Senin, 19 Mei 2014

Tanpa Passion

Aku berangkat dari himpitan yang tak berkesudahan
selalu hadir yang tak pernah ku duga sekalipun
Aku tak pernah menyangka pada usiaku yang menginjak ke tiga puluh
menemukan sebuah kenyataan yang mencengangkan pikiran masa depan

Sering kali yang ku temukan adalah warna lain yang menyesakkan dada
Kebaradaanku mengagetkan nurani yang telah membantu
Aku hidup dan beraktivitas tanpa nyawa yang ku genggam
Aku melangkah seringkali tak terbingaki semangat yang menggelora
Aku hanya memenuhi hidup yang membosankan

Aku bekerja tanpa Passion yang menyala
AKu seringakali menemukan kejenuhan pada setiap yang kulalukan
Menghantarkan kupada kemalasan yang tak berkesudahan
Membolos adalah kata yang tepat untukku yang bekerja tanpa passion
Kini hari-hariku sangat menjemukan
Setiap nafas adalah bete yang tak berkesudahan

Perangai Cinta

Orang macam-macam jenis karakter hinggap pada lingkungan sekitar
Menjadi pribadi yang selalu menyenangkan karakter buruk adalah kebusukan yang nyata
Hutan bukan juga solusi yang tepat untuk meloloskan diri dari sergapan lingkungan yang bobrok sekalipun atu melarikan diri dari kenyataan yang sedang terjadi

Pindah adalah kenyataan yang memang menyakitkan untuk dirasa pada tiap awal permulaan Tapi cinta adalah kekuatan yang mengharuskan untuk berbuat sesuatu untuk kebaikan di masa yang akan datang
kekuatan cinta tak kan pernah memisahkan tekad yang sudah bulat seperti adukan semen yang keras
Inilah perangai cinta yang selalu di agungkan oleh para pejuang yang tak gentar oleh kematian yang seringkali menciutkan nyali

Padahal cinta adalah sempurna untuk meninabobokan asmara yang meledak-ledak oleh lahar yang panas
kekuatan cinta selalu menebarkan aroma pada jejak yang palsu sekalipun
Indahnya memandang cinta sebagai bagian dari perjuangan yang tak pernah melelahakan raga dan jiwa
Perangai cinta akan selalu mempesona dan menyihir pada detik yang menegangkan

Rabu, 14 Mei 2014

Dua Kekuatan Hidup

Hidup Itu ternyata tidak segarang yang kita bayangkan.

Hidup itu menyenangkan dan mengenyangkan. Setidaknya ada dua kekuatan yang membuat kita bisa menghadapi segala macam resiko dan goncangan hidup.

Kekuatan pertama adalah, tidak semua orang suka dan menyukai apa yang kita putuskan, dan yang kita lakukan. Posisi di mana kita berada adalah yang paling menentukan seberapa besar jarak tembak bagi musuh untuk selalu menebar desas-desus tentang kepribadian kita.

Jawaban dari permasalahan untuk masalah tersebut adalah: Siapakan kondisi mental dan fikiran agar tidak terjebak dalam pikiran untuk stag dalam perjalanan kehidupan.Kedua, adalah lakukan yang paling mudah untuk bisa membuat standar dengan permasalahan yang langsung bermuara pada sang Pencipta.

Kekuatan kedua adalah, Gunakan senjata yang paling ampuh untuk membungkam semua permasalahan yang ada adalah dengan membuktikan bukti seterang-terangnya agar kita bisa melampuai seberat apapun masalah yang kita hadapi.

Show Must Go On adalah cara terbaik sebagai peluru untuk terus berbuat dan memberikan pencerahan setidaknya bagi pribadi kita, agar mampu melompat lebih tinggi dan menunjukkan karya yang nyata buah hasil dari Passion yang benar-benar berkobar.

Rabu, 23 April 2014

Ayah

Ayah, aku ingin memelukmu

Pagi buta pergi ke sawah yang bukan miliknya sendiri,menggunakan sepeda jengky hijau yang di beli dua kali mencicil pada sebuah toko di purbalingga
Menggunakan caping yang cokelat lusuh terbakar matahari, mengayuh sepeda melintasi jalanan yang hening. Ku tatap punggungnya yang masih kekar dan berotot
Tangan Ayah mulai bergelut dengan lumpur menyaingi rumput yang liar dan tak pernah lelah mengenal waktu untuk tumbuh sepanjang desahan angin dan embun yang terus menetes sampai ke akar
Matahari mulai membakar dengan kelenturan yang terjaga, sehingga mampu menghidupkan apa saja yang perlu tumbuh dan berkembang hingga menjalar sampai ke bintang
Ayah tak kenal usia untuk terus tumbuh dan menjaga semangat agar anak-anaknya terus tumbuh dan berkembang
Ayah kunantikan segenap jiwa untuk terus menatap dengan jiwa dan cinta membara
Agar semuanya tak pernah lekang walau tatapan kelak redup di makan zaman dan takdir

Ayah mengapa tak pernah ku lihat engkau menangis, apakah engkau sekuat Umar bin Khattab dalam memaknai kehidupan. Sahabat umar saja bisa menangis bila mengingat masa jahiliyahnya
Peluh sering ku lihat melepuh melewati alis yang tebal dan hitam. Alis itu akan berirama manakala bingung tengah melanda isi pikiranmu
Ayah aku ingin memelukmu dalam balutan baju putih ihram dan melepas engkau masuk ke dalam burung besi yang gagah itu
Kesempatan itu akan indah bila engkau tersenyum dalam balutan baju ihram yang elegan itu
Ayah... Ayah...aku ingin melihatmu tesenyum tenang dan damai, setelah "pertempuran" yang melelahkan

Kamis, 17 April 2014

Mahluk dari Hujan

Bagian 
Keempat 

Babeng dan seorang prajurit berlari ke arah pemukiman penduduk yang berada di tengah lembah. sekeliling lembah dipenuhi oleh hutan pinus yang lebat. jeritan dan ketakutan warga tampak jelas. Babeng meloncat dari atas bukit, lalu menerjang punggung kerbau jantang yang sedang mengamuk. sontak saja suasan makin tegang, semua mata tertuju pada Babeng yang bertubuh jangkung. ketika Babeng ingin mengeluarkan tombak pendek dari belakang punggungnya, kerbau jantan itu melenguh keras dengan mengangkat kedua kaki depannya keatas. spontan tubuh Babeng terlempar ke belakang. reflek tubuh Babeng langsung menggunakan teknik jatuhan yang bagus, dengan menggunakan kedua lengan kanannya secara tepat menempel ke tanah.

" Hati-hati beng, kerbau itu ternyata sudah gila, ia sudah sejam lalu berlari kesana kemari." teriakan ketua desa sambil memegang tongkat.

Babeng mengangguk.

" Ayo Babeng kamu bisa menaklukkan Kerbau ini, kamu juga pernah membunuh singa dengan sekali tebasan pedang." Babeng menyemangati diri sendiri.

Babeng mengeluarkan sebuah selendang berwarna merah, aneh warna merah biasanya untuk mengendalikan Banteng yang sedang mengamuk menuju matador. para warga yang menyaksikan adegan itu makin tegang. peluh dan keringat menetes pada sebagia wajah penonton. anak kecil menangis melihat adegan mengerikan itu. selendang merah itu ternyata ia ikatkan pada tombak pendek. kerbau jantan makin menggila.

Angin dan debu bertebangan. ujung ikat kepala berkibar tertiup angin. suara gaduh dan histeris ketakutan terjadi lagi, Kerbau jantan mendengus dan berlari ke arah Babeng dengan suara berat kaki yang di pukulkan oleh buku-buku jarinya. semua mata tertuju pada Babeng.

"Hup" suara babeng terdengar. Ia memperagakan lompat harimau yang indah sambil melempar tombak pendek kearah leher. "Blep" dan suara kerbau melenguh dengan keras. Dengan cekatan Babeng mengeluarkan pedang, lalu dengan gerakan yang terlatih ia menebaskan pedangnya pada leher kerbau itu. darah segar lalu muncrat dari pembuluh nadinya. semua warga langsung bertepuk tangan. senang karena gangguan telah berkurang dan bisa menyantap daging kerbau jantan itu secara gratis. biasanya warga harus berburu dan harus berbagi hewan buruannya dengan singa, Cheetah, dan Haina.

Babeng membersihkan darah yang sebagian menempel pada wajah dan lengannya. ketua suku langsung mendekatinnya. ia membisikkan sesuatu pada telinga Babeng. wajah Babeng langsung merah dan tegang.

"Ada jejak langkah manusia yang sangat besar, dan ini mungin jejak mahluk dari hujan."

Mata babeng langsung mengarah kepegunungan yang melingkari desa Rintik. Ia bergegas dan berlari 
menuju kuda belangnya. Aneh, babeng menggunakan kuda zebra sebagai tunggangannya.


Rabu, 16 April 2014

Novel Mahluk dari Hujan

Bagian 
Ketiga 

Bukit desa rintik tampak hijau dan menyegarkan. setelah di tunjuk menjadi pengawal bagi desa Rintik, kehidupan Babeng terasa sangat terarah. Setelah lama mendekam dalam penjara oleh kerajaan Somplang yang menajadi pusat pemerintahan di beberapa desa, termasuk desa Rintik. Pihak kerajaan Somplang menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Babeng karena "terbukti" memperdagangkan adik dan beberapa penduduk desa Rintik kepada kerajaan Boman yang mayoritas para prajurit di dominasi oleh tentara-tentara yang mahir memanah dan ahli dalam Parkour.

Penjara membuat Babeng merasa tak putus asa karena masih percaya pada hukum Tuhan yang akan menghakiminya suatu saat. siang ini Babeng sedang berdiri di kaki bukit mengawasi rumah yang ada di lembah. sebuah suara mengacaukan konsentrasinya.

"Beng". seorang prajurit berteriak

" Ya"

" Di panggil ketua desa"

" Ada berita Apa"

" Seekor kerbau sedang mengamuk dan sudah mencederai pemilinya."

"Ayo kita kesana."

Babeng merasa kepercayaan dirinya meningkat tajam, penjara tak membuat masyarakat mengucilkannya, tetapi itu terjadi pada desa rintik. desa-desa lain sama sekali tak menganggapnya sebagai pahlawan jangkung 200 cm.

Kamis, 27 Maret 2014

Berbagi Cinta

Semua orang pernah merasakan betapa dahsyatnya kekuatan cinta yang bergelombang tinggi
Mampu menghempaskan nurani dan ideologi catatan kemanusiaan
Cinta kadang kala mampu menghipnotis raga hingga menjadi kekuatan yang bernyawa
Sekalipun cinta bermuara durjana atau bidadari bermata jeli
Seakan cinta sebuah misteri yang datang tak di undang pulang pun tak di antar

Helaian parodi zaman mulai menggerogoti naluri dan kepribadian
Anak muda mulai melanggar tatanan dan norma ketimuran
Pemuda mana yang tak tergiur oleh aroma jalang yang tak kenal batas etika
Seni adalah alibi yang mampu menembakkan ribuan selongsong peluru
Pada prinsip hidup dan ajaran para guru dan pendidik lainnya
Hakikatnya adalah semuanya bermuara pada ada dan tidaknya cerita bermakna pada semua sisi

Natural adalah seni yang abadi
Bila pengguna tak mewarani dengan ganja dan narkotika
Seni bercinta adalah mutlak untuk melawan kejenuhan
Berbagi cinta dengan pendamping hidup yang halal adalah sebuah keniscyaan
Melawan kodrat kadangkala dibenarkan
Bila semua ada tujuan yang dibenarkan

Benarkah cinta mampu merubah
Merubah tatanan nilai yang sembrono tanpa aturan
Ada Tuhan yang mengusai seluruh jagat raya
Mengetahui di mana manusia berbohong dan berdusa
Tuhan adalah tempat paling jujur untuk berbagi cinta
Karena Tuhan tak pernah mengurangi sedikitpun rasa cinta kepada manusia

Jumat, 14 Maret 2014

Posisi Rakyat

Merayap senja seperti gerilyawan perang hutan
Sejenis gangguan pernapasan yang mengakibatkan pada macetnya laras panjang
tak bisa di kokang ataupun di hentakkan menyembur peluru-peluru perkasa
penyelasan adalah lambang keperkasaan dari perasaan yang telah tertusuk permasalahan akut
seperti para hakim yang memberikan putusan tanpa delik hukum yang jelas
perkara benar atau salah adalah urusan belakangan
manakala brangkas-brangkas pengecut siap menampung alteleri yang bermandikan darah dan tetesan para kaum sudra
sengaja menafikan rotasi yang terlalu senjang pada jarak pukul yang selalu ada pada tiap pukulan jarak pendek

Gulma adakala berubah menjadi manisan yang siap saji
Hakim menelan gulma yang basi dan berbau najis
kita semua adalah hakim bagi manusia dan kemanusiaan
kita adalah pemimpin yang punya beban di pundak masing-masing
terletak di mana hakim putih yang mawas diri dari todongan gemerlapan mobil Lamborghini
menderung pada jejak hutan yang masih perawan
sampai mana nafas mereka dapat bertahan
gugusan emas dan perak menjulang bak cendawan gunung sinabung
atau lelehan emas yang selalu membawa derita kanker yang jorok pada gumpalan kemunafikan

Manis dan pahit adalah sama rasa
Ia adalah efek dari lidah yang selalu bertaburan saliva yang enak dan mengenyangkan
lalu tidur bagai singa yang memakan satu ekor kuda zebra yang tengah memakan sarapan
atau rasa pahit karena lidah rakyat jelata selalu pada tataran tempe dan tumpukan plastik sebagai alas tidur
lalu esok paginya di bawa ke pengepul untuk di tukar nyawa kehidupan

Sabtu, 08 Maret 2014

STIGMA

Jalan Panjang memadai untuk beberapa helaian nafas
Pada jarak yang selalu bersamaan dengan paradigma
Selalu membuat getaran pada cara pandang yang menyesakkan penglihatan dan pendengaran
Akan ada aroma kejahatan yang di tiup melalui ubun-ubun yang licin
Kepala tak berisi oleh cairan intelektual yang bertumpu pada kecersdasan spiritual
Melainkan hanya pada goresan pena dan tutur kata, padahal bicara hanya sekedar lipstik memungkinkan untuk memunculkan alibi ratusan juta Kejutan

Drama menurut sebagaia cerita berujung pada kekalahan atau kemenangan
Sejatinya semua itu bermula pada arogansi yang di anggap enteng niat dan kehendaknya
Selalu saja bermuara pada keabadian materi dan rasa humor yang garing karena ketololan panca indera
Pada akhirnya orang akan beranggapan dan memberi STIGMA kalau malam akan selalu bernuansa gelap dan pekat
Padahal Malam adakalanya berpayung bintang dan rembulan yang kaya keindahan dan nuansa bening

Jumat, 07 Maret 2014

Hari-Hari Tak Lagi Sama

Hari-hari tak lagi sama. Semua orang ketika bangun memikirkan sesuatu yang akan membuatnya tetap nyaman atau malah menggerutu tiap bangun. Aku seperti di bulan kelahiran anakku yang pertama, malam dan siang selalu berwarna ketika mendengar wajah dan gesture bayi yang sederhana tetapi sangat lucu dan meneduhkan. Aku dan kemarin waktu adalah dua hal yang selalu tak punya cerita yang sama.

Hari-hari tak lagi sama. Aku tidak ingin terjebak pada rutinitas yang selalu orang jalankan pada tiap pagi dengan sepeda motor berangkat ke tempat kerja masing-masing. Pola hidup yang terus menerus begitu membuatku berpikir kalau sebaiknya aku memulai sesuatu yang akan mengubah ku pada 10 tahun kedepan. Aku memulai memetakan tentang hidup dan kehidupan agar usiaku tak lagi sia-sia.

Hari-hari tak lagi sama. Tiap masuk ke Toko Buku apa saja, Aku selalu berusaha mengatakan pada pikiran alam bawah sadar kalau suatu saat novelku akan terpajang disana dan di seluruh penjuru dunia. Novelku akan mengubah peradaban setidaknya dapat menggetarkan penduduknya hingga mengingat dan kembali kepada nurani kebenaran. Dulu hariku biasa saja tanpa ada visi dan peta hidup yang jelas.

Hari-Hari tak lagi sama. Aku merasa tiap kita punya lompatan seperti para atlet pelompat. Kini aku merasa setiap apa yang ku lakukan membawa tuntutan dan reaksi yang akan berakibat pada kehidupan di masa yang akan datang.

Hari-hari tak lagi sama. Dulu aku masih membawa tas butut bergambar Batman yang kedua pengaitnya sudah terkelupas warnanya. Lalu Waktu merenda tak terbatas, berseragam putih biru dan putih abu-abu. Aku seolah berada dalam mimpi bisa menuntut ilmu di Universitas dengan tuntutan bahasa Indonesia yang baik dan tak terlalu kaku.

Hari-hari tak lagi sama. Tiap pulang kerja aku selalu siap melihat senyum Qaiser Faeyza Aprian.

Selasa, 18 Februari 2014

EKSPEKTASI

Ekpektasi terkadang menguras emosi sekaligus menggerus pola pikir. kalau tidak segera di deteksi, maka paradigma hidup akan salah mengartikan tentang harapan. seperti yang di alami oleh San Mukyi yang punya harapan ayahnya bisa merenovasi rumah mungilnya di daerah Bogor. Tetapi skenario dan takdir harus berkendak lain. Ayahnya jatuh sakit dan di vonis oleh dokter terkena penyakit Prostat. San Mukyi akan membayar ayah sesuai dengan tukang yang sudah profesional. Hidup itu memang misteri. San Mukyi memilih untuk tidak patah semangat. Ia ingat dengan Aa Gym yang menelurkan konsep pilihan tentang harapan. "Kita harus siap dengan kondisi yang kita inginkan dan siap juga dengan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan."
Pesan Kyai itu melekat betul di alam bawah sadarnya. San Mukyi memilih untuk siap dengan kondisi yang tidak di inginkannya. Ia pun berpikir kalau moment inilah yang sedang Allah skenariokan padannya tanpa melampaui batasnya. San Mukyi memilih untuk tidak mendramatisir masalah yang ada. Ia memilih untuk mencari tukang yang menurutnya profesional.
Harapan yang tidak kita inginkan memang menyakitkan tetapi kalau kita benar-benar serius untuk mencari dan merenung titik permasalahan sekaligus solusi. Maka harapan yang sesuai dengan kita inginkan atau tidak akan menjadi lompatan kedewasaan kita semua.
Kita bisa belajar kedewasaan pada sosok San Mukyi yang memilih untuk Move On dari pada berjalan di tempat yang sama.

Kamis, 05 Desember 2013

JALAN PUTIH

Selama cinta masih mengikat
Aroma dzikir tinggi membumbung
Dalam cendawan mahabbah
Memaknai perpindahan hati

Gelombang dosa bertubi-tubi
Mencerai beraikan manisnya iman
Menjelajah sendi-sendi Islam
Berkarat hingga terpatri

Waktu terus berjalan
Mendesak mahluk dunia
Terpojok dalam usia menua
Mengantongi pundi-pundi amal

Ada kala manusia berpikir
Berdiri ringan di atas tanah
Berbantalkan materi duniawi
Jalan putih tertutup gelapnya dosa

Setiap manusia mendendangkan amal
Tertelungkup noda-noda gulma dan benalu
Mengubah intonasi kepribadian
Memangkas amal seringan kapas

Nutrisi hati tergerogoti
Oleh rayap-rayap kesombongan
Mampukah setiap insan
bertahan dari gledek dan gertakan iblis durjana

Rabu, 18 September 2013

Novel Mahluk dari Hujan

Bagian 
Kedua


Siang sangat panas. Desa Rintik seperti menemukan kehidupan bila siang menjelang. Para lansia terlihat sibuk menganyam tikar dari daun pandan untuk memenuhi permintaan dari Kota. setidaknya ini menjadi bagian dari kesibukan yang mendatangkan kedamaian bagi Desa Rintik. Anak-anak yang masih kecil tampak berlari-lari mengejar kelinci hutan yang tersesat masuk ke kampung. Tak jarang kelinci tersebut akhirnya menyerah oleh panah seorang pemanah ulung dari Desa Rintik. lalu daging kelinci tersebut di jadikan sate yang gurih dan nikmat. Anak-anak kecil selalu riang dan senang Bila sang Pemanah hadiri diantara mereka. Sang pemanah juga tak keberatan berdekatan dengan anak-anak kecil.

Pemuda jago memanah tersebut meninggalkan keriangan anak-anak. Ia pergi dengan kuda jantan berwarna hitam legam. Pemuda tersebut tidak hanya jago memanah tetapi juga beladiri. Pemuda ini memiliki wajah sangar tetapi lembut. kulitnya coklat. hidungnya tak begitu mancung. Giginya putih alami. Gayanya sopan dan Jantan. Pemuda ini memiliki tinggi 200 meter. Ia menjadi satu-satunya pemuda tertinggi di Desa Rintik. Hobinya berburu dan Menyerahkan hasil buruannya kepada para Lansia untuk di jadikan dendeng untuk menghadapi musim Salju. Setelah diadakannya rapat akhirnya menghasilkan satu kesepakatan kalau Pemuda inilah yang akan menjadi ujung Tombak teror yang menghantui Desa Rintik.

Jumat, 06 September 2013

Novel Mahluk dari Hujan

Bagian  
Satu

Desa Rintik masih di selimuti awan pekat kehitaman sepanjang sore. Menjelang Malam awan hitam itu menurunkan curan hujan yang tiada henti, seoalah hujan itu akan menelan desa Rintik sampai tak tersisa. Desa Rintik terdapat di di belakang bukit cemara. Ada 100 kepala keluarga yang menghuni Desa Rintik. Malam minggu biasanya pertigaan jalan selalu ada beberapa penjual jajanan yang di rebus, seperti jagung rebus, kacang rabus, dan Ubi rebus. pertama, Hujan lebat yang mengguyur desa Rintik telah menelan keriangan kecil anak-anak yang ingin beli panganan tradisional tersebut. kedua, peristiwa aneh yang kerap muncul bila hujan lebat datang menghampiri desa Rintik. Penduduk mulai gelisah ketika seminggu yang lalu di bawah guyuran hujan lebat di waktu senja, seorang penjaga desa di perbatasan melihat seorang laki-laki berpakain serba hitam memasuki Desa Rintik tanpa dapat di cegah. laki-laki tersebut memakai topeng kulit kayu yang di serut. Penjaga Desa di perbatasan seperti terhipnotis ketika laki-laki tersebut lewat 10 meter di depannya. ketika penjaga Desa melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Desa, sang penjaga di temukan tewas sore harinya, terkena jebakan beruang yang ia buat sendiri. sejak kejadian itu maka para penduduk selalu di hampiri perasaan mencekam ketika malam tiba di sertai hujan lebat. ketiga, laki berpakaian hitam dan bertopeng itu tak satupun warga yang menjumpainya.

Sebulan telah berlalu. Malam ini, penduduk Desa Rintik mulai merasakan keanehan yang lebih menakutkan. Bila malam menjelang di sertai hujan lebat. Unggas-unggas mereka selalu ribut dan berteriak. Kambing dan Sapi saling mengembik dan melenguh. Burung Hantu saling bersahutan ramai. Srigala di ujung bukit cemara selalu ribut dan melolong panjang. Hujan lebat tak bisa meredam suara-suara hewan tersebut. Keadaan yang mencekam ini membuat bayi-bayi yang baru lahir tak bisa tidur nyenyak. Anak-anak kecil selalu minta di gendong. Hujan lebat tak bisa membuat damai seluruh penduduk Desa Rintik.

Esok Paginya para pemuda yang kuat dan pemberani berkumpul membentuk lingkaran. Hadir di antara mereka Guru Spiritual, Kepala Desa, dan para sesepuh Desa Rintik. Semuanya mencemaskan nasib desanya yang makin hari makin mencekam. Para warga selalu minta di kawal ketika jelang malam sepulang dari Pasar, atau berbelanja kebutuhan dapur di kota. jarak dari Desa Ke kota memerlukan Waktu 3 hari dengan berkuda. Diskusi mulai hangat dan kuat pendapat kalau perbatasan harus di jaga sepuluh pemuda pemberani sekaligus mahir beladiri. Yang lainnya mengusulkan kalau mendatangkan seorang seorang pemberani dari Kota untuk bisa mengatasi kecemasan para warga.

Kamis, 25 Juli 2013

MUNAJAT

Malam menyambut dalam titian Iman
Bercinta dalam dzkir-dzikir malam
Bersujud dalam sajadah Panjang
Merenungi Ibadah Puasa Seharian

 Cahaya Iman menebarkan harum kesturi
 Aku Berdiri khusu dalam tiap rakaat sholat
 Khouf dan Raja bersemayam dalam dada
 Memancarkan aroma cinta Ilahi Rabbi

Aroma syurga menebar dari insan berpuasa
Menahan syahwat syurga dunia
Menelan pil-pil Dzkrullah
Mengobati Lubang maksiat dan Dosa

Ampuni Hamba Ya...Allah
Puasaku Tak sesempurna Para Nabi dan Rasul
Tak sempurna melawan bisikan-bisikan syetan terkutuk
Tak Jua sempurna menahan ambisi duniawi

Perisaiku seringkali lenyap di waktu puasa
Tak sanggup melawan kilatan pedang Amarah
Seringkali tertusuk duri-duri godaan iri dengki
Tak bisa lolos dari Syetan berwujud manusia

 Kini kelemahanku terbuka lebar di Hadapan-Mu
 Amalanku masih menuai kesomobongan
 Pikiranku masih di selimuti nafsu-nafsu dunia
 Masih mempunyai senyuman ketamakan

Di Bulan Suci ini...
Bulannya Ampunan dan Barokah
Hamba menorehkan tinta Muhasabah
Bermunajat dalam tiap rukuk dan Sujud
          
 Catatan Ramadhan masih di penuhi tinta Merah
 Ibadah sendiri dan berjamaah...
 Masih di Hantui perasaan benar sendiri...
 Sunnguh...amat naifnya hamba bila berharap pahala

Aku berazzam dalam detak-detak jangtungku
Dalam aliran nafas-nafas mohon ampunan Pada-Mu
Supaya Ramadhanku penuh kemenangan
Agar Ramadhanku kembali fitri
            
Dalam sujud panjang terakhir...
Hamba berharap dapat berjumpa dengan Ramadhan
Agar dapat memetik berjuta-juta ampunan
Agar memperoleh setangkup Cinta dan Kemuliann



Deplu, 24 Juli 2013

Senin, 06 Mei 2013

Kata Mateo

Rising Star

Seharusnya peraturan MOTO GP melakukan perbaikan dalam sisi aturannya. Aturan yang membuat para rider seperti Robot. HArus membalap mulus tanpa ada senggolan atau crash. Yang namanya balapan soal senggolan atau benturan hal itu adalah bumbu dalam balapan. Balapan kemarin hari minggu di sirciut Jerez de la Frontera (5 Mei 13) di last lap terakhir, seorang anak muda berbakat dari matador menyeruduk matador yang lebih tua, Lorenzo di tikungan terakhir menjelang garus finis. Matador muda begitu ciamik memanfaatkan celah yang ada dan menggeber keras Motor 1000 cc nya. Menurut MAteo seorang pembalap Superbike, hal itu sah-saha saja. karena itu balapan. segala sesuatu bisa terjadi.

Kelakuannya membuat Lorezo geleng-geleng kepala. Aku ketawa sendiri dan begitu bangga, seorang Lorenzo dapat di buat jengkel oleh anak muda lulusan Moto2. Aku teringat dengan anak muda berambut kribot sahabat karib Rosi. Dia pernah membuat berang para Rider yang lebih "Tua",salah satunya Pedrosa. Si Imut yang sudah melesat menggeber tunggangannya sulit terkejar.

Sementara penampilan Rosi terkesan hati-hati dan tidak ingin membuat kesalahan. Rosi menurut Mateo tidak punya alasan lagi untuk berkilah. Dulu ketika masih mengaspal dengan motor Ducati. Ia selalu mengeluh dengan motornya. Tetapi sekarang Rosi sudah pindah ke Yamaha. Justru Beban berat Rosi lebih terasa karena di Yamaha dia harus menunjukkan skillnya. Untuk apa dia punya julukan The Doctor kalau dia harus bersikap hati-hati ketika membalap. Rosi harus Fight dengan Rider dari Pabrikan manapun. Harus seagersif Marquez, dan Selihai Lorenzo, dan secepat Pedrosa. Ya memang betul kalau Rosi pernah mengalahkan pembalap-pembalap tercepat di bumi. Buktinya dia sudah mendapat gelar 9 kali juara dunia motor cepat di kelas berbeda. Dan sekarang Rosi harus meraih kembali juara Dunia yang ke 10. Rosi adalah The Doctor, seorang ahli Setting Motor, dan pernah mengalahkan semua rider walau dia memulai balapan di urutan terkhir.
Rosi.
 Ku tunggu aksimu kembali. jangan pernah menyerah karena Usia.

Senin, 29 April 2013

Melihat Ke Dalam

Manusia adalah Titik senyawa
Tak berharga
Tak sempurna
Bila Minim Nilai

Burung Kembali ke Sarang
Setelah seharian berpetualang
Menjemput Rizki
Demi anak cucu

Pertengkaran
Iri Dengki
Sifat Manusia lain
Cemburu Buta

Semua itu...
Tak berguna...
Lihatlah Ke dalam
Korban kebiadaban akibat sifat itu...

Tangisan Pilu
Menulusuri orang-orang kecil
Tak berpangkat...
Apakah itu adil

Lihatlah ke dalam
Manusia hendaknya
berpaling dari ketidak adilan
menuju ke tempat paling Tinggi

Sebuah Peradaban
Dunia yang sebelah mata
Lihatlah ke dalam
Raksasa nilai tercapai

Minggu, 28 April 2013

Lelaki Biasa

Bumi Selalu Mengitari Sumbu
Tak Pernah Mangkir dari Peredaran
Lahir ke bumi
Cucu Adam Tak Terhingga

Aku dari sekian Cucu Adam Hawa
Cerita Sedih ada di sana
Cinta Rela bertaruh
Mengharukan Pertemuan Adam Hawa

Pada Mu ku Berbelas
Sungguh Ku Lelaki Biasa
Tak Bisa berbuat Apa
Tanpa titik terang dari Mu

Godaan Dunia amatlah perkasa
Ada Harta, Tahta, Wanita
semua amatlah menggoda
Imanku yang makin merana

aku lelaki biasa
tak seperti Nabi Yusuf
Tak tergoda paras cantik penggoda
Aku hanya bertahan dari godaan

Aku Lelaki Biasa
berasal dari Mani yang Hina
lalu mati terbungkus pengapnya tanah
Tuhan, Jalanku masih panjang

Aku lelaki biasa
meminta Kemurahan-Mu
Mati dalam Puncak Iman
Mengahadap dalam senyuman-Mu
Amin...
Lelaki biasa

Senin, 25 Maret 2013

Sendiri

Rintik membasahi bumi misteri
semak-semak basah
ranting menetes
matahari tenggelam

langkahku terseok-seok
mukaku penuh benjolan bernanah
kutukan tak bertanda
cobaan hidup tak terperikan

gubuk di pojok sana
di padang safana
tertutup ilalang

ku takut tercekat
Anaconda yang menggeliat
mencekam dalam sirip-sirip
tubuhku menggigil

aku sembunyi dalam hujan
di balik hujan ku tertawa
di balik hujan ku menangis
sesengukan-tersedu-sedu

sendiri
tak ada sahabat
aku berkelana sendiri
hujan terus turun tak pernah berhenti.

Senin, 18 Maret 2013

Paradoks

menjelma dalam asa
menjelma dalam cita
raksasa dalam kegelapan
raksasa dalam ketenangan

sekitar berteriak
keras
kencang
merayap, melolong, menangis
putus dalam keceriaan

saat raga tenang
jiwa kenyang
badan nyaman
pandangan menawaan

coba tengok
sekeliling
kelaparan
penindasan

ego di bangun tinggi
sampai langit tujuh
sampai batas awan
tak pernah menjerit dalam kelaparan