Bagi siapapun yang dibekali cukup kepekaan, tempat-tempat seperti ini serupa dengan buku tua makna yang terbuka. Ia rindu untuk dibaca. Danau dengan airnya adalah simbolik kelembutan. Gunung dengan batu-batunya adalah wakil ketegasan. Ketika keduanya berpelukan mesra, ia menghasilkan cahaya terang kesejukan. Ia seperti sedang berpesan kepada manusia (khususnya pemimpin), jadilah sekeras batu dalam mendidik diri sendiri, selembut air dalam melayani orang lain. Hasilnya, engkau pun jadi bercahaya penuh kesejukan.
Bunga-bunga mekar nan indah di pinggir danau sebagai contoh lain, ia seperti tersenyum memanggil, hai manusia, tersenyumlah. Karena dalam senyumanlah letak kebahagiaan. Dalam senyuman itu tersembunyi persahabatan dengan kehidupan. Lebih mudah menemukan kedamaian melalui persahabatan dibandingkan permusuhan.
Ia yang mau mendengar lebih dalam lagi akan dapat pelajaran, ada bunga dalam sampah, ada sampah dalam bunga. Tidak mungkin ada bunga tanpa pupuk yang kerap disebut sampah. Dan bunga mana pun yang mekar hari ini akan menjadi sampah beberapa hari kemudian.
Ini juga terjadi dalam kehidupan manusia. Ada kemenangan dalam kekalahan. Ada kekalahan dalam kemenangan. Ketika manusia kalah dan tidak membuat ulah, ia sebenarnya sedang memenangkan kemulyaan dirinya. Kemenangan manusia manapun akan selalu berakhir dengan kekalahan.
"WE ARE WHAT WE CHOOSE"
Tidak banyak orang yang terhubung rapi dengan alam, terutama karena frekuensi batinyya berbeda dengan frekuensi alam. Batin kebanyakan manusia ditandai terlalu banyak ketidaktenangan (marah, serakah, protes, benci), sementara alam sepenuhnya tenang tanpa gangguan.
Bila boleh membandingkan dengan televisi, batin seperti televisi dengan ribuan saluran. Kemarahan adalah sebuah saluran. Ketenangan adalah saluran lain. Sengaja atau tidak, kitalah yang memilih saluran-saluran itu. Saat dipuji, orang bisa memilih saluran congkak, atau memilih saluran rendah hati. Ketika dimaki, manusia bisa memilih saluran membalas memaki, atau memilih saluran kesadaran bahwa orang yang memaki sedang membutuhkan welas asih kita.
Yang jelas, bukan makian orang yang menghancurkan, tetapi konskuensi dari memilih saluran kemarahanlah yang menghancurkan. Dengan demikian, bila sejumlah psikolog memiliki rumus we are what we think, dalam jalur pemahaman ini menjad we are what we choose. Kita menjadi sebagaimana pilihan kita dalam keseharian. Catatanya kemudian, ada yang memilih dengan kesadaran terang, ada yang memilih karena diarahkan kegelapan hawa nafsu.
Itu sebabnya manusia yang perjalanan doa dan meditasinya telah jauh, berlatih keras untuk mengelola hawa nafsu, dan pada saat sama bekerja keras menghidupkan cahaya kesadaran. Apapun yang terjadi dengan orang-orang ini, selalu memilih kesadaran yang terang, menjauh dari kegelapan hawa nafsu. Ciri lain dari pejalan kaki di jalan ini, ia tidak saja tersenyum dengan bibirnya, ia juga tersenyum dengan matanya (baca: memandang semua dengan spirit pengertian penerimaan, dan persahabatan).
Maka, ada yang menasihatkan, less thingking more smilling. Dengan pikiran, manusia mudah kali tergelincir ke dalam penghakiman, lalu penderitaan. Melalui senyuman, semua dipeluk dengan kelembutan, dan ini lalu menghadiahkan kebahagiaan, kedamaian, dan keheningan.
SEGENGGAM PUISI, SEKERANJANG MATAHARI
Siapa saja yang rajin berlatih menerangi diri dengan kesadaran, menjauh dari hawa nafsu, hidup menjadi segenggam puisi dan sekeranjang matahari. Segenggam puisi karena semua bermakna. Lebih dari bermakna, ia sudah dalam genggaman (baca: menjadi kekuatan yang membimbing pilihan dalam keseharian). Sekaranjang matahari karena makna ini sudah bisa dibawa ke mana-mana sebagai cahaya yang menerangi perjalanan. Tidak ada lagi tersisa kegelapan dengki, sakit hati, dan lainnya. Semua terang benderang.
Kesuksesan adalah puisi, kegagalan juga puisi. Pujian adalah puisi, makian juga puisi. Kesucian adalah puisi, kekotoran juga puisi. Disebut puisi karena semuanya kaya makna. Bila makna-makna ini menjadi pedoman keseharian, ia berubah menjadi matahari kesadaran yang menerangi.
Kehidupan boleh digantikan kematian. Keterkenalan boleh berubah menjadi ketidakterkenala. Pujian boleh disubtitusi cacian. Namun, cahaya kesadaran tetap bersinar. Persis seperti cahaya matahari. Tnapa membeda-bedakan, demikianlah kesadaran melaksanakan tugasnya.
Barbara Marciniak dalam Bringer of the dawn, yang mengaku dapat inspirasi salah satunya di Bali, lebih konkret dalam hal ini. Cermati salah satu kesimpulannya, "Emotion are a source of food. This is how you nourish yourself." Keadaan emosi (senang-sedih, gembira-marah) adalah makanan berguna. Beginilah bibit-bibit di dalam disirami. BIla kebanyakan orang membenci emosi negatif seperti marah, di jalan ini semua emosi (positif-negatif) adalah petunjuk lain.
Oleh Gede Prama-Bekerja di Jakarta;tinggal di Desa Tajun, Bali Utara
