Rabu, 23 Juli 2025

Ketika Pembaca dan Pendidik Saling Jatuh Cinta

BABAK 93
Pembaca buku ketika membaca halaman demi halaman, ia melepas sejenak kediriannya untuk masuk kedalam si tokoh yang dalam buku itu, jika buku yang dibaca adalah bukan fiksi, maka ia sedang memasuki cara pikir penulisnya, mencoba untuk mendeteksi arah pikirannya. Ia tahu betul bagaimana memperlakukan buku yang sedang ia baca tanpa perlu repot-repot untuk menutupnya lebih cepat. Lalu melemparkannya diatas sofa tanpa pernah memikirkan bagaimana penelitian dan lamanya penulis menuntaskan bukunya. Ia mencintai bukunya untuk masa depannya sendiri, bagaimana melatih untuk terbuka pada pemikiran lain, tanpa perlu untuk menelan mentah-mentah semua pemikirannya, semuanya bisa diwakili oleh caranya sendiri merespon buku yang sedang dibacanya. Pendekatan membaca dengan meninggalkan kedirian seperti itu menimbulkan efek untuk bisa memberi jeda pada diri sendiri, menyerap maksud dari kalimat yang dibacanya, dan peka terhadap maksud-maksud penulis. Ia mampu menerka apa isi kepala seorang penulis tanpa perlu menagihnya terang-terangan. Semuanya bisa dilatih, seperti asalnya membaca buku adalah bentuk ketrampilan yang dimiliki oleh semua orang. Membacanya saja butuh waktu untuk menelaah setiap maksudnya, apalagi untuk mengerti bagaimana harus memperlakukan setiap kalimat yang telah disusunnya susah payah. Semuanya membutuhkan ketekunan di atas rata-rata.

Seorang pembaca sedang mewariskan ilmu telepati yang didapatinya dari seorang penulis. Ia mendapatkan dari duduk-duduk berjam-jam sambil menelusuri setiap jejak pikirannya, kemana maksud kalimat itu, bagaimana mengira dimana memasang jebakan, bom waktu, isian kaldu, isian kebab, juga segudang ide yang digelontorkan tanpa tedeng aling-aling. Semuanya membuat penginderaan semakin lengkap dan makjleb ketika menemukan satu bahkan lebih dari maksud-maksud penulis. Sebagai pembaca sepatutnya berterimakasih kepada penulis yang telah rela menghabiskan (menuliskan) satu buku dalam waktu yang tidak singkat, mereka harus berbagi peran dan terus membakar diri dengan bacaan lain-sebab penulis pun harus terus membaca karya orang lain, jika tidak ia akan kehilangan sumber, dan mulai terjebak pada narsis berlebihan tentang kemampuan diri dan seterunya. Mereka para penulis lebih suka membaca banyak-banyak buku, mungkin yang dibutuhkan hanya tiga sampai empat paragraf dalam buku yang akan dirampungkannya. Detail adalah hal lain, jika kita ingin menjadi pembaca 'lain' yang tidak hanya sekadar untuk menampilkan diri sebagai pembaca, tetapi juga sebagai penafsir dari sekian juta kata dari masing-masing bacaan. Penafsir dimaksudkan untuk mengetahui seberapa dalam pemikiran pembaca, bukan untuk terus menangis seberapa dalam penulis menuangkan ide, gagasan, dalam bentuk kata. Melainkan untuk mencoba memahami seberapa besar pembaca tak perlu repot-repot untuk mempertanyakan ulang tentang ide atau maksud tersebut. Sebagai pembaca tahu diri akan memposisikan diri sebagai pengeluh atau sebagai seorang pendaki kata yang akan menaklukan setiap puncak kalimat dan buku sekaligus.

Pada intinya setiap dari kita memerlukan kecerdasan untuk memaknai dari setiap kejadian yang sudah ada atau belum ada. Sebagai pembaca, perlu memisahkan diri dari keengganan untuk mengakui karya orang lain memang ciamik, memang yahud, memang bombastis, memang 'killer' agar nantinya apa yang persiapkan bisa jadi katro buat orang, bisa jadi dungu, bisa jadi lawas, dan seterunya. Hingga pada ujung pembacaan yang terus menerus akan menemukan dirinya sebagai humble reader yang bisa memasung sejuta makna ulang dari tiap buku yang dikunyah nya pelan-pelan sampai terasa lembut dan menyenangkan. Ada kegembiraan besar ketika bacaan itu terus melekat dalam ingatan dan berujung pada kemandirian untuk bertransformasi menjadi 'kutukan' perbaikan diri terus menerus. Sampai pada level guru itu terus mencari metode mendidik (pedagogik) dan terus memperbaharui ilmu kependidikan (pedagogi), serta tak berhenti untuk terus mencari pendekatan dalam mendidik untuk semua murid tercinta (pedagogis).

Pada wilayah lain, seorang pendidik cara kerjanya persis yang dikerjakan oleh pembaca. Pembaca menangguhkan diri sejenak dari keakuannya, sementara Pendidik terus meninggalkan diri dari keegoisannya merasa cukup dengan ilmu yang ada. Ia terus mendatangi (studi banding) kepada sekolah-sekolah yang terus bertumbuh dan mencitrakan diri sebagai sekolah yang terus mengedepankan pada peda pendampingan luwes sebagai Muhammad mendidik para sahabatnya. Pendidik akan terus menanggalkan sejenak ketika berkunjung ke sekolah lain, ia meniggalkan sejenak peran sebelumnya (di sekolah) untuk menjadi peran lain agar atmosfir guru yang diobservasi dapat dipindahkan ke dalam dirinya, lalu diterapkan kepada murid-muridnya dengan keluwesan tertentu. Ia meninggalkan kedirian sebagai guru berkunjung ke sekolah lain, dan memakai mode guru yang sedang dikunjungi hingga ia tak lagi terjebak pada merasa pintar saja tak cukup. Ternyata ada banyak tangga yang bisa dilaluinya, tanpa pernah lelah untuk mengejar ketertinggalan, meski usia tak muda lagi.

Pada titik ini keduanya saling menjaga untuk menjalankan misi peradaban dan keberlangsungan pendidikan sepanjang hayat, dan ada pula yang menjadi tulang punggung perjuangan marwah seorang guru, dan agar tindakan saling melengkapi satu sama lain, dan tulang pertumbuhan tawa menjadi pilar-pilar asasi generasi rabbani.

Selasa, 22 Juli 2025

Daily Activity

BABAK 92
Saat masih kecil aura guru itu masih saja terbayang lekat dalam ingatan. Bagaimana tidak, murid itu datang tergopoh-gopoh sambil mengelap bibirnya yang licin oleh minyak kelapa, murid itu selesai sarapan dengan lauk oseng ampas kelapa dengan cabai melimpah. Ia lalu duduk sambil memperhatikan Ibu Guru yang berbadan besar. Senyumnya selalu lebar, dan ia mengabsen satu persatu murid-muridnya. Kami maju satu persatu lalu membalik gambar yang sudah kami pilih sehari sebelumnya. Seorang murid membuka gambar layang-layang dan di balik gambarnya ada namanya. Nama pemberian dari ayahnya yang perantau. Ia duduk setelah gembira membuka gambar itu, dan kegiatan berikutnya adalah bernyanyi.

Selesai bernyanyi Bu Guru berbadan besar itu tersenyum lagi, lalu duduk di kursi yang lawas, berderit salah satu kayunya. Beberapa murid meringisn menahan seperti menahan sesuatu. Ternyata itu ketakutan kalau Bu Guru kesayangan jatuh dari kursi tua, menahan beban tubuhnya yang semakin lelah untuk di seret, ia tersenyum seperti tahu apa yang sedang kami pikirkan. Ia menurunkan kaca mata dan memberi kode pada guru di sebelahnya agar berdiri.

Kegembiraan itu segera lenyap, berganti cemas. "Tangan ke atas, tangan ke samping, tangan ke depan, duduk yang manis, shuuth-shuut," ia meletakan jari telunjuknya di tengah bibirnya, mengunci mulutnya dan menggemboknya, dan melempar keluar jendela. Suara kecipak bebek di kali kecil sampai terdengar jelas, situasi berganti cepat. "Bu..." kata Bu Guru yang berbadan besar, sambil tersenyum lagi. Ia menyuruhnya duduk dengan isyarat tangannya. Situasi kelas kembali berdengung, Setelah Bu Guru berbadan besar berdiri lalu memberi wejangan untuk membuka kelas paginya.

Ruang imajinasi kembali terbuka, hanya dengan ekpresi wajahnya, situasi kembali normal layaknya di taman-taman bermain. Kami siap menerima instruksi dari Bu Guru, apapun asal kami bisa bermain kembali.

"Kita akan olahraga terlebih dahulu, dan dilanjutkan dengan makan bubur kacang hijau."

Kami bertepuk tangan. Temanku mengepalkan tangannya tinggu-tinggi. "Asik...!"

Dunia Mendidik, Hari Ini, Esok, dan Nanti

BABAK 91
Dunia mendidik seringkali diguncang oleh peristiwa yang membuat dada ini sesak, tunjuk lah diri sendiri kenapa selalu membiarkan apa-apa terjadi dulu baru evaluasi, ini bukan kebencian tetapi tetapi tentang kasih sayang. Seberapa sayang kita dengan dunia pendidikan, jika kita ini pendidik maka peristiwa tidak memanusiakan seseorang, apalagi itu seorang guru senior (sepuh) yang telah mendedikasikan seluruh kehidupannya pada dunia ajar, maka yang terjadi kita tutup muka, akibat malu bila sedikit saja mengeluh tentang kelas yang sulit untuk "dipegang" atau apapun keluhan yang sifatnya bisa dicarikan akar masalahnya, tinggal bagaiman kita serius tidak mencari solusi dan menerapkannya dengan gaya tidak didaktik, satu lagi selalu mendoakan mereka dalam sujud-sujud yang panjang ketika solat.

Sebagai penggenggam peradaban mari berhenti sejenak untuk sekadar menarik nafas dan merenungi setiap kejadian yang sudah berlalu, ada yang bisa dijadikan pembelajaran ada yang berlalu begitu saja, tanpa bekas tanpa aksi nyata, mereka seperti gelas penuh yang airnya makin keruh, jika para pendidik ribuan jam menghabiskan sesuatu yang kurang bermanfaat. Tengoklah seorang guru yang rela untuk memperdalam ilmu ikhlas, langsung dari walimurid nya sendiri yang menjebol marwah seorang guru secara terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling. Ketika ilmu ikhlas sudah dihatinya, maka kesedihan macam apa yang bisa meruntuhkan bangunan ikhlas yang telah mendarah daging, Meski guru itu telah kehilangan "marwah" menurut orang yang telah 'dirugikan' tetapi pada saat yang sama marwah itu justru makin bersinar, bantuan langit begitu nyata terasa. Si guru itu pun terjaga ruhul mudarisnya, karena bantuan langit yang datang datang secepat kilat. Sebuah senyuman yang memporak-porandakan arogansi dan kultur sombong tiada banding.

Ini tidak hanya menerpa mereka (para pendidik pejuang) yang terus menyalakan api tekad untuk para murid-muridnya, meski kadang kezaliman mampir sebentar dalam kehidupannya, tetapi untuk para pendidik yang sudah hangat dalam balutan situasi dan kondisi, tetap saja menjadi alunan evaluasi agar makin larut dalam kenyamanan dan lupa bahwa sedang berjuang, melakukan pendampingan bagi siswa/siswi yang sedang bertumbuh dan berkembang.

Agar kejadian yang membingungkan kepala kita sebagai pendidik cepat segera disudahi, langkah mereka masih panjang, anak murid dirumah masih merindukan suaranya. Cepat kembali mengajar agar dunia pendidikan tak lagi 'suram' seperti yang sedang beredar dalam rekaman yang mesti diulang-ulang. Agar cinta itu tidak lekas menguap dan menyelusup dalam bangunan sunyi bernama makam, dengan status mendiang.

Senin, 21 Juli 2025

I am something you are nothing

Ungkapan kepercayaan diri yang terlalu tinggi, hingga melupakan dari mana sebenarnya dia berasal. Ia terus menggemborkan jerih payah atas sesuatu yang telah dicapainya tanpa pernah mengukur lagi seberapa besar ia kemudian menjadi pioner dari keberhasilan yang telah capai, selalu mengingatkan bahwa itu hasil kerja kerasnya, dan seolah menafikan semua tim yang telah melaluinya bersama-sama. 

Semuanya terjadi atas dirinya, ia hampir-hampir terjerumus kedalam situasi yang mempopulerkan dirinya pada lingkaran lamanya, menganggap semuanya akan baik-baik saja, padahal ia pelan-pelan telah menceburkan dirinya pada penyakit kesombongan, yakni menolak kebenaran (tidak bersikap rendah hati), dan juga menghina orang lain (tidak mengaggap sama sekali jerih payah, karena orangnya mudah untuk dimanfaatkan). 

Ia sedang mengikuti tren batu sebagai firaun abad baru. Tetapi lihatlah sekarang, semua jerih payahnya yang dulu ia gagas bersama orang-orang terdekatnya, perlahan-lahan hilang oleh bosnya sendiri yang memiliki kecenderungan yang sama dengannya. Mengira ia akan lolos dari jebakan merasa punya kelebihan yang bisa ia gunakan untuk mengelabui bosnya sendiri, pada saat yang sama ia sedang menenggelamkan diri dari penyakit hati yang semakin dalam, dalam dan gelap. 

Sampai kapan, sampai ia menyadari apa yang dilakukan betul-betul telah melampaui batas. Orang-orang yang melampaui batas seringkali tercebur pada perasaan kagum pada diri sendiri dan melupakan orang lain, orang lain dianggap tak ada, ketika masih ada keberadaan dirinya. Ia lupa kalau suatu saat matahari akan terbit dari barat, itu akan merugikan dirinya sampaia batas yang telah ditentukan.

"Oh aku sudah melakukan ini, ini kalau nggak ada aku..." dan bla-bla sejumlah alasan yang sering membuat orang lain gerah menikmatinya. Karena situasi yang tidak menguntungkan ini kalian boleh mencari alasan kuat untuk melakukan hal ini, tetapi menurut saya lupakan trik ini kalau kalian nggak mau dianggap sebagai, "dia memang hero, tapi yang lain dianggap zero. Itu kenyataan yang akan diingat sebagai kenyataan kepalsuan sebagai akibat merasa paling hebat, yang lain 'sampah', merasa paling jago yang lain nol. Semakin merasa potensi dirinya melimpah, semakin dirinya hinggapi oleh perasaan serba atas.

Selanjutnya, tetaplah rendah hati terus perbanyak kualitas diri, agar bukti potensi diri bisa membungkam arogansi mereka, yang hidup dari bersilat lidah, dan gampang melupakan kebermanfaatn orang lain. Saya pikir ini cukup dulu.

MAAF

Laksana air surga yang efeknya menenangkan sekaligus melegakan, perisai dari sebuah hubungan, dan dijauhkan dari keretakan berujung perpisahan, yang kemudian anak-anak menjadi 'korban' dan keegoisan dari hal-hal sepele. Maaf dalam arti tertentu tak lagi berlaku jika salah satu dari kalian telah hilang dari pandangan, terlukanya jiwa seseorang membuat perubahan bahwa maaf adalah tidak untuk sebuah ketegasan, perlindungan, juga rasa aman.

Laksana perisai dari situasi yang tidak menguntungkan diri, tetapi bisa menjadi keberlangsungan hidup orang lain, karena kita bukan Tuhan, kita yang diciptakan oleh-Nya, maka sifat Tuhan yang Maha Pengampun lagi Pemaaf mampir diseluruh pikiran dan nafas kita, hingga yang kemudian lahir adalah kebijakan prilaku dan tidak meninggalkan prinsip kehidupan yang memanusiakan manusia. Ia tidak sekadar memberi kesempatan tetapi juga membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang baru tanpa perlu melakukan 'kebiadaban' terlebih dahulu. Seorang pencuri singkong meninggalkan seluruh tatanan prinsip dan melanggar pitutur yang diajarkan oleh gurunya disekolah sebagai bekal, lenyap begitu saja ketika kelaparan melanda keluarga, ia harus memutuskan antara menjaga pitutur atau memeluk mereka dengan kelarapan akut. Ketika ia mencuri, keluar dari kebun, pemilik kebun sudah menungguhnya, intrograsi dilakakan, sang pemilik kebun memilih melepas keakuan dan membiarkan si pencuri itu pulang menemui keluarganya dengan setandan pisang ambon yang hampir masak, pemilik kebun tersedu-tersedu menangis melihat salah seorang tetangganya berjuang dengan lapar, sementara perutnya terisi oleh nasi goreng pete lengkap dengan telor orak-arik.

Ada banyak lagi maaf yang bisa diwujudkan dalam pelbagai hal, tinggal kitanya memilih di bagian mana maaf itu semestinya diletakkan.

Minggu, 20 Juli 2025

Perjalanan Ini Terasa...

Sangat menyejukkan ketika bersama orang-orang yang mendukung apa-apa yang kita lakukan, tahu betul kapan untuk menegur, kapan untuk tidak setuju, sejatinya kita masih ada di  persimpangan jalan, hanya untuk menakar dan mengukur seberapa jauh sebuah keyakinan untuk setia, pada komitmen yang telah terikat jauh sebelum keberadaan kebersamaan. Ketika orang terdekat sudah memberikan sinyal resmi untuk melambai pada setiap perjuangan, meski mereka tahu, kita sering terjatuh pada tiap kebangkitan.

Sangat memilukan bila orang terdekat, tak mau tahu apa yang menjadi kebutuhan dan kesulitan, mungkin menggendong anak saja menggerutu, bahkan ikut menyalahkan situasi yang tidak sesuai dengan pikiran sendiri, karena trauma masa lalu. Sang ayah sudah mendeklarasikan untuk menyimpan kepedihan masa lalu dan itu diturunkan secara kasat mata pada keluarga yang ia bina dengan sajadah cinta. Mestinya tak perlu sang istri meminta pertolongan pada suami ketika anaknya butuh gendongan, tetapi ini kisah yang tak perlu dilirik, manakala ini membutuhkan penyesuaian yang merilis setiap energi negatif. katakanlah seperti itu.

Sangat menyenangkan bila keduanya mengayun sama-sama dayung yang mereka buat sendiri dari bahan kejujuran dan kesetiaan, cinta yang tumbuh seiring waktu, yang didasari oleh kemampuan saling mengisi satu sama lain. Wilayah itu seringkali bertumbuk pada seberapa besar ikhtiar yang dilakukan. Sejuta 'masalah' pada sisi lain ada sejuta 'solusi', keduanya hanya terbentang pada luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. 

Sabtu, 19 Juli 2025

Gurunya Ikut Bertumbuh

BABAK 90
Ketika guru mengajar kepada murid-muridnya seperti sama-sama menebar benih di atas tanah yang gembur nan subur. Humus,kompos, hara, bersatu pada bersuka cita menerima benih yang datang/jatuh menghempas bumi, bersembunyi sambil memeluk tanah rapat-rapat. Dari sana pelan-pelan tumbuh setelah cukup waktu bakal tunas. Secara sadar, guru sedang bertumbuh bersama pikiran anak-anak, pikiran anak pikiran guru juga, sehingga pada satu momen guru dapat merasakan secara persis, apa yang sedang dialami oleh peserta didik tanpa perlu menjelaskan apapun, bahkan pada kalimat pertama, si guru sudah menerka apa yang sedang terjadi padi anak. 

Ketika sedang memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tentu saja dengan pandangan mata (lebah), si guru sedang membangun dengan peradaban gemilang pada masa mendatang dengan pendekatan semanis madu, dan ketegasan seorang ayah ketika mendisiplinkan putra tertuanya. Keduanya sedang bertumbuh, memperlihatkan perkembangan diri secara utuh, anak akan memperoleh setidaknya road map tentang diri dan kehidupannya nanti, sedangkan si guru menjadi pemandu bakat dengan kejernihan melihat potensi yang dimiliki oleh murid, meski framing dari pihak luar sering kali mengubur potensi mereka dalam batas yang menjengkelkan. 

Jika dalam proses mengajar menggunakan cara-berpusat pada murid atau berpusat pada guru, dua-duanya meski menampilkan citra diri sebagai pengembang misi, yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga yang dihasilkan nanti adalah ketahanan diri untuk menghadapi situasi yang sesuai dengan keinginan dan yang tidak sesuai dengan keinginan, keduanya bermaksud untuk membuat saya pikir dan daya gerak yang berdampak pada kemandirian untuk mengubah citra pada level menciptakan daya lejit yang proporsional. 



Jumat, 18 Juli 2025

Guru Sebagai Penagih Intelektual

BABAK 89
Betapa kacaunya isi pikiran seseorang pendidik ketika membaca buku, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bukan untuk tabayyun, mengecek apakah isinya racun atau madu, dari situ saja itu sudah membekali sejumlah logika untuk bisa main tidak hanya di ladang sendiri. Kalau kata
Martin Suryajaya; "menangguhkan sendiri kepribadian sejenak, untuk mencoba menulusuri isi pikiran orang lain. Menurut saya itu sangat mengena, seperti kita sedang bercanda sambil berpikir. Seorang guru perlu memberi jarak antara dia dengan sumber bacaannya. Agar ia bisa menyerap apa yang mesti bisa diserap, dan apa yang mesti dijeda

Campur aduknya antara keinginan untuk menginterupsi bacaan orang lain, itu bagus. Tetapi kenapa ketika selesai membaca ada banyak yang hilang. Karena ketika ia membuka halaman baru dalam sebuah buku, kan iya sedang masuk dalam pikiran si penulis, tanpa perlu mengoreksi terus bacaan, tetapi lebih kepada seberapa banyak informasi yang bisa ditabung, diendapkan dalam memory jangka panjang, dan suatu saat bisa dipanggil kapan saja, tanpa perlu ribet-ribet untuk mengindarinya ketika berargumen.

Berhenti sejenak untuk mengetahui isi pikiran orang lain, adalah modal untuk berpendapat, berdiskui, dan berdebat yang hangat tentang sesuatu hal, tanpa bacaan yang melimpah orang dalam hal ini seorang pendidik agak sulit untuk menangkap gejala pada peserta didik, ada kegagapan yang mereka sedang pertontonkan, dengan jawaban yang diluar kendali mereka sebagai pendidik, sebagai guru, yang tetap rendah hati tanpa perlu bersikap feodal. 

Betapa campur aduknya pikiran pendidik manakala terus membereskan pemikiran orang lain dengan maksud bukan untuk pendampingan tetapi dengan maksud tertentu, yang mencoba meruntuhkan satu warisan yang sudah tersusun lama, berdasarkan pengalaman, evaluasi, segala kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan terkait program dan kurikulum sekolah.

Buku itu berbicara, mengajak orang untuk berpikir, jadi jangan selalu mendapatkan apa yang diharapkan dalam satu buku, maksudnya ketiak pendidik membaca satu momen satu buku, dan hasilnya adalah kebingungan, jangan tagih pada penulis pemberi momen (kejadian), tetapi tagih apa maksud dari buku yang dimaksud, bukan terus menerus managih pada seorang pengarang, kitalah lah yang menerka apa yang dimaksud, karena si penulis menyampaikan simbol tertentu agar orang berpikir tidak selalu disuapi seperti bayi, lalu kapan berpikirnya seorang pendidik. Cara menagis isi pikiran pengarang bisa sangat melimpah caranya bisa macam-macam. Kalian bisa mencari sendiri jawabannya, dan itu tugas sebagai seorang pendidik.

Cekap semanten.

Perjalanan Sang Demonstran

BABAK 11
Roti Vatrushka 
Elang melangkah kedua kakinya lecet-lecet, ada darah yang sudah mengering di area pelipis. Nafasnya ngos-ngosan. "Cepat!" kata seorang pemuda yang melilitkan kepalanya dengan kain coklat. "Tunggu!" kata Elang, menghentikan langkah-langkah sibuk antara kuda-kuda pendek, kekar, dan jangkung, dan juga onggokan tubuh yang sudah tidak bisa berbicara lagi.

"Kau ragu?" katanya, giginya putih. Tak ada bekas nikotin, bisiknya dalam palung hati yang terdalam. Ini bertolak belakang dengan Elang, jika kalian ingin mendengar, meskinya kalian sudah tahu, siapa Elang ini. Keseharian sebelum sampai di sini, hanya keseharian yang sama sekali tak mencolok; makan di warung lalu bayarnya sampai bulan depan. Keliling sebagai tukang cukur, joki pemancing, kernet bus, dan kadang-kadang sebagai tukang vermak baju dan seterusnya. Ia tidak berijazah, tetapi isi pikirannya sering merepotkan para penduduk istana. Yang kerjaannya semakin hari semakin memusingkan kepala. Mungkin karena pikiran ini terlalu picik dan mental blok, tetapi hilang sejenak seperti menjelang sumpah pemuda. Bahkan medium cetak, eropa sebagai caranya sendiri untuk bertumbuh.

"kau bisa membaca ini, yang kunginkan bukan hanya nyiyir tetapi sebuah kapasitas sebagai orang Indonesia." Tanya Elang.

Sebuah koran yang diambil dari pembungkus Roti Vatrushka yang terbungkus buru-buru. Dan ia duduk sambil menyeruput teh hijau yang dihidangkan oleh salah seorang rekan perjalan pulang. "Inilah perjalanan yang paling sakra mengantarkan mayat sejumlah pejuang dan harus di antarkan kepada orang-orang yang kita cintai," katanya.

"Kau kelihatan sekali sedang berbohong, dalam agamamu berbohong adalah penghianatan." kata Elang

"aku sedang berbicara dengan 'mayat' yang lain." jawabnya.

Keduanya tertawa. Mereka melanjutkan perjalanan.

Terbang Tak Pernah Hinggap

Seorang kelana pergi mencari harapan, mencari tempat untuk bersandar, itu terjadi pada pria yang ingin menjadi dirinya sendiri, tetapi waktu kemudian menjadikan ia mengerti, bahwa orang yang ia kasihi belajar untuk menjadi dirinya sendiri, jadilah lelaki yang berharga untuk semua situasi.

Dalam tangisku juga tak ingin melihat wajahmu lagi. Kamu yang tak tahu situasi dan rabun untuk melihat situasi. Ketika aku memilih situasi lain, kau merengek seakan tak peka. Kini aku memilih jalan yang benar, jalan yang kau benci, kenapa tak memilihnya. Kau rentan dan tak masuk akal, kamu serba semu dan tak murni. Sementara ini aku sudah punya surga lima, ada yang surga yang tertinggi, yang bau tubuhnya tak pernah membosankan. Tak pernah terlintas untuk membalas sedikitpun pada apapun yang kamu lakuna, karena semua itu hanya kepalsuan yang kamu tawarkan. Kini kinilah tinggalah pergi. Sejauh-sejauhnya tanpa pernah sidikitpun menoleh, karena hanya kehampaan yang akan kamu peroleh. Camkan itu.

Kini kau terima sebuah kehidupan. Sekarang aku tumbuh menjadi diriku yang lebih matang. Disampingku berdiri bidadari yang tumbuh semakin kuat dengan empat prajurit kebanggan. Kini saat untuk mendampingi sampai Tuhan memanggil, tetapi ingin kulihat Ka'bah dan sebuah kemerdekaan untuk yang jauh di sana. Titip salam buat mereka, hanya doa yang bisa kupanjatkan. Hanya menitip kekuatan lewat angin dan hangatnya cahanya. Semoga kita bertemu di lain kesempatan.

Rabu, 16 Juli 2025

Personal Calling

BABAK 88
Kalau guru sudah menemukan panggilan pribadi (Personal Calling) dalam mendidik anak-anak di sekolah, maka mereka akan melakukan, mencari, mengevaluasi, memperbaiki apa-apa yang kurang ketika mengajar dan memberikan materi kepada peserta didiknya pada puncak rantai ruh seorang guru. Ia akan melampaui cara berpikir yang umum. Tidak lagi mengajar mendidik sekadar untuk menggugurkan kewajibannya sebagai guru, tetapi ia akan menempatkan diri pada puncak marwah sebagai seorang guru. Ia mendampingi para peserta didik tidak lagi membuat seberapa besar harapan si anak tercapai, tetapi akan melakukan pendampingan dengan melibatkan seluruh panca indra yang dibungkus oleh hati yang terus lurus dan selamat dari pelbagai sikap dan sifat buruk yang sering menggerus niat seorang guru pada perjalanannya.

Guru yang sudah terpanggil hatinya, ukurannya tidak lagi materi sebagai target utama dalam misinya sebagai seorang pengajar. Jika target utama, yakni pucuk-pucuk duit, maka yang terjadi ia akan berhenti pada lingkaran pikiran seperti itu. Tidak salah sih, hanya saja mengurangi 'niat', katakanlah seperti, saya belum menemukan istilah yang tepat. Ini sangat dilematis, jika kalian berada pada posisi seperti ini, satu sisi anda berusaha menunjukkan tekad seorang guru, di sisi lain ada peran lain sebagai juru pendidik. Saya kira luruskan niat sempurnakan ikhtiar, adalah kata yang tepat untuk saat ini. Serta tidak mengabaikan konsep keseimbangan, uang, Tuhan, keluarga, pengabdian, serta dapur. 

Ada hal yang lebih besar ketika anak-anak bisa memikul seluruh kemandirian, dan bisa dicicil ketika dalam hidup dan kehidupannya yang mereka hadapi. "Hati akan tersentuh oleh Hati" begitulah Aa Gym selalu memberikan petuah pada kajian subuh ketika saya mendengarkan beliau pada kurun waktu 2000an. "Dan hati itu ibarat teko, kalau isinya susu yang keluar susu, bila isinya comberan, yang keluar pun isinya comberan. Maka, rawatlah hati sebagai kalian merawat mesin." tambahnya. Materi memang penting, misalnya uang, tetapi ia efek saja dari seluruh rangkaian aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru. "Sah nggak kalau mengajar ingin mendapatkan uang". Ya sah saja, mereka masih memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya, simak saja guru honorer yang tidak hanya melibatkan sisi hatinya tetapi harapan besar pada uang ketika ia selesai mengajar. Dalam dunia pelayanan pendidikan, selalu saja ada pengecualian yang mesti di tolerir sebagai bentuk memanusiakan manusia, katakanlah seperti itu. Saya pikir guru honorer yang setia dengan gaji seperti yang kita dengar, mereka telah melibatkan seluruh panca indera dan kemanusiaan untuk menjadi pejuang bagi peradaban bangsa. Pada titik inilah mereka yang duduk di singga sana mestilah merenung sedikit, dan berhenti untuk bercakap-cakap, sudah saat mereka turun gunung memberi mereka harapan yang lebih besar, dari pada sekadar untuk terus menggaungkan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, sudahi betul, beralihlah pada wilayah yang nyata dan berdampak. Mereka telah melewati fase yang berbeda, dan sudah selayaknya kita perlu mengangkat topi, memberi hormat setinggi-tingginya. Dalam hal ini kita perlu merunduk pada guru yang telah mengeluarkan api tekad sepanas-panasnya, hingga api yang panas terasa dingin, seperti mukjizat nabi Ibrahim, guru pada level itu amatlah sukar untuk mengkategorikan, apalagi memberi label tertentu. Pada posisi apa mereka sebenarnya, jawabannya mereka pada tipe pewaris para nabi, yang pengorbanannya tiada banding.

Begitu juga sebaliknya, guru yang sudah "melimpah" dalam arti tertentu, hingga tak lagi menemui kesulitan yang sering dibayangkan oleh guru yang sudah "layak" dalam arti tertentu. Mungkin ini kurang tepat, tetapi saya tidak bermaksud untuk membandingkan satu sama lain. Kadang nasib dan kerja didiknya akan memperjelas siapa seberapa besar "nyali" seorang guru dalam menghidupkan api tekad dalam dirinya. Cekap semanten.