melarat terus, tidak berubah. Tapi mereka yang tidak sholat justru hidup berlebihan. Jadi bukankah lebih enah tidak usah sholat, toh capek-capek sholat tidak bisa mengubah penghidupan saya," tutur Abu Fardan mencoba berargumentasi. Gurat di wajahnya mencerminkan kegundahan hatinya.

"Lalu bagaimanakan keadaan anda sekarang setelah meninggalkan sholat? Apakah sudah lebih baik? Apakah rezekimu sudah bertambah banyak dan tidak miskin lagi?" tanya Abubakar Al-Junaid dengan tenang, karena dia merasa mulai mengerti duduk persoalannya.

"Sama saja," kata Abu Fardan masygul.

"Dulu, selama kamu rajin beribadah, penghidupan selalu sulit dan miskin. Setelah tu semenjak kamu tidak pernah sholat lagi, penghidupan juga tidak berubah. Kalau begitu, lebih baik mana? kamu pasti sependapat dengan saya, dari pada sholat tetap miskin, kan lebih baik terus sholat walaupun tetap miskin, ya tidak?"

 Lelaki yang diajak bicara itu tidak menyahut. Abubakar Al-Junaid tambah iba, lalu dia meneruskan penjelasannya, "Minimal kita masih punya harapan untuk mendapatkan balasan dari Allah di hari kemudian. Dan kita punya tempat untuk mengadu dan mengeluh, yaitu Alloh swt. Sedangkah jika kita tinggalkan sholat, sudah di dunia sengsara, di akhira malah tambah sengsara lagi. Dengan ibadah, berarti kita bisa minta tolong kepada Allah, selain minta bantuan kepada manusia. Coba kalau kita tidak beribada, paling-paling kita hanya minta bantuan manusia. Lalu apakah manusia mau membantu kita sebagaimana Allah menurunkan kurnianya pada kita?"

Abu Fardan diam dan mematung. Matanya yang cekung mulai membentuk kolam. Penyelesanya jelas terpeta di wajahnya. "Barsangkalah yang baik-baik terhadap ketetapan Alloh. Jangan kamu mengira bahwa mereka yang kaya raya hidupnya sama bahagia dengan kita yang nyaris tidak punya apa-apa. Belum tentu. Sebab kebahagiaan letaknya dalam hati, dalam kepuasaan jiwa," tutur sang imam.

Menyimak nasihat sang imam, Abu Fardan akhirnya menyadari kekeliruannya. Ia kembali ke masjid, dan terus berusaha mencari nafkah tanpa perlu menyesali rezeki yang diberikan Alloh kepadanya.

Eman Mulyatman. Sabili NO.11 TH. VI 9 Desember 1998/20 Sya'ban 1419 H, hal 39

0 Comments:

Posting Komentar