Selasa, 25 Agustus 2026

Cara Seorang Pria Pergi

Ketika dirinya menerima perlakuan yang tidak semestinya, ia terima. Lalu pelan-pelan menanyakan pada diri sendiri, perlukah membalasnya? Ia mungkin mampu membalasnya dengan cara yang lebih, tetapi kebaikannya mencegahnya untuk berbuat yang sama. Ia mencukupkan diri dengan siapa nantinya akan berbagi cerita dan kehidupannya. Sebab Tindakan yang dilakukan sudah memberikan informasi tentang siapa sebenarnya orang yang dihadapannya. Semesta membuatnya mengenali dengan mudah bagaimana perilaku seseorang hanya dengan sekali tatap, dengan tetap setenang gurun pasir. Ini soal orang-orang yang mudah untuk memindahkan penilaian berdasarkan fungsional semata, lalu mengabaikan kontribusinya. Ini zaman dimana luka tak selalu berdarah, karena telah lama darah menghilang dari tubuhnya akibat tersedot pasir hidup.

Ketika peran lebih mudah untuk tergantikan saatnya untuk tumbuh dan tambah, membiarkan para generasi muda untuk tetap mengeluarkan hal yang terbaik. Meski penganuliran nya sama sekali tidak terhormat. Sebab kehormatan seseorang seringkali untuk ditukar tambah dengan suka atau tidak suka. Bukan pada penting atau mubazir. Yang terjadi kemudian jalan ninja menjadi pilihan setelah pilihan menjadi "badut"  tak juga memberi dampak. Dasar mereka hanya mengandalkan intuisi mentah hasil didikan ghibah dan gosip di sudut ruang dengan mata saling meruncing.

Ketika transaksional menjadi pilar-pilar muamalah, yang terjadi kemudian menusuk dari semua arah dengan membiarkan luka menganga. Lalu diam memperhatikan para korban bergelimpangan dengan tetap tenang. Mereka bersembunyi dibalik kebodohan yang menua bersama kebodohan lain yang terus menumpuk. Anomali terus muncul dari setiap sudut pikirannya. Mereka telah lama gagal nalar hanya untuk mengejar yang dasar. Sampai detik yang lama, mereka tetap terbata-bata untuk mengeja setiap pencitraan yang sebenarnya cara kerja seseorang. Mereka lupa untuk menilai diri sendiri karena sibuk membereskan karakter yang berserakan di atas sereal basi. 


0 Comments:

Posting Komentar