Sabtu, 19 Juli 2025
Jumat, 18 Juli 2025
Guru Sebagai Penagih Intelektual
Betapa kacaunya isi pikiran seseorang pendidik ketika membaca buku, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bukan untuk tabayyun, mengecek apakah isinya racun atau madu, dari situ saja itu sudah membekali sejumlah logika untuk bisa main tidak hanya di ladang sendiri. Kalau kata Martin Suryajaya; "menangguhkan sendiri kepribadian sejenak, untuk mencoba menulusuri isi pikiran orang lain. Menurut saya itu sangat mengena, seperti kita sedang bercanda sambil berpikir. Seorang guru perlu memberi jarak antara dia dengan sumber bacaannya. Agar ia bisa menyerap apa yang mesti bisa diserap, dan apa yang mesti dijeda
Campur aduknya antara keinginan untuk menginterupsi bacaan orang lain, itu bagus. Tetapi kenapa ketika selesai membaca ada banyak yang hilang. Karena ketika ia membuka halaman baru dalam sebuah buku, kan iya sedang masuk dalam pikiran si penulis, tanpa perlu mengoreksi terus bacaan, tetapi lebih kepada seberapa banyak informasi yang bisa ditabung, diendapkan dalam memory jangka panjang, dan suatu saat bisa dipanggil kapan saja, tanpa perlu ribet-ribet untuk mengindarinya ketika berargumen.
Berhenti sejenak untuk mengetahui isi pikiran orang lain, adalah modal untuk berpendapat, berdiskui, dan berdebat yang hangat tentang sesuatu hal, tanpa bacaan yang melimpah orang dalam hal ini seorang pendidik agak sulit untuk menangkap gejala pada peserta didik, ada kegagapan yang mereka sedang pertontonkan, dengan jawaban yang diluar kendali mereka sebagai pendidik, sebagai guru, yang tetap rendah hati tanpa perlu bersikap feodal.
Betapa campur aduknya pikiran pendidik manakala terus membereskan pemikiran orang lain dengan maksud bukan untuk pendampingan tetapi dengan maksud tertentu, yang mencoba meruntuhkan satu warisan yang sudah tersusun lama, berdasarkan pengalaman, evaluasi, segala kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan terkait program dan kurikulum sekolah.
Buku itu berbicara, mengajak orang untuk berpikir, jadi jangan selalu mendapatkan apa yang diharapkan dalam satu buku, maksudnya ketiak pendidik membaca satu momen satu buku, dan hasilnya adalah kebingungan, jangan tagih pada penulis pemberi momen (kejadian), tetapi tagih apa maksud dari buku yang dimaksud, bukan terus menerus managih pada seorang pengarang, kitalah lah yang menerka apa yang dimaksud, karena si penulis menyampaikan simbol tertentu agar orang berpikir tidak selalu disuapi seperti bayi, lalu kapan berpikirnya seorang pendidik. Cara menagis isi pikiran pengarang bisa sangat melimpah caranya bisa macam-macam. Kalian bisa mencari sendiri jawabannya, dan itu tugas sebagai seorang pendidik.
Cekap semanten.
Perjalanan Sang Demonstran
"Kau ragu?" katanya, giginya putih. Tak ada bekas nikotin, bisiknya dalam palung hati yang terdalam. Ini bertolak belakang dengan Elang, jika kalian ingin mendengar, meskinya kalian sudah tahu, siapa Elang ini. Keseharian sebelum sampai di sini, hanya keseharian yang sama sekali tak mencolok; makan di warung lalu bayarnya sampai bulan depan. Keliling sebagai tukang cukur, joki pemancing, kernet bus, dan kadang-kadang sebagai tukang vermak baju dan seterusnya. Ia tidak berijazah, tetapi isi pikirannya sering merepotkan para penduduk istana. Yang kerjaannya semakin hari semakin memusingkan kepala. Mungkin karena pikiran ini terlalu picik dan mental blok, tetapi hilang sejenak seperti menjelang sumpah pemuda. Bahkan medium cetak, eropa sebagai caranya sendiri untuk bertumbuh.
"kau bisa membaca ini, yang kunginkan bukan hanya nyiyir tetapi sebuah kapasitas sebagai orang Indonesia." Tanya Elang.
Sebuah koran yang diambil dari pembungkus Roti Vatrushka yang terbungkus buru-buru. Dan ia duduk sambil menyeruput teh hijau yang dihidangkan oleh salah seorang rekan perjalan pulang. "Inilah perjalanan yang paling sakra mengantarkan mayat sejumlah pejuang dan harus di antarkan kepada orang-orang yang kita cintai," katanya.
"Kau kelihatan sekali sedang berbohong, dalam agamamu berbohong adalah penghianatan." kata Elang
"aku sedang berbicara dengan 'mayat' yang lain." jawabnya.
Keduanya tertawa. Mereka melanjutkan perjalanan.
Terbang Tak Pernah Hinggap
Dalam tangisku juga tak ingin melihat wajahmu lagi. Kamu yang tak tahu situasi dan rabun untuk melihat situasi. Ketika aku memilih situasi lain, kau merengek seakan tak peka. Kini aku memilih jalan yang benar, jalan yang kau benci, kenapa tak memilihnya. Kau rentan dan tak masuk akal, kamu serba semu dan tak murni. Sementara ini aku sudah punya surga lima, ada yang surga yang tertinggi, yang bau tubuhnya tak pernah membosankan. Tak pernah terlintas untuk membalas sedikitpun pada apapun yang kamu lakuna, karena semua itu hanya kepalsuan yang kamu tawarkan. Kini kinilah tinggalah pergi. Sejauh-sejauhnya tanpa pernah sidikitpun menoleh, karena hanya kehampaan yang akan kamu peroleh. Camkan itu.
Kini kau terima sebuah kehidupan. Sekarang aku tumbuh menjadi diriku yang lebih matang. Disampingku berdiri bidadari yang tumbuh semakin kuat dengan empat prajurit kebanggan. Kini saat untuk mendampingi sampai Tuhan memanggil, tetapi ingin kulihat Ka'bah dan sebuah kemerdekaan untuk yang jauh di sana. Titip salam buat mereka, hanya doa yang bisa kupanjatkan. Hanya menitip kekuatan lewat angin dan hangatnya cahanya. Semoga kita bertemu di lain kesempatan.
Rabu, 16 Juli 2025
Personal Calling
Kalau guru sudah menemukan panggilan pribadi (Personal Calling) dalam mendidik anak-anak di sekolah, maka mereka akan melakukan, mencari, mengevaluasi, memperbaiki apa-apa yang kurang ketika mengajar dan memberikan materi kepada peserta didiknya pada puncak rantai ruh seorang guru. Ia akan melampaui cara berpikir yang umum. Tidak lagi mengajar mendidik sekadar untuk menggugurkan kewajibannya sebagai guru, tetapi ia akan menempatkan diri pada puncak marwah sebagai seorang guru. Ia mendampingi para peserta didik tidak lagi membuat seberapa besar harapan si anak tercapai, tetapi akan melakukan pendampingan dengan melibatkan seluruh panca indra yang dibungkus oleh hati yang terus lurus dan selamat dari pelbagai sikap dan sifat buruk yang sering menggerus niat seorang guru pada perjalanannya.
Guru yang sudah terpanggil hatinya, ukurannya tidak lagi materi sebagai target utama dalam misinya sebagai seorang pengajar. Jika target utama, yakni pucuk-pucuk duit, maka yang terjadi ia akan berhenti pada lingkaran pikiran seperti itu. Tidak salah sih, hanya saja mengurangi 'niat', katakanlah seperti, saya belum menemukan istilah yang tepat. Ini sangat dilematis, jika kalian berada pada posisi seperti ini, satu sisi anda berusaha menunjukkan tekad seorang guru, di sisi lain ada peran lain sebagai juru pendidik. Saya kira luruskan niat sempurnakan ikhtiar, adalah kata yang tepat untuk saat ini. Serta tidak mengabaikan konsep keseimbangan, uang, Tuhan, keluarga, pengabdian, serta dapur.
Ada hal yang lebih besar ketika anak-anak bisa memikul seluruh kemandirian, dan bisa dicicil ketika dalam hidup dan kehidupannya yang mereka hadapi. "Hati akan tersentuh oleh Hati" begitulah Aa Gym selalu memberikan petuah pada kajian subuh ketika saya mendengarkan beliau pada kurun waktu 2000an. "Dan hati itu ibarat teko, kalau isinya susu yang keluar susu, bila isinya comberan, yang keluar pun isinya comberan. Maka, rawatlah hati sebagai kalian merawat mesin." tambahnya. Materi memang penting, misalnya uang, tetapi ia efek saja dari seluruh rangkaian aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru. "Sah nggak kalau mengajar ingin mendapatkan uang". Ya sah saja, mereka masih memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya, simak saja guru honorer yang tidak hanya melibatkan sisi hatinya tetapi harapan besar pada uang ketika ia selesai mengajar. Dalam dunia pelayanan pendidikan, selalu saja ada pengecualian yang mesti di tolerir sebagai bentuk memanusiakan manusia, katakanlah seperti itu. Saya pikir guru honorer yang setia dengan gaji seperti yang kita dengar, mereka telah melibatkan seluruh panca indera dan kemanusiaan untuk menjadi pejuang bagi peradaban bangsa. Pada titik inilah mereka yang duduk di singga sana mestilah merenung sedikit, dan berhenti untuk bercakap-cakap, sudah saat mereka turun gunung memberi mereka harapan yang lebih besar, dari pada sekadar untuk terus menggaungkan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, sudahi betul, beralihlah pada wilayah yang nyata dan berdampak. Mereka telah melewati fase yang berbeda, dan sudah selayaknya kita perlu mengangkat topi, memberi hormat setinggi-tingginya. Dalam hal ini kita perlu merunduk pada guru yang telah mengeluarkan api tekad sepanas-panasnya, hingga api yang panas terasa dingin, seperti mukjizat nabi Ibrahim, guru pada level itu amatlah sukar untuk mengkategorikan, apalagi memberi label tertentu. Pada posisi apa mereka sebenarnya, jawabannya mereka pada tipe pewaris para nabi, yang pengorbanannya tiada banding.
Begitu juga sebaliknya, guru yang sudah "melimpah" dalam arti tertentu, hingga tak lagi menemui kesulitan yang sering dibayangkan oleh guru yang sudah "layak" dalam arti tertentu. Mungkin ini kurang tepat, tetapi saya tidak bermaksud untuk membandingkan satu sama lain. Kadang nasib dan kerja didiknya akan memperjelas siapa seberapa besar "nyali" seorang guru dalam menghidupkan api tekad dalam dirinya. Cekap semanten.
Perjalanan Sang Demonstran
Perutku mules tiada tertahan, sementara suamiku entah dimana. Apakah serdadu-serdadu yang telah dikirim penguasa berhasil meringkusnya?, tidak ia lelaki yang pandai dan cermat membaca situasi, tak mudah untuk menangkapnya. Atau jangan-jangan ia tengah meringkuk bersama hewan-hewan pengerat yang jorok, kudisan, dan kelaparan.
Aku memanggil ibu yang tengah memasak. Ia berlari sambil mengelap keningnya yang telah lama keriput. Cengkaramannya tangannya masih sekokoh dulu, meski ditingkahi dengan helaia nafas dan cepat-cepat gemetar.
Ibuku memapah ke rumah tetangga yang memiliki becak. Sambil menahan kontraksi yang menyakitkan dan guncangan jalan yang tak pernah diperhatikan oleh para penguasa, kecuali jelang masa-masa pencalonan. Realita sangat menyebalkan. Aku bisa apa dengan kondisi seperti ini, aku tak cukup kuat dan kata-kataku seringkali sumbang dan tak jelas arahnya. Penguasa itu benar-benar memiliki kemampuan untuk menyetop otakku agar tak berpikir di luar kendalinya.
Sampai di rumah bidan, suamiku benar-benar tak datang. Bahkan sampai malam ketika bayi dalam kandunganku sudah tak sabar bertemu dengan bapaknya. Orang yang sedang dalam masa paceklik dicari oleh penguasanya sendiri, gara-gara dituduh memimpin demonstrasi para buruh.
“Pembukaan Sembilan, mana suamimu,” tanya bidan sambil terus mengintip bagian kewanitaanku.
“Ia sedang ada urusan penting,” jawabku sekenanya. Sakit ini seperti mau membunuhku.
“Semua laki-laki memang sama, mau enaknya dong, giliran ‘begini’ mereka tak ada dengan seribu alasan.”
Ketika intruksi dorong, ambil nafas, dan seterusnya. Seseorang menggengam erat tanganku. Rasa sakit yang luar biasa ini telah menguarangi mawasku terhadap kehadiran suamiku sendiri. Bibirnya pucat dan mata kanannya bengkak, ada noda darah disana. Tapi nanti saja kutanyakan, keselamatan bayiku lebih utama. Maaf ya…
Ia mengelus dahi dan rambutku. Tak ada kata-kata yang terucap dari mulutnya. Ia yang terbiasa membaca puisi ternyata gagu menghadapi istrinya yang tengah berjuang melahirkan buah cintanya. Rasanya cukup meski tak ada kata-kata penyemangat yang kelur mulutnya.
Detik-detik yang menegangkan itu terbayar lunas oleh seonggok daging yang terasa ringan keluar dari alat kelaminku. Suara tangis lembut dan manja menandakan aku telah menjadi ibu, sementara Lukman, suamiku yang kini telah jadi ayah sekaligus buron penguasanya sendiri.
Mungkin kalian lebih tertarik pada kisah suamiku dari pada kisahku yang melahirkan. Peristiwa kelahiran mungkin terlalu biasa untuk diceritakan. Ini semacam intermezo dari kisah suamiku yang akhir-akhir ini kurasakan akan terjadi sesuatu yang menyakitkan.
Untuk sejenak dalam posisi yang menurut kalian tidak menguntungkan. Sekali lagi aku mohon kerendahan hati kalian untuk mendengarkan kalimat-kalimat sederhana, dari seorang ibu rumah tangga yang suaminya kini pontang-panting lari menghindari dari serdadu pemerintah. Tangkap hidup atau mati adalah slogan yang pernah ku dengar dari orang-orang yang pernah menonton film-film wajib.
Suamiku adalah guru yang paling jujur dalam menerima penindasan dari para penguasa, negerinya sendiri. Penguasa ketika beretorika atau berpidato seakan ia malaikat yang suci kejahatan. Bahkan mereka mungkin tak pernah sujud secara mendalam seperti para malaikat, meski ia tak berdosa. Sujud-sujud para penguasa seringkali pupus kedamaian ketika sepuluh langkah dari masjid.
Bagi yang mengalami pengejaran atau buron sepanjang waktu, hal itu menjadi petaka yang membuat kalian bisa saja gantung diri di tali jemuran. Suamiku menolak patah, ia ingin menunjukkan kalau raganya sekuat gatot kaca. Otot kawat balung besi. Meski mungkin suatu saat akan kehilangan nyawanya. Dan ia akan meninggalkanku sendirian bertahan dalam status janda. Status yang tidak mudah di negeri timur ini.
Lihat tindakan para penguasa itu kawan. Di saat rakyat mengantri beras dengan kaki-kaki borok tanpa perban, para penguasa itu sedang nyaman menghisap cerutu ditemani segelas kopi impor yang mendunia. Mereka tak peduli dengan keadaan rakyatnya, meski seringkali pidatonya mengatasnamakan kesengsaraan rakyat dan bla-bla-bla. Meski bajunya yang aduhai tak bisa menutupi pidatonya yang tak bertenaga.
Kawan sejatinya kini meringkuk di penjara, tanpa proses seperti biasanya. Mereka bak kadal yang enak untuk santapan ular kobra pagi hari. Aku heran sendiri kenapa suamiku masih bebas melenggang kangkung menghindari para serdadu. Mereka melakukan penyemaran beranek ragam bentuk dan profesinya. Elang seperti mendapati mereka satu-persatu. Tapi sampai kapan Elang bisa membaca situasi, aksennya yang cadel mudah sekali untuk dikenali. Kuharap ia akan baik-baik saja selama jauh dari pelukanku.
Yang berani justru harus menjadi buron atau meringkuk di penjara bersama para tikus-tikus ganas yang siap membuat kalian jadi pecundang bila tak kuat-kuat pendirian. Menurut kawan baik Lukman, sekolah terbaik adalah penjara. Para penguhuni bisa menjadi lebih baik atau buruk. Bahkan menurut kabar, seorang ulama jauh dari negeri kita yang wafat di tiang gantungan telah meninggalkan warisan berupa puluhan jilid tentang semangat perjuangan dan ketaatan kepada Tuhan.
Suamiku akan meninggkan warisan apa, ia tak bersekolah tinggi. Putus sekolah karena masalah klasik rakyat jelata. Ia harus berbagi bangku sekolah dengan adik-adiknya. Tak pilih jenis pekarjaan, yang penting bisa menghasilkan uang dan operasional keluarga bisa berjalan. Ia akan mewariskan kebaranian dan semangat pantang menyerah, yang akan dikenang oleh anak cucunya. Mungkin hanya kumpulan syair juga tak apa, meninggalkan harta bisa menjadi petaka yang bisa mengancam jiwa. Tapi ilmu akan menaungi benak dan raga kita.
Aku tak pandai merangkai kata seperti yang kalian harapkan. Setidaknya cara ini bisa mengurasi depresi akut atas suamiku yang kini jarang pulang. Makan dan minum di mana. Mungkin sekarang sedang meringkuk di mushola milik orang-orang muslim. Meski ia sendiri tak sembahyang. Sebelum ia pergi menjauh dari para serdadu ia pernah mengingatkanku agar tak salah menilai orang-orang muslim. Mereka orang-orang yang baik, katanya.
Aku berdoa agar ia cepat-cepat menemukan teman perjalanan yang berani dan satu pemikiran dengannya. Hingga suamiku bisa tertawa renyah. Ia tak bisa tertawa pada saat para penguasa mencoba menghibur rakyatnya dengan mengetes nama-nama ikan, menghadiahkan dengan sebuah sepeda, atau sekaranjang jagung kering yang bisa bertahan selama satu bulan. Jika Lukman cepat menemukan sahabat baru yang sejalan dengan idealismenya. Ia dapat bertahan dalam mental prima, meski kepungan bahaya telah lama mengancamnya.
Kopi yang kusajikan di pagi ini telah lama dingin. Bahkan telah tercebur satu ekor lalat. Kuambil lalat itu dengan sendok, lalu pelan-pelan mulai kuminum seteguk demi seteguk. Lambungnya terguyur pahitnya kopi, dan kedua mata mulai hujan.
Sore yang teduh ini membuatku tenang. Ada burung prenjak yang mengoceh sambil menikmati ulat-ulat yang bergelantungan pada banyak ranting dan daun. Kulihat kakinya yang teramat ramping memudahkan burung berpindah dari dahan satu ke dahan lainnya.
Burung itu terbang ketika melintas di bawahnya. Ia meninggalkan pohon kopi pada saat hewan penerima ilham itu hinggap di atas bunga kopi yang putih. Dengungannya hampir tak terdengar, mungkin karena ia sendirian. Tak banyak membawa teman seperti biasanya. Aku iri dengannya, ia diberi ilham oleh Tuhan pemilik semesta ini. kata-kata itu kudengar dari salah seorang tetangga yang gemar ke masjid dan memberikan petuah bijak selepas subuh.
Kutuju rumah diujung desa, kalian pikir itu jauh. Kami hanya menyebutnya ujung desa agar orang-orang dari luar desa ini tak ingin kesana. Seperti ingin menyembunyikan rumah yang kini sudah lapuk, jompo, dan bila angin berkecepatan sedang mungkin bisa merobohkannya.
Ingin kuketuk rumah berbilik bambu yang aroma rayap tersebar di mana-mana. Sebuah suara sudah mendahuluiku. Berulangkali kuingin menghindari rumah yang satu ini, pada saat yang sama kedua kaki ini seperti diarahkan penyihir untuk melangkah ke rumah ini.
“Baumu sudah tercium dari jarak 25 meter, ada apa kau kesini.”
“Melihatmu.”
“Aku tak ingin bercakap-cakap dengan pembohong, ayo pulang!”
“Sebentar lagi aku akan jadi janda, apa kau tak merasa kasihan.”
“Kau tak pandai bersandiwara, sekarang pulanglah.”
Perempuan paroh baya itu menutup pintu setelah mendorongku agak kasar. Pengucilan dari orang-orang terdegkatnya membuatnya menjadi kacau. Ia bahkan menyumpahi dengan serapah kotor menyebutku binatang ternak dan seterusnya.
“Mas Elang belum pulang beberapa hari ini Mbok, apa dia pernah kesini?”
Pintu itu dibuka dan membawa bakulan berisi pisang emas yang masih mengkel. Ia memandangku lekat-lekat seperti dukun beranak.
“Anak itu memang bandel, sudah kubilang jangan pernah ikut demo-demo, dicap ini itu, bahkan ibunya sendiri tak tembus juga kata-katanya.”
Ia masuk kedalam dan keluar lagi, tangan kanannya sudah merapalkan sirih dan kemenyan. Mulutnya mengunyah dengan kasar, mengecap, menghela, pada detik yang tak diduga ia menyemprotkan sirihnya berkali-kali secara mengagumkan.
Kuseret wadah kinang, mengambil satu persatu bahan yang dibutuhkan. Lalu pelan-pelan kuisi daun sirih hijau itu dengan aneka rupa; tembakau, cengkih, wuwur, kemenyan, kapur, daging jambe, dan beberapa bahan misterius yang ketika kutanyakan pada si mbok hanya gerutuan yang kudapat.
Pada saat mentalku kuat mengadapi hal-hal yang tak terduga, kunjungan ke rumah si mbok adalah hal yang paling kuhindari. Tapi, di saat genting seperti rumah si mbok bagai dokter jiwa yang patut kukunjungi.
Si mbok bercerita tentang perpindahan dari perahu ke perahu lain untuk menemukan suaminya yang hilang pasca huru hara di kota. Para serdadu itu katanya, menjalankan tugas hanya dari yang didapatkan dari kantong celana para tahanan. Kebetulan nama suaminya ada pada kertas kumal itu, hanya kebetulan. Soalnya suamiku habis belanja barang dagangan pada salah seorang pemilik, dan ia berhutang di hari itu.
“Aku tak mengira kau mengalami nasib yang sama, kau harus kuat agar anak-anak tak meninggalkanmu. Kau tahu itu sangat menyakitkan. Darah dagingku telah membuatku lebih gila, mungkin hanya kematianku membuat mereka tak menganggap ibunya sebagai perempuan dengan ganguan kejiwaan.”
Senja mengakhiri pembicaraan kami. Aku tak mencari solusi, hanya berbagi beban. Si Mbok menutup dengan mata curiga, peristiwa pencidukan tengah malam pada masa lampau membuatnya tak benar-benar percaya pada siapapun, tak terkecuali denganku, mantunya sendiri.
Kuludahkan ke sisi-sisi pematang sawah, warna sirihnya yang pekat tampak seperti darah dari luka sayat. Kuberhenti sejenak memandangi sepasukan orang-orang sawah yang gagah berdiri. Mereka adalah tembok terakhir dari sebuah ukuran bernama keegoisan. Di saat para petani sedang terlelap diatas amben, mereka tampak kokoh berdiri menghalau kawanan bul-bul yang militan dan Spartan.
Kurindukan pundak suami begeng menyisakan tonjolan tulang dan bau panili. Suaranya yang tak lazim membuatnya gampang untung dikenali dari jauh. Ia seperti siulan burung kematian yang menguik-nguik pada siang bolong. Berada di puncak pohon yang tinggi, seolah-olah ia pemberi kabar yang tahu tentang sebuah perasaan.
Di tempat lain yang jauh.
Elang tergesa-gesa mencari telpon pinggiran. Ia ingin menelpon istrinya yang jauh tertinggal langkahnya. Lukman menunggu sumber suara yang banyak dirindukan pada malam-malam panjang, sendiri di negeri sendiri. Setelah menunggu beberapa saat, wajahnya cerah. Beberapa kali ia mengelus rambut ikalanya. Sudah sepekan rambutnya tak terbilas sampo.
“Bagaimana kabarmu.”
“Sehat, kau sendiri apa tak kangen rumah.”
“Kangen sekali, tapi serdadu itu langkahnya semakin dekat, daya penciumannya semakin tajam.”
“Sekarang kau dimana, suaramu terdengar kecil.”
“Sudut terpencil kota Jakarta, mungkin aku akan pergi lama.”
“Bagaimana dengan mahluk penghisap darah, apakah lebih ramah.”
“Nyamuk disini lebih parah dibanding di kampung. Amat rakus dan tak mempan obat nyamuk bakar, sopel, ataupun semprotan peptisida. Baginya obat-obat itu seperti tembok rapuh yang mudah diterjang.”
“Serdadu-serdadu sekarang lebih berani, kadang seharian berdiri seharian meyamar sebagai pedagang Es Legen, tak ada pedagang yang bisa tegak berdiri selama itu, sebenarnya kau melakukan apa kok hingga penguasa begitu membecimu.”
“Aku hanya membentak dan menghardik ketika mulut tepat didepan megapon, mereka bersumbu pendek dan sedikit-sedikit angkat senjata, tak diskusi-diskusi hangat seperti yang tertera pada tulisan para cerdik pandai. Mereka gagap menerjemahkan antara sikap hukum dan hukum itu sendiri. Hawa nafsu telah melelehkan akal budi pekertinya.”
“Omonganmu tak terdengar lagi seperti pendeta, kamu mirip guru agama di mushola.”
Terdengar suara tawa dari ujung telepon istrinya. Marsi mengucek matanya dalam-dalam.
“Titip anak-anak, dan kamu sehat-sehat ya.”
Komunikasi terputus, hanya dengungan yang terdengar ditelinga Marsi. Ia meletakan gagang telponnya. Menggangguk pada tetangga yang memandangnya seperti musafir tersesat. Senyumnya teralalu dalam dan rahangnya telah termakan usia. Ia satu-satunya orang yang memiliki telpon rumah yang bisa sesibuk wartel, apalagi jelang lebaran.
“Telepon dari suamimu, Si?”
“Iya Juragan.”
“Bilang sama suamimu, jadi orang jangan sok, ini negeri siluman, pendekar paling saktipun bakal goyah menghadapi, apalagi suamimu yang kerempeng, modal puisi doang, maaf tapi ya, begitulah.”
“Terimakasih, mari juragan?”
Marsi mengelap pipinya cepat-cepat. Tak ingin air matanya jatuh mencium bumi. Cukup matanya saja yang sedih. Bumi tempat berpijak tak perlu ikut-ikutan.
Aku seperti merasakan hembusan suamiku. Nafasnya belum terjamah kopi hitam pagi hari. Aku ingin menanyakan apakah ia sudah sarapan pagi, dan meminum kopi barang seteguk dua teguk. Mungkin ia sengaja mematikannya, atau di sana sedang ada pemadaman listrik. Yang palig ingin kukonfirmasi ulang, apakah ia rajin-rajin untuk menggunakan obat tetes pada mata kirinya yang terus memerah sampai sekarang.
Aku mungkin jenis perempuan yang keberaniannya belum sekaliber pahlawan-pahlawan itu, tetapi setidaknya kuberanikan diri untuk menghadapi wajahku ketika bercermin mematut diri. Meski gila menurut sebagian orang adalah karunia, aku tak lekas-lekas mengikuti jejaknya. Aku cukup kuat untuk hal selanjutnya yang lebih buruk, mungkin hanya pada pukulan pertama. Pukulan berikutnya aku bisa terjengkang, terperosok, dan tersandung pada statusku beserta anak-anaku nantinya.
Sampai di rumah, Ibu sedang mendengarkan lagu-lagu dangdut. Kepalanya ditengklengkan ke kiri dan kanan. Badannya bergoyang lemah, meski musik yang didengarnya gegap gempita. Ia mengecilkan suara radionya. Musik dangdut itu terdengar berbisik. Ibu memandangiku cemas.
“Dimana suamimu!”
“Di Jakarta, sampai kapan ia akan pulang aku tak pernah tahu.”
“Oalah gusti pangampurane?”
Selasa, 15 Juli 2025
Perjalanan Sang Demonstran
Pintu berkayu anti rayap terbuka selebar tangan dewasa. Sebelumnya Elang mengetuk pintu rumah tiga kali, dengan buku-buku jari, sebuah pintu kayu yang kutaksir terbuat dari serat kayu tahan rayap. Kutunggu beberapa saat, mungkin mereka masih terlelap di sisa pagi yang belum menghangat. Kucing penunggu rumah juga masih tidur-tidur ayam diatas keset menatapku malas.
Sebuah langkah kaki terdengar, jantungku berdenyut keras. Kumenoleh kebelakang siapa tahu anak buah jendral itu berhasil mengendus keberadaanku dengan anjing pelacak yang akan menggonggong membangunkan orang di pagi hari. Membuat kocar-kacir para pedagang keliling, dan memucatkan orang yang pernah terciduk dipinggir jalan karena tak membawa SIM.
Aku menahan nafas, siapa yang akan membukakan pintu untuk pertama kalinya. Kuharap bukan ayah ibunya, atau adik-adiknya. Gagang pintu diputar cepat setelah penghuni rumah mengintip dari balik gorden rumah dan mengenali wajahku.
“Elang,” katanya pelan.
“Kau punya makanan,” jawabku lebih pelan.
“Masuklah,” katanya. Ia menyela beberapa helai rambut yang menggantung di depan matanya. Mengintip keluar rumah melalui gorden yang ia sibakkan sedikit. Pedagang lontong sayur yang tertangkap oleh kedua matanya. Berhenti di depan rumahnya meski ia tak memesan.
Elang duduk di sofa panjang coklat, pikirannya kabur entah kemana. Untung ia masih menyimpan alamat rumah yang sekarang ia lihat, kalau tidak ia akan luntang lantug mengukur jalanan seharian. Ada banyak foto yang tertancap di dinding, Elang menatap satu persatu, nyaris tak ada yang dikenalinya. Kecuali foto wanita yang bermata sipit dengan hidung sedang dan rambut ikal panjang sebahu. Elang berkenalan dengan wanita di foto itu setahun setelah demonstrasi yang mendebarkan.
Elang cepat-cepat beralih pandangannya kepada sepiring nasi, sambel kecap dan telur goreng yang membuat perutnya tak lagi merintih-rintih sepanjang malam. Ia merasa darahnya yang telah membeku puluhan jam kembali hangat, sendii-sendi yang tiba-tiba linu seperti terserang rematik kembali bisa bergerak dengan leluasa. Sepanjang malam ia meringkus di kakus bambu yang dibawahnya ikan gurame seperti ingin mengajaknya berbicara. Hanya saja ia tidak menjadi gila karena bercakap-cakap dengan raja ikan air tawar.
Sarapan pagi yang nikmat itu di akhiri dengan tegukan air dari bibir gelas keramik yang kau ulurkan dengan wajah cerah. Gelas itu bergambar naga yang sedang terbang di atas awan dengan mulut berapi. Kaki-kakinya yang kuat dan tajam itu mengangkat seorang putri bermahkota tandur kerbau.
“Seandaianya Naga itu ada, aku ingin juga dicengkram olehnya dan dibawa entah kemana, menjadi santapan anak-anaknya juga tak sesal, dari pada menjadi ekperimen para prajurit yang menganggapku sebagai orang membawa penyakit bagi negeri ini,” ucap Elang
“Sakit itu akan lenyap manakala kita menutup mata untuk waktu yang lama. Bagaimana kabar keluargamu?”
“Semoga sehat, sekarang kau berkacamata,” jawab Elang, ia mengalihkan perhatiannya pada fota yang tergantung di dinding.
“Sebuah kebutuhan.” Jawab wanita itu, sambil tersenyum manis.
“Aku iri kepadamu, orasi dimana-mana tetap nyenyak tidur di rumah sendiri.”
“Siapa bilang, saat ini hanya aku yang tahu, sekarang rencanamu kemana,” Tanya wanita itu sambil menyeruput teh jumput yang masih mengepulkan asap.
“Kau bertanya tetapi tentu saja kau tahu jawabannya.”
Elang pamit kepada pemilik rambut ikal sebahu, ia mungkin tak menganggu anggota keluarga yang lain terbangun disela-sela rasa kantuk. Ia harus pergi lagi dan pergi agar para prajurit yang mengemban tugas tak dapat mengendusnya dalam waktu cepat, pekerjaan mengulur waktu bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
Ia tidak ingin budinya berubah menjadi air yang mendinginkan semangat melakoni drama sebagai pesakitan bagi para penguasa. Ia ingin mengetuk pintu itu lagi, sebuah pintu yang telah mengobarkan api semangat di tengah pelarian yang tak berujung. Akan datang saatnya nanti pintu itu ia ketuk lagi dalam kondisi yang berbeda bukan sebagai buronan di tengah kakap yang berdansa di pagi hari sambil barbeque di halaman rumah bersama tikud-tikus gendut berkepala botak.
Elang merapatkan jaketnya yang telah berumur panjang hadiah dari kawan sesama demonstran. Ia merasa agak terlindungi dari cibiran, sebab ada logo negara asing menempel di jaket jin belel beraroma rupa-rupa. Tetapi penguasa itu apakah mau mempertimbangkan ketika melihat Elangberjaket berlogo negara asing, apakah mereka segan lalu mengundurkan penangkapannya dalam tempo lama. Setidaknya ada jatuh tempo sebelum para penguasa betul-betul membuatnya tak bisa kemana-mana.
Menjelang dini hari Elang mengikuti langkah-langkah orang gila menuju tempat persembunyiannya, sampai di tempat tujuan segala aroma menyeruak ke segala penjura. Elangtidur di atas bangku panjang licin yang beraroma kemenyan beratap langit, ia tersenyum manakala memejamkan matanya, tubuhnya yang ringkih di sapu oleh angin dari semak-semak tinggi yang menjadi benteng sebuah rumah kosong yang amburadul seperti terkena rudal.
Elang tak memperdulikan segala tingkah polah tawa yang berderai-derai dari sudut ruangan gelap dan beberapa benda jatuh. Orang-orang gila itu sudah terlelap dalam dengkuran panjang yang kasar. Ia menganggap derai tawa sebagai sebuah sambutan selamat datang baginya yang telah menjadi penghuni baru dan membuat suasana lebih hangat.
"Guru Bahasa Indonesia Adalah Guru Yang Paling Penting"
Lima
Beberapa waktu lalu, saya diberi kesempatan oleh Pusat Bahasa untuk bicara di depan guru-guru bahasa Indonesia se-Jakarta dan sekitarnya, membawakan topik tentang penulisan kreatif. Dan saya agak terkejut ketika acara dimulai. Saya berpikir bahwa apa yang saya sampaikan mungkin tidak akan berhasil ketika saya memperhatikan wajah-wajah para guru yang hadir di ruangan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tampak tidak memiliki kepercayaan diri.
Kita tahu,di tengah hasrat sejumlah sekolah, terutama di kota-kota besar, untuk meningkatkan diri menjadi sekolah bertaraf internasional, yang dengan bangga mengumumkan bahwa proses belajar-mengajar disampaikan dalam bahasa Inggris, guru bahasa Indonesia tiba-tiba seperti dihinggapi perasaan minder bahwa dirinya hanya variabel pelengkap yang sama sekali tidak penting. Mereka merasa diabaikan oleh murid-murid. Jadi, saya pikir, pada orang-orang yang merasa dirinya tidak penting, sebagus apapun materi yang saya bawakan, ia tidak akan pernah bisa memberikan inspirasi. Anda tahu, apa yang kita sampaikan akan dicerna dengan baik, dan dijalankan, hanya oleh orang-orang yang bersemangat, yang selalu memiliki harapan baik di dalam benak mereka. Orang-orang yang merasa kecil dan minder biasanya cenderung resisten.
Maka, saya katakan kepada mereka bahwa dalam pengalaman saya sebagai murid, guru bahasa Indonesia adalah guru yang paling penting. Penguasaan kecakapan berbahasa merupakan hal paling mendasar bagi keberhasilan pembelajaran. Tujuan pendidikan hanya mungkin tercapai ketika siswa memiliki kecakapan menggunakan bahasa. Dalam proses selanjutnya, bahasa adalah perangkat kunci untuk mengembangkan pemikiran dan mengutarakan pendapat. Ilmu pengetahuan tersebar dan berkembang melalui bahasa. Saling pemahaman juga tercapai dengan bahasa. Hidup bersama dalam masyarakat juga di dasari oleh penggunaan bahasa. Karena itu, menurut saya, sudah sepatutnya kecakapan berbahasa menjadi tujuan utama pendidikan, utamanya pendidikan dasar. Tanpa penguasaan kecakapan berbahasa, transformasi pengetahuan dan seluruh nilai-nilai kemanusiaan niscaya akan gagal.
Sekarang, dalam serbuan pemikiran tentang perlunya menguasai bahasa asing,juga dalam gairah anak-anak muda untuk berbahasa alay, kita merasakan semakin pentingnya menjadikan diri gigih dalam pergulatan dengan bahasa. Ia mendasari kecakapan kita untuk menyampaikan pikiran, menyampaikan gagasan, menyampaikan pendapat. Ia mendasari struktur berpikir kita. Tentu saja menguasai bahas adalah yang penting. Itu akan memperluas cakrawala pergaulan dengan dunia yang lebih luas. Namun, itu adalah hal berikutnya setelah kita menguasai kecakapan berbahasa Indonesia. Karena itu saya pribadi sangat senang ketika sayembara menulis novel kali ini menetapkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik sebagai salah satu kriteria penjurian.
Oleh A.S Laksana (dalam makalah: Sayembara Novel dan Upaya Memunculkan Insiden dalam Kesastraan Kita)
Senin, 14 Juli 2025
Sayembara Novel dan Upaya Memunculkan Insiden dalam Kesastraan Kita
Di luar itu, sayembara adalah alat pendorong orang untuk menulis karya hingga rampung. Apa pun alasan yang mendasari tindakan orang untuk menyertakan karya mereka ke dalam sayembara, tindakan yang dilakukan selalu sama. Mereka harus merampungkan tulisan pada batas waktu tertentu, karena pengiriman naskah mereka tidak bisa melewati batas waktu yang ditentukan. Dan mereka tidak bisa menyertakan ke dalam lomba naskah yang setengah rampung.
Sebenarnya, hampir setiap minggu para penulis menyertakan tulisan mereka dalam sayembara rutin. Mereka mengirimkan naskah ke redaksi koran, dan redaktur akan membuat "penjurian" untuk menentukan cerpen mana yang keluar sebagai pemenang minggu itu untuk dimuat di koran mereka. Redaktur bertindak sebagai juri yang akan menyeleksi naskah-naskah yang ia terima, dan kemudian memilih satu untuk dimuat di koran mereka.
Hal yang sama berlangsung dalam dunia penerbitan. Para penulis akan mengirimkan naskah mereka dan para redaktur penerbitan, dengan kriteria yang mereka tetapkan sendiri untuk menentukan "pemenang", akan memilih naskah-naskah yang ada di tangan mereka.
Hanya saja, dalam "sayembara" yang jurinya adalah para redaktur koran atau penerbitan, penilaian seringkali dipengaruhi oleh siapa penulisnya. Itu aspek non-satra yang memiliki pengaruh cukup besar bagi redaktur untuk menentukan naskah yang layak dimuat. Sementara dalam sayembara novel seperti yang diselenggarakan oleh DKJ, variabel "nama besar" tidak akan pernah mengganggu penjurian karena dewan juri tidak pernah mendapati nama para penulis dalam naskah-naskah yang mereka hadapi. Pertarungan menjadi lebih adil karena satu-satunya yang menjadi bahan pertimbangan untuk memilih pemenang adalah kualitas karya-tidak peduli siapa pun penulisnya.
Dua kali terlibat dalam sayembara novel DKJ sebagai juri dan mendengarkan pertanggungjawaban juri pada sayembara beberapa tahun lalu, saya mencatat bahwa masalah utama bagi kebanyakan naskah peserta sayembara adalah keperajinan (craftmanship). Dan itu masalah yang masih muncul sampai sayembara terakhir tahun ini. Ini tanggung jawab institusi pendidikan kita. Karena itulah dalam kesempatan ini saya menyinggung-nyinggung masalah infrakstruktur.
Jika institusi pendidikan kita memiliki kesadaran lebih serius untuk membekali siswa dengan kecakapan menulis dan tahu cara meningkat minat baca siswa, maka kelemahan dalam hal-hal yang elementer niscaya bisa lebih mudah diperbaiki. Jika menulis diajarkan secara lebih benar, oleh guru yang menguasai bidang itu, orang tidak harus melakukan pencarian yang terlalu keras untuk memahami hal-hal yang elementer. Jika urusan semacam ini tidak ada dalam pikiran, kita tidak akan pernah mewujudkannya. Atau seringkali ketika kita mulai menyadari hal-hal yang perlu dilakukan, maka masalahnya sudah begitu parah dan tidak tahu dari mana harus dimulai.
Oleh A.S Laksana
Sayembara Novel dan Upaya Memunculkan Insiden dalam Kesastraan Kita
Seorang teman pernah menyampaikan bahwa sepertinya saya benci sekali pada fiksi yang dimulai dengan matahari. Saya jawab ya, meskipun sesungguhnya saya tidak membenci cara orang membuka cerita. Lebih tepatnya, saya memiliki semacam "trauma" yang mendalam dengan novel-novel yang dibuka dengan "matahari". Pernah suatu hari saya pergi ke tukang loak, membeli setumpuk novel untuk saya lihat bagian-bagian pembukaannya. Itu saya lakukan dengan niat untuk membuktikan apakah kecurigaan saya benar, ialah bahwa "matahari" adalah pembukaan yang paling disukai oleh para penulis kita. Dan rupanya memang begitu. Kebetulan setumpuk novel yang saya beli sembarangan saja separuhnya dibuka dengan pemandangan alam tentang matahari: entah matahari pagi, entah matahari bersinar terik, entah matahari terbenam di waktu senja. Barangkali membuka cerita dengan "matahari" sudah menjadi dorongan otomatis bagi para penulis. Jika benar seperti itu, saya kira setiap penulis perlu mengendalikan dorongan-dorongan otomatis yang akibatnya hanya melahirkan klise.
Infrastruktur yang baik akan membuat orang tahu cara menghindari klise. Ia menjamin tersedianya jalan untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai, dan dengan itu orang menjadi tahu bagaimana cara menyampaikan gagasan secara lebih otentik. Selanjutnya, ketekunan akan menjadikan pengetahuan itu bagian yang melekat dalam diri seseorang. Dan nasib baik konon bermula dari kesadaran untuk meningkatkan diri terus menerus.
Pengadaan infrastruktur, yang bisa memperlancar jalan orang untuk menjadi penulis mumpuni, tentu saja juga dimulai dari kesadaran. Ia mulai dari apa yang ada di benak orang, dalam hal ini para penentu kebijakan. Jika disadari bahwa membaca dan menulis adalah kecakapan penting yang perlu dikuasai oleh setiap orang, maka kebijakan publik kita pasti akan mengarah ke sana. Misalnya, apakah perlu ada mata pelajaran menulis di sekolah-sekolah, dan jika dipandang perlu, berapa lama mempersiapkan itu semua-mulai dari merancang kurikulum yang memasukan hal itu di dalamnya sampai mendorong kesiapan para pengajarnya. Demkian pun jika meningkatkan minat baca dianggap sebagai hal penting. Institusi pendidikan kita akan memikirkan secara sungguh-sungguh bagaimana membuat para siswa memiliki minat baca.
Tanpa infrastruktur yang mendukung, setiap individu harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan kualitas standar-standar saja-baik dalam kecakapan menulis maupun dalam membangun minta baca. Saya curiga bahwa jika sesekali muncul penulis yang cemerlang, hal ini adalah sebuah insiden. Artinya, tidak lahir dari sebuah sistem yang digagas untuk melahirkan kecemerlangan. Mungkin banyak yang meyakini bahwa kecemerlangan seorang penulis bukanlah hasil dari pendidikan formal. Tetapi jalan baginya untuk mendapatkan kecakapan akan lebih mudah jika tersedia infrastruktur yang mendukung.
Sayembara penulisan adalah salah satu upaya untuk mendorong munculnya kecelakaan-kecelakaan ini. Dalam setiap sayembara, kita bisa menggantungkan harapan, siapa tahu akan ada kilau permata dari setumpuk naskah yang diikutsertakan. Dalam pengalaman DKJ, saya kira hal itulah yang beberapa kali terjadi sejauh ini. Sejumlah nama yang kita kenal dalam kesastraan kita hari ini adalah para pemenang atau unggulan sayembara penulisan novel.
Oleh A.S Laksana.
Disampaikan dalam diskusi "Pengaruh Sayembara Novel DKJ dalam pertumbuhan Sastra Indonesia", diselenggarakan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, TIM 14 Desember 2012
Minggu, 13 Juli 2025
Pergi Ke Sekolah Dengan Kelas Yang Berbeda
Semua akan terasa cepat, bahkan seperti kamu mengedipkan mata. Mungkin ketika kamu bertemu dengan teman yang baru, ada rasa kikuk bercampur tegang sekaligus cemas, tapi itu hanya sesaat kawan. Kikuk itu wajar, sesuatu yang baru membuatmu merasa tidak sanggup untuk mengatasi apa yang terjadi. Jika itu tak ada dalam kendalimu, maka gunakanlah kepercayaan yang kamu miliki. Tegang, tenang saja semuanya akan terasa normal bisa kamu bisa saling sapa satu sama lain, tetaplah rendah hati tanpa perlu merasa rendah diri. Cemas, itu sehat karena orang tanpa cemas seringkali berkurang kewaspadaan, cemas itu sehat itu menandakan kamu butuh orang lain dalam artian menutup segala kemungkinan tentang persahabatan.
Ketika pagi hari kamu bangun dengan perasaan grogi, ingat banyak hal baru yang akan kalian bisa dan biasa lakukan bersama teman-teman yang baru kelas baru dan juga guru yang baru. Semuanya akan terasa menyenangkan. Awali harimu dengan perasaan bangga, bahwa kamu makin hari makin bertumbuh dan memiliki banyak perubah. Terasa menenangkan bukan?, jika perasaanmu mulai ragu, maka galilah potensi diri untuk menambal semua keraguan. Untuk selanjutnya kamu akan mendapati kepribadian berlapis emas kemandirian yang kamu pupuk sedari TK sampai sekarang.










