Jumat, 14 Agustus 2026

Sandiwara Kehidupan

Ditengah suasana yang kemarau ini, mari sejenak untuk duduk-duduk sambil memperhatikan dedaunan meranggas atau suasana semak yang kerontang, atau burung-burung yang makin kehilangan tempat untuk hinggap.

Pesan dari orang tua dan guru layak untuk direnungkan dengan ketulusan mendalam. Sebagaimana Ayahanda KH Didin Hafidhuddin memberikan pesan kepada seorang muslim kepada muslim yang lainnya. Berikut pesannya:

Menurutnya, Al-Qurna menggambarkan kehiduapn dunia seperti sebuah permainan dan sandiwara, yang aktor dan para pemainnya adalah mahluk yang bernama manusia, sebagaimana diungkapkan dalam QS al-Hadid: 20, "ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak..."

Karena bersifat permainan, banyak sekali hal yang tidak sesuai dengan realitas dan kenyataan, disarati dengan berbagai macam kepura-puraan. Bahkan, dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "sesungguhnya akan terjadi suatu masa yang penuh dengan tipu daya. Pendusta akan dianggap orang jujur, sedangka orang jujur dianggap pendusta. Para penghianat dianggap amanah, sebaliknya orang yang amanah dianggap penghianat. Dan akan lahir para pemimpin bodoh yang sama sekali tidak mengerti persoalan rakyat dan masyarakatnya, tetapi keluar dari mulutnya ucapan dan pernyataan yang seolah-olah membeli kepentingan rakyat.

Dalam realitas kehidupan, banyak sekali orang yang terpedaya dengan sandiwara-sandiwara itu, sehingga ia pun melacurkan diri dalam permainan tersebut, lalu mengambil jalan pintas untuk ikut berbagga-bangga dengan harta dan jabatan. Seolah-olah itulah kehidupan yang sesungguhnya. Segala macam cara dihalalkan untuk meraih hal tersebut. Bahkan tidak jarang dilakukan upaya pembenaran yang salah dan merusak kehidupan. Hukum dan aturan hanyalah dijadikan sebagai tameng yang bisa diperjualbelikan. Pengadilanpun tampak seperti sebuah dagelan dan permainan.

Ayahanda KH Didin juga berpesan bahwa kejujuran, amanah, dan tanggung jawab hanyalah dianggap sesuatu yang tidak mungkin terjadi, yang karena itu tidak perlu dipertahankan dan diperjuangkan. Mereka tidak sadar bahwa sandiwara itu tidak akan berlangsung lama. Karena bagaimanapun juga, kebatilan dan kezaliman akan dirasakan akibat buruknya, baik ketika di dunia ini, walaupun sifatnya sementara dan belum sesuai dengan tindakannya, ataupu di akhirat nanti yang sifatnya abadi.

Sebagai pesan terakhir, beliau mengatakan bahwa bagi orang yang beriman, balasan yang sesunggunya akan dirasakan di akhirat nanti di hadapan pengadilan Allah SWT, Zat yang Maha Adil, pengadilan yang mustahil bisa direkayasa. Setiap perbuatan pasti akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Karena itu, orang yang beriman dengan keyakinan ini, tidak boleh frustasi dan putus asa dalam memperjuangkan dan menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, walaupun banyak menghadapi kepura-puraan dan ketidak pastian. Wallahu 'alam bi ash-shawab.

0 Comments:

Posting Komentar