Yang kalian sebut sebagai motode yang paling baik, justru menjadi polemik berkepanjangan
seni ini disebut penolakan, yang alasanya belum pernah dilakukan, melainkan sesuatu yang membingungkan.
Yang kalian sebut sebagai motode yang paling baik, justru menjadi polemik berkepanjangan
seni ini disebut penolakan, yang alasanya belum pernah dilakukan, melainkan sesuatu yang membingungkan.
Jika dalam ruang kota, tidak ada anggaran untuk 'tangisan', tetapi dalam ruang yang dirasakan dalam hal ini kelas, maka ketika mengajar selalu ada "perkelahian" dan "kecemasan" yang diekspresikan oleh salah seorang murid menjadi salah dua titik fokus seorang pendidik. Karena ia menanguhkan kepribadian sebagai seorang guru, menjadi kepribadian seorang psikolog untuk sejenak.
Ia tidak sibuk dengan kepribadiannya sendiri, tetapi ia fokus untuk menjadi kepribadian seorang pendidik yang terus tenggelam dan tumbuh sebagai pendidik yang terbuka dan laku meninggalkan sejenak kekoloton sebagai guru tok, di sisi lain ia memakai kepribadian sebagai seorang pewaris kenabian. meninggalkan kedirian-kedirian semenjana dan terus melabeli dirinya sebagai guru saja, dan melupakan pandangan orang lain. Bisa jadi pandangan diri katro, dan mengakui pandangan orang lain sebagai pandangan yang bisa diterima. cekap semanten.
Seorang yang bertumbuh tanpa memerdulikan siapa dan apa yang akan diterima sebagai timbal balik dari kesediaan dirinya meluang waktu sejenak bahkan berjam-jam duduk-duduk mendengarkan orang lain, entah itu sebagai guru spiritual atau sebagai sumber pemberi informasi. Merasa tumbuh menjadi bekal untuk terus melangkah dirinya sebagai pengajar, sebagai guru yang digugu dan ditiru. Merasa butuh informasi dan merasa tak cukup untuk menyampaikan informasi terus menerus, adalah semacam bekal untuk membentuk mental seorang pembelajar. Di kepalanya selalu terpatri bahwa belajar sepanjang hayat, batasan sampai ia berjumpa dengan Tuhan-Nya. Mental itu terbentuk agar dirinya selalu dilingkungi oleh perasaan butuh tumbuh dalam segala hal, agar mentalnya pun tak mudah tergerus oleh remah-remah picik dan mentah.
Mental guru adalah berguru lagi, ketika ia menganggap dirinya sudah final, maka pecahlah pembuluh penasaran secara pelan-pelan. Segala tentang pikirannya dianggap adiluhung, tetapi pada dasarnya anggapan dirinya yang terlalu pecundang, air saja perlu mengalir kalau tidak akan keruh, apalagi dialektika ia harus terus diasar agar nalarnya tetap mendidih. Tak beku lagu menghasilkan produk-produknya itu saja, padahal eksplorasi bentuk mental terus mengalami naik turun. Ditambah guru tak berani melihat kedalam, apa sebenarnya kebutuhan dirinya. Hingga mengaggap program beban, bahkan selalu mencari celah untuk mentake down situasi agar bisa dikendalikan, dan menguntungkan dirinya. Inilah produk mentality yang cenderung kearah industri dalam tanda kutip. Cekap semanten.
2. sulap kemplang
3. menunggu ibu pulang dari pasar
4. juara satu lomba cerdas cermat
5. bacaan quran ibu6. fitnah itu pembunuhan karakter
7. jatuh dari pohon
8. idul fitri, dan makanan di saku
9. cublek-cublek suweng
10. berenang di selokan
11. drama solah subuh
12.BAB di kala hujan lebat
13. sembunyi di bawah tutup saji
14. jatuh di jembatan di kali klawing
15. ini jakarta ya Pak?
16. ngedot kemplang
17. pulang dari rantau (dikunjungi teman)
"Buku sudah banyak, ngapain beli lagi" kata anak perempuanku yang diam-diam mengamati kecenderungan ayahnya ketika dapat uang lebih.
"Yang kemarin saja belum selesai bacanya" tambahnya.
Betul ucapannya, dan terbukti hari ini. di Islamic Book Fair, setelah muter-muter melihat-lihat stand yang berdiri kokoh, dan megah, aku kembali ke penerbit baca, melihat sabar polah pembeli dan apa yang mereka beli. Setelah bolak-balik mengelilingi buku, dan gocek tak terlalu banyak, kuambil novel Han Kang, dengan judul THE VEGETARIAN, sampai rumah buku itu akan mendapatkan komentar yang sama.
"Buku lagi, buku lagi" katanya. Dan nanti aku akan kasih senyuman saja pada putriku yang sekarang duduk di bangku kelas 4 SD.
"Ini hiburan terbaik ayah, salah duanya"
Setelah bujukan guru tidak mempan, maka petinggi yayasan dan jajarannya yang mengajaknya untuk berfoto ria. Dan wajahnya tidak lagi secerah tadi. Ia memendam kekesalan (kesel saja) tanpa berniata untuk mengkonfirmasi kenapa namanya tidak dipanggil untuk berfoto. Ia tidak sedang marah, hanya menempatkan diri pada tempat yang semestinya. Tak ingin melampaui peran dan tak ingin kelihatan dipenting-pentingkah, ini penting, sebab? entah lupa atau bukan, yang jelas kadang benak mempertanyakan seberapa pentingkah nama guru itu ada dalam runtutan kegiatan. Ia ingin menyaksikan kalau kesehatan mentalnya tetap terjaga. Ia maju kedepan dan ikut berfoto bukan kemauan para panitia acara pelepasan siswa yang dihadiri oleh walimurid dengan mata yang tajam alias fokus.
"Kan namanya nggak dipanggil." begitu ucapnya ketika sang guru itu sudah duduk yang sudah dipersiapan untuk orang lain. Ia ingin menunjukkan bagaiamana seharusnya orang memperlakukan orang. Ini sederhana soal namanya tak ada dalam barisan untuk dipanggil, ia tidak ngambek, marah, nggerundel, hanya ingin memastikan kalau dirinya tak ada di barisan depan, itu saja.
Ia berdiri dan melangkah dan duduk hanya menghargai panggilan seorang ketua yayasan, tak lebih. Jika para pemangku jabatan itu tak memanggilnya, ia pun tak ingin buru-buru melangkah maju kedepan. Ini saatnya menunjukkan bahwa orang harus mengorangkan orang lain. Sederhana, tetapi tak sesederhana yang kalian pikirkan. Justru karena guru itu tak merasa dirinya penting, maka ia berusaha untuk menolak ajakan dari panitia pelepasan kelulusan. Ia ingin jiwanya sehat, tak perlu menutupi rasa malu yang ia sedang tanggung untuk beberapa menit kedepan. Dan itu sangat membosankan, kalian harus menanggung beban malu untuk maju kedepan atas dasar 'kasihan' bukan orang yang masuk dalam daftar hadir yang dipentingkan (VVIP), kalian ingin mengasihani guru itu...tentu saja semua ingin memberikan tempat yang layak bagi guru itu (jika mereka masih punya sedikit empati). Pada hal yang sederhana guru itu tidak masuk dalam hitungan, apalagi pada hal-hal yang rumit. Memang ada wilayah untuk memantaskan (memaksakan) diri, tetapi apakah itu berlaku untuk semua guru, ayolah semua orang memiliki hak yang sama untuk diberi sedikit penghargaan. Bukan meminta penghargaan, ayolah jiwa manusia itu memerlukan itu, sekadar untuk menyehatkan mentalnya di hari-hari yang sedang tidak baik-baik saja.
Ia sedang melakukan timbangan atas dirinya sendiri agar nantiya tidak terlalu berharap pada keadaan, tetapi ia berharap pada Tuhan setelah bersimbah peluh dengan tidakan-tindakan. Semuanya berada pada level yang meyakinkan untuk diberi penghormatan. Hanya saja meminta penghormatan pada keadaan adalah seburuk-buruknya pecundang yang pernah muncul dan tersenyum atas topengnya yang bertahun-tahun dipahat diatas kompitisi berbalut sedikit kolaborasi, pada akhirnya ia akan memenangkan pertarungan atas lelahnya orang lain. Dan itu sejauh-jauhnya watak, jauhilah watak itu, karena semua manusia memiliki watak itu, hanya ingin menang atas kebijaksanaan lah yang mampu mengunci sifat picik dalam bejana rendah hati, bukan rendah diri.
Pada tahap paling nadir, guru itu menepuk bahunya sendiri dan melupakan apa adanya. Ia sedang memantaskan diri, memang saat ini, dirinya di mata orang lain, hanya pada tataran dibutuhkan saja (mungkin), lalu setelah acaranya selesai, air matanya yang sedari tadi ingin tumpah, ia tumpahkan dalam senyum dan jenaka seperti yang sering guru lihat, dan pada esok harinya ia sudah dalam armour sempurna yaitu menyembuhkan luka dan mengeringkannya dalam bentuk sebaik-baik doa, semuanya dimaksudkan agar hatinya tetap seluas langit dan bumi menerima segala takdir yang tengah dijalaninya. Pada puncaknya mengukur diri adalah bentuk kehormatan diri setelah orang menjatuhkannya berkali-kali.
Pada detik berikutnya adalah membuktikan pada semua orang yang pernah meragukan (bagaimana berbakatnya diri kita pada satu bidang), itulah sebaik-baiknya pembalasan, tak perlu balik menyakitinya hanya mengeluarkan semua karya yang pernah mereka ragukan. Itulah sebaik-baik alasan kuat untuk terus berkarya. Jika kalian pernah diragukan atas kemampuan, maka balaskan dengan berlipat-lipat karya dan sebanyak-banyak 'kesuksesan' yang sulit untuk dikejar, dibayangkan pun tak sanggup. Bila jatuh, maka bangkitlah dengan kekuatan penuh. Tetaplah percaya diri dan tak terhentikan.
Terimakasih untuk lagu yang penuh inspirasi; Sia - Unstoppable
setelah musik pengiring selesai, anak itu tetap pada gerakan penutup. Lalu membungkuk sedikit kepada penonton yang kebanyakan orangtua murid dan dari mereka ada orangtua si anak tersebut. Tentu saja bangga, karena penonton juga merasakan kebanggaan. Lalu muncullah kata sudah profesional dan tetap fokus pada pekerjaannya. Ini tidak mudah, orang dewasa saja belum tentu setenang itu ketika ada hal diluar prediksinya. Selamat ya. Semoga hari-harimu dipenuhi dengan keyakinan untuk selalu menjadi versi yang terbaik.
Sepanjang perjalanan yang tak tentu arah. Bul-Bul terus mengamati keadaan sekitar walaupun hutan asing baginya. Tapi tak ingin terjebak pada jalan-jalan itu saja. Alias tersesat. Makanya Bul-Bul mulai menandai semua jenis pohon yang dilewatinya dengan cara mengingatnya (edit)—mungkin pakai lumpur atau apalah.
Ujian kembali datang. Bul-Bul ketika sedang berjalan di serang oleh lintah-lintah yang dapat berjalan pelan, tapi lintah-lintah itu benar-benar berjalan kearahnya. Berjalan di atas dedaunan kering yang menimbulkan efek suara mirip ranting-ranting kering yang terinjak dan kemudian patah. Apalagi kondisinya ia telanjang kaki, alias nyeker. Tanpa pikir panjang bul-bul langsung saja lari, menghindari lintah-lintah nakal itu. Bul-Bul tak ingin tersentuh oleh binatang yang menggelikan itu.
Rasa lapar ia tangguhkan sebentar, lari dan lari yang ada dipikirannya. Sekarang bul-bul menghirup nafas. Mengumpulkan tenaga yang ada. Ternyata Bul-Bul menyadari kalau hutan mempunyai perbedaan-perbedaan baik dari jenis hewan, tumbuhan, semak belukar dan kondisi kelembaban. Maka tak heran, bila Bul-Bul sempat kaget melihat lintah-lintah seperti satu pleton pasukan infantri menyerang tanpa henti. Satu yang harus dilakukan oleh Bul-Bul adalah menjauhi tempat itu secepatnya.
Bunyi lintah-lintah yang berjalan di atas daun-daun kering tak lagi terdengar. Walau Bul-Bul sudah lari begitu jauh tetap saja lintah masih ada yang berhasil hinggap dalam bajunya. Bul-Bul mungkin sebelum lari, ada beberapa lintah yang sudah nempel di baju luarnya, semuanya terjadi begitu cepat, dan tak disadari oleh Bul-Bul.
Bul-Bul berhenti sejenak, mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga yang ada. Membuka kaosnya, jari jemarinya mulai membuang lintah itu dari wilayah sekitar perut dan dada. Ada rasa perih ketika membuang lintah-lintah perkasa itu. Tangan Bul-Bul menggulung celana keatas tampak lintah sudah bergelayutan di kedua betisnya. Mulutnya menyeringai ketika mulai mencabuti lintah-lintah nakal.
Bul-Bul duduk di batang pohon yang sudah tumbang dan agak rapuh. Nafasnya turun naik, bingung apa yang harus dilakukan setelahnya. Matahari sudah mulai meninggi panasnya juga mulai menyengat kulit Bul-Bul. Wajahnya semakin pucat tak karuan. Salah satu kupingnya mendengung tiba-tiba. Apakah ada kerusakan akibat pukulan para penculik itu.
Bul-Bul gelisah. Perutnya juga makin ‘gelisah.’ Bahkan sudah melilit perih. Lambungnya sudah meremas-remas sendiri, karena tak ada yang dicerna. Sambil menahan meringis ketika lapar sudah pada titik yang menghawatirkan. Bul-Bul bangkit dari tempat duduknya. Melihat sekeliling, tak ada pohon yang berbuah disitu. Hanya semak-semak yang rimbun. Pikiran Bul-Bul tersentak, ketika mendekati semak-semak. Kedua telinganya mendengar seperti suara gemuruh air terjun yang mengalir berjuta-juta kubik air yang jernih dan manis.
Semangatnya kembali menyala. Bul-Bul tak jadi memakan daun yang banyak tumbuh membentuk semak-semak, karena tak begitu yakin dengan daun-daun itu, apakah beracun atau tidak. Yang jelas ia harus berupaya menjangkau suara gemuruh air terjun itu. seperti mendapat asupan tenaga, kedua kaki Bul-Bul (berlari) kearah situ. (sumber dari air terjun). Bahkan Bul-Bul tertawa penuh kegirangan. Hatinya sujud sukur kepada sang penyayang. “kalau kamu tersesat di hutan, salah satu caranya adalah ikuti arah aliran sungai, kau bisa jadi arah aliran sungai itu.” di samping itu kamu bisa mendapatkan sesuatu yang bisa kamu makan. Bul-Bul berlari sambil mengingat pesan ayah, ketika pertama kali diajak ke hutan ketika lulusan SD sebagai hadiah.
Sudah satu jam Bul-Bul berlari sempoyongan. Dalam kondisi yang tidak begitu tajam instingnya serta kondisi kelaparan. Membuat ia tak peka dengan keadaan. Hingga Bul-Bul tak menyadari, kalau langkahnya semakin jauh dari sumber air terjun. Dalam keadaan seperti itu biasanya Bul-Bul duduk termenung menatap keatas. Sambil hatinya diteguhkan. Supaya tidak kehilangan keyakinan akan kekuasaan Tuhan. Bul-Bul kembali berdiri. Ia tak ingin lari lagi. Berjalan dengan kecepatan berlari adalah salah satu jalan terbaik untuk sampai di sumber air terjun. Bul-Bul kembali mencari sumber air terjun itu.
Matahari sudah semakin meninggi. Bul-Bul berjalan menuju sumber suara itu ditemani oleh kicauan burung, suara siamang di kejauhan yang mungkin sedang berebut makanan antar sesama teman-temannya. Dalam suasana seperti itu hati bul-bul masih sedikit tenang. Sampai menjelang empat hari di hutan yang tampak asing baginya. Belum pernah bul-bul berpapasan dengan raja hutan, yang biasanya ‘ramah’ dengan manusia. Apalagi yang sudah tercium bau anyir darah mengering.
Tak terasa bul-bul sudah berjalan hampir 15 km dari gubuk tempat ia disekap dan disiksa. Berarti sudah empat hari ini Bul-Bul belum kembali ke rumahnya. Ayah Ibunya dan kedua adiknya pasti sangat cemas dengan keadaan Bul-Bul yang tak jelas kabar beritanya. Di samping itu orang tua dan adik-adiknya, juga teman-teman sekolahnya. Pasti sudah merasa kehilangan, terutama teman-teman akrabnya. Sudah empat hari ini Bul-Bul bolos sekolah. Wali kelasnya sampai mengintrogasi beberapa teman dekatnya yang sering bersamanya. Ketika jam istirahat, berolah raga, atau di perpustakaan.
Untuk mencari Bul-Bul di sekolah, sebenarnya sangat mudah. kalau tidak di tempat olahraga, maka Bul-Bul akan kongkow bareng teman-temannya di perpustakaan sampai jam istirahatnya selesai. Dari mulai membaca buku-buku pelajaran, cerita, komik, bahkan koran lokal yang seperti spaghetti bila menemukan dan sempat membacanya. Tapi sampai siang sosoknya yang ramah dan sopan(edit lagi) tak dapat dijumpai. Teman-temannya tidak menyangka kalau Bul-Bul sedang berusaha menyelematkan dirinya dari tekanan yang sedang menimpanya. Menjumpai Bul-Bul di kantin adalah sesuatu yang menakjubkan, karena bul-bul jaang jajan. Ia lebih sering membawa bekal dari rumah. teman-temannya dekatnya memaklumi kondisi keluarga Bul-Bul yang belum baik keadaan ekonominya. Tapi Bul-Bul yang punya sifat dasar baik tidak juga melepaskan dari Bul-Bul yang sendirian di hutan merasa kuat dan harus tetap hidup.
Suara kicauan burung mulai tersamar. Berganti dengan suara gemuruh air terjun yang mengubah mimik wajah bul-bul yang pucat, berubah menjadi tampak semangat. Sebuah kehidupan akan terasa lebih berwarna bila menjumpai sebuah sumber dari rasa haus yang mencekik tenggorokan. Pohon-pohon besar mulai ditinggalkan oleh Bul-Bul berganti dengan pohon-pohon rendah, semak-semak, dan ilalang. Bul-bul menjumpai sumber air terjun yang tidak terlalu tinggi, tapi deras airnya terdengar dari jarak 100 meter lebih. Bul-Bul menubrukkan kedua lututnya ke tahan, hatinya basah oleh serbuan rasa terimakasih atas kemurahan kasih sayangnya. Lalu kembali berdiri tegak, seumpaman laskar bendera perang yang gagah. Rasa percaya diri Bul-Bul kembali bangkit. Lalu dengan tergesa-gesa menyibak semak dan ilalang yang ada. Matanya membelalak. Sebuah sungai tak begitu lebar dengan air terjun tiga perempat meter tampak menghias di depannya dengan air jernih hingga bebatuan kecil tampak jelas terlihat.
Bul-Bul menjajakan kedua kakinya kedalam air dingin sejuk nan jernih itu. lalu kedua telapak tangannya menyiduk air, masuk kedalam mulutnya berkali-kali. Beberapa titik di bagian tubuh merasa perih tapi urung ia respon. Bul-Bul mulai membasuh kedua tangannya. Masih dalam berpakaian Bul-Bul merendam diri di sungai yang jernih itu. dan membersihkan kedalam dirinya yang sudah beraroma gado-gado. Puas dengan berendam dan meminum air sungai itu sampai hilang hausnya. Bul-Bul beralih dan beranjak ke tepian sungai. Seluruh badannya terasa segar, kelelalahn. Empat hari yang lalu terbayar sudah dengan segarnya air sungai yang sangat jernih itu.
Bul-Bul mulai mencabuti beberpa puluh batang ilalang dengan akar-akarnya. Bul-Bul masih ingat ucapan ayah dan kakak pembina pramuka waktu SMP. Ada beberapa jenis ilalang yang akarnya bisa dimakan dan di konsumsi bahkan cenderung menyehatkan. Makanya Bul-Bul gegap gempita ketika menemukan jenis ilalang yang bisa dimakan.
Sambil duduk di batu yang agak besar dan menonjol diantara yang lain. Tangan kanan Bul-Bul sudah memegang erat berpuluh-puluh batang Ilalang yang telah dicuci akarnya. Mulut Bul-Bul tampak rakus ketika mulai memakan akar ilalang itu satu persatu. Rasa lapar yang terlalu akut. Serasa tak ingin lagi kompromi dengan keadaan perutnya yang sudah melilit. Bul-Bul memakan akar ilalang itu sambil matanya terus mengawasi sekeliling sungai. Khawatir penculik itu bisa menyusul langkahnya.
Sepanjang sungai tampak tidak mencurigakan bagi Bul-Bul. Semuanya tampak hening dan alami. Bunyi gemericik air di sepanjang aliran sungai sepanjang 3 meter sepertinya jarang di lewati. Terlihat dari banyaknya semak yang tidak terlihat ada bekas patahan. Bajunya masih menyisakan duri-duri yang menempel ketika berjalan diatas semak-semak yang merambat di sepanjang sungai. Ia juga mengalami bagaimana nyerinya telapak kakinya akibat tertusuk dari duri-duri yang banyak muncul di sepanjang semak.
Bul-Bul menyelonjorkan kedua kakinya. Jempolnya yang tak berkuku itu mirip kepala ayam, dan ia tersenyum. Tampak botak dan menyeramkan. Kuku yang ditindik kursi lalu dicabut dengan tang membuat Bul-Bul pingsan. Karena rasa sakit yang tak tertangguhkan. Hingga sumsum ingatan. Kedua jempol kakinya jika didekatkan pada hidung hanya menyisakan bau busuk. Bul-Bul mencoba menerima kenyataan buruk itu.
Pikirannya kembali fokus pada bagaimana caranya bisa pulang ke desanya. Dua kali bolak-balik Bul-Bul mencabuti Ilalang dan kemudian memakan akar Ilalang yang berwarna putih. Rasanya hambar, tapi tidak pahit. Setidaknya bisa mengganjal perutnya yang keroncongan. Juga memberinya asupan energi. 11 akar Ilalang itu setelah dicuci bersih. Sesekali ia meringis menahan sakit ketika kerongkongannya menelan cepat-cepat kunyahan akar Ilalang.
Tubuh Bul-Bul bertenaga kembali. Kaki yang diselonjorkan kembali ditekuk. Matahari semakin meninggi. Rasanya istirahat sudah cukup, Bul-Bul menegakkan badan membusungkan dadanya kedepan. Mencoba membangun kepercayaan diri. Tuhan tidak pernah tidur, bisiknya dalam hati. Angin siang bercampur hembusan sejuk dari air terjun membuatnya terlihat tenang.
***
Bul-Bul berjalan kembali mengikuti aliran sungai yang lebarnya kira-kira 3 meter, dengan panjang tak terhingga. Bul-Bul tak begitu khawatir dengan keadaan sekitar, tidak seperti sebelumnya. Ketika dirinya di dalam hutan, gelap, dan tidak punya kawan. Hiburan yang paling asik adalah bila ada seekor burung pemakan ikan yang tiba-tiba menceburkan diri kedalam sungai. Lalu muncul dengan paruh penuh ikan. Biasanya Bul-Bul akan berdiri sejenak dan mematung melihat fenomena alam yang menakjubkan.
Burung pemakan Ikan itu biasanya akan hinggap dulu di sebuah dahan pohon yang tak begitu tinggi. Membetulkan sejenak posisi ikan di paruhnya, memagutnya berkali-kali. Lalu kemudian terbang menuju ke sarangnya. Bul-Bul yang melihat tingkah polah burung itu mengingatkan pada pelajaran Biologi yang sering dibacanya berulang-ulang di perpustakaan sekolah. Pinggiran sungainya yang dilaluinya banyak bebatuan yang bertekstur kasar. Bul-Bul berjalan masih tanpa alas, terasa dipijit-pijit kakinya. Sesekali dalam perjalanan Bul-Bul berpapasan dengan rajungan yang sedang mencari makanan. Bul-Bul hanya melihat dengan ekor matanya. Sebelumnya ketika masih di dalam hutan, ia bertekad untuk memakan apa saja bila bertemu dengan hewan pinggiran sungai. Ia urung, akar Ilalang ternyata lebih menarik dan menggugah rasa laparnya. Itu disebabkan oleh kondisi yang dialaminya mengakibatkan selera makannya berubah-ubah. Kondisi perutnya tidak berkerucuk lagi, membuatnya bisa melakukan sesuatu yang lebih realistis dan fokus pada sasaran.
Sedekat mungkin agar kau mengalami langsung bau tengiknya pikirannya yang telah dibungkus oleh berbagai gelar akademik
Sepelan mungkin agar nantinya kau bisa menakar seberapa jengkelnya dia ketika menemukan area terlarang
Yang lalu memenangkan gelar kecongkakakn barang sejenak
Ingin menanggalkan baju tasawuf menggantikannya dengan jubah kebesaran toga yang dimungkinkan secara susah gampang
Mengeluarkan emosi pertahanan dengan argumen mematahkan, bukan untuk membuka ilmu adalah bagian terpicik sebuah pengetahuan
Merunduk saja dulu untuk mencengkram arogansi yang tengah dipertontokan diam-diam
Menombak apa yang yang lewat tanpa perlu memandang siapa yang ada didepannya
Istilah kata
Ia bagian dari adu argumentasi jejak pendapat
Mesti tampak matang
Ia selemah-lemahnya argumen
Menang hanya sesaat kalah pun tak serseat
Istilah kata
singa mengaum dikejauhan pun diam termangu
jerapah sileher panjang menekuk biar tak kena tombak
si kancil sunyi tak berani loncat sekadar mencari pelepasas
suara mengaum menjebak waktu melampaui sunyi
riuh rendah menyapa sekadar melepas dahaga
tiup terompat melambungkan nama
melepas kata menebar janji
supaya bisa ditinggal tanpa belas, tanpa hati
lalu menjelma buih tanpa bisa disentuh
lalu kabur tanpa berkabar
membawa harta berlembar-lembar
i a mengemban tugs selayaknya para pejabat lurah, petani, calo karcis, juga guru layaknya mata pisau yang mengiris bawah putih bawah merah ...